
Soccer Field, Krealist University
Surrey, England, United Kingdom
Summer menghela nafas menatap lapangan di depannya. Lapangan ini terlalu luas, bagaimana bisa Ia mengelilingi ini sebanyak 10 kali. Joan memang sudah gila!
"Hei, nona muda!"
Yang dipanggil menoleh dan mendapati seorang pria dengan seragam cleaning service sedang duduk di bawah pohon sambil melambaikan tangan ke arahnya. Dan Summer melihat dengan jelas orang tersebut membawa sebuah stopwatch di tangannya.
Summer menganga. Slogan yang terkenal di sekolahnya memang benar. 'Jangan pernah mencari masalah dengan macan kesiswaan'. Itu memang benar, karna Summer kini merasakan bagaimana rasanya jadi korban Macan Kesiswaan.
Summer tersenyum hambar, sedang dalam hati merutuki Joan dengan bermacam kalimat. 'ck ketua dewan itu, lihat saja nanti!', batinnya menyeringai lebar. Tanpa ingin membuang waktu, Summer mulai berlari pelan. Sesekali ia meringis pegal pada beberapa bagian kakinya.
Kalau sudah seperti ini ia malah semakin kesal mengingat Ben, Dominic dan Cameron. Ketiga pria itu tidak mau repot-repot memikirkan cara untuk membantunya. Malah sekarang mereka duduk manis di kantin dan menyantap makanan enak. Duh! Untung mereka tampan jadi tidak akan sulit untuk memaafkan mereka.
Suara riuh berisik membuat Summer mengalihkan atensinya. Ia menatap lapangan basket. Terlihat Matthew serius bermain dan sesekali mengkoordinir tim-nya untuk mengubah formasi. Pria itu terlalu fokus hingga tak menyadari keberadaannya. 'oh god! betapa tampannya maklum ciptaanmu itu', batin Summer merana.
'Tunggu... Apa... Kenapa pula denganku hari ini..!', gerutu Summer dalam hati. Harusnya ia merutuki pria itu karena menghukumnya seperti ini. Duh! Summer merasa otaknya rusak akibat terlalu banyak berlari.
Summer mengatur nafasnya, dan menumpukkan kedua tangan di lututnya. Ini baru putaran ke-3 dan Summer sudah merasa dehidrasi berat. Rasanya ia ingin berlari ke kolam renang, lalu menceburkan diri ke sana.
"Hei... Jangan berhenti! Atau aku laporkan!."
Suara itu membuat Summer mendesis, dan Ia kembali berlari. Ia paling benci orang bermulut besar yang suka mengadukan kesalahan orang lain.
Atensi Summer beralih kembali ke lapangan basket. Di sana, Matthew terduduk di bangku pemain. Terlihat lelah dengan banyak keringat yang mengalir di wajah dan juga lehernya.
Terkadang mata Matthew melirik ke arah gadis-gadis yang mengenakan pakaian minim. Summer memperhatikan Matthew, bagaimana pria itu tersenyum bersama teman-temannya ketika rok tim pemandu sorak tersingkap. Summer jadi kesal sendiri melihatnya.
Dan terkadang para pemain basket yang masih beristirahat saling menyikut ketika para pemandu sorak membuat gerakan seksi.
Summer tidak terlalu ambil pusing dengan teman-teman Matthew, tapi ketika Matthew ikut menyeringai saat pemandu sorak sedikit menungging dengan posisi membelakangi mereka. Summer semakin merasa ada yang mencokol dihatinya.
Summer menatap tepat ke arah Matthew yang sama sekali tak terhalang apapun. Posisi Matthew sebenarnya lurus menghadap lapangan bola, namun karena kepala pria itu yang terus menghadap pemadu sorak di sampingnya, Ia jadi tidak menyadari keberadaan Summer.
"Ck... that jerk!." geramnya.
Terdengar suara sorakan yang keras ketika tim pemandu sorak membuat gerakan melempar keatas, lalu membuat gerakan menaikkan satu kaki ke udara yang membuat celana dalam dibalik rok mereka terlihat jelas. Dan disana Matthew beserta teman-temannya tersenyum nakal.
Matthew terdiam ketika matanya tak sengaja menghadap lapangan bola. Membeku seketika ketika tatapannya bertemu netra hazel Summer. Dihadapannya, gadis itu menatap dengan wajah datar. Matthew sedikit takut. Aneh bukan?
Matthew menelan ludahnya kasar. Ia mencoba mengedipkan matanya berulang kali dan mengalihkan pandangannya tapi berakhir dengan krmbali menatap Summer. Seperti ada magnet tak kasat mata yang memintanya untuk menatap ekspresi gadis itu.
Summer juga terdiam. Teriakan dari pria yang memantaunya sama sekali tak dihiraukannya. Ia sibuk mengenali rasa tak nyaman disudut hatinya.
Sarah berjalan kearah Matthew dengan wajah tenang, tidak menyadari ekspresi Matthew. Bahkan gadis itu memeluk leher Matthew dan duduk disampingnya, tapi merasa pria itu tak merespon. Sarah mengikuti arah pandang Matthew. Dan seketika gadis itu melepas pelukannya lalu memandang Summer dengan perasaan tak enak. Sedetik kemudian tatapannya berubah bingung Summer dan Matthew.
__ADS_1
Mereka berdua aneh. Matthew seperti ketahuan telah melirik gadis lain dihadapan kekasihnya. Dan Summer sudah seperti gadis yang memergoki kekasihnya hampir selingkuh. Tatapan datarnya itu... rrrr sedikit mencekam.
Summer baru tersadar ketika pria pemantau tersebut berteriak didepannya.
"Aku akan melaporkanmu, young lady. Ayo ikut aku!." ucap pria tersebut lalu menarik paksa tangan Summer. Summer sama sekali tidak menolak.
Student Housing, Krealist University
Surrey, England, United Kingdom
Mata Matthew langsung terbuka saat bunyi ledakan menginvasi mimpinya, diikuti getaran yang terasa seperti gempa bumi skala kecil. Disusul dengan alarm mobilnya dan juga mobil-mobil milik mahasiswa lain yang terus berbunyi.
Matthew langsung menyibakkan selimutnya dan melompat turun dari tempat tidurnya. Setelah berhasil memakai sandal rumah dengan sekali masukan, Ia segera berlari keluar menuju balkon untuk melihat darimana asal ledakan tersebut.
Bersamaan dengan itu, Dominic yang masih terlelap dengan balutan selimut sontak terbangun dan terjatuh dari atas tempat tidur dengan posisi wajah yang terlebih dahulu menghantam lantai marmer kamarnya. Menyebabkan Ben yang bergelung diselimut yang sama ikut tertarik jatuh ke bawah dan menimpa Dominic yang berusaha untuk bangkit.
Dominic mendesis. Membuat Ben terbangun dan menyingkir dari punggung saudaranya. "Shit! Are you okay bro?." tanyanya sedikit khawatir. Terlebih melihat Dominic yang menggigit bibir menahan sakit.
"Aku baik-baik saja, tapi 'adikku' tidak baik-baik saja."
Ben melirik 'adik' yang dimaksud saudara sedarahnya itu. "Poor you, dude." Mengejek, lalu setelahnya ikut meringis melihat Dominic terus mendesis menahan sakit.
Matthew sempat berpikir kemungkinan-kemungkinan seperti serangan *******, perang, atau bahkan kiamat. Dan seharusnya Ia sudah menduga begitu melihat Summer memegang sebuah Bazooka.
Matthew menarik nafas. "SUMMER BRIGHTON..." seru Matthew kesal.
Yang punya nama tersentak dan langsung berlari ke belakang Cameron yang sama takutnya. Mary, yang juga ikut dalam aksi itu hanya berdiri diam didekat pintu. mencoba bersikap tenang.
"Oh... Well... Morning, Matt." Sapa Summer kikuk dari belakang Cameron. Tidak yakin sapaannya itu sebenarnya perlu atau tidak. Ekspresi Matthew sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Tidak ada 'selamat' pagi ini.
"'Good morning' your ***! APA YANG KAU PIKIRKAN DENGAN MENGHANCURKAN PONDOK ITU?!." teriaknya seraya menunjuk pada sisa-sisa pondok yang biasa berdiri dipinggir lapangan Student Housing. Eh, tidak ada sisa jadi Matthew hanya menunjuk pada udara.
"Engh... Kami hanya sedang mencoba produk baru! Bazooka TR 8.0, ini bisa digunakan untuk meledakkan benda yang lebih jauh. Sangat membantu jika jaraknya..."
"I DON'T FUCKIN' CARE!."
Summer lagi-lagi tersentak dan memperhatikan Matthew yang turun dari balkon kamarnya tanpa rasa takut lalu melompat ke tanah.
"Mirip monyet saja." Cameron bergumam pelan tanpa seorang pun mendengar ucapannya.
Summer semakin menyembunyikan tubuhnya dibelakang Cameron sambil terus bernyanyi dikepalanya. Memang siapa yang tidak suka melihat pria tampan berambut brunette yang tidak mengenakan apa-apa selain mengenakan celana piyama dibawahnya tanpa atasan.
Rasa sakit yang datang secara tiba-tiba ditelinga menyadarkan Summer dari khayalannya. Matthew menarik telinganya dan juga telinga Cameron. Hey! tidak sampai harus menarik telinganya seperti ini kan? Mengapa juga harus dihadapan mahasiswa lain.
Well, mahasiswa lain juga keluar kamar masing-masing setelah kejadian tadi. Membuat Summer menundukkan kepalanya dalam. Menutupi wajahnya jika bisa.
__ADS_1
"Kalian gila atau bagaimana?! INI MASIH SANGAT PAGI DAN KALIAN MELEDAKKAN PONDOK ITU?! APA KALIAN TIDAK PUNYA RASA TOLERANSI PADA TETANGGA KITA?!." Matthew berteriak tepat di telinga Summer dan Cameron.
Joan datang dengan tergopoh-gopoh. Jangan lupakan rambutnya yang masih berantakan., dan juga wajah bantalnya. "Memangnya apa yang kalian lakukan dengan Bazooka?." Joan bukan marah, hanya saja refleks terkejut.
Marry berdehem berusaha menarik perhatian Joan dan Matthew dari Summer. "Itu yang dilakukan oleh perusahaan orang tua Cameron." jelasnya pelan.
Wajah Joan tiba-tiba melembut. "Morning, Marry." sapanya ramah.
Seharusnya Marry tidak perlu menjelaskan hal itu pada mereka. Mereka semua sudah tahu karena perusahaan keluarga Cameron dan Universitas mereka bekerja sama dalam beberapa project. Keluarga Cameron memang tak main-main. Bisnis bertabur bak berlian. Salah satunya perusahaan yang memang bergerak tentang pengembangan, pembuatan dan teknologi persenjataan, seperti Bazooka yang tadi mereka mainkan.
"Pagi." balas Marry dengan senyum malunya.
Diam-diam Summer merasa terluka. Perasaannya sangat terhina. "Dengan Marry saja Kalian melunak, tidak pernah seperti itu saat denganku!." Summer memberengut.
Sontak membuat Marry dan Joan memerah. Ditambah lagi dengan siulan menggoda dari beberapa mahasiswa lain, oh jangan lupa senyum menggoda dari Cameron. Cameron seperti menemukan kelemahan Joan yang baru. Cukup untuk membuatnya bungkam untuk sementara.
"SUMMER BRIGHTON...! CAMERON...!" satu lagi suara yang memenuhi halaman student housing.
Mereka sontak menoleh kesumber suara. Di ambang pintu, Ben dan Dominic tampak berdiri dengan wajah memerah. Atau oebih tepatnya hanya wajah Dominic yang memerah. Kedua tangannya masih setia menangkup area area selangkangannya yang terasa nyeri karena terbentur lantai marmer yang keras.
"Beritahu kami, hukuman apa yang pantas untuk kalian berdua?." Joan masih cukup mengantuk untuk mengurusi Summer yang berbuat ulah di pagi hari minggu ini. Pagi yang seharusnya Ia manfaatkan untuk tidur hingga siang tapi malah gagal karena kelakuan ajaib adik kelas dan teman satu angkatannya.
"Tutup saja private basement."
"HOW DARE YOU, MATT..." teriakan Summer dan Cameron menggema.
Sontak mereka yang di dekat Summer menutup kedua telinga mereka. Suara Summer dan Cameron benar-benar membuat telinga mereka seperti mati rasa, terlebih Matthew yang berdiri di tengah dua makhluk idiot ini.
Mungkin sekembalinya Matthew dari sana, Ia akan langsung mengunjungi dokter telinga.
Refleks, Ben memukul pelan kepala bagian belakang Cameron. "Ini bukan saatnya kalian latihan vokal!." sembur pria itu dengan satu tangan yang menutup sebelah telinganya.
Summer menatap Matthew dan Joan dengan ekspresi memelas. Kedua tangannya Ia tangkupkan di depan dada. "Jangan ditutup... Kumohon..." pintanya disertai mata yang berkaca-kaca.
Seperti halnya Summer, Cameron mulai menatap dua algojo dari dewan kesiswaan dengan memelas. "Kumohon..." pintanya dengan bibir yang dimajukan.
"*Shit, man... What the hell are you doing with your face!." - Joan
"Dia bukan temanku." - Dominic
"Aku tak mengenalnya." - Benjamin
"Stop it, dude... Aku mual." - Marry**
Matthew sendiri memilih pergi meninggalkan Cameron dengan tangan menarik lengan Summer. Diikuti mahasiswa lain yang juga lebih memilih pergi daripada menatap wajah mengerikan Cameron. Poor you, Cam.
__ADS_1