
Di sebuah lab besar, lengkap dengan alat-alat canggih yang menyusun fungsi sebuah tabung besar berisi air. Di dalamnya terlihat tubuh tanpa busana yang sudah tidak asing mengapung pelan bersama buih-buih yang keluar dari alat bantu pernafasan. Mereka tampak sangat sibuk berkerja dengan masing-masing komputer di depan mata, sembari membicarakan perihal tubuh manusia tabung yang terlihat tak berdaya.
"Damian ...!" seru wanita berkacamata, sembari memberikan isyarat dengan bahasa tubuh.
Damian yang bengong di depan tabung besar itu sontak kaget, "A-apa?!" katanya, sambil tak henti menghisap rokok yang dia pegang.
Wanita itu berjalan ke hadapan Damian, lalu menyilangkan kedua tangannya, "Dilarang merokok di lab," kata wanita itu memperingatkan.
Damian tidak memperdulikan perkataan wanita itu, dia terus saja menghisap rokok yang tampak itu adalah isapan terakhirnya.
"Kejadian ini tidak pernah diberitakan ke publik, cukup aneh, kan? Jane," kata Damian kepada wanita dihadapannya. Wanita itu bernama, Jane.
"Menurutmu?" tanya Jane singkat dengan wajah sinis.
"Ya, cukup aneh saja. Pemerintah benar-benar menutupi semuanya," kata Damian sembari berjalan ke arah ruangan di samping tabung, dan membuka sebuah komputer yang menampilkan hologram biodata Adam.
"Hei! Jangan kamu taruh puntung rokok di meja ... Ah, sudahlah."
...
Suatu tempat, di Mid-Geb.
Kehangatan pagi hari di waktu itu tidak berlangsung lama, ketika langit mulai tertutupi oleh gumpalan awan. Tubuhnya yang kecokelatan karena tanah lengket perlahan diguyur oleh hujan.
Pertama kali dalam hidupnya, Adam melihat hal yang sangat mengerikan. Di mana darah dan daging berceceran di penghujung tempat, lalu tersapu oleh derasnya hujan. Dan lubang-lubang tanah perlahan terisi penuh menjadi suatu kubangan yang tampak seperti bubur kental berwarna merah.
Dikelilingi oleh mereka, yaitu makhluk-makhluk aneh, Adam hanya bisa terdiam seribu bahasa. Akalnya tidak berfungsi dengan normal karena banyak pikiran yang penuh dengan tanda tanya, "Kenapa aku tidak bangun-bangun ya? Tunggu, jangan bilang ini nyata," pikirnya.
Salah satu dari sekumpulan makhluk aneh mendekatkan diri, sangat dekat hingga bertemu wajah ke wajah. Bahkan dengkuran nafas hangatnya tak sengaja meniup permukaan wajah Adam. Dengan ekspresi muka yang mengancam, dia berkata, '"Orang ini milikku!" cetusnya sambil melayangkan cakar hitam yang mengkilap-tajam.
Tetapi serangan itu harus terhenti ketika merasa ada keanehan dengan ekspresi Adam yang tidak bergeming sama sekali. Dia kembali mengancam Adam dengan berkata, "Kuberikan kesempatan untuk lari dalam waktu sepuluh detik. Aku akan hitung dari... sekarang! Satu...! Dua...!"
Namun, Adam masih saja tidak bergeming, membuat makhluk itu garuk-garuk kepala keheranan. Merasa sudah kehabisan cara, dia meletakkan cakar besarnya di leher Adam, "Padahal kau akan terpotong, brengsek! Kenapa tidak lari saja?!" bentaknya sambil mendengus seperti kuda.
"Seberapa keras pun aku berlari, hasilnya akan tetap sama," jawab Adam tenang.
Mendengar pernyataan Adam, dia malah tertawa sangat keras, "Hahaha! Ya... Benar juga. Kau 'kan manusia yang sangat lemah!" ejek makhluk itu sambil memukul-mukul bahu Adam. Terlihat Adam sangat kesal dengan olokan itu.
"Aku bisa mengukur Mana dengan menciumnya," makhluk itu menghirup nafas dalam, "Aromamu... harum juga, tapi aneh... Mana milikmu kosong," sambung sang monster sambil menggaruk-garuk kepalanya, "Kau ini makhluk cacat ya?" ejeknya, sembari mendorong-dorong dada Adam dengan ujung telunjuk.
Ejekan makhluk itu tidak membuat Adam terpancing, dia hanya bereaksi dengan membuang pandangannya, "Hah? Harum? Padahal aku sudah tidak mandi satu minggu," ungkapnya dalam benak.
Tanpa sadar, suasana perang sudah terhenti, bahkan suara histeris tidak terdengar lagi. Semua makhluk aneh berbulu itu beramai-ramai berkumpul mengitari tempat yang terkuat, Sang Raja.
__ADS_1
Makhluk yang berukuran lebih besar mendekat pada sosok yang derajatnya lebih tinggi, makhluk itu menunduk dan berkata, "Tuanku, Mandraak. Kami sudah tidak menemukan yang hidup lagi. Sudah dibantai semuanya, kecuali orang ini," ucapnya sembari menunjuk ke arah Adam.
Sosok kuat itu bernama Mandraak, tubuhnya tegak berjalan pelan dengan jubah hitam usang. Jubah itu menutup semua bagian tubuhnya kecuali tangan. Lalu, dia menunjuk ke arah tubuh manusia yang sedang terbaring di atas tanah, memberitahukan instruksi kepada anak buahnya untuk memeriksa keadaan manusia itu, "Pria itu masih bernafas," ujarnya.
Salah satu makhluk yang dekat menyeret tubuh pria itu, sontak membuatnya berteriak meronta-ronta. Satu makhluk lagi datang mendekatkan mulut pada leher si pria, dia kunyah leher empuknya, hingga kepala terlepas dari tubuh.
Mandraak mendekat kepada Adam, dan berkata, "Aku ingin kau berbalik pergi dari sini. Tapi hanya berjalan pelan. Jangan kau berani memalingkan wajah ataupun lari. Maka aku akan menjamin keselamatanmu." Mandraak menunjuk arah hutan bagian timur, "Pergilah kesana, ceritakan tentang kesadisanku pada mereka. Tapi ingat, jika kau berpaling atau lari. Aku tak segan langsung membunuhmu. Ingat itu, aku akan langsung membunuhmu." sambungnya dengan nada yang mengancam.
"Kau akan membunuhku, saat aku berbalik," balas Adam merasa ragu.
Namun hal itu langsung dibantah oleh Mandraak, dengan berkata, "Aku adalah Mandraak, aku tidak pernah berbohong."
Seketika semua makhluk di sana tertawa, salah satu dari mereka berkata, "Yah, padahal aku ingin melihatnya lari terbirit-birit dan terpotong." Mendengar ejekan itu, makhluk-makhluk bengis lainnya tertawa terbahak-bahak.
Adam yang percaya diri berbalik pergi ke arah hutan, seraya berkata, "Heh, ini akan mudah."
Makhluk-makhluk itu pun membukakan jalan untuk Adam pergi. Tetapi, Adam baru setengah jalan, Mandraak bergerak melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan Adam.
"Dengan otoritasku mengendalikan ketakutan suatu makhluk, semua yang tahu tentang keberadaanku, akan tunduk di bawah kekuatanku yang mutlak, yaitu Rasa Takut."
Mandraak mengangkat salah satu tangan dan mengeluarkan sedikit aura gelap dari ujung jari telunjuk. Dia sorot pandangan tajam ke arah Adam, sembari menyampaikan pesan, "Siapapun yang terkena kutukan milikku, bahkan Dewa-Dewi sekalipun akan takut dihadapannya. Dengan aturan yang sudah kubuat, jika melanggar, kau akan gila atau mati."
"Hah? Dia ngomong apa? Aku tidak bisa dengar dari jarak ini," kata Adam yang mulai berlari ke arah hutan.
Terasa ...
Mandraak terus saja mengawasi dari kejauhan.
"Padahal jarakku dengannya sudah sangat jauh, tapi serasa sangat dekat. Aku kenapa? Apa yang dilakukannya di belakang sana?" kata Adam bergumam, dan mulai terkena serangan panik. Nafas Adam sudah tidak beraturan dan pikiran sudah menjadi kacau, "Apa ini? Kenapa aku ... semakin takut? A-aku takut untuk berpaling, takut untuk lari, takut untuk diam, bahkan takut untuk kehilangan kesadaran. Aku harus terus berjalan, karena ... Aku takut untuk berhenti."
Adam memutuskan untuk terus berjalan. Berjalan dari pagi hari, hingga tak sadar sudah malam hari. Di sepanjang jalan dia hanya dibayang-bayangi rasa takut kepada Mandraak yang tidak kunjung berhenti.
Setengah sadar, Adam mendengar sebuah bisikan dari telinganya, suara seorang gadis berteriak tetapi suara itu terdengar meredam, "Haloo ...? Kamu sudah sadar?"
Rasa takut Adam tiba-tiba memudar, terlihat dari tatapan mata yang bermula kosong perlahan terisi oleh kehidupan. Namun, tubuh sudah merasa sangat lelah dan tak sanggup lagi menahan beban, sehingga dirinya berakhir jatuh pingsan.
Setelah sadar, Adam spontan membuka kedua mata, karena dirinya terkaget hari sudah larut malam. "Hah, apa yang barusan terjadi?!" kata Adam yang reflek bergerak bangun dari tidurnya.
Perlahan dia melihat ke arah belakang tubuh untuk memastikan keadaan, tanpa sadar dia berteriak, "Makhluk itu, a...!"
Sontak muncul sosok gadis di samping yang menyela Adam, "Hei-hei, ada apa?!" Dia seorang gadis berambut pirang, menatap polos pada Adam dengan matanya yang berwarna kuning-gelap, "Kamu dengar tidak?" Warna bibirnya cantik, seperti jambu air merah muda, menutup empuk ketika dia berbicara. Wajah mungilnya terlihat kesal ketika Adam menghiraukan dia berbicara, "Kenapa mengabaikanku begitu?! Makhluk apa yang kamu maksud?! Dengar tidak...? Kamu sedang apa tengah malam di hutan ini?" tanya gadis itu bertubi-tubi, sembari memegang pundak Adam.
Tetapi, Adam merespon sinis dan menjawab, "Tidak ada ... aku pergi."
__ADS_1
Mendengar itu, si gadis menjadi marah. Dia memukul tubuh Adam dengan keras, dan berkata, "Sadarlah...! Aku baru saja membantumu, setidaknya bilang dulu terima kasih sudah cukup."
"Oh, Baiklah. Makasih, tapi aku tidak punya harta untuk—" gadis itu spontan memotong perkataan Adam. "Aku tidak mata duitan ...!" kata sang gadis membentak, sembari memukul pundak Adam.
Gadis itu kesal, terlihat dari wajah putihnya yang memerah. Dia berkata dengan tegas, "Aku sudah membantu mengeluarkan sihir jahat, tapi malah diperlakukan seperti ini. Hem ...!" ucapnya sambil menyilang kedua tangan.
"Baiklah, terima kasih."
Ekspresi gadis itu seketika berubah, dia tersenyum senang menjawab, "Sama-sama ...!"
Dia mulai memperkenalkan diri dengan bermula menarik tangan kanan Adam, "Ngomong-ngomong, kenalkan namaku Joy Abby, panggil saja Joy. Aku tinggal di desa dekat sini. Kebetulan aku dan teman-temanku mencari ranting, dan tak sengaja melihatmu yang tampak sangat kacau. Kamu terkena Mana kegelapan, tapi beruntung aku bisa sedikit menggunakan sihir penyucian dan..."
Bosan mendengarkan gadis bernama, Joy Abby yang tak berhenti mengoceh, Adam mencoba berdiri perlahan. Walaupun terlihat sempoyongan, dia berusaha seimbang dengan menghirup nafas panjang. Namun, stamina sudah mencapai batas. Tak sanggup lagi untuk berdiri membuatnya kembali jatuh pingsan.
Terbangun di keesokan hari, di rumah kecil. Terlihat gadis bernama Joy tadi malam sedang memasak sesuatu.
Melihat Adam yang planga-plongo setelah bangun tidur, "Hei, tidur nyenyak?" ucap Joy menyapa, "Nanti ganti pakaianmu, ya... soalnya yang kamu kenakan sudah rusak," lanjutnya, sambil menunjuk pakaian kain berwarna cokelat di atas meja.
"Hah, pakaianku? kata Adam, sembari menatap pakaian lusuh yang dia kenakan, dan lanjut bergumam, "Seingatku memakai hoodie. Kenapa malah kain lusuh ini?"
"Apa sih?! Bicara sendiri terus!" sahut Joy mencela dengan ekspresi penuh ketidakpuasan.
"Hei, kau... ini dima—" Joy memotong perkataan Adam dan membentak sembari mengacungkan sendok kayu berukuran sedang. "Kau! Kau! Kau! Sudah ku bilang, 'kan?! Nama ku Joy! Ingat itu!"
Mendengar itu, sesaat Adam hanya bengong menatap Joy. Tatapan yang membuat gadis itu harus tersipu malu, "I-ini rumahku," ucapnya terbata-bata.
Adam melihat seisi rumah, mulai merasa prihatin dengan tempat yang dianggap Joy sebagai rumah. Walaupun masih layak huni, akan tetapi fondasi-fondasi rumah itu sudah sangat lapuk.
Joy memperhatikan Adam yang terus saja melirik ke sisi rumahnya, merasa risih dia berkata, "Aku tahu kamu tidak suka dengan tempat kumuh ini, tapi tinggal dulu sebentar. Sampai kamu merasa baik-baik saja. Setelah itu pergilah."
"Tenang saja, aku jauh lebih terbiasa dengan tempat ini. Tapi, tak usah repot-repot denganku. Aku pergi," pungkas Adam, dengan wajah sedikit cuek.
Dia beranjak dari tempat tidur, melambaikan tangan sembari berpamitan dengan keren. Namun, sebelum langkahnya mencapai luar pintu, terdengar suara perut yang kosong. Membuat Adam harus berbalik badan dan duduk pada kursi di depan meja makan.
Joy tertawa kecil melihat tingkah laku pria yang satu ini, sambil meletakkan sarapan bubur hangat di meja makan, dia berkata, "Panggil aku Joy, ya."
Adam tidak memperdulikan perkataan gadis yang memasak makanan itu, dia langsung saja menyantap makanan dengan lahapnya. "Rasanya lumayan," katanya tampak sudah kehilangan urat malunya.
Mendengar itu, Joy merasa sangat senang, dia menarik kursi meja makan satunya dan mulai membuka pembicaraan, "Aku bisa memandumu berkeliling di wilayah ini. Tapi, beritahu dulu aku namamu."
"Namaku...?" cakap Adam tak henti mengunyah makanan yang kemudian dia paksa telan, "Ah ... Adam Maula, panggil saja Adam.."
"Wah ...! Nama yang bagus. Adam, salam kenal."
__ADS_1