Kupu Kupu Pembantai

Kupu Kupu Pembantai
03. Penobatan Yang Kacau


__ADS_3

Dua hari setelah kejadian di danau, Elria akan dinobatkan sebagai Putri Mahkota Kerajaan Mentari Merah, posisi yang memiliki otoritas dibawah raja. Yang juga berarti dapat memerintahkan seluruh prajurit sihir di Kerajaan Mentari Merah.


Elria tengah bersiap dikamar dibantu oleh dayang kepercayaannya, Sisi.


"Sisi...." Panggil Elria dengan suara pelan.


"Ya, Tuan Putri?" sahut Sisi yang sedang merapikan rambut Elria.


"Aku takut..." gumam Elria.


"Tenang saja Tuan Putri, tidak akan ada hal buruk yang terjadi..." ucap Sisi dengan lembut, berusaha menenangkan Elria yang tegang.


"Semoga saja..." gumam Elria.


Sebenarnya Elria tahu pasti bahwa acara Penobatan Putri Mahkota ini akan kacau balau mengingat bahwa hanya dirinya yang tahu bahwa Arsel berkhianat. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Dia sangatlah lemah dibandingkan Arsel yang sudah mencapai tingkat Mage dalam pengontrolan sihir dan terlebih Arsel lebih berpengalaman dalam bertarung. Jelas dia akan kalah telak.


Elria menghela napasnya pasrah, dia sungguh kehabisan akal untuk memberitahu ayahnya tentang pengkhianatan Arsel pada Raja dan Kerajaan Mentari Merah. Diam diam dia berharap bahwa apa yang Arsel katakan di perbatasan antara Hutan Kabut Ungu dan Kerajaan Mentari Merah adalah palsu, Elria terus menyangkal apa yang dia lihat dua minggu lalu.


Sisi yang berada disamping Elria sangat cemas dengan kondisi mental Elria yang sekarang sedang menurun, dia berpikir mungkin saja nonanya terlalu gugup karena mengingat sifat nonanya tidak terlalu suka berada di keramaian.


"Nona... Sudah saatnya keluar untuk penobatan Anda." ucap Sisi dengan nada lembut membuat Elria merasa tenang.


"Baiklah..."


Elria melangkahkan kakinya di lorong lorong yang menghubungkan dengan berbagai ruangan di istana yang akan menjadi miliknya dimasa depan. Acara penobatan dirinya ada diluar ruangan, atau lebih tepatnya berada di taman tengah istana.


"YANG MULIA PUTRI ELRIA TRISYA SUDAH TIBA!" seru penjaga pintu taman memberi tahu seluruh tamu yang berasal dari seluruh anggota keluarga kerajaan ras utama.


Elria menuruni tangga yang menghubungkan lorong yang ia lewati dengan taman tengah tempat acara penobatan dirinya. Elria yang berjalan dengan anggun menuruni tangga membuat semua tamu undangan menatap dirinya terpesona. Bagaimana tidak? Elria selain terkenal karena dia putri tunggal Kerajaan Mentari Merah, dia juga terkenal karena sifat dan parasnya yang sungguh menawan membuat semua orang tidak bisa tidak terpaku menatapnya.


Elria tersenyum tipis pada semua tamu undangan, membuat beberapa pria mimisan karena kecantikannya.


Elria berjalan dengan anggun menuju altar didampingi oleh Sisi yang membantu mengangkat gaunnya yang panjang menjuntai hingga menyentuh tanah.


***


Setelah doa puja puji untuk langit dan Moon Godness tibalah diacara puncak, penyerahan tahta kerajaan.


Sejenak Elria mengendurkan kewaspadaan dirinya saat tak melihat pergerakan Arsel, namun itu tak berlangsung lama. Tepat saat Elria akan meneteskan darahnya ke Batu Penyucian, Arsel memberi perintah.


"Semuanya bersiap!" seru Arsel.


Para tamu undangan yang mendengar seruan Arsel mengerutkan keningnya, apa yang akan dilakukan Jenderal Arsel? pikir mereka semua.


Elria tersentak kaget saat mendengar seruan Arsel, dia tahu maksud seruan itu. Seruan yang menandakan serangan pemberontakan akan segera dimulai, berbeda dengan Elria yang mulai berkeringat dingin. Ayahnya sang Raja, Ibunya sang Ratu, dan juga para tamu undangan hanya berpikir bahwa Arsel akan memberikan sebuah kejutan yang spektakuler.

__ADS_1


Apa yang dilakukan Arsel sungguh melenceng dari yang mereka pikirkan mengenai kejutan spektakuler. Mereka pikir Arsel akan menampilkan sebuah atraksi ataupun sesuatu yang meriah.


Mereka melihat Arsel bersama pasukan ras Iblis yang menyamar dan berbaur bersama mereka tanpa mereka ketahui bahwa yang diajak bicara tadi adalah. ras yang amat sangat dibenci ras lainnya.


"Arsel! Apa maksudnya ini?! Kau berencana memberontak?!!" seru sang Raja murka.


"Benar sekali! Aku memberontak! Lantas kau bisa apa?!" balas Arsel sengit.


"Kau..." sang Raja kehabisan kata kata untuk membalas perkataan yabg diucapkan Arsel.


"Arsel, kenapa kamu memberontak pada kerajaan? Apakah kau kurang puas dengan apa yang kami berikan?" tanya sang Ratu dengan nada datar, sang Ratu jelas menahan amarahnya.


"Heh? Benar sekali, aku tidak puas dengan yang kalian berikan" balas Arsel datar.


"Kau tidak puas? Kenapa tidak mengajukan protes?" seru Elria kasar.


"Huh? Apa perlu dijelaskan?" ucap Arsel sinis, "Baiklah, apa kau ingat Theo? Apa kau ingat Altheo Aerio?".


Saat mendengar nama Altheo Aerio disebut, entah kenapa tubuh Raja bergetar hebat. Ratu yang berada disebelah Raja langsung menopang tubuh Raja yang melemas dan membopongnya kembali duduk.


"Maksudmu... Theo... Saudara angkat ku?" ucap sang Raja dengan suara bergetar.


"Heh?! Kau membunuhnya! Dan masih menganggap dia saudaramu?! Wajah mu lebih tebal dari gunung ya!" seru Arsel marah.


"Atas dasar apa aku harus mempercayai dirimu?!" Napas Arsel memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terlihat dia sangat berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak ledak.


Raja terdiam saat mendengar perkataan Arsel, Raja sendiri tidak memiliki bukti agar Arsel mempercayainya saat ini. Menceritakan dengan mulutnya hanya akan membuat Arsel bertambah murka padanya. Raja menghela napas berat, dia sungguh bingung.


"Lalu, apa yang kamu inginkan?" tanya sang Raja saat sudah mulai tenang, kini suaranya tidak bergetar lagi.


"Aku menginginkan Kerajaan Mentari Merah ini!" jawab Arsel dengan penuh ambisi, membuat semua tamu undangan terkejut bukan main.


"A...Apa?! Apa dia benar benar serius dengan ini??".


"Dia benar benar berambisi!".


"Aku tidak tahu darimana keberaniannya itu".


Sontak saja perkataan Arsel membuat seluruh tamu undangan berbisik bisik heboh, melupakan kejadian yang akan menimpa mereka saat ini.


"Karena kau sudah tahu apa yang aku inginkan, maka tak ada yang perlu dibicarakan lagi". ucap Arsel mengakhiri percakapan dia dan sang Raja.


"Pasukan Iblis! Dengarkan perintahku! Bunuh yang melawan! Tahan yang menyerah!" ucap Arsel lantang.


Suara pedang berdentang, lolongan serigala terdengar, sihir ledakan beradu ditaman tengah kerajaan tersebut. Tak ada orang luar yang tahu apa yang terjadi di dalam Kerajaan Mentari Merah. Arsel telah membuat lapisan kedap suara disekeliling kerajaan.

__ADS_1


Elria menatap kejadian dihadapannya dengan tatapan ngeri, dia baru pertama kali melihat pembantaian secara langsung. Biasanya dia hanya pernah mendengar cerita cerita dari pasukan sihir kerajaannya. Karena hal ini pula Elria kehilangan tenaga, bahkan untuk menopang tubuhnya saja tidak bisa. Membuat Elria jatuh terduduk.


Elria yang masih syok kini dikejutkan kembali dengan kepala yang menggelinding ke arah kakinya, sontak saja hal itu membuat Elria mundur kebelakang beberapa langkah.


Setelah Elria amati baik baik kepala yang hampir semua wajahnya tertutupi darah dan tanah, Elria baru sadar bahwa kepala itu adalah asisten pastor yang membimbingnya dalam penyerahan tahta kerajaan.


Elria menutup mulutnya, dia sangat benci rasa mual karena bau amis darah yang menyengat keluar dari mayat mayat orang yang melawan pasukan iblis.


"Yang Mulia... Tuan Putri..."


Elria mencari cari sumber suara yang memanggilnya, terlihat pastor yang tak jauh dari posisi dia jatuh terduduk. Keadaannya sungguh mengenaskan, lengan kirinya terputus, kedua kakinya terpotong menjadi dua bagian, ada luka tusukan pedang di perutnya, dan terlebih darah tak berhenti mengalir dari semua luka yang pastor itu dapatkan.


Dengan susah payah, pastor itu bisa mencapai tempat Elria dengan menggunakan tangan kanannya yang masih utuh. Wajah pastor itu amat pucat, dia sudah kehilangan banyak darah.


"Yang Mulia... uhuk uhuk... cepatlah... uhuk... teteskan darah Anda... Agar siapapun pemimpin Kerajaan... uhuuk.. Mentari Merah sebelum Anda... uhuk... pewaris resmi...uhuuuk... akan merasakan kesakitan dan kepedihan mendalam... uhuuuk..." setelah pastor itu mengatakan kalimat ini untuk Elria, pastor itu menghembuskan napas terakhirnya.


Elria segera tersadar dari ketakutan yang dia rasakan tadi, diambilnya Batu Penyucian yang berada tak jauh dari posisi dia jatuh terduduk. Arsel yang awalnya fokus melawan sang Raja, langsung menoleh kearah Elria.


Akibat Arsel tidak fokus bertarung membuat Arsel terkena serangan sihir dari sang Raja. Arsel memuntahkan seteguk darah segar, organ dalamnya terluka. Arsel menghapus darah yang tersisa dimulutnya dengan kasar, dia ingin segera mengakhiri ini sebelum Elria meneteskan darah ke Batu Penyucian.


Arsel langsung menggunakan mantra sihir kecepatan dan tiba tiba saja dia sudah berdiri dibelakang sang Raja dengan pedang yang terarah ke leher, bisa menebas leher sang Raja kapan saja. Sang Raja sendiri tidak berkutik, dia sangat terkejut dengan keberadaan Arsel yang tiba tiba ada dibelakangnya.


"Hentikan! Atau ayahmu kubunuh?!" seru Arsel, membuat Elria menghentikan kegiatannya sejenak.


Elria tidak membalas seruan Arsel padanya, jujur saja karena seruan Arsel membuat Elria bingung. Apa yang akan dia pilih? Jika dia memilih tahta, ayahnya akan terbunuh begitu pula dengan ibunya. Jika dia memilih keluarganya, tidak ada jaminan bahwa keselamatan dirinya beserta keluarganya dan juga apakah Arsel akan menyejahterakan rakyat Kerajaan Mentari Merah?.


Sang Raja yang melihat kebimbangan dimata putri tunggalnya langsung berseru, "Jangan bimbang, pilihlah tahta, dan balaskan dendam ayah serta ibumu!"


Elria tentu saja terkejut akan perkataan ayahnya, "Tapi... Ayah..." ucap Elria ragu.


"Lakukan saja!"


Elria segera memantapkan hatinya saat melihat keputusan ayahnya sang Raja. Elria menggigit ujung jari telunjuknya hingga berdarah, Elria meneteskan darahnya ke Batu Penyucian. Membuat batu itu bersinar terang dan menyelimuti tubuh Elria.


"TIDAAAAAAK...."


×××


note : capek ugha ngetik 1424 kata, anggap aja kompensasi hehe...


Jangan lupa tekan jempol keatas bila suka, jangan lupa komen, dan juga share ya...


Sekian Terima Kasih~


see you next chapter, babay~

__ADS_1


__ADS_2