Ksatria Rusak

Ksatria Rusak
Chapter 5


__ADS_3

Berlari di tanah lapang saat senja, di bawah langit sore yang merah-jingga. Dia terus saja berlari, menghentakkan kaki seiring bunyi hembusan nafas. Aliran darah meningkat, menghasilkan detak jantung yang berdegup cepat, dan cairan keringat pun keluar tanpa henti ketika otot-ototnya mulai menghangat.


Kaki perlahan melemah, ego sudah tak sanggup lagi melangkah. Diri pun memaksa untuk berhenti di dekat pohon rindang untuk mengambil nafas.


Joy tidak jauh dari sana berlari ke arah Adam yang terduduk kelelahan, "Ada yang bisa kubantu?" tanya Joy dengan nada lembut.


Adam bersama sifat tidak tahu dirinya pun menjawab, "Untuk kebutuhan fisikku. Aku butuh makanan yang benar-benar sempurna, seperti daging, sayur, telur, su-" Joy sontak memotong perkataan Adam, "Kamu sadar....? Kita ini orang miskin."


"Benar juga."


Tiba-tiba terdengar bunyi semak bergerak hidup. Membuat Adam spontan menarik Joy dan bersembunyi di belakang pohon, "Aku mendengar sesuatu," kata Adam.


Di balik semak itu muncul sesosok binatang besar. Bentukannya seperti Rusa, tetapi ukurannya tiga kali lebih besar dari Rusa pada umumnya, "Hewan apa itu?" tanya Adam kepada Joy, terlihat dia begitu takjub.


Joy menyipitkan kedua matanya. "Itu.... tampak seperti tanduk emas."


Sesaat mengamati perawakan si hewan, tiba-tiba Joy kaget, lalu kembali berkata, "Ru-rusa Krinitas! Itu Rusa Krini-," Adam langsung saja menutup mulut Joy yang berisik. "Dia bisa lari bodoh," ucapnya berbisik.


Joy yang sudah tenang, mengulangi perkataanya, "Itu Rusa Krinitas," sambungnya ikut berbisik.


"Apa boleh menangkapnya?"


"Kalau kamu bisa. Tanduknya mahal, loh."


Selesai makan buah beri di tempat itu, Rusa besar kembali masuk ke dalam hutan.


"Yah, dia sudah pergi," kata Joy dengan nada kecewa.


"Tenang saja, hewan itu masih bisa diburu."


"Benarkah? Aku bisa meminjamkan alat berburu milik desa," ucap Joy tampak bersemangat.


"Tidak perlu repot, aku bisa membuatnya sendiri."


"Jangan sungkan begitu, warga desa baik kok," lanjut Joy mendesak Adam.


Namun, Adam sudah merasa tidak enak selalu dibantu.


Dia dengan pelab berkata kepada Joy, "Iya tenang saja. Kau sudah memberikan banyak bantuan padaku."


"Haish.... jadi malu mendengarnya," ucap Joy tersenyum, sambil memegang kedua pipinya sendiri.


"Diamlah, aku akan mencari bahan untuk membuat busur dan panah. Kau kembalilah ke rumah lebih dulu." Pungkas Adam.


"Baik, aku pulang lebih dulu. Kamu jangan tersesat ya," kata Joy memperingatkan, sambil melambai berjalan pulang.


"Tidak akan."


Adam pun pergi ke dalam hutan zona aman untuk mencari pohon yang cocok untuk membuat busur dan panah. Dia berkeliling sendirian sembari mengamati keadaan bagian-bagian hutan.


Beberapa jam berlalu, akhirnya dia menemukan kayu kering dan mati berhamburan. Dia mulai mengindentifikasi potongan kayu itu satu per satu. Ditemukan satu potongan kayu yang menurutnya bagus, tidak ada mata kayu, puntiran, bahkan cabang. Bagian tengahnya pun tebal.

__ADS_1


"Ini sempurna!" ucapnya


Tak terasa keberadaan matahari hampir lenyap ke tepi langit, menandakan hari mulai merubah kulit.


'Aku harus bergegas pulang.'


Adam berlari kecil sembari membawa ranting kayu yang dia perlukan.


Sesampainya di rumah, bersamaan dengan hari yang sudah gelap. Adam melihat Joy yang sudah tertidur lebih awal karena lelah.


Dan seperti biasa, di meja sudah siap bubur sayur yang masih hangat. Namun, Adam mengurungkan niat untuk makan. Dia melangkah pelan mengambil pisau di meja, lalu pergi keluar untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Di luar rumah hanya beralaskan tanah, Adam mengambil sepotong kayu yang panjang. Kemudian dia regangkan kayu tersebut untuk memeriksa lengkungan alaminya.


Lalu, dia menentukan pegangan dan belahan atas-bawah busurnya, setelah itu membentuk busur dengan pisau yang sudah diasah.


Setelah selesai dengan busur, Adam mengambil satu per satu sisa potongan kayu yang sudah dia persiapkan untuk membuat panah. Memotong kayu-kayu tersebut dengan panjang setengah dari busurnya, dia merayut kayu-kayu itu sampai halus, lalu meluruskan batang panah di atas bara yang panas.


Dia ukir takik kecil di ujung belakang setiap anak panah untuk menempatkan tali. Pekerjaannya pun hampir selesai.


"Tersisa tali lagi, tapi aku tidak ingin merepotkan gadis itu. Mungkin.... aku cari pekerjaan besok," katanya.


Keesokan hari, waktu sudah sore hampir menuju malam, Adam pergi ke hutan itu lagi untuk mengawasi Rusa Krinitas yang berkeliaran.


Pada biasanya, Rusa selalu aktif mencari makan di malam hari, jadi Adam memutuskan untuk menunggu Rusa itu sampai malam tiba.


Hanya dengan penerangan cahaya bulan, Adam berjalan perlahan di antara himpitan pohon-pohon dan semak. Mengawasi bunyi gerakan hidup alam liar, sembari dibimbing oleh busur kayu yang dia pegang.


Anak panah bersiap ditarik untuk dilayangkan, namun saat ini belum ada target untuk dijadikan sasaran. Dia terus saja berjalan, berjalan, berjalan. Hingga mendengar suara berisik dari semak yang terinjak. Benar saja, itu adalah bunyi Rusa Krinitas sedang memakan buah beri.


Tetapi, serangan itu tidak membuat si Rusa terluka parah. Pandainya dia melepaskan anak panah yang menancap dengan menggigitnya. Kemudian Rusa itu berlari dari sana, hal itu sontak membuat Adam kaget, dan berkata, "Apa-apaan itu tadi?! Bahkan anak panah itu tidak cukup melukainya."


Sudah hari ke-tujuh, perburuan Adam terhadap Rusa bertanduk emas, dan tujuh hari juga Adam sudah mengawasi Rusa itu. Hewan liar itu sangat pintar, bahkan saat Adam mencoba menjebaknya dengan memancing ke tempat makanan penuh buah beri, Rusa itu malah pergi ke tempat lain untuk mencari makanan jenis lain.


Sempat dilema, tetapi beruntung diberi kesempatan mendapati hal yang menurut Adam janggal. Yaitu, dia menemukan jejak kakinya sendiri, membuat Adam tersadar, "


'Bajingan...! Ternyata dari awal Rusa ini memang menjebakku, dia selalu mengarahkan ke tempat persembunyian yang sudah dia atur. Seorang pemburu normal pasti berpikir gerakan hewan liar hanyalah gerakan acak,' pikir Adam.


Tujuh hari lamanya, Adam baru mendapatkan pencerahan, dan ini adalah hari terakhir perburuan pertamanya. Di hari ke-delapan.


"Jebakanku berhasil!" kata Adam berseru dengan semangat.


Sang Rusa akhirnya terinjak jebakan tali Adam yang sudah dipasangkan, membuat tubuh hewan itu terangkat dan terbalik.


'Jika hewan itu memiliki pergerakan sesuai algoritma, ini jadi mudah. Tapi, aku yakin dia akan memberontak. Jika tidak cepat!'


Tak menyerah, dengan posisi terbalik. Si Rusa meronta-ronta tak karuan. Adam segera melepaskan anak panah ke arah salah satu kaki Rusa yang terjebak. Bertujuan agar kaki Rusa itu melemah dan tidak mencoba melepaskan diri.


Kemudian dia melompat ke arah Rusa besar yang sudah tak berdaya itu, akan tetapi hewan itu malah mengamuk hebat dan menendang Adam. Beruntung tendangan kaki depan itu sempat ditahan oleh Adam dengan kedua tangannya, tetapi dirinya harus terlempar ke batang pohon.


Namun, keberuntungan itu tidak bertahan lama, ketika ikatan tali sang Rusa terlepas. Rusa itu jatuh ke permukaan tanah, dan perlahan bangkit bersama dengan amarah. Bisa terlihat dari warna matanya yang berubah menjadi merah.

__ADS_1


Sembari menatap tajam ke arah Adam, hewan liar itu mulai menggertak, dengan menghentak-hentakan kaki. Ancaman itu membuat Adam spontan bangun dan mengambil posisi.


'Hewan ini ... Brengsek juga,' ucap Adam dalam benak.


Rusa itu bangkit dengan dua kaki seperti kuda, dia melompat lalu berlari sangat kencang.


Beruntung Adam dengan cepat menghindari tandukan runcing Sang Rusa, hingga tanduk tebal itu menusuk dalam pada batang pohon.


'Hanya ada satu serangan, jika tidak berhasil aku akan tamat!'


Adam berbalik ke arah Rusa, sembari menarik Anak panah pada busurnya. Perlahan aura biru muncul dari dalam dada, lalu membesar menyelimuti seluruh tubuh. Itu adalah, Mana.


Mana perlahan mengisi pada anak panah milik Adam berguna memperkuat massa dan ketajaman. Mereka menyebutnya, Gift of mana.


Anak panah berbalut Mana itu pun Adam lepaskan, hingga membuat bunyi kuat melibas gendang telinga.


Bersamaan Sang Rusa yang sudah mencabut tanduk dari batang pohon, anak panah lebih dulu terbang menembus lehernya.


Adam berlari ke arah rusa itu, lalu menebas tenggorakannya dengan pisau tajam, membuat sayatan di leher yang perlahan terbuka, darah merah pun turun melumuri tubuh depan sang Rusa.


"Hah...! Hah...! Akhirnya...! Aku berhasil!" kata Adam berseru dengan kepalan tangan yang dia angkat.


...


Adam pulang sembari menarik tubuh Rusa Krinitas dengan tali tambang sendirian. Melihat itu orang-orang desa berbondong-bondong mendekati Adam untuk membantu dan memberikan selamat atas keberhasilannya.


Malam itupun mereka segera berpesta.


"Kau bisa temui kolektor yang bernama Hector. Dia cukup terkenal di Kota Veronica, jadi akan mudah mencarinya," ucap tetua desa kepada Adam, sambil meneguk arak hangatnya.


"Baik, aku akan pergi ke kota besok. Terima kasih sudah memberi informasi sepenting itu," kata Adam.


"Tenang saja, Nak. Kami juga sangat berterima kasih. Karena kau, kami bisa berkumpul dan bisa berpesta makan daging langka malam ini. Ha! Ha! Ha!" Tawa tetua desa terlihat senang, sembari menuangkan segelas arak kepada Adam.


"Bukan masalah bagiku," kata Adam tenang.


Joy menyelinap muncul dari arah belakang Adam, berupaya mengejutkan Adam.


"Adam...!" ucap Joy berseru dengan gembira.


Namun, Adam tidak terlalu banyak bereaksi, dengan berkata, "Apa coba?"


"Selamat atas keberhasilanmu!"


"Ya, terima kasih. Ini bukan apa-apa," jawab Adam santai.


"Kamu akan pergi?" tanya Joy dengan perhatian.


"Besok, kurasa."


"Wah.... Aku akan membantumu sebisaku," tawar Joy.

__ADS_1


Mendengar perkataan itu, Adam hanya berdiam. Membuat Joy menunjukan wajah yang agak sedikit tertekan. Keadaan itu memaksa Adam merubah pikiran. Dia melemparkan tanduk emas itu kepada Joy, dan berkata, "Kuharap kau bisa memanduku."


Joy meraih tanduk tersebut dengan antusias, lalu berseru sangat antusias, "Yeay....!"


__ADS_2