
Pagi hari sekali yang bahkan matahari belum menampakkan wujudnya, seorang perempuan berusia sekitar 16 tahun berjalan mengendap endap keluar dari kamarnya yang bergaya Eropa abad pertengahan.
Dia adalah Elria Trisya, Putri pewaris tunggal tahta Kerajaan Mentari Merah. Awalnya dia berniat berjalan jalan dihutan dekat dengan Danau Angsa, namun niatnya terhentikan saat melihat seorang lelaki berpangkat jenderal yang amat sangat ia kenali. Arsel Aerio, jenderal kepercayaan ayahnya, sang Raja.
Diikutinya Arsel yang berjalan menuju perbatasan antara Kerajaan Mentari Merah dengan Hutan Kabut Ungu.
"Kenapa Kak Arsel ke daerah terlarang? Aku harus mengikutinya. Eh, tapi kalo ngikutin kek gini pasti ketahuan. Lebih baik aku pake sihir tembus pandang aja, biar lebih minim aku ketahuannya." Gumam Elria sambil membaca mantra tembus pandang.
Elria memanjat pohon yang posisinya tak jauh dari tempat Arsel berada sekarang, kurang lebih berjarak 5 meter. Elria terus memperhatikan Arsel yang melakukan gerakan atau tarian yang menurut Elria aneh sekali.
Tiba tiba saja tanah dekat Arsel terbelah dan memunculkan dua siluet makhluk hidup yang mirip manusia pada umumnya namun memiliki kulit kemerahan serta tanduk yang lancip di dahinya.
Elria menahan napasnya saat melihat dua iblis yang keluar dari retakan tanah didekat Arsel. Elria mengerutkan keningnya, dia tengah berpikir apa hubungan Arsel dengan kaum iblis? Padahal aturan kerajaan melarang semua rakyat Kerajaan Mentari Merah berhubungan dengan ras iblis apalagi dengan Kerajaan Bulan Hitam.
Elria bergeming ditempatnya, dia sedang berusaha mendengar apa yang sedang dibicarakan Arsel dengan dua manusia iblis dihadapannya.
"Kali ini apa informasi yang kau dapatkan?" tanya seorang manusia iblis yang memiliki rambut panjang, yang Elria pikir adalah wanita.
"Akan ada penobatan Putri pewaris tahta Kerajaan Mentari Merah dalam dua minggu kedepan, kuharap kalian bisa menyiapkan beberapa ribu pasukan iblis. Karena pada saat itu penjagaan akan aku lemahkan dibeberapa titik yang tidak terlalu strategis. Lalu, tolong kalian menyamar jadi rakyat biasa dan berbaur sebisa mungkin dengan rakyat lainnya agar tidak ada yang menaruh curiga." ucap Arsel sambil memberitahukan rencana yang ia susun pada dua manusia iblis di hadapannya.
"Akan aku sampaikan hal ini pada raja Iblis dan tolong pertemuan ini dirahasiakan." ucap manusia iblis satunya.
Elria tersentak kaget saat tahu bahwa Jenderal Arsel yang amat dipercayai oleh ayahnya bisa mengkhianati Kerajaan Mentari Merah dengan begitu mudahnya. Elria sungguh amat kecewa pada Arsel yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
Elria turun dari pohon setelah mencerna keadaan dan menghampiri Arsel setelah membatalkan sihir tembus pandangnya. Matanya berair, tanda ia habis menangis.
__ADS_1
Krak
"Siapa disitu?!" seru Arsel saat mendengar suara patahan ranting.
Elria keluar dari semak semak tempat ia bersembunyi untuk mendekat. Elria menatap kedua manusia iblis dengan tatapan benci dan sinis.
"Tuan Putri?!" Arsel berseru kaget saat melihat Elria yang keluar dari semak semak tak jauh dari dirinya.
"Kenapa? Kamu kaget? Kak Arsel?!" seru Elria dengan nada sinis.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Arsel dengan nada lembut.
"Hentikan sandiwara mu. Aku sudah tahu bahwa kau mengkhianati Kerajaan Mentari Merah dan menjadi mata mata Kerajaan Bulan Hitam, ya kan?!" teriak Elria dengan suara bergetar. Tanda akan menangis lagi.
Kedua wajah manusia iblis itu menjadi panik saat tahu Elria mendengar rencana mereka, keduanya segera kembali masuk kedalam retakan tanah untuk menghilang agar tidak ikut campur pada masalah Arsel dengan Elria. Mereka berharap bahwa Arsel dapat menyelesaikan masalah 'kecil' ini.
"Lebih baik kamu ikut aku kembali ke Kerajaan Mentari Merah dan menerima hukuman berat atas pengkhianatan mu!" seru Elria dengan nada dingin.
Arsel memutar matanya malas, karena dia sudah ketahuan. Kenapa masih harus berpura pura?
"Yah.... Karena sudah ketahuan, kurasa aku tidak perlu lagi berpura pura. Kau pasti bertanya kenapa aku mengkhianati Kerajaan Mentari Merah kan? Ini ada hubungannya dengan keluargaku. Tapi, kurasa semua keluarga kerajaan tak akan sepeduli itu pada bawahannya." ucap Arsel sambil menghela napasnya pelan.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?!" tanya Elria dengan suara parau, dia sudah menahan tangisnya sedemikian rupa. Tapi, hanya bisa menahan air matanya sedangkan suaranya yang bergetar dan parau tidak dapat dia sembunyikan.
"Hah? Kenapa aku berpikir seperti itu?! Coba kau pikir, apakah kalian para keluarga kerajaan benar benar peduli pada kami?! Bukankah kalian hanya menganggap kami ini boneka?! Yang hanya kalian pakai saat butuh dan buang saat sudah tidak berguna?!" Arsel berseru marah saat mendengar pertanyaan Elria.
__ADS_1
Diam diam Arsel tertawa sinis dalam hatinya, tuan Putri Kerajaan Mentari Merah sangat naif dan polos.
"Kenapa kamu melakukan ini? Aku selalu menganggap bahwa aku punya seorang kakak laki laki, aku bahkan merasa kalau punya kakak yang bisa melindungi adiknya. Aku terus menganggap kamu itu kakakku, kakak terhebat yang pernah ku punya. Tapi, semua pikiranku terhadap dirimu hancur berkeping keping. Kurasa tak ada lagi 'Kak Arsel' yang selalu menjaga Ria, tidak ada lagi 'Kak Arsel' yang mengajari Ria berkuda, memanah, dan berpedang. Juga tak ada lagi 'Kak Arsel' yang selalu jadi teman cerita Ria. Tidak akan dan pernah lagi ada 'Kak Arsel' yang Ria sayangi. Yang ada hanya 'Arsel Aerio' yang berkhianat pada raja dan kerajaannya." ucap Elria dengan suara bergetar dan parau membuat apa yang ia ucapkan menjadi kurang jelas.
Satu persatu air mata lolos dari mata yang bermanikkan cokelat terang, membuat siapapun yang melihatnya ikut merasakan kesedihan mendalam yang terpancar dari matanya.
Entah dari mana sebuah perasaan bersalah muncul di lubuk hati Arsel saat melihat Elria yang menangis tersedu sedu dihadapannya. Dia sungguh tidak tega melihat Elria menangis, perlahan tangannya terangkat. Arsel berniat mengusap air mata yang terus meluncur dengan mulus dipipi Elria yang putih, tapi ia urungkan saat mengingat apa yang dia lakukan beberapa saat yang lalu.
Arsel menghela napas kasar, berbagai pertanyaan berkecamuk diruang batinnya. Apa yang ia lakukan itu benar? Apa ras iblis dan raja Iblis tak akan mengkhianati nya? dan berbagai pertanyaan lainnya membuat dia mengerutkan keningnya dalam.
"Aku tak akan melarangmu untuk mengadukan hal ini pada Yang Mulia Raja, tapi apa kau punya bukti bahwa aku bersekutu dengan ras iblis? Tidak kan?" ucap Arsel dengan nada dingin setelah terdiam cukup lama.
Ambisi dan bisikan kaum iblis dihatinya terlalu besar, sehingga perasaan apapun yang membuat dia berpikir untuk menghentikan rencananya akan ia musnahkan dan menjadikan dirinya makhluk tanpa perasaan seperti ras iblis.
Elria tersentak kaget saat mendengar nada bicara Arsel yang dingin. Dia tidak pernah mendengar Arsel berbicara dengan nada dingin jika dia sudah menggunakan nama panggilannya, Ria.
"Kurasa apa yang kau katakan ada benarnya, tapi sebelum acara penobatan. Aku akan mencari bukti yang kuat agar semua orang tahu bahwa kau berkhianat pada Kerajaan Mentari Merah dan menjadi mata mata ras Iblis dan Kerajaan Bulan Hitam!" ucap Elria penuh tekad.
Arsel yang melihat respon Elria hanya tersenyum tipis dan berjalan pergi meninggalkan Elria di dekat perbatasan antara Kerajaan Mentari Merah dengan Hutan Kabut Ungu karena sekitar 1 jam lagi matahari akan terbit memancarkan sinarnya yang hangat.
Elria sendiri berjalan kembali ke tempat awal tujuannya Danau Angsa dengan pikiran yang berkecamuk dan perasaan yang tidak menentu.
***
Mohon kritik dan sarannya apabila ada banyak kesalahan dalam penulisan dan tanda baca ataupun yang lainnya. Kalau kalian suka ceritanya silahkan like dan tinggalkan jejak.
__ADS_1
sekian terima kasih~