
Suara tembakan yang terus menghujani mereka tanpa henti, tetapi apakah mereka takut dengan hal itu? Sungguh, tidak sama sekali. Mereka adalah sekumpulan prajurit yang sangat berani.
Lantas, kenapa mereka saling meneriaki? Karena ada satu permasalahan yang lebih mereka takuti, ketimbang bunyi senjata api. Apa itu? Hilangnya kepercayaan pada temannya sendiri.
"Adam! Menyingkirlah dari anak itu!" kata kapten Leo membentak, sembari mengarahkan mulut pistol ke arah Adam, dan anak yang berdiri di belakang.
"Kapten, dia cuma anak kecil. Dia tidak bisa apa-apa," jawab Adam pelan mencoba menenangkan emosi kapten Leo.
Namun, jawaban itu tidak membuat emosi sang kapten mereda. Dia perlahan mendekat pada Adam dengan wajah merahnya. "Ini perintah! Brengsek! Menyingkirlah dari sana!" ucapnya mengancam dengan meninggikan suara.
Adam pun membalas dengan berkata, "Kau bisa saja menembakku! Tapi aku tetap tidak akan membiarkanmu membunuh anak ini!" Adam pun dengan pelan mengambil langkah dan menjauhkan anak itu.
"Kau akan mati brengsek!"
Situasi menjadi lebih mencekam, ketika Sersan Raka datang tergopoh-gopoh membawa pesan, "Kapten! Musuh hampir datang! Kita harus kendalikan situasi-sekarang!"
Mendengar hal itu, membuat sang kapten semakin erat memegang pegangan pistolnya, "Kau tau apa yang akan dilakukan oleh musuh, kan? Jadi menyingkirlah darinya!" Kapten Leo pun mulai meletakkan jari telunjuknya pada pelatuk, "Kita tidak punya waktu-ini peringatan terakhir!"
Adam menatap tajam ke arah wajah sang kapten, dia menunjukkan wajah yang tidak ada rasa peduli dengan kematian. Janji moral dari seorang prajurit yang tidak akan dia langgar, melindungi orang-orang lemah dengan kekuatan dan tanggung jawab.
"Kapten ....!" Adam berseru di hadapan kapten Leo yang sudah siap untuk mengakhiri semuanya. "Kau berhasil ....! " Lalu ia tersenyum kepada Sang Kapten. "Kau berhasil mengajariku untuk melindungi orang-orang yang membutuhkan."
Mendengarnya, tubuh sang kapten menjadi menggigil. "Brengsek!" serunya, hingga pelatuk yang sedari tadi tertahan akhirnya terlepas. Dan seketika semua perlahan menjadi terang.
Berakhir dengan Adam yang terbangun dari mimpi buruknya. "Argh, mimpi itu lagi. Sial," gumamnya, sembari mengelus dahi.
Kemudian, ia menatap ke arah langit-langit kamar yang tampak sedikit bergetar, dan berkata, "Di luar berisik sekali. Ada tamukah?"
...
Biasanya, sinaran hangat pagi hari akan masuk ke celah-celah jendela dan pintu. Akan tetapi, tidak untuk tempat ini, benar-benar tertutup rapat. Bahkan, diintip dari luar saja tidak terlihat sedikit pun penerangan di dalamnya.
Kemudian, dari depan pintu terdengar suara keras yang sangat menyakitkan gendang telinga. "Tok! Tok! Tok!" Suara itu memberitahu, jika bunyinya tidak akan berhenti, sampai mendapatkan jawaban dari pemilik rumah.
"Halo! Apakah orang yang tinggal di sini masih hidup?!" seru seorang pria muda berkacamata dengan pakaian jas lab putih. Dia berdiri di depan rumah sederhana yang tampak terlihat tidak ada kehidupan di dalamnya, tetapi Pria Muda itu tidak menyerah, ia terus saja menggedor-gedor pintu itu tanpa henti, membuat tetangga di samping menjadi penasaran.
"Sepertinya pemilik rumah sudah mati," kata Pria Tua di samping rumah, sembari mengokang senapan angin di tangan.
__ADS_1
"Wah, informasi yang sangat membantu," sahut si p
pria Muda menatap lawan bicara dengan senyum gigi yang terpaksa, lalu lanjut menggedor pintu di hadapannya.
Bosan mendengar suara keras itu terus-menerus, membuat si penghuni rumah pun terbangun. Dia bangkit layaknya mayat hidup, lalu bergerak malas dari tempat tidur menuju ke arah suara pintu yang bergetar.
Sesampainya pada pintu depan, dia mengangkat kepala perlahan, dengan sedikit kuasa menarik muka pada sela-sela pintu, lalu ia intip dari lubang pengintip, dan berkata, "Hei, kau-pergilah dari sini!" serunya dari dalam, kemudian terdengar suara mendecit seakan menjauh.
Walaupun sudah diusir, tetapi pria muda itu tidak menyerah. Dia membusungkan dada, terlihat sangat percaya diri dengan wajah mudanya. Kemudian, ia menghela nafas panjang, seraya berkata, "Letnan Adam, aku berharap kau berkenan memberikan waktu sebentar, ini penting," kata si pria muda tampak serius.
Terkejut dengan perkataan pria muda itu, membuat penghuni rumah mulai mengenang memori kelam yang tidak bisa dilupakan, "Ah, berisik," katanya bergumam, sambil memegang dahi dengan satu tangan. Dia mencoba menghapus gambaran yang ada di dalam pikiran, dimulai dengan memukul-mukul kepala sendiri hingga rambut hitam panjangnya bergetar.
Namun, sesaat di sana, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Terbuka dengan perlahan, diiringi bunyi deritan halus gesekkan pintu. Sinaran hangat pagi hari mulai merambat masuk merasuki ruang kegelapan, perlahan terlihat setengah wujudnya di balik bayangan.
Pintu terus saja terbuka, hingga tampak suatu keberadaan yang membuat mata menjadi penasaran. Rasa penasaran pun terpenuhi, ketika terlihat tatapan putus-asa dari dua bola mata berwarna coklat-hitam.
Wajahnya pucat pasi berdiri di tengah kegelapan. Melihat orang ini-seakan-akan ingin memastikan adanya kehidupan. Menakutkan? Tidak. Sungguh sosok yang sangat memprihatinkan, dengan seni luka bakar di badan.
Inilah, Adam Maula, datang dari balik pintu dengan lihai memunculkan tangan yang cukup baik untuk memegang. Dia menarik kerah baju si pria, lalu dengan tegas berkata, "Bagaimana bisa kau mengenalku?" tanya Adam pada si Pria Muda.
Pria itu mengais salah satu saku jas yang ia kenakan, lalu diperlihatkan kepada Adam, "Ini tag Kapten Leo, istrinya memberikannya padaku. Kurasa ini cukup untuk meyakinkanmu," jawab si Pria Muda pelan.
Pria muda itu berkata, "Wow, seperti ada bau orang mati di dekat sini," sindirnya bernada halus, "Mungkin, aku akan kembali lagi nanti."
Namun, sayang sekali. Pria itu terlambat membalikkan diri, karena pintu sudah tertutup rapat. Sudah tidak ada jalan lagi untuknya kembali.
Mereka secara bersamaan duduk pada empuknya kursi sofa. Di suasana yang benar-benar tenang, mereka berdua saling menatap dan mencoba mengenali satu sama lain. Sempat hening sesaat, pandangan mereka pun tak berhenti menjauh.
"Kau siapa?" tanya Adam.
Pria muda itu menjawab, "Ya, maaf. Aku sangat terbawa suasana sampai lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, namaku Damian."
"Apa tujuanmu?" lanjut Adam bertanya pada si pria di hadapannya yang bernama, Damian.
"Hah-baiklah, tujuanku kesini adalah ...."
Mereka berdua pun mengobrol cukup lama, tetapi di tengah-tengah obrolan itu terlihat ada perdebatan sengit di antara mereka, hingga berakhir dengan Adam yang menunjukkan ekspresi wajah masamnya, ketika Damian berkata, "Adam, kau benar-benar akan bertransmigrasi ke dunia lain, percayalah padaku."
__ADS_1
"Hah? Dunia apa?! Kau bicara apa, brengsek?!" kata Adam membentak, sembari memukul meja, "Pergi kau!" sambungnya sambil menunjuk ke arah pintu depan.
Namun, tanpa memberikan tekanan, Damian pun pamit, seraya berkata kepada Adam, "Yasudah, aku pergi. Tapi, setidaknya jaga kesehatanmu, bro. Minimal mandi," katanya dengan nada yang sedikit kecewa.
Adam tidak menghiraukan perkataan Damian, dia hanya membalas dengan memalingkan wajah tanpa berkata apa-apa. Damian pun tersenyum kecil menatap Adam, lalu pergi dari sana.
~ Beberapa jam berlalu ....
Saat itu senja menjelang silam, malam pun menjadi tidak tenang. Adam yang sedang berbaring di tempat tidurnya, tak henti memikirkan perkataan Damian.
Tak henti gelisah, Adam pun beranjak dari tempat tidur mengambil sebuah botol kecil dari dalam lemari kaca. Sungguh sangat memprihatinkan, karena Adam adalah pecandu obat penenang.
'Hadeh, habis lagi. Malasnya pergi keluar,' kata Adam mengeluh dalam benak.
Sesaat dia mulai bersiap pergi keluar rumah, bertujuan untuk membeli obat. Hanya berpakaian sweater hoodie dan celana jogger dari brand lokal kesukaannya-tidak menarik perhatian, tetapi terlihat lumayan sederhana dengan sepatu sneaker yang terlihat sangat terawat. Hal sederhana itu sudah cukup membuatnya merasa percaya diri untuk keluar dari rumah, "Sepertinya aku tidak perlu mandi, ya kan?" tanya Adam kepada dirinya di depan cermin yang diam.
~ 30 menit berlalu, akhirnya Adam kembali.
Namun dia hanya terduduk diam di sofa dengan raut muka yang murung. "Sial!" kata Adam membentak, sembari melempar tanpa arah kunci motor yang dia pegang, "Apa benar mereka sudah kehabisan stok?"
Dia merenggangkan kepala, menghela nafas sembari menatap langit-langit rumahnya, lanjut berkata,"Hah-kurasa, aku butuh ekstasi.'"
Kecewa ketika tidak terpenuhi, itulah pecandu. Di dalam pikirannya hanya terbesit kata, 'Bagaimana ya? Apa yang harus ....' sempat lengah dengan buramnya penglihatan, karena besarnya kekesalan. Tak disangka, muncul setitik kilauan cahaya, hanya saja itu bukanlah cahaya harapan.
Di atas meja, pil biru berwarna terang, sangat terlihat menggiurkan bagi orang yang membutuhkan. Dia sedikit kegirangan, lalu berkata, "Yah! Cukup untuk tidur malam ini. Walaupun, warnanya terlihat berbeda."
Namun, tanpa pikir panjang, Adam segera mengambil air di dapur dan langsung menelan pil itu. Setelahnya dia rehat selama sepuluh menit untuk menenangkan diri di sofa.
01-01-2023, 21:01
Tak lama, reaksi pil sudah bekerja. Tetapi Adam melihat sebuah gerakan kecil yang aneh. Berawal dari titik hitam yang muncul dari hadapannya. Titik hitam itu perlahan membesar, lalu menelan seisi ruangan hingga menutupi semuanya.
'Kenapa? A-aku tidak bisa melihat apa-apa,' tanya Adam pada dirinya sendiri, sambil berjalan pelan mencoba menggapai permukaan dinding. 'Tidak seperti obat biasanya, tapi-ya sudahlah.'
Walaupun sudah terasa janggal, tetapi Adam masih merasa tenang. Dia mengira itu hanyalah efek biasa dari pil itu. Padahal sekitaran sudah menjadi gelap sepenuhnya. Bahkan Adam tidak bisa melihat tangan sendiri yang didekatkan pada wajah. Halusinasi ini mulai mengerikan, ketika kesadarannya tetap terus terjaga.
Tubuh mulai mati rasa, tak bisa berteriak, bahkan tidak bisa bernafas. Namun sangat aneh, Adam masih merasa baik-baik saja, dan ada perasaan aneh lain dari pergerakan tubuhnya yang terasa dipindahkan dengan sangat cepat.
__ADS_1
Entah kapan akan berakhir, karena mungkin saja dia .... "Tunggu dulu, a-apa aku sudah mati?"