Ksatria Rusak

Ksatria Rusak
Chapter 4


__ADS_3

Fajar menyingsing jernih dan dingin, dengan kesegaran yang mengisyaratkan sejuknya udara di wilayah itu. Di sisi lintasan tanah terhampar dataran sedikit lebih tinggi dan ditumbuhi rumput liar.


Di jalan tanah, terlihat mereka, Adam dan Joy yang sedang berjalan berdua. Mereka yang awalnya tegang, perlahan tenang karena rasa nyaman udara yang bersih.


Adam menggosok telapak tangan, hingga menghasilkan sedikit panas yang kemudian dia tempelkan pada kedua pipi, sembari mengamati sekitar, dia bertanya, "Di desa sepi, hanya ada lansia. Memang orang-orang pada kemana?"


"Para pria bekerja," kata Joy menunjuk ke arah pegunungan di samping, "mereka pergi ke pegunungan untuk menambang." Lalu, dia menunjuk pemukiman kota yang terlihat tak jauh dari pegunungan, lanjut berkata, "Sedangkan para wanita pergi ke kota dengan anak-anak, untuk menjual atau membeli barang."


"Hem... memang apa yang mereka tambang di sana?" tanya Adam.


Joy menjawab, "Mereka menambang material yang akan dijual kepada para pebisnis dari keluarga bangsawan."


'Bangsawan? Berarti ini termasuk wilayah kerajaan,' pikir Adam melamun, sembari memegang dagu dengan jari.


Lamunan itu seketika dicela oleh Joy, "Hey, apa yang kamu pikirkan?" tanya Joy, sambil mendorong tubuh Adam dengan bahunya.


“Tidak ada," sahut Adam, lalu mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, "Memang material apa yang mereka tambang?”


“Kristal mana,” jawab Joy singkat.


Sontak sorotan mata Adam menyipit, dia menatap Joy dan berkata, “ Hah...? kristal mana?”


"Iya, salah satu material pembuatan alat kebutuhan bertenaga sihir. Masa kamu tidak tahu sih," kata Joy menatap Adam dengan rasa penasaran, “Aku kira.... kamu datang dari kota.”


Adam tidak menghiraukan tentang pertanyaan darimana dia berasal. Dia lebih serius ketika mendengar kata sihir.


"Bisakah kamu menjelaskan lebih detail?" tanya Adam pada Joy terlihat serius dengan hal itu.


Mendengar pertanyaan yang Adam lontarkan, Joy sontak kaget, “Heh...! Apa-apaan? Kamu serius belum pernah dengar kristal mana?”


"Iya."


Joy menggaruk-garuk kepala dengan telunjuk jarinya, seraya berkata, “Hehe, aku tidak pandai menjelaskan sih. Akan lebih baik kalau kamu langsung bertanya saja sama pakarnya."


"Hem, kemana aku harus menuju?" tanya Adam.


"Cukup ke kota terdekat di wilayah ini, Kota Veronica."


Setelah mengobrol banyak hal, Adam tiba-tiba saja terhenti ketika melihat hutan tropis yang alamnya tidak pernah tersentuh. Pohon-pohon dengan batang cokelat gelap tumbuh berjejer mengisi hutan itu, sementara permukaan tanah berlapis dengan rerumputan yang tipis. Menatap hutan itu, terasa jiwa ditarik oleh bayangan hidup.


Joy pun berbalik menatap Adam, dan berkata, "Di situ ada hutan kematian, warga desa melarang siapa pun untuk masuk ke sana, kata mereka berbahaya."


Adam sontak bertanya, “kenapa memang?”

__ADS_1


Joy menjawab, “Jauh di dalam hutan itu, katanya ada Siluman pemakan manusia loh. Siluman itu memangsa mereka yang masuk ke dalam hutan.”


“Terdengar seperti mitos," kata Adam meremehkan.


“Begitu juga yang di bilang salah satu orang dari desa sebelum menghilang, dulunya dia seorang prajurit bayaran." Joy mulai bercerita, "Waktu itu dia mabuk bersama teman-temannya, berjalan pulang melewati jalan yang persis kita lewati saat ini. Salah satu temannya cerita tentang bahayanya hutan tersebut, tapi.... prajurit bayaran itu malah menantang dan masuk ke dalam hutan sendirian. Alhasil, dia tidak pernah pulang sampai sekarang,” tutur Joy sambil memperhatikan reaksi Adam.


Namun, Adam tidak mendengarkan sama sekali cerita itu. Dia terus saja berjalan melewati Joy. Sesampai Adam di mulut hutan, Joy menghentakkan kaki pada tanah, dan berkata, “Hei, dengar tidak?! Kita tidak diperbolehkan lewat hutan ini," ucap Joy memperingatkan. "Kita akan memutar." lanjutnya sambil memutar jari. "Nah, nanti ada zona hutan yang menurut orang-orang desa aman. Zona yang dipakai untuk keluar-masuk desa," sambungnya sembari menarik tangan Adam untuk kembali.


“Ya.… baiklah,” jawab Adam bernada dingin.


Joy tersenyum mendengar hal itu, dan berkata, “Terdengar nyaman ketika kamu menjadi penurut. Ayo…! Aku tunjukkan jalan yang benar.”


Adam terdiam sesaat, sambil mengamati sekitar. Dia bereaksi ketika melewati satu pohon besar di hutan itu. Joy yang sadar akan hal itu, spontan bertanya, "Apakah kamu mengenali pohon ini?"


Adam menjawab, "Iya, kami menyebutnya pohon ulin."


"Benarkah? Aku tidak pernah tahu nama-nama jenis pohon," kata Joy.


"Seberapa luas hutan ini? tanya Adam.


"Hem... tidak pernah tau, tapi cukup luas."


Joy tiba-tiba melirik Adam yang terlihat sibuk mengamati sekitar, dia membulatkan tekad untuk memenuhi rasa penasarannya dan bertanya, “Aku ingin tahu satu hal tapi….”


“Ka-kamu, sebenarnya berasal darimana?” tanya Joy sambil memalingkan wajah yang tersipu malu.


“Haruskah malu seperti itu?” Adam meledek dengan memperlihatkan wajahnya yang terlihat meremehkan.


“Jangan mengejekku seperti itu! Menanyakan tempat asal seseorang itu memalukan tahu!” Joy membentak, tampak wajahnya sudah memerah.


“Aku datang dari dunia berbeda. Jangan tanyakan kenapa, karena aku tida—”


Merasa cukup, Joy sontak mencela perkataan Adam, dan berkata, “Benar! Seperti yang ku pikirkan. Terlihat dari caramu memakai pakaian itu. Aneh tau.”


“Aneh? Dimana-mana memakai sarung itu memang begini,” ungkap Adam sambil menunjukkan kain yang tergulung hingga perut.


“Apa-apaan, tapi.... Aah! Sudah lah!"


Mereka berdua akhirnya masuk ke jalur hutan yang menurut Joy aman. Dalam perjalanan mereka, sangat terasa hutan ini tidak tersentuh sama sekali; tumbuhannya benar-benar hidup dengan liar, pohon-pohonnya sangat besar dan rimbun.


Hutan yang sangat sunyi, hingga suara angin meliuk pun terdengar. Burung-burung tak henti terbang dari pohon ke pohon untuk memeriksa sarangnya. Mereka berkicau sangat merdu, seakan memberi ucapan selamat kepada para tamu.


"Ya, terima kasih. Aku akan kembali dan sedikit merusak hutan ini," ucap Adam.

__ADS_1


Setelah berkeliling cukup jauh, mereka memutuskan untuk kembali ke desa. Dalam perjalanan, Adam dan Joy sedikit berbincang untuk mengatur rencana.


"Nanti apa yang kamu butuhkan?" tanya Joy kepada Adam.


"Semua jenis alat yang bisa kupakai," jawab Adam.


Sesampai mereka di desa, Joy mengajak Adam ke gudang desa, lalu mengumpulkan alat bangunan yang dibutuhkan.


"Apakah tidak apa-apa aku menggunakan semua alat ini?" tanya Adam, tampak ragu dengan barang-barang yang Joy bawa.


Joy meyakinkan Adam dengan berkata, "Jangan dipikirkan, semua akan aman jika kita mengembalikannya."


"Mengembalikan barang curian?" Adam menyilangkan kedua tangannya dan menatap tajam ke arah Joy.


"Tidak konyol, semua barang ini milik umum. Jadi, bebas siapa saja yang memakainya."


Setelah mendapatkan barang-barang yang cukup, mereka memutuskan untuk kembali ke dalam hutan. Tidak lama mencari tempat yang cocok, akhirnya Adam dapat memulai pekerjaannya.


Dimulai dengan mencari posisi pohon yang paling mudah untuk dipotong. Membersihkan kemudian merapikan tanah pijakan pohon agar aman dalam mengambil ancang-ancang.


Adam membuat posisi memutar, sembari memegang kapak genggam, lalu melayangkan ke bagian bawah pohon.


Bunyi hantaman kapak seirama, dihasilkan oleh tangan yang sangat terampil, membuat batang pohon itu terkikis sedikit demi sedikit.


Mendengar sentakannya, sembari menunggu alunan kapak yang menyentuh kulit pohon itu benar-benar memuaskan.


Kilauan baja dari sisi tajam kapak memantulkan cahaya matahari, sehingga menyilaukan setiap kali kapak tersebut dilepaskan.


Keringat pun mulai membasahi pakaian, helaan nafas sudah terdengar berat, seketika serangan terakhir diluncurkan dengan menancapnya kapak di kaki pohon.


"Yap, aku menyerah."


"He...! Belum saja semenit!" teriak Joy yang tidak jauh dari sana.


Adam juga terkejut dengan keadaan fisiknya yang benar-benar berbeda. Dia benar-benar merasa lemah hingga terduduk bungkam di atas tanah. “Hah....! Hah....!


Aku harus melatih fisikku perlahan. Sial....! Harus memulai kehidupan dari nol di dunia baru," ucapnya sembari menatap langit biru yang luas.


Teringat masa perjuangannya saat pelatihan kejam di akademi militer, membuatnya menyesal menghabiskan hidup seperti pecundang.


Maka, bisa disimpulkan bahwa Adam Maula memulai perjalanannya di dunia baru ini benar-benar dari nol.


“Memulai dari nol? Ini lebih ke minus."

__ADS_1


__ADS_2