Ksatria Rusak

Ksatria Rusak
Chapter 2


__ADS_3

Tak tahu sudah berapa lama dia di dalam kegelapan itu menunggu. Di sana, dia hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Tak ada gema suara ataupun cahaya harapan yang mendekatinya. Membuat hati mulai cemas dan bertanya-tanya, 'Hah ... sudah berapa lama, ya?'


Tiba-tiba, terdengar sedikit bunyi yang tenggelam dari kejauhan. Bunyi bermula muncul dari hadapan Adam, seperti suara orang kecil yang berteriak dari kejauhan. Suara meredam itu perlahan mendekat, "Hei! Halo ...!" Terdengar suara memanggil dari seorang gadis yang terus saja mendekat,"Tuan ...!" Suara itu mulai terdengar jelas, "Apa kamu sudah bisa mendengarku?!"


Pada awalnya, dari depan terlihat gambaran buram bayangan kecil. Lalu, bayangan buram itu itu perlahan-lahan menjadi jernih dan terlihatlah wujudnya, seorang gadis yang begitu luar biasa.


Gadis itu menyambut hangat dengan senyum manis di bibir merah muda. Membuat perasaan khawatir yang sebenarnya, memudar dan menghilang seketika.


Gadis kecil itu pun mencoba akrab dengan menyapa, tetapi Adam masih merasa tidak biasa. Bisa terlihat dari raut muka datar dan kebingungan yang kentara.


Kemudian Adam berjalan pelan melewati gadis itu. Dia mengamati area sekitar ruangan yang berbentuk lorong, tetapi tidak terlihat ujung, bahkan langit-langitnya. Ruangan itu sangat terang dengan banyak dekorasi layar yang tersusun sangat rapi di setiap dinding besar, layaknya cctv yang mempertontonkan banyaknya sebuah kejadian.


Dengan ratusan layar? Tidak.


Ribuan? Tidak juga.


Mungkin tidak terhitung jumlahnya, karena ujung dinding tidak terjangkau oleh mata.


"Hai orang bumi, akhirnya kamu fokus ke aku. Selamat datang di Helen Gate," kata sambutan gadis itu dengan nada dan gaya bicaranya yang gugup.


"Apa ...? Siapa kau?" tanya Adam pelan kepada gadis itu.


Sang gadis datang ke hadapan Adam, dia meletakkan kedua tangan lembut pada dada kecilnya, sembari tersipu malu memperkenalkan diri, "A-aku adalah Ratih," jawab gadis itu terbata-bata.


Dia adalah Ratih, hadir dengan segala keunikannya, berambut perak terurai, kulit berwarna coklat hangat, postur wajah sangat menawan, disertai pipi yang memerah merona. Kecantikan yang sangat luar biasa.


"Ratih ...?" tanya Adam mencoba memastikan.


"Iya, aku adalah Ratih, seorang Dewi," jawab Ratih bernada pelan.


Adam menyimak bentuk dari gadis bernama Ratih itu dengan cara yang tidak biasa, dimulai dengan menatap tubuh atas-bawah yang melekuk seperti biola, dengan kulit cokelatnya yang tertutup rapat oleh gaun cantik berwarna hitam. Mata Ratih tertutup oleh kain gelap sedikit tembus, walaupun tampak kurang jelas, tetapi tak bisa dipungkiri, dia benar-benar sangat cantik.


"Dewi? Sial, aku pasti berhalusinasi," kata Adam sembari mengelus dahi.


"Eh, bukan. Ini nyata," jawab Ratih meyakinkan, "Saat ini kita berada di Helen Gate, penghubung antar dunia Bumi dan Mid-Geb."


"Mid-Geb?" tanya Adam, sambil menunjukkan ekspresi ragu, "Tunggu dulu! Itu nyata?"


"Iya, Mid-Geb, dunia yang akan kamu tinggali nanti," jawab Ratih.


Sesaat teringat kembali ucapan Damian yang Adam kira adalah orang aneh, sontak membuatnya bergumam sendiri, 'Tunggu dulu, apakah? dunia ini yang dia maksud? Ini nyata? Atau mungkin ini hanya mimpi?'


"Eh, orang itu? Apa maksudmu?" tanya Ratih menyanggah dengan sedikit meninggikan suaranya yang lembut, "Ta-tapi, kesampingkan dulu hal itu! Dengar, setelah ini kamu akan dipindahkan ke alam kami, Mid-Geb."


Mendengar penjelasan dari Ratih, Adam tidak terlalu menanggapi dengan serius, karena pandangannya teralihkan pada kehidupan seseorang yang ditampilkan di layar. Dia hanya bertanya dengan singkat, "Alam kalian? Terus?"


Ratih pun menjawab, "Biasanya orang mati akan bereinkarnasi. Tapi ..., aku merasa kamu berbeda."


"Berbeda?" tanya Adam keheranan, sembari menatap wajah Ratih.

__ADS_1


"Oh, maaf, tidak apa-apa. A-aku hanya ..." Ratih berkelit dengan mulai berjinjit, sembari meletakkan telapak tangannya pada dahi Adam, dan balik bertanya, "Bolehkah aku melihat isi pikiranmu?" Mendengar pertanyaan Ratih, Adam sedikit tersipu, dan hanya diam karena tidak tahu harus merespon seperti apa. Akan tetapi, wajah Ratih seketika berubah setelah melihat isi pikiran Adam. Dia dengan kesal berkata, "Heh, apa maksudmu?! Bocah kecil?! Aku ini setua bigbang, kau tahu!"


Mendengar itu, Adam sontak menunjukkan ekspresi datarnya, lalu berkata, "Heh, lelucon bagus bocah ... sadarlah dengan cara bicaramu yang gugup begitu."


Ratih yang tak tahan dengan sindiran Adam pun membuang muka merahnya. "Ti-tidak! Ini kali pertama ku berbicara dengan manusia!" sahut sang Dewi, sembari menutup wajah dengan salah satu tangannya.


Namun, tiba-tiba Ratih sedikit kaget, dia merasakan ada keanehan pada pikiran Adam. Lantas membuatnya bertanya, "Kamu ... sakit, ya?"


Adam tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi Ratih menyadari, sangatlah berat bagi seorang pria untuk mengungkapkan pada seseorang tentang rasa sakit yang dia miliki.


Telapak tangan Ratih mulai mengeluarkan sebuah cahaya berwarna biru, dan tatapan matanya sangat lembut menatap ke arah Adam. "Sekarang saatnya untuk berhenti bersedih, karena aku akan membantumu," kata sang Dewi.


Adam tak banyak bereaksi, dia hanya menjawab Ratih dengan acuh tak acuh, "Ya, terserah saja. Sepertinya aku akan terbangun sebentar lagi."


Tak memikirkan yang tak perlu, Ratih langsung saja menarik benda hitam dari kepala Adam. Lalu, dia jernihkan benda hitam itu dengan meniupnya. Warna hitam semula pudar, berubah menjadi warna nila. Benda itu dia taruh kembali, seraya berkata, "Aku tidak bisa menghilangkan rasa sakitnya, tapi aku bisa meyakinkan jiwamu agar lebih tegar menjalani kehidupan, tanpa melihat masa lalu terus menerus. Aku adalah Dewi Harapan, Ratih," ucap Ratih dengan segenap ungkapan untuk memotivasi Adam.


"Wow, terasa, lebih ringan," kata Adam terkesima, karena merasa beban di pundaknya sudah menghilang.


"Bagus, itulah semangat hidup," sahut Ratih, sembari menarik tangannya kembali. "Aku adalah salah satu dari banyaknya dewa-dewi yang mengatur hukum dunia. Kami dulunya hanya mimpi dari seseorang, hingga berubah menjadi sumber kehidupan," sambung kata sang Dewi sambil memegangi tangan Adam.


"Mimpi berubah menjadi sumber kehidupan? Kau bicara apa?" tanya Adam bingung menatap Ratih, lalu melepas pegangan tangannya.


Ratih mengeluarkan sebuah cahaya hologram dari kedua tangan, lalu mendekatkan hologram itu pada Adam, seraya berkata, "Semua ini berawal dari kekuatan besar, yaitu kekuatan mimpi yang bergabung dengan imajinasi tertinggi. Perlahan, kedua kekuatan itu menyusun ketiadaan sampai berada di titik menciptakan awal. Kekuatan kosong itu meledak, lalu membangun realitas. Semua komponen yang menyusun semesta di dunia mimpi ini tergolong absolut, karena itu semuanya menjadi hidup. Dunia ini tidak bisa lagi disebut dunia mimpi, karena dunia ini sekarang memiliki realitanya sendiri," kata Ratih menjelaskan, sembari mengakhiri gambaran visual dari hologram.


Bingung mendengar hal yang dipaparkan oleh Ratih, sontak Adam bertanya, "Aku tak paham, apa yang coba kau sampaikan?"


"Kau bilang, kau adalah salah satunya?"


Ratih menjawab, "Ya, ada banyak Dewa dan Dewi, kami terhubung untuk menyusun setiap hukum, konsep, dan realitas semesta ini, dan Sang Pencipta."


"Hah, Sang Pencipta?" sahut Adam menatap Ratih dengan wajah yang cukup serius.


Ratih menjawab, "Dia adalah makhluk dengan derajat tertinggi, berdiri mengawasi di atas Khayangan para dewa-dewi."


Adam hampir terlena mendengar penjelasan Ratih yang begitu rumit bagi manusia untuk percaya. Tetapi untuk pengalaman tidak masuk akal yang sudah dia alami ini, Adam mencoba memahami setiap kondisi yang ada, dengan berkata, "Yasudah lah, paling sebentar lagi terbangun," ucapnya tenang.


Ratih tiba-tiba saja terhenti dari langkahnya, dia berpaling, lalu memegang erat tangan Adam, seraya berkata, "Adam, saat ini aku membutuhkanmu dan kamu juga membutuhkanku. Aku ingin kamu berjuang untuk menyelamatkan dunia ini."


"Hah, berjuang apa? Aku tidak butuh dengan dunia bodohmu ini," kata Adam bernada tegas, sembari mengibaskan pegangan tangan Ratih.


"Memang? Apa yang tersisa dari dunia yang dulu untukmu?" tanya balik Ratih.


Sontak Adam terdiam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu, karena tidak ada hal apapun yang tersisa dari dunianya yang dulu. Dia terus saja terdiam di sana, berpikir keras untuk mengalihkan pembicaraan hingga mendapatkan ide yang terbaik, yaitu, tak berkata apa-apa.


Namun, di tengah kecanggungan itu, terlintas dalam benak Adam tentang Damian yang baru saja dia temui. Dia berasumsi jika Damian merekayasa semua ini dan membuat dirinya berhalusinasi. Akan tetapi, hal itu langsung disanggah oleh Sang Dewi dengan berkata, "Maaf, aku tidak kenal dengan orang yang kamu maksud."


Mendengar sanggahan Ratih, Adam sontak kaget, dan bertanya, "Heh, apa aku baru saja keceplosan?"


"Aa—, jadi gini," Ratih tiba-tiba menggaruk pipi kanan dengan satu jari telunjuknya, lalu melanjutkan, dengan berkata, "Aku sudah membuat koneksi pikiran, itu hal yang lumrah dilakukan Dewa atau Dewi kepada makhluk yang berada di otoritas mereka. Tapi, aku tidak kenal dengan pria yang kamu maksud, walaupun aku bisa jelas melihat wajahnya dari ingatanmu," kata Ratih pada Adam.

__ADS_1


Adam hanya mengangguk, dan berkata, "Baiklah. Sepertinya dia hanyalah orang suruhan. Jadi, bisakah aku terbangun dari tidur ini sekarang?"


"Hem... jika tidak ada pertanyaan lagi, kamu akan dipindahkan ke mid-geb. Semoga kamu terbiasa di sana. Jika membutuhkanku, maka berdoalah atas namaku, aku akan segera membantumu," ucap Ratih sambil mengangkat salah satu tangan yang berbalut mantra.


Cahaya kuning yang disebut Mana, mendadak melingkar mengelilingi kaki Adam, membuat gravitasi mulai tidak seimbang. Biasanya kaki seseorang menginjak alas permukaan, tetapi fenomena ini sulit dipercaya, karena saat ini tubuh Adam sepenuhnya melayang.


"Di sana akan ada perubahan konsep dunia. Tak perlu kujelaskan, karena kita tidak punya waktu. Kamu akan mengetahui perubahan-perubahan tersebut seiring berjalannya waktu," pesan Ratih memperingati Adam. "Kita akan mulai pemindahan!"


Mendengar itu, Adam sontak kaget dan bertanya, "Hah? Pemindahan? Aku pikir aku akan direinkarnasi. Tidak-tidak, ini pasti mimpi."


Dewi Ratih mengangkat salah satu tangan, lalu muncul cahaya merah di ujung jari, tampak itu adalah Mana lainnya. Tanpa adanya perapalan, muncul sebuah lambang bergambar abstrak di bagian lengan kanan Adam. Itu adalah Mana pertama kali yang pernah Adam rasakan, akan tetapi Adam tidak peduli sama sekali.


Ratih menjelaskan, "Sekarang kamu adalah Ksatria Para Dewa, Onni milik Dewi Harapan. Tanda itu mengartikan kamu adalah utusanku. Di sana ada banyak kehidupan, bukan hanya para Onni, tapi penduduk lokal mid-geb dengan ras, suku, dan hal lainnya yang berbeda-beda. Tentu hal yang tidak pernah kamu temui di kehidupan mu dulu."


Mendengar penjelasan itu, Adam tidak ingin berkata apa-apa, kecuali benaknya, "Ya ... Cahaya-cahaya ini, menandakan aku akan bangun ...!"


Bola mata Ratih yang berwarna hitam, tiba-tiba salah satunya berubah menjadi biru terang dengan banyak huruf-huruf asing di dalamnya. "Jiwamu akan kupindahkan ke suatu tubuh, tapi..., zonanya cukup berbahaya. Berdoalah padaku jika terjadi sesuatu hal yang buruk," kata Ratih memperingati Adam.


"Haaah? Aku tidak bisa dengar, karena tekanan ini, tapi... terserahlah," sahut Adam tampak sudah pasrah dengan keadaan.


Ratih berkata pada Adam, "Ini mungkin hal yang salah, tapi..., aku sudah membulatkan tekad. Adam, aku percayakan semua ini padamu. Kehadiranmu adalah harapan besar."


"Aku tidak bisa dengar, kau bicara apa?!"


Seketika semua menjadi gelap seperti awal, akan tetapi tidak lama muncul cahaya kecil yang terus saja membesar; menerangkan penglihatan mata, lalu menjadi pudar.


Seketika, suasana menjadi jelas.


Mulai terdengar suara hentakan kaki kuda yang sedang marah, mereka seperti sedang mengejar sesuatu. Lalu, terdengar juga teriakan histeris pria dan wanita dari segala arah.


Di sana, Adam bangkit dari dalam tanah, akan tetapi disuguhi oleh sesuatu hal yang tidak pernah terbayangkan. Melihat seorang gadis dengan histeris berlari kencang kearahnya, sontak hal itu membuatnya mengangkat kedua tangan.


"Kumohon, Dewi ...! Siapapun, Tolong ...!" teriak lantang gadis itu berlari ke arah Adam.


Namun, mendadak muncul sebuah bayangan hitam melesat dengan cepat melampaui pengelihatan mata. Adam menyadari gerakan itu, akan tetapi dia tak mampu bereaksi.


Di saat sudah hampir mencapai pegangan tangan Adam, baru saja telapak jari mereka bersentuhan. Spontan, tubuh gadis itu terpotong menjadi dua bagian. Darahnya tumpah melumuri tubuh Adam dan terhempaslah tubuh gadis malang itu ke tanah dengan isi perutnya yang tercerai-berai.


Tiba-tiba, terdengarlah suara berat seorang pria datang dari arah samping, "Argh..!" gema dari teriakan yang sangat kasar itu sangat menusuk gendang telinga. Mendengarnya saja cukup membuat kaki menjadi lemah lunglai.


Adam, dengan bulu kuduk yang meremang, tak sadar wajahnya menoleh ke arah itu. Tampaklah suatu sosok makhluk bertubuh besar, berbulu hitam, mulutnya moncong ke depan dengan gigi bertaring, dan aura berwarna merah pekat mengelilingi tubuhnya. Belum teridentifikasi, ini makhluk apa, tetapi dia berteriak lantang menyebutkan sebuah nama, "Untuk tuanku, Mandraak ...! "


Lalu, muncul salah satu makhluk yang memiliki bentuk yang sama, akan tetapi dia berukuran lebih kecil. Dia mendekati Adam, sembari memanggil teman-temannya, "Hei, hei, lihat ... Orang ini tiba-tiba muncul dari dalam tanah. Sangat... lemah," kata makhluk itu bernada mengejek.


Adam tak bisa melakukan apa-apa, ketika makhluk-makhluk aneh itu sudah mengelilinginya. Mereka tertawa bersama, terlihat mengejek Adam yang hanya diam di sana.


Suasana menjadi mencekam ketika Adam menunjukkan matanya yang penuh dengan keputus-asaan. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, selain menghina dirinya sendiri dengan tenang.


"Ya-ya ... Aku memang pantas mendapatkan ini."

__ADS_1


__ADS_2