
Dewan Kesiswaan, Krealist University
Surrey, England, United Kingdom
Summer menatap tajam Victoria yang duduk tepat didepannya. Jika saja tidak ada meja didepannya, mungkin saja Ia sudah menyerang dan mencabik wajah yang sedang berakting didepannya ini. Ya Tuhan! Ingatkan Ia untuk tidak menyerang gadis itu saat sudah keluar dari ruang Dewan Siswa nanti.
Agar amarahnya tak memuncak, Summer menundukkan kepalanya dengan tangan yang meremas kuat blazer yang dikenakannya.
Deheman pelan memecah keheningan yang melanda ruang Dewan Mahasiswa. Joan memandang Summer Dan Victoria secara bergantian. Helaan nafasnya terdengar. Ia bingung bagaimana cara mendamaikan dua gadis ini. Menyatukan mereka sama saja seperti mencari benang didalam tumpukan jerami. Mereka berdua seperti minyak dan air. Tak akan pernah bisa disatukan.
"Katakan padaku bagaimana cara agar Kalian tidak saling memusuhi lagi?" Joan mengeluarkan suaranya. Suaranya terdengar putus asa. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya menghadapi gadis seperti mereka. Hampir setiap saat mereka bertengkar dan menjadi langganan ruang Dewan Kesiswaan.
Nada suara Joan yang terdengar putus asa membuat Summer merasa bersalah. Seharusnya tidak seperti ini. Yang seharusnya berada di ruang Dewan Mahasiswa dan di interogasi bukan dirinya, tetapi Marry. Hanya saja pria menyebalkan bernama Matthew Shelton tiba-tiba datang dan menyeretnya menemui Joan yang sedang bersama dengan Victoria di ruang Dewan Mahasiswa. Ia terkena masalah karena temannya sendiri.
Justin memukul meja kuat. Membuat Summer dan Victoria terkejut. "Kalian tak punya mulut, eh? Cepat jawab!" sentaknya tegas.
Jika hanya Joan yang berbicara sudah dapat dipastikan tidak akan ada yang menjawab karna tidak ada yang takut dengan wajah angelic Joan. Dan itu membuatnya kesal.
Tak terima, Summer buru-buru beranjak dari tempat duduknya. Menyebabkan bunyi decitan akibat gesekan kasar antara kursi dan lantai marmer di ruang Dewan Mahasiswa.
"Ini bukan kesalahanku, Shelton!" bantahnya tak terima. "Gadis iblis ini yang memulai duluan. Apa kalian tak melihat seragam Marry yang basah tadi?" lanjutnya dengan nada suara yang sedikit dinaikkan.
Marah? Tentu saja. Bagaimana bisa ia berdiam diri ketika melihat temannya dihina tetap didepan wajahnya. Emosinya memuncak saat mata Matthew memandangnya tajam. Tapi siapa yang takut?
Jika saja tatapan itu penuh cinta dan kelembutan, mungkin Summer sudah terbang ke surga dibuatnya. pfftt... jangan biarkan siapapun tahu tentang ini. Ini rahasia!
Victoria menggeleng pelan. Menyangkal apa yang dituduhkan Summer. "Tidak. Ini bukan kesalahanku. Kalian lihat sendiri pergelangan tanganku ini" jelasnya seraya memperlihatkan pergelangan tangannya yang memerah pada Joan dan Matthew. Sekilas, terlihat senyum mengejek terkembang dibibirnya.
Summer mendecih pelan. "menjijikan. Sudah salah seharusnya mengaku saja." Ejek Summer tak mau kalah. "Mulutmu bar-bar dan murahan!" lanjutnya diserta kekehan mengejek. Tak lupa matanya yang juga menatap Victoria tajam.
"Diam!" Suara tegas Matthew kembali terdengar. "Dimana sopan santun kalian? Kembali saja ke Elementary School jika kalian belum bisa bersikap sopan kepada orang lain." Tegasnya tajam. Bisa-bisa tenggorokannya akan kering jika setiap hari memarahi orang yang sama.
Joan menepuk pelan lengan Matthew. Memintanya untuk tenang. "Tenang dulu, Shelton. Kita dengarkan saja pembelaan masing-masing dari mereka, baru setelah itu kita menetapkan hukumannya." Saran Joan. Jika sudah seperti ini ia bingung sendiri menghadapi Matthew yang juga ikut emosi.
Sudah jadi rahasia umum jika emosi Matthew akan meledak-ledak jika bertemu Summer. Bahkan itu sudah dimulai ketika hari pertama Summer masuk di sekolah sebagai Junior. Matthew yang pendiam menjadi Serigala liar setiap bertemu Summer. 'Jodoh baru tahu rasa!', batin Joan menggerutu.
"Aku tak akan mengucapkan pembelaan apapun, karna apa yang kuucapkan tadi adalah sebuah kenyataan." Tukas Summer final. Sesekali maniknya melirik Matthew yang menatapnya tajam.
Tangan Matthew terangkat, menyentil kuat kening Summer. "Bersikap sopan pada yang lebih tua. Aku ini seniormu" Perintahnya.
Hampir saja Summer melayangkan pukulannya jika saja ia tidak sadar dimana keberadaannya sekarang. Ia hanya mengusap pelan keningnya yang terasa sakit.
"Yes, my lord!" ketusnya lalu kembali duduk.
"Pergilah ke ruang kesehatan, Vict." Perintah Joan. "Setelah itu kumpulkan semua sampah yang berserakan di taman belakang dekat gudang. Dan kau Summer, Bersihkan seluruh ruang Dewan Mahasiswa dan lari keliling lapangan 10 kali." Lanjutnya. Jika keadaan sudah seperti ini, maka akan lebih mudah ketika ia menghadapi mereka.
Tanpa ingin berlama-lama, Summer beranjak dari duduknya. Ia menghentakkan kakinya kesal dan melangkah keluar. Kakinya terus ia hentakkan tanpa mempedulikan tatapan Matthew maupun Joan. Dengan sengaja kakinya yang terbalut high heels menginjak kuat kaki Matthew.
__ADS_1
"HEI, BODOH!." Ringisnya seraya membungkukkan badan seraya memegang kakinya yang sakit. "Sialan." Ringisnya pilu. Terlalu sakit hingga ia bahkan tak sadar Summer telah menghilang setelah melewati pintu ruang Dewan.
Private Room, Krealist University
Surrey, England, United Kingdom
Suara pintu yang ditutup kasar membuat tiga pria yang sibuk dengan urusan masing-masing terlonjak kaget. Kening mereka berkerut bingung, sesaat kemudian memilih acuh.
Cameron memandang aneh seseorang yang masuk melewatinya dengan santai, lalu menghempaskan diri diatas tempat tidur. Jangan lupa dengan wajah yang memerah. 'wait, itu blushing?', batinnya menolak percaya.
Penasaran, Ia menghempaskan diri disebelah Summer. "Hey yo! Ada apa denganmu, Our Sunshine?"
Pertanyaannya berhasil menarik perhatian dua pria lainnya -Benjamin dan Dominic-, yang langsung saja bergerak menuju mereka.
Hening. Tak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Menunggu jawaban dari pertanyaan Cameron.
Melihat tak ada tanda pertanyaan mereka di jawab. Ben kembali memainkan ponsel miliknya dalam diam, Ia sedang push Rank sebelumnya. Sedangkan Dominic dan Benjamin memilih meminum soda sesekali membicarakan betapa seksinya gadis dari dorm sebelah. Cih! Pria dan segala gosipnya.
Hanya terdengar suara benturan dari games yang dimainkan oleh Cameron. Sesekali mereka melirik sang gadis dari sudut mata. Sang gadis hanya terdiam menatap langit-langit ruangan. 'Mungkin dia dirasuki setan bisu' batin ketiganya bergidik.
"Hapus segala pikiran bodoh kalian tentangku!" Summer menggeram kesal. Lirikan mata mereka sungguh mengesalkan.
"Aku ingin bertanya pada kalian." Summer beranjak mendekat, lalu menyandar pada Dominic yang kini menatapnya dengan alis bertaut.
Summer memutar bola matanya malas. "Terserah. Apa yang kamu minta akan kuberikan, jika masih dalam batas wajar." Ucapnya. Sejujurnya ia malas bertanya pada ketiga pria idiot ini, tapi jika bukan pada mereka lalu pada siapa lagi? Pada neneknya?
Cepat, Cameron menekan tombol pause pada ponselnya. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sangat menawan bagi para gadis, kecuali Summer tentunya.
"Mau bertanya apa matahariku yang manis? Sepertinya kau sangat terbebani, kulihat wajahmu begitu putus asa hingga sudah mencapai stadium akhir" jari telunjuknya bergerak mencolek dagu Summer. Membuat Dominic dan Ben mendengus pelan, sedangkan yang dicolek segera menepis tangan yang mengganggunya.
"Simple. Mengapa mencintai seseorang terkadang sangat menyenangkan sekaligus menyakitkan?" suaranya nyaris tak terdengar. Namun keadaan ruangan yang sepi membuat mereka bertiga dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Summer.
Dominic menghela nafas sebelum menjawab. Lagi-lagi masalah hati. "Perlukah kami jawab? Kau benar-benar ingin mengetahuinya? Nada bicaramu tidak menunjukkan kau benar-benar ingin tahu." Dominic kembali memfokuskan kegiatan pada kaleng soda ditangannya.
Dengan kesal Summer mendorong Dominic kuat hingga menyebabkan pria tampan itu hampir terjatuh dari tempat tidur. "Aku serius." Rengeknya. Tak lupa dengan tatapan berkaca dan bibir yang dimajukan.
"Bodoh! Kukira kau benar-benar pintar dan menggunakan otakmu tapi ternyata otakmu tak jauh berbeda dengan otak Cameron." Ben angkat bicara, membenarkan posisi duduknya menghadap Summer, lalu mengusap puncak kepalanya. "Itu namanya ujian. Tentang seberapa besar kau mencintai seseorang itu." Jelasnya dengan nada menggurui.
Summer menganggukan kepalanya pelan. Cameron menatap Ben tajam, sedangkan Dominic tetap pada posisinya. Diam, tetapi tetap menyimak tanpa suara.
Berbicara tentang cinta dengan adiknya membuat Ben terhentak. Sontak digenggamnya kuat tangan satu-satunya gadis diantara mereka. "Mengapa kau bertanya seperti itu?." Interogasinya. Tatapannya berubah menjadi tajam.
Summer diam menundukkan kepalanya. Jemarinya sibuk mengusak rambutnya dengan kasar. "Sial, sial sial' gumamnya frustasi.
Hening sesaat
__ADS_1
"Boleh aku bertanya lagi?"
"Itupun Kau sudah bertanya." Dominic melempar kaleng soda kosong ke tempat sampah dan... strike! Kaleng masuk tepat ke tempat sampah dengan mulus.
Summer menganggukan kepalanya membenarkan perkataan Dominic. "Apabila aku mempunyai perasaan pada musuhku sendiri. Apa itu wajar?" tanyanya dengan pandangan lurus kearah jendela besar didepannya sesaat, lalu kembali memandang ketiga prianya secara bergantian.
"What the... Kau mencintai Matthew? Matthew Shelton?" teriak Cameron tak percaya. Dasar hiperbola.
Dominic dan Ben saling memandang sesaat, lalu menatap Summer dengan tatapan aneh dan kesal.
Sontak saja Summer menggelengkan kepalanya. Menolak pernyataan yang baru saja diucapkan Cameron. "No, I'm not. Aku hanya bertanya." Sanggahnya cepat. "Lagipula, mana mungkin aku menyukai musuhku sendiri." Lanjutnya tak terima.
Dalam hati, Summer tak berhenti merutuki Cameron. Bodoh seperti itu tapi peka juga ya. Wah, mulai sekarang dia harus berhati-hati pada idiot satu ini.
Mereka menatap maknae kesayangan dengan intens. Sudah pasti satu-satunya gadis diantara mereka ini akan menyangkal. Mereka dapat menebak jika Summer belum menyadari perasaannya pada Matthew, makanya bisa menjawab dengan seenang jidatnya seperti tadi.
Tapi demi kaos kaki baunya Cameron, mereka tak akan membiarkan Summer menumbuhkan perasaan itu. Tak akan pernah. "Kami tak setuju bila kau memiliki perasaan padanya! Jangan pernah berhubungan dengannya." larang Ben.
Mendapat penolakan keras seperti itu tentu membuat Summer mengernyitkan keningnya bingung. Tak mengerti dan salah paham. "Ada apa?." tanyanya tak mengerti.
"Matthew itu bukan manusia" cerocos Cameron dengan menggebu. Mengingat ia yang paling aktif diantara kedua temannya, atau mungkin paling hiperbola.
Summer membeku. Tentu saja. Sontak Summer menegakkan punggungnya yang sedari tadi bersandar pada Dominic. "Maksudmu? Apa dia Hantu, Jin, Malaikat atau Dia juga seorang Iblis tak berotak sepertimu?" semburnya dengan nada suara yang sedikit dinaikkan dan mendapat hadiah manis berupa jitakan istimewa yang mendarat mulus dikepalanya.
Ben berusaha keras menahan tawanya. Sedangkan Dominic hampir tersedak soda yang diminumnya. Mereka menatap tertarik dua orang yang sedang berinteraksi lucu tersebut.
"Otak saja berpendidikan, tapi mulutmu itu..." ucapan Cameron terpotong.
Summer tertawa geli. Ia kembali menyandarkan punggung di dada Dominic. "Sorry. Jadi maksudmu apa?." Tak lupa tangannya terangkat dan membentuk sign 'peace'.
Dominic meletakkan kaleng soda diatas meja. Tubuhnya ia gerakan sedikit. Mencari posisi nyaman pasca disenderi simpanse betina. Matanya bertemu pandang dengan Cameron dan Ben. "Matthew itu iblis berkostum malaikat." terangnya singkat. Yang diangguki cepat oleh kedua rekannya.
"What do you mean, Dom?."
"Pikirkan sendiri. Kau pintar bukan? Dan, jika kau tak tahu apa maksudku, silahkan kau bertanya pada dua idiot ini." matanya melirik Ben dan Cameron yang langsung dibalas delikan tajam.
Summer semakin tidak mengerti. Tatapannya beralih pada Ben dan Cameron, namun hanya dibalas gelengan pelan.
"Baiknya kau gunakan otakmu itu dengan baik, jangan Kau sia-sia memikirkan pria seperti Matthew." lanjut Cameron setelah terdiam beberapa lama. Tak lupa tangannya menyentil kening Summer dengan kuat.
"Dom.... You're a pain in my ***!" Summer bergerak kasar, tangan dan kakinya mengenai Cameeon, Ben dan Dominic secara random.
"Owh thats hurt!" - Cameron
"Don't touch me there, Xiao!" - Ben
"My hair... Oh shit...!" - Dominic
__ADS_1