
Sesampainya Tara dirumahnya Ia langsung memarkirkan motornya di garasi,lalu sejenak berdiri didepan pintu hanya untuk memandang rumah yang cukup besar yang ada didepannya saat ini tapi seperti tak berpenghuni.
Tara tetap diam ditempatnya dengan pandangan lurus kedepan.Ia menghela nafas kemudian mengambil kunci yang terselip dibawah pot bunga lalu membuka pintu rumahnya.
"shalom." tak ada balasan salam yang diucapkan oleh Tara karena memang dirumahnya hanya ada Tara seorang diri.gadis itu hanya terbiasa mengucapkan salam meski tak ada siapapun didalam rumahnya.
orangtuanya?ah iya kedua orang tua Tara cukup sibuk dengan pekerjaannya yang selalu pergi pagi pulang larut malam dan hanya meninggalkan Tara seorang diri dirumah, Tara adalah anak tunggal dari sepasang suami istri yang bernama Raka Ananta dan Clarissa Tamara.
Tara melepaskan sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu tepatnya berada tak jauh dari kamar milik gadis itu.Tara beranjak pergi menuju kedalam kamarnya yang didominasi oleh warna abu-abu basah yang tidak mencerminkan kebanyakan perempuan pada umumnya yang menyukai warna cerah. Tara segera melepaskan seragamnya lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
setelah membersihkan tubuhnya alih-alih untuk makan siang Tara lebih memilih untuk membaringkan tubuhnya sejenak di kasur yang cukup luas untuk ditempati 4 orang diatasnya.gadis itu memeluk boneka panda yang ada diantara bantal lalu memejamkan matanya, Ia tidak benar-benar tidur,gadis itu hanya memikirkan perubahan tingkah laku dari Jaren yang menurutnya sedikit menunjukkan perubahan karena semenjak naik kelas XII dan ditempatkan untuk duduk disebelah Tara,lelaki itu jarang berinteraksi dengannya meskipun mereka duduk bersebelahan.mungkin berbicara seperlunya bahkan Jaren langsung keluar kelas setelah bunyi bel istirahat, karena dari antara teman-temannya hanya Jaren yang dipindahkan ke kelas IPA 2 dari kelas IPA 4.katanya korban rolling class sehingga Ia harus lagi menyesuaikan diri dengan teman teman dari kelas baru.
"mungkin dia lagi mau olahraga mulut kali makanya banyak omong dikit." pikir Tara apalagi saat lelaki itu memberikannya pertolongan lebih lebih untuk menjahilinya itu sebenarnya bukan Jaren sekali. jangankan menolong atau menjahilinya bertegur sapa saja tidak pernah, bahkan saat Tara membuat keributan hanya Ia seorang yang tidak ada respon sama sekali.
"udahlah ga mungkin dia suka balik ama gue,secara kan dia aja ga tau kalo gue naksir dia." Tara berguling kesana kemari diatas kasurnya itu lalu menendang-nendang udara sambil berteriak tapi Ia tutupi menggunakan bantal sehingga suara teriakannya teredam.
~~~~~~~••~~~~~~~
hari sudah malam,langit bahkan tak ingin menunjukkan sedikit sinarnya melalui bulan dan bintang.
saat itu juga Tara duduk sendirian di sofa depan TV. Iya Tara hanya seorang diri, sebenarnya ada seorang ART namanya Bi Sri sudah seminggu ini Ia tak masuk kerja,cuti pulang kampung sebab mendapatkan kabar bahwa ibunya sedang sakit.kataya akan masuk 2 hari lagi.
biasanya Tara duduk disini untuk menunggu kedua orang tuanya pulang kerja. gadis itu sedang fokus ke acara tv yang sedang ia tonton, acaranya memperlihatkan pelawak Indonesia yang mengkritik pemerintah lewat sindiran lawak yang selalu tidak gagal membuat setiap orang mengatakan bahwa acara tv tersebut backingannya kuat.
tak lama kemudian fokus Tara teralihkan saat mendengar ponselnya berdering tanda telpon masuk. tangannya bergerak mengambil handphone yang berada tepat disebelahnya lalu menempelkan ditelinganya tanpa melihat siapa yang meneleponnya malam malam seperti ini.
"hallo"
"......"
"eh hallo,budeg apa gimana si" sapanya sekali lagi dengan sedikit ketus saat tak kunjung mendapat tanggapan dari si penelepon.
"Ra" hanya satu kata itu mampu membuat Tara langsung menjauhkan handphone ditelinganya agar bisa melihat nama si penelepon.dan betapa terkejutnya Ia saat ternyata yang menelponnya ada seseorang yang tadi dijemur bersamanya ditengah lapangan.
"hallo ra lo masih disana kan?,kok ga ada suara" panggilnya dari seberang telpon disana karena Tara seperti diam membisu.
"e-eh iya ren ngapain nelpon?,ga biasanya bikin kaget aja" Tara menjawab Jaren dengan ucapan yang sedikit terbata-bata.
"oh gapapa si" jawab Jaren dari seberang sana.
"gajelas banget si Ren,Gue mat--"
"eh eh jangan dong Araaa."Jaren dibuat gelagapan sendiri sampai sampai mengubah panggilannya ke Tara menjadi Ara.
tentu saja panggilan Ara yang baru saja Ia ucapkan membuat Tara sedikit terkejut.
"Lo tadi manggil Gue apa Ren,coba ulang."daripada salah dengar lebih baik Tara menanyakan ulang.
"oh Ara,kan emang nama Lo Tara hilang T nya jadi Ara kan.sekarang Gue mau manggil Lo Ara aja." Jaren menjelaskan panggilan Ara yang baru saja Ia katakan. salahkah jika Tara sedikit merasa bahwa Ara adalah panggilan sayang yang di berikan oleh lelaki itu untuknya.
"besok Lo kesekolah bareng Gue aja,Gue jemput ngga ada penolakan."Jaren mengucapkan hal itu lagi lagi dengan suara datarnya yang membuat itu bukan sebagai kalimat permintaan tetapi perintah.
Kening Tara berkerut saat mendengar apa yang baru saja Jaren ucapkan, Lelaki itu memang terkenal sedikit pemaksa dan tidak pernah bermain main dengan perkataannya.
"lah emang Lo siapa maksa maksa Gue?." tanya Tara tentu saja hanya ingin mendengar apa yang ada dipikiran lelaki itu. tanpa Jaren paksa pun Tara dengan senang hati akan pergi bersamanya kemanapun Ia mengajaknya.
manusia mana yang akan menolak ajakan dari orang yang dia sukai.
"mau jemput calon pacar emang ga boleh." jawab Jaren dengan santainya seperti tidak memiliki beban apapun saat mengatakannya. hal itu sukses membuat Tara membelalakkan matanya dan refleks berdiri tegak dari tempatnya duduk.
"candaan Lo ga asik tau ngga haha." Tara tertawa sumbang,tapi tawa canggungnya terhenti saat Jaren kembali bersuara dari seberang teleponnya.
"siapa yang becanda Araku yang cantik."
saat ini rasanya Tara ingin membanting ponselnya dan berlari kerumah tiap-tiap tetangga seraya berteriak.
"dahlah Ren,minum obat dulu gih."ucap Tara langsung memutuskan sambungan telepon genggamnya.membuat si penelpon diseberang sana tertawa kecil.
__ADS_1
setelah itu Tara langsung berlari menuju kamarnya dan langsung membanting dirinya di kasur empuk miliknya.
Ia sampai lupa bahwa tujuannya berada di sofa depan tv adalah untuk menunggu kepulangan orangtuanya.
Tara menelungkupkan kepalanya di bantal lalu berteriak sekencang-kencangnya namun teriakannya tidak terdengar terlalu keras karena suaranya teredam oleh bantal yang membungkam mulutnya.
"jaren brengsek!,Lo bikin hati Gue terbang kaya layang-layang". lanjutnya dengan berteriak sampai sampai tenggorokannya terasa sakit.
Tara membalikkan badannya kesamping lalu memeluk boneka pandanya.
"awas aja besok Lo berubah lagi." lirih Tara karena sudah tau akan sifat lelaki itu yang selalu berubah-ubah seperti bunglon.
Tara memejamkan matanya sebentar tetapi ternyata gadis itu malah dengan mudahnya terlelap dalam tidurnya dengan posisi masih memeluk bonekanya.
~~~~~••~~~~~~~
Keesokan paginya
tak!
tak!
tak!
Tara dengan seragam lengkapnya berjalan menuruni tangga. kakinya menuruni anak tangga satu persatu sampai terdengar suara laki-laki tengah berbicang ramah dengan papanya di meja makan.
sesampainya dianak tangga terakhir Tara dapat melihat jelas bahwa Lelaki yang berbicang dengan papanya adalah Jaren.
pantas saja ia merasa tidak asing dengan suara itu.
dengan langkah yang cepat Tara berjalan kearah meja makan membuat semua yang duduk disitu menatap kearah Tara.
Ia langsung mendudukkan dirinya disalah satu kursi yang berhadapan dengan Jaren karena hanya kursi itu yang tersisa disana.
"hai anak mama." sapa mama Clarissa dengan hangat dan dibalas senyuman oleh Tara.
tatapan tajamnya justru dibalas senyuman jahil oleh lelaki itu dan tak lupa alisnya yang bergerak naik turun.
"oiyaa mah hehe."Tara hanya bisa menatap sinis Jaren sambil memakan sarapannya dengan lahap.
setelah semuanya selesai sarapan kini mereka kembali ke rutinitas harian.
saat ini kedua orang tua Tara dengan pakaian rapinya sedari tadi,berpamitan untuk berangkat kerja lebih dulu.
bahkan dapat dilihat jam pergi mereka lebih dahulu dibandingkan Tara.
mereka hanya meninggalkan uang saku untuk Tara lalu mengecup keningnya.
sekarang hanya ada mereka berdua dimeja makan,dengan Tara yang masih menatap kearah pintu dimana mobil berwarna putih itu sudah melaju tak terlihat lagi dipagar rumahnya.
Jaren berdehem keras sehingga membuat Tara mengalihkan pandangannya dari pintu dan menatap wajah Jaren yang berada pas didepannya hanya terhalang meja saja.
"ayo kita pergi sekarang aja."ajak Jaren sembari beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan kearah Tara yang masih diam ditempat duduknya lalu meraih tangan Tara yang berada di atas meja dan menariknya pelan agar gadis itu mau beranjak dari duduknya.
sontak Tara langsung beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mengikuti Jaren dengan tangannya yang masih digenggam oleh lelaki itu.
"kunciin dulu pintunya." Tara meraih tangan Jaren yang memegang pergelangan tangannya dan meletakkan kunci rumahnya ditelapak tangan lelaki itu.
sejenak Jaren menatap Tara yang melepaskan genggaman tangannya lalu kemudian Ia menatap kunci ditangannya yang diberikan oleh Tara.
Lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya sembari mengunci pintu rumah Tara lalu berbalik mengangkat kunci itu tepat berada didepan wajah gadis itu.
"pendek banget si Lo."ucap Jaren yang dihadiahi cubitan diperutnya oleh Tara lalu menyahut kuncinya yang berada tepat diwajahnya.
"dari pada Lo,kaya tiang listrik." ucap Tara sembari berjalan menjauh dari Jaren menuju motor milik lelaki itu.
"tega banget sih Ra,sakit loh ini." ucap Jaren sembari berlari mengejar Tara yang berbeda 5 langkah dari nya.
__ADS_1
"gitu aja sakit,lebay." Tara melipat tangannya didepan dada sambil melihat kearah Jaren yang berlari kecil kearahnya.
sesampainya Jaren ditempat Tara dan juga motornya berada, cowok itu mengambil helm nya lalu memasangkannya dikepala Tara yang membuat mereka saling bertatapan.
tetapi tak lama kemudian tara memutuskan tatapannya lalu memukul lengan Jaren.
"awsh sakittt araku." adu Jaren yang dibalas cibiran oleh Tara karena sikap Jaren yang seperti ini membuat bulu kuduknya berdiri.
"lagian sih, Gue juga bisa kali masang helm sendiri." Tara menatap datar lelaki dihadapannya ini.
"nye nye nye nye." cibiran dari mulut Jaren sembari menaiki motornya dan diikuti oleh Tara.
keduanya sudah duduk sempurna diatas motor, tetapi lelaki itu tak kunjung menjalankan motor nya.
"nunggu apa lagi, ayo jalan."
"peluk dulu." ucap Jaren membuat jari jemari Tara mencubit kecil perutnya.
"aduh aduh asu banget si Lo." umpat Jaren dengan tangannya memukul mukul pelan jari jemari milik Tara yang masih bertengger di perutnya.
"lagian sih omongan Lo dari kemaren kaya orgil tau ngga." akhirnya Tara melepaskan cubitan dari perut milik Jaren.
"yaelah becanda doang Arakuu." ucap Jaren menyebut nama Ara dengan sangat panjang.
Jaren melajukan motornya dengan kecepatan normal, tidak cepat dan tidak lambat juga.
keduanya diam tak ada yang memulai topik pembicaraan.Tara yang sibuk dengan pikirannya sedangkan Jaren yang menikmati semilir angin pagi sembari mengedarkan pandangannya kesana kemari melihat jalanan yang padatnya kendaraan berlalu lalang kebanyakan anak sekolah.
--------
sesampainya mereka diparkiran sekolah,Tara langsung melompat turun dari atas motor Jaren,membuat si pemiliknya berdecak kaget.
"nanti jatoh Ra!,jadi cewe grasak grusuk banget sih." geram Jaren memperingati sembari tangannya mengacak acak rambut milik Tara.
"ya suka suka gue dong,orang mau jadi spidergirl." ucap Tara memukul sebelah tangan Jaren yang mengacak rambutnya.
"dih mana ada spidergirl." timpal Jaren menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil.
"jom kita ke kelas." lanjutnya mengandeng tangan kanan Tara lalu mengayunkan naik turun membuat Tara menatap Jaren yang tengah tersenyum lebar dengan pandangannya lurus kedepan.
"ni cowo gila apa ya." batin tara menatap tangannya yang diayun-ayunkan oleh Jaren.
beberapa langkah lagi mereka sampai didepan kelas XII IPA 2 dengan jari jemari keduanya masih saling bertaut. tetapi suara cempreng dari arah belakang menginterupsi mereka untuk langsung berbalik badan menatap kearah suara itu.
"WOY NGAPAIN KALIAN GANDENGAN GITU, WAH KETINGGALAN APA LAGI NIH GUE." teriakan Echa menggema disekitar situ bahkan beberapa anak yang melewati kelasnya langsung menatapnya tajam sembari menutup erat telinganya.
"cielah bapak negara udah berani aja ternyata." ucap Bara salah satu teman Jaren dari MIPA 4. Echa tak sendiri disitu ada Alvin,Bara, Bambang, Kevin dan Ryan.
selain dari Alvin ketua kelas dari MIPA 2 selebihnya adalah teman-teman Jaren.
"bau-bau cinta busuk."ucap Bambang yang langsung diberi tabokan oleh Kevin.
sedangkan kedua orang bersangkutan langsung menarik tangannya masing-masing agar tak lagi bergandengan tangan.
Jaren menatap datar kearah teman-temannya sedangkan Tara sudah bercak pinggang kemudian menarik telinga Echa membuatnya meringis kesakitan.
"Lo tu kalo ngomong pelan dikit ngapa si ca." ucap Tara
"ya maap,kan kaget sampe mau jantungan." Echa memperagakan orang sakit jantung.
Teman-teman Jaren hanya menatap mereka berdua dengan tawa kecil.
semua yang ada disitu melangkah menuju kelas masing-masing melewati Jaren yang masih berdiri diposisinya. sebelum berlalu
Ryan menepuk-nepuk pundak Jaren dan membisikkan sesuatu membuat lelaki itu langsung menatapnya tajam.
setelah membisikkan hal itu Ryan dengan santainya berjalan menghampiri temannya dengan sebelah tangan berada di kantong celananya.
__ADS_1