
Student Housing, Unit 5A, Room's 281
Surrey, England, United Kingdom
"Apa yang Kau lakukan disini?."
Summer menatap Matthew skeptis. Lalu mengalihkan tatapan ke pergelangan tangannya yang digenggam erat oleh pemuda itu.
Sontak pria itu segera melepaskan genggamannya. Helaan nafas Matthew terdengar. Manik birunya menatap Summer yang balas menatapnya dengan... polos?
"Kau tak ingin mengajakku masuk, Matt?." Summer menunjuk pintu unit Matthew dengan dagunya.
Matthew menatap Summer lekat. Sebuah lampu imajiner muncul diatas kepalanya. Tanpa banyak bicara, Matthew membuka pintu unit. Mempersilahkan Summer masuk dengan lirikan matanya.
Yang dilirik langsung menerobos masuk. Maniknya berkeliaran menatap kamar unit milik kepala Dewan Mahasiswa. "Kamarmu luas sekali..." komentarnya takjub.
Pemilik kamar menatap Summer aneh. Matthew menggaruk pelipisnya yang tak gatal. "Memang seperti apa kamarmu?."
Menyadari satu hal, Summer cengengesan. Ia lupa jika semua kamar di Student Housing berupa studio. Lengkap dengan dapur dan kamar mandi sendiri. Tapi percayalah, Dapur hanya ruang kosong yang tak terpakai, atau bahkan kadang mereka ubah menjadi ruang lain.
Kebanyakan dari mereka lebih memilih makan di kantin. Makan dikantin bersama sahabat lebih nikmat, - itulah kata mereka.
Bayangkan saja berapa luas masing-masing kamar di tiap unit. Satu unit, atau satu lantai biasanya terdiri dari enam puluh kamar kamar. Sedangkan Universitas memiliki banyak mahasiswa. Jadi tiap gedung biasanya terdiri dari empat atau tiga unit, atau lantai. Universitas sendiri memiliki setidaknya empat student housing.
Jentikkan jari menyadarkan Summer. Matanya mengerjap beberapa kali, sedetik kemudian melotot kaget. "M-matt..." gumamnya.
Wajahnya dan Matt sangat dekat. Hampir tidak ada sekat. Mungkin jika ada malaikat lewat dan mendorong salah satu diantara mereka, sudah pasti bibir mereka saling menempel. Mungkin.
Matthew menyeringai. Ia melangkah makin mendekat., Summer melangkah mundur. Tangannya terulur mengurung Summer diantara dirinya dan dinding.
"Kau harus dihukum karena mengganggu tidurku, nona Brighton." bisiknya di telinga Summer. Sesekali menggoda dengan meniup pelan telinganya.
Summer ketar-ketir sendiri. Memikirkan hal-hal yang selanjutnya terjadi. Matanya menatap Matthew. Tatapannya kosong. Ia takut tapi juga senang. Antara takut melihat smirk di bibir pria itu dan juga senang karena bisa sedekat ini dengan pria itu.
30 menit kemudian...
"Dasar pria arogan! Menyebalkan! Was saja kalau aku keluar dari sini, kulaporkan dia pada Ben dan Dominic." gerutu Summer. Tangannya sibuk mengelap permukaan kaca.
Bibirnya tak berhenti mengutuk pemilik kamar 281 -Matthew-. Matanya berkaca-kaca, ingin marah tapi tak bisa. Sungguh, Ia ingin menangis.
"Kau harus dihukum karena mengganggu tidurku, nona Brighton. Bersihkan seluruh tempat ini, jika tidak kupastikan sendiri private room's rata dengan tanah." Matthew berbisik lirih. Kemudian menjauhkan kepalanya, menatap Summer dengan seringai bak iblis dari neraka. Itulah yang dikatakan si Ketua Dewan Mahasiswa 30 menit yang lalu.
Summer sendiri sudah mangap-mangap seperti ikan kehilangan air. Mau kabur juga tak bisa, satu-satunya jalan hanya pasrah dan menjalankan peran pembantu untuk sementara.
"Berhenti menggerutu, Summer. Kau terlihat seperti nenek...ku." Kain lap mendarat di wajah tampannya sebelum Matthew selesai bicara. Pelakunya? tentu saja Summer.
Matthew membuka mulut lagi, ingin protes. Tapi diurungkan begitu melihat wajah merah Summer dan jemari lentiknya yang memegang botol berisi cairan pembersih kaca, siap dilemparkan. Jangan lupa dengan asap imajiner yang keluar dari lubang hidungnya.
__ADS_1
Sebelah alis Matthew terangkat, menatap pembantu -sementaranya- skeptis. Ia duduk di sofa, tangannya bersedekap. Matanya menatap Summer dengan tajam. Seolah marah. Padahal dalam hati sudah ketar-ketir sendiri. Takut Summer benar-benar melemparnya dengan botol.
Sebelum ketakutannya berubah jadi kenyataan, Matthew memilih bungkam. Dan memperhatikan Summer yang kembali bekerja, dengan bibir yang mengerucut dan menggerutu. Manis sekali. 'Eh... what the...', protes isi kepalanya.
•°• ✾ •°•Krealist University•°• ✾ •°•
Student Housing, Unit B, Room's 436
Surrey, England, United Kingdom.
Samar-samar Ben bisa mendengar suara tawa tertahan. Bahkan dalam ambang kesadarannya, Ia masih bisa mengenal jelas tawa jahil yang berasal dari dua bocah idiot legenda kampus dan juga dengusan geli dari saudaranya -Dominic-.
Perlahan Ben bisa merasakan sesuatu yang menggores wajahnya. Alisnya menekuk tak suka, Ia sudah sadar dan bangun sepenuhnya , tapi Ia tetap mempertahankan matanya untuk tetap terpejam.
"Dalam hitungan ketiga Kalian tidak menyingkir dari ranjangku, Aku akan menghajar kalian"
Dengan mata terpejam, Ben bisa mendengar suara Cameron yang berdecak. "Ayolah, berbaik hatilah sedikit di hari ulang tahunmu." ucapnya masih dengan mencoret-coret wajah Ben.
Ben memberontak dari tangan-tangan jahil yang mencoret-coret wajahnya. Ia lalu berbalik menyamping, menarik selimut untuk menutupi seluruh wajahnya.
"Hal yang paling aku benci dari hari ulang tahunku adalah Kalian membangunkanku dengan coretan aneh diwajahku." gerutunya dari balik selimut. "Wait!." Ben langsung bangkit duduk. "Apa ini benar hari ulang tahunku?." Tanyanya was-was.
Tangan Ben terulur ke arah nakas di samping ranjang, meraih ponselnya. Mengabaikan Cameron yang berteriak sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan nada tinggi yang tidak sampai, hingga membuat Summer dan Dominic melemparinya bantal dan berakhir dengan ketiganya yang saling memukul dengan bantal dan berguling diatas ranjang king size milik Ben.
Ben sekilas menatap bosan tingkah tiga orang yang tidak pernah berubah sejak dulu meski usia mereka bertambah. Ia lalu memeriksa pesan email yang masuk, ada tiga pesan masuk. Dan Ia harus menelan kekecewaannya saat tak ada satupun email ayah dan ibunya. Tiga email yang Ia terima itu berisi ucapan selamat ulang tahun dari tiga pengirim yang berbeda, pertama dari kakek dan neneknya dari Seattle, kedua dari Adelaide si gadis manis jurusan Psikologi, dan yang terakhir dari sepupunya.
Ketukan pintu di luar cukup menghentikan keributan yang di buat dua bocah idiot dan satu bocah semi idiot di atas ranjang.
Selagi Ben berteriak "Masuk" Cameron mengambil kesempatan mendorong Dominic yang kebetulan berasa di pinggir ranjang, membuat pria berambut blonde itu terjungkal dengan bokong membentur lantai. Dominic meringis, Summer dan Cameron tertawa.
"Damn you, bro..." umpat Dominic sambil melotot.
Cameron nyengir, tapi tetap mengulurkan tangan untuk membantu Dominic berdiri.
Sementara itu pintu kamar Ben terbuka di dorong dari luar, kepala seorang gadis yang pertama muncul dari sela pintu tersebut. "Morning, Sam, Aku..." Ia tidak berhasil menyelesaikan ucapannya saat matanya memandang Ben yang duduk di atas ranjang. "Astaga. What's wrong with your face?"
Ben yang tersadar, langsung menutupi wajahnya. "Sial." Ia lupa dengan wajahnya yang pasti terlihat aneh dengan berbagai coretan hasil karya Dominic dan Cameron.
Dan yang melihat wajahnya sekarang adalah Adelaide. Demi rambut Summer yang seperti singa ketika bangun tidur, Ben bertaruh setelah ini Adele tidak akan mau berdekatan dengannya lagi. Hancur sudah harapannya membangun hubungan dengan gadis manis dari jurusan Psikologi.
•°• ✾ •°•Krealist University•°• ✾ •°•
__ADS_1
Ben menatap malas bocah idiot yang duduk didepannya. Terkadang Ia mengernyit jijik melihat Cameron yang asyik menatap gadis pendek bernama Charlotte yang sedang duduk di balkon Student Housing gedung A unit 3. Sayangnya lagi, Charlotte malah sedang memperhatikan pria lain tanpa sadar tatapan Cameron. Poor you, Cameron.
Mereka berdua sedang berada di balkon. Ia sedang menikmati teh hijau yang baru dibelinya. Jangan tanya kemana dua bocah idiot lainnya. Mereka sedang asyik bermain kertas gunting batu dipojok balkon lengkap dengan lipstik dan bedak bayi. Benar-benar kumpulan bocah... idiot.
Sejak kejadian memalukan 'kepergok Adele' dan berakhir dengan ditertawai. Ben bingung ingin marah atau berterima kasih pada tiga bocah ini, karena mereka Ia jadi bisa melihat Adele yang tertawa lepas.
Mungkin sekarang Ben menganut sistem 'Love is making you laugh. Event if it means looking like a fool'. Jika Summer dan Dominic mengetahui fakta itu, mungkin mereka akan menyamakan Ben dengan Cameron. Sama-sama budak cinta!
"Ben, Dom, lihat Cameron...!" seruan Summer terdengar disusul gelak tawa. "Dia terlihat seperti idiot yang sesungguhnya."
Cameron tidak tersinggung, sungguh. Ia malah ikut tertawa terbahak-bahak begitu melihat wajahnya sendiri di cermin kecil yang diberikan Summer. Suara tawanya yang paling menggelegar. Mungkin sebentar lagi penghuni kamar sebelah akan protes karena keributan yang mereka buat.
"Sekarang kalian lihat sendiri siapa yang paling idiot." Dominic berkomentar sambil melempar kulit kacang pada Cameron yang masih tertawa kencang. Idiot dan gila itu beda tipis ya.
"Sesama idiot dilarang saling menghina." Ben menatap malas ketiga bocah itu.
Tawa Cameron berhenti. "Idiot teriak idiot. Itu lebih idiot, bodoh." Ia mengelap sudut matanya yang berair akibat tertawa.
"Ben, berhentilah menggerutu seperti neneknya Matthew."
Summer menggelengkan kepala. Heran dengan Ben. Tertawa saja dia malas. Duh, neneknya Cameron bahkan lebih rajin tertawa.
Gemas, Ben tersenyum lebar hingga menampilkan deretan giginya.
"Hey dude, daun teh menempel di gigimu..."
Itu suara Dominic yang kembali membuat Cameron tertawa terbahak. Bahkan Summer sudah ikut tertawa sambil sesekali memukul tubuh Dominic. Mereka tertawa puas melihat daun teh hijau terselip di depan gigi Ben.
Ben sendiri langsung mengatupkan bibirnya. Urat pelipisnya menegang, disertai dengan asap imajiner yang muncul di kedua hidungnya.
"Bisa kalian berhenti tertawa seperti orang gila. Aku tidak bisa tidur tenang..."
Kali ini bukan Cameron. Bukan juga Summer, Ben atau Dominic. Itu suara penghuni kamar sebelah. Suaranya halus, sedikit menggeram kesal. Yang dilihat seketika membuat wajah mereka pucat.
"Ibu... ada hantu..." - Cameron
"****! menjauh dari pandanganku!" - Dominic
Mereka berempat lari terbirit-birit kembali ke dalam kamar. Tak lupa membanting pintu balkon.
•°• ✾ •°•To Be Continue•°• ✾ •°•
__ADS_1