Krealist University

Krealist University
Chapter 5


__ADS_3

Healthy Rooms, Krealist University


Surrey, England, United Kingdom


Cameron meringis pelan saat matanya menangkap tangan Charlotte yang tak berhenti memukul perbannya sendiri. Matanya menatap horror gadis itu.


"Jangan dipukul seperti itu terus. Tidak sembuh baru tahu rasa" tegur Cameron pada gadis itu.


Charlotte mengangkat bahu sebagai respon. "Aku diberitahu jika Kita memanjakan penyakit, mereka akan sembuh dalam waktu lama" tangannya kembali bekerja memukul.


Dengusan Cameron terdengar. "Siapa yang berkata hal bodoh seperti itu?" pertanyaannya membuat Charlotte menoleh.


"Ibuku..."


Skakmat! Cameron menutup mulutnya rapat. Tidak berkomentar lagi. Tidak enak juga dia, secara tidak langsung Ia sudah menghina calon mertua sendiri.


"Maaf merepotkanmu.." Charlotte bersender di headboard. Kali ini tangannya sibuk mencoret perban dikakinya, sesekali melirik Cameron yang duduk di kursi sebelah ranjang.


"Nope. Sudah kewajibanku"


Jawabannya menghasilkan kerutan di kening Charlotte. Cameron yang menyadari kalimatnya ambigu kembali berucap. "Sudah kewajibanku menjaga teman Summer..." jeda sesaat. "Teman Summer berarti temanku juga" ralatnya.


Charlotte mengangguk paham sambil tersenyum.


"Kau tidak ingin pergi? Ini malam minggu"


Cameron menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak memiliki kekasih..." manik matanya menatap Charlotte yang juga balas menatapnya. "Kau?"


"Tidak..." Charlotte menunduk. "Tapi aku menyukai seseorang" lanjutnya.


Demi semua koleksi underware Summer, Cameron hampir saja tersedak salivanya sendiri. Sesuatu seperti mencubit sudut hatinya. Apa ini yang namanya sakit hati? Duh, sakit juga ya rasanya. Ia jadi ingin menangis.


Buru-buru Cameron tersenyum seperti biasa, dengan menaikkan sebelah alisnya. "Well, sepertinya dia sangat beruntung" tawanya kaku.


"Aku yang beruntung jika dia berbalas menyukaiku" Charlotte menunduk, mendekatkan wajah mereka. Kedua tangannya bertumpu pada ujung ranjang. "Dia incaran para gadis" ucapnya sambil berbisik, lalu memundurkan tubuhnya. Menciptakan jarak di antara mereka.


Mungkin dari luar Cameron tampak biasa saja, tapi didalam, otaknya sedang berpikir keras menelaah 'Tuan incaran para gadis' yang sialnya menjadi incaran gadisnya juga.


Tapi seingat Cameron, yang terkenal hanya beberapa, ditambah lagi Ia tak pernah melihat Charlotte dekat dengan siapapun.


'Charlotte? Kulihat dia pergi dengan Mark tadi pagi'


Perkataan Dominic tadi siang langsung menghantam ingatan Cameron. Cameron mendengus kesal. Kenapa juga dari sekian banyak lelaki harus Mark yang dekat dengan Charlotte. Bukan, bukan Cameron memiliki masalah dengan lelaki itu. Ia hanya sedikit kesal, apalagi jika menyangkut calon gadisnya.


Suara ringisan membuat Cameron kembali tersadar dari dunianya sendiri. "Apa masih sakit?" tangannya mengelus pelan kaki Charlotte yang terbungkus perban. Mencoba tak menekannya terlalu keras.


"Sakit ketika digerakkan" kekehnya.


Wajah Charlotte merona malu. "Seandainya aku tak terlalu bersemangat, mungkin kakiku akan baik-baik saja" gumamnya.


Tadi sore sewaktu mereka menonton lumba-lumba, mereka termasuk penonton beruntung yang dapat melihat lumba-lumba tersebut dari dekat.


Mereka terlalu bersemangat hingga tak menyadari lantai sekitar kolam basah. Mereka menyadari, hanya Charlotte saja yang tidak. Summer bahkan merangkul lengan Dominic dan Ben agar tidak terjatuh. Cameron sendiri takjub melihat lumba-lumba dalam jarak dekat, jadi tidak terlalu memperhatikan Charlotte.


Perhatian mereka teralih begitu mendengar jeritan Charlotte. Tak ada waktu untuk menolong karena mereka sudah melihat tubuh Charlotte yang tergeletak di lantai.


Cameron tertawa keras begitu mengingatnya. Kali ini tertawa seperti biasa. Membahana seperti ketika berkumpul dengan dua temannya. Biasanya mana berani Ia tertawa seperti itu di depan Charlotte. Biasa-bisa Ia di anggap gila.


Charlotte melempar Cameron dengan bantal yang sejak tadi dipangkunya. "Berhenti tertawa. Itu tidak lucu" gerutunya.


Tawa Cameron membahana lebih dari sebelumnya. Terserah saja jika Ia dianggap gila oleh Charlotte


"Cameron, stop it" gerutu Charlotte lagi.


Cameron mengusap sudut matanya yang basah. "Baiklah, baiklah, as you wish Princess" sebelah matanya berkedip. Menggoda Charlotte.


Charlotte semakin menggerutu pelan.


•°• ✾ •°•Krealist University•°• ✾ •°•


Garden Lights, Krealist University


Surrey, England, United Kingdom


Lampu taman bersinar terang. Bahkan terangnya mengalahkan bulan purnama malam ini. Bye the way, ini malam minggu. Taman ramai dengan pasangan yang sedang dating, tidak juga sih. Ada dua orang yang bukan pasangan.


Niat mereka berdua tadi belajar bersama. Tapi mereka salah pilih lokasi. Alasannya? Mereka lupa hari. Sebenarnya yang lupa hanya si gadis, si lelaki hanya pura-pura lupa. Maklum, siasat pendekatan.


"Kau tahu tidak kenapa langit gelap?"


Rose, yang di ajak berbicara sontak menoleh. Keningnya berkerut bingung. Matanya melirik langit yang berhiaskan kerlip bintang, dan juga bulan purnama terang. Tapi kemudian menggeleng pelan.

__ADS_1


"Karena bulan sedang duduk disampingku"


"Dom..." Rose berseru, lalu tertawa pelan.


Ben yang sedari tadi memperhatikan dua orang itu begidik ngeri. Tadi Ia mencari Dominic yang tiba-tiba menghilang begitu mereka pulang dari aquarium. Membiarkan Ia menumpang di mobil Cameron. Ia sempat berputar-putar taman mencari sadara kembarnya itu. Hendak memanggil, tapi tertahan begitu melihat siapa yang duduk di sebelahnya.


Kehidupan sosial Dominic bisa berakhir jika saja salah ada orang yang melihat pemandangan ini. Dibawah pohon besar taman universitas, duduk beralaskan rumput, dengan penerangan yang sangat minim, Dominic duduk dengan Rose sambil mengatakan hal-hal manis.


Ben berdehem seraya keluar dari tempat persembunyiannya. Membuat Rose dan Dominic mengalihkan atensi padanya.


Dominic berdecak pelan begitu melihat ekspresi Ben. Sebelum Ia mengeluarkan sepatah kata, Ben lebih dulu memegang pundaknya dan berbisik sebelum pergi. "Hati-hati, pohon disini ada penghuninya" ujarnya seraya berlalu.


Dominic mengernyitkan kening, kemudian menggaruk telinganya yang tak gatal. Kemudian menatap Rose yang juga balik menatapnya kemudian mengendikan bahu tanda tak mengerti. Ben terlalu sulit di pahami. Tak terlalu memusingkan perkataan Ben, Dominic kembali memperhatikan Rose yang kembali menatap sekitar. Lalu keadaan kembali canggung.


Berdehem pelan. "Dasar tidak tahu tempat. Bermesraan disini, seperti tidak ada tempat lain saja" Rose mengalihkan pandangan begitu melihat sepasang kekasih sedang saling 'memakan' bibir tak jauh dari mereka.


"Jangan dilihat. Tidak baik untuk untuk kesehatan mental" respon Dominic. "Ingin pergi tidak?" tawarnya. Ia sendiri juga tak tahan sebenarnya. Tak tahan melihat pemandangan yang memenuhi taman.


Rose mengendikan bahu. "Kemanapun kita pergi, aku yakin yang seperti itu..." Ia menunjuk pasangan yang masih saling memakan bibir, kemudian melanjutkan. "... Akan kita lihat juga. Entah di kantin, cafe universitas, bahkan lebih parah lagi di perpustakaan atau ruang kesehatan.


Dominic mendengus. Perpustakaan atau ruang kesehatan. Tentu saja, dua tempat itu sepi pengunjung. Tempat yang pas jika dipakai untuk adegan tidak senonoh. Terlebih perpustakaan, masih banyak celah yang tidak terpantau kamera pengawas karena lemari buku yang banyak.


"Kau tidak ingin mencari mereka?" Rose memandang pria disampingnya. Memperhatikan fitur wajah pria itu.


'Tampan'. kata itu masih kurang dalam mendeskripsikan Dominic. Dengan garis rahang yang kokoh, hidung yang sempurna, bibir penuh, rambut brunette yang halus. Membuat tangan gadis mana saja gatal ingin menyentuhnya. Tapi sepertinya gadis-gadis diluar sana harus menelan kekecewaan, karna yang menyentuh Dominic hanya pemilik dari pria itu sendiri.


Tanpa bertanya pun Dominic sudah tahu maksud Rose. Jadi Dominic hanya menggeleng. "Tidak, nanti juga bertemu lagi. Kami tak terpisah jika kau ingin tahu"


"Semua orang pun tahu Kalian tak terpisah" tangannya meninju pelan lengan Dominic. "Para gadis itu bahkan iri dengan Summer" ungkapnya.


"Iri?"


Rose mengangguk. "Mereka melakukan berbagai cara untuk masuk diantara Kalian bertiga, tapi tidak ada satupun yang bisa. Sekuat apapun mereka berusaha" matanya masih menatap Dominic, yang kini balas menatapnya.


"Sedangkan Summer, dia tidak melakukan apapun tapi bisa masuk begitu mudah diantara kalian" lanjutnya lagi.


"Apa Kau termasuk?"


Kening Rose mengkerut dalam. Menandakan gadis itu sedang bingung. "Huh..?"


"Apa Kau juga ingin masuk diantara kami?"


Rose menggeleng pelan sebagai jawaban. "Aku bukan orang yang mudah iri pada orang lain, terlebih pada Summer. Dia temanku" bibirnya terangkat membentuk senyum.


Dominic diam mendengarkan. Jika dipikirkan lagi, ini percakapan terlama mereka berdua, terlebih untuk sepasang kekasih. Mereka hanya bertemu jika ada sesuatu yang penting, Rose sibuk dengan kuliah kedokterannya dan Dominic sibuk dengan segala kegiatan menuju calon pewaris tahta. Mereka berdua bahkan jarang bertukar kabar melalui ponsel, Dominic tidak terlalu suka berkirim pesan.


"Kau suka seperti ini?" tatapan dominic berubah intens.


Rose mengangguk tanpa ragu. Ini memang keinginannya. Berhubungan tanpa banyak orang yang tahu. Hanya merasa tidak nyaman jika hubungannya menjadi konsumsi mahasiswa lain. Dominic yang sempuna menjalin hubungan dengan Roseanne Park yang latar belakangnya abu-abu. Tidak ada yang tahu siapa Rose kecuali orang terdekat. 'Aku tak ingin mereka meremehkanmu', itu alasan yang selalu diucapkan Rose jika Dominic ingin mereka berhubungan secara terbuka.


Tangan Dominic terulur menggenggam tangan Rose. Sedikit meremasnya pelan. Pandangannya kembali menatap langit malam. "Heaven must be missing an angel..." lalu kembali memandang wajah Rose. "Because you're here with me" 


"Yuck...! Menjijikan...!" teriakan tersebut membuat Dominic dan Rose terlonjak kaget dan menoleh mencari sumber suara.


Dilihatnya Daniel yang keluar dari balik pohon seraya mengelus lengannya yang merinding. Tidak kuat menahan geli yang menjalarinya sejak tadi. Bahkan rasa gelinya mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Katanya back street, ya jangan pacaran disini" Johnny mengekor di belakang Daniel, ikut keluar dari balik pohon besar. Tempat yang strategis untuk menguping.


Dominic menunduk menutup wajah, tidak menyangka aksi budak cintanya tertangkap jelas di depan mata teman-temannya. Lama-lama suara derap langkah kaki semakin ramai, dan ketika Dominic mengangkat kepalanya, teman-temannya yang lain mulai muncul satu persatu dari balik tembok yang membatasi Lights Garden menuju jalan setapak berbatu.


Kali ini Summer yang keluar dari balik tembok sambil mengusap telinganya, pura-pura kepanasan karena baru saja menjadi bahan pembicaraan sepasang kekasih itu.


"Ternyata Dominic tidak sekeren yang kupikirkan..." celetuk Victoria speechless.


•°• ✾ •°•Krealist University•°• ✾ •°•


Tangannya tak berhenti mengepel, begitu pula bibirnya yang tak berhenti menggerutu. Summer menggerutu sekaligus berdecak kesal. Membuat Victoria yang bertugas bersamanya merasa jengah.


"Bisa tidak sehari saja tidak menggerutu? Berisik tahu!" ketus Victoria akhirnya. Inginnya sih menyumpal bibir Summer mengunakan kain pel, tetapi tidak berani. Ia masih trauma.


Summer memandang Victoria sengit, lalu menendang ember berisi air pel. "Kalau tidak ingin dengar pergi ke hutan saja sana. Sepi!" Summer menunduk. Memeriksa ember yang tadi ditendangnya. Untung tidak pecah, kalau pecah nanti malah di suruh ganti.


Victoria tidak membalas. Tahu akan kalah kalau adu mulut dengan Summer. Jadi Ia hanya mengelus dada pelan, mengumpulkan kembali kesabarannya, lalu lanjut mengepel lantai yang anehnya sejak tadi tidak bersih-bersih juga, malah semakin kotor.


Bingung dengan kondisi lantai, alis Victoria bertaut. Keningnya berkerut dalam menandakan Ia sedang berpikir keras. "Kenapa lantainya semakin kotor?" gumamnya seraya mengangkat kaki. Memeriksa sepatunya. Tidak kotor, karena mustahil sepatunya kotor mengingat Ia hanya berkeliaran di sekitar universitas yang tentu saja bersih. "Sepatumu kotor ya?" tuduhnya pada Summer.


Yang dituduh merasa tak terima. tentu saja, Summer kan pecinta bersih. Sepatu baru sekali dipakai saja langsung dicuci. Enak saja main tuduh sembarangan.


Summer mengangkat kakinya. Memperlihatkan sepatunya. "Sepatuku bersih kok. Tidak sekotor sepatu kuda" jangan lupakan nada sinis dalam suaranya.


"Airnya hitam makanya lantainya semakin kotor. Begitu saja tidak tahu" lanjut Summer seraya mengepel. Waktunya terbuang kalau meladeni Victoria.

__ADS_1


Victoria menganggukkan kepalanya. Lalu ikut melanjutkan kegiatannya, sebelum otaknya mencerna sesuat


Apa tadi? Hitam...?! Dengan horror Victoria menoleh pada Summer yang masih asik dengan dengannya sendiri.


"Dimana Kau dapat air ini?" tanyanya sambil berkacak pingggang.


Summer mendesah keras. Kesal sejak tadi diajak bicara terus oleh Victoria. Ia hanya ingin tugasnya cepat selesai agar bisa tidur. Maka dari itu Summer menoleh dengan malas.


"Toilet yang direnovasi. Kupikir itu tidak berpengaruh pada airnya"


Seketika Victoria memijit kepalanya yang mendadak pusing. Dengan kesal Victoria menendang pelan ember tersebut. Membuat airnya sedikit tumpah ke lantai. Summer menjerit tertahan. "Tumpah, bodoh! Jadi semakin kotor!" tangannya terangkat didepan wajah Victoria. Membuat gerakan meremas, seakan sedang meremas wajahnya.


Victoria segera menepis tangan Summer. "Sudah kotor! Air ini pasti bekas renovasi! Cepat buang!"


Summer menganga. Mana Ia tahu itu air bekas. Lagipula Ia terlalu malas untuk ke toilet diujung lorong yang sepi. Ia takut. Siapa tahu nanti ada penculik di sana. Kan bahaya.


Dengen enggan Summer mengangkat ember berisi air tersebut. Berat juga ternyata. 'Terlalu berat. Bisa patah tanganku jika mengangkat ini sampai ke toilet', pikirnya. Lalu sudut matanya menangkap jendela yang terbuka. Jendela yang dibawahnya adalah lobi utama dan mengarah langsung pada area parkir outdoor Universitas.


Sedikit kesusahan Summer mengangkat ember tersebut. Victoria sendiri lebih memilih memperhatikan sambil bersender pada kusen jendela lain. 'Semoga jatuh...', sisi iblis Summer berdoa.


Tanpa memikirkan apapun, Summer segera membuang air tersebut keluar jendela. Dengan nafas lega, Ia menepuk kedua tangannya, membersihkan debu di sana.


"SUMMER, MORON...! KAU MENYIRAM KETUA DEWAN..!"


Teriakan Victoria membuatnya tersentak. Secepat kilat Ia mendekati jendela, lalu menoleh turun ke bawah. Jantungnya serasa turun ke perut begitu melihat Matthew Si Ketua Dewan berada di lobby dengan keadaan basah kuyup seperti orang kebanjiran.


Dan nyawa Summer seperti menghilang dari raga begitu matanya bertatapan dengan mata merah Matthew yang memerah. Sial, Ia ketahuan.


"Lari, bodoh.." Victoria mendorong tubuh Summer begitu melihat Matthew berlari memasuki lobby gedung. Sudah pasti ingin mengejar Summer.


Tentu saja Summer lari. Ia masih ingin hidup, tidak ingin mati muda. Apalagi mati di tangan Matthew.


 


•°• ✾ •°•Krealist University•°• ✾ •°•


Main Lobby, Krealist University


Surrey, England, United Kingdom


Ben melangkah keluar dari gedung taman bersama Matthew. Tadi setelah dari taman, Ia tak sengaja bertemu dengan pria itu di depan ruang dosen ketika Ia melintas di sana.


"Mr. Smith tadi memintaku untuk merangkum beberapa tugas" begitulah jawaban Matthew beberapa menit lalu yang hanya dijawab anggukan singkat. Ben sudah paham dengan tabiat Mr. Smith dan sudah paham juga dengan kegiatan Matthew. Toh, Matthew cerdas. Makanya sering kali dijadikan tangan kanan dosen.


Mereka berdua tidak banyak bicara lagi. Perjalanan menuju Lobby hanya diisi keheningan. Tak tahu juga mau membahas apa. Mereka tidak dekat, hanya sering bertemu ketika Summer berbuat ulah saja. Sesekali Ben melirik kanan kiri. Tidak banyak mahasiswa berkeliaran di lobby pada jam malam seperti ini. Biasanya yang berkeliaran di jam seperti ini di Lobby hanya anak berotak cerdas atau yang sedang menjalani masa hukuman.


"Naik sepeda?" Nero bertanya begitu matanya menangkap sepeda yang terparkir di depan gedung.


Gedung utama dan Student Housing lumayan jauh mengingat luasnya wilayah Universitas. Maka dari itu pihak Universitas memberi fasilitas kendaraan, seperti sepeda yang hanya bisa digunakan mahasiswa di lingkungan Universitas dengan alasan keamanan.


Matthew mengangguk. Langkah mereka terhenti di depan Lobby. "Tidak berkencan dengan kekasihmu?"Ben menonjok pelan lengan Matthew, berusaha menggoda. Siapa tahu suasanannya bisa sedikit mencair.


"Berkencan seperti apa yang Kau maksud?"


Ben menggaruk keningnya. "Untuk orang sepertimu kencan dibagi jadi berapa?" alisnya terangkat sebelah.


Matthew mendengus, kemudian merangkul Ben mendekat. "Yang kutahu hanya kencan ranjang" jawabnya santai. Kemudian menatap Ben dengan pandangan aneh.


Alarm di kepala Ben menyala, sontak Ia menepis rangkulan Matthew dan menatap pria itu datar. "God damn it!" umpatnya masih dengan tatapan datar, Ia tahu arti tatapan Matthew. Baru saja ingin mengumpat lagi, Matthew yang di depannya sudah basah seperti orang kehujanan.


"Holly shit, man!" Umpatnya tanpa sadar. Tanpa bisa berkata-kata lagi, Ia hanya bisa membantu mengelap wajah Mathhew dengan sapu tangan.


Matthew sendiri sudah memejamkan matanya erat dan tangan mengepal. Terkejut, tapi amarah lebih mendominasi. Perlahan Ia membuka mata dan mendongak. Maniknya bertemu dengan manik itu lagi.


"Summer..." desisnya tajam.


Ben menganga, kemudian menepuk keningnya, pasrah. Ia hanya diam begitu melihat Matthew kembali masuk ke dalam gedung.


"Well, sayonara Summer Brighton. Semoga bertemu lagi di kehidupan selanjutnya" Ben menatap prihatin Lobby yang kosong.


 •°• ✾ •°•Krealist University•°• ✾ •°•


"SESEORANG TOLONG AKU! DOMINIC....! BEN....! HELP!"


Jeritan Summer yang seperti orang kesetanan di koridor yang ramai menarik perhatian. Beberapa mahasiswa bahkan menghindar begitu melihat Summer yang berlari tanpa arah.


Sebagian memutuskan tidak peduli, sebagian lagi terheran menatap Summer yang berlari histeris seperti dikejar penagih hutang. Mereka tahu Summer aneh, tapi kali ini lebih aneh lagi. Mendekati gila malah.


Namun mereka menahan nafas begitu melihat Ketua Dewan Mahasiswa -Matthew- melintasi mereka dengan seluruh tubuhnya yang basah. Ditambah lagi dengan wajah Matthew yang sangat geram penuh amarah berlari mengikuti langkah Summer.


Well, lebih baik Summer dikejar penagih hutang, daripada dikejar Ketua Dewan yang sedang kebanjiran.

__ADS_1


'sial sekali bocah itu' pikir mereka


•°• ✾ •°•To Be Continue•°• ✾ •°•


__ADS_2