
Dua hari sebelum acara penobatan, Elria tidak henti hentinya mencari bukti bukti bahwa Arsel telah berkhianat dan bersekutu dengan Kerajaan Bulan Hitam.
Elria bisa saja langsung membunuh Arsel, tapi apa yang akan ia katakan pada ayahnya? Tidak mungkin kan dia hanya bilang bahwa Arsel berkhianat tanpa bukti yang kuat? Belum lagi ayahnya sangat menyukai kinerja Arsel yang selalu membuatnya tersenyum puas, kalau dia membunuh Arsel yang ada dia yang dihukum.
"Aaargh"
Elria mengacak acak rambutnya dengan frustasi, kepalanya sungguh pusing sampai rasanya ingin meledak.
Elria segera bangun dari duduknya, dia mengambil - menggerakkan dengan sihir lebih tepatnya - beberapa batu ukuran cukup besar kemudian dia melemparkan kedalam danau dihadapannya. Elria sedang melampiaskan emosinya pada danau dihadapannya.
"Hentikan! Kau melukai makhluk hidup di dalam danau ini!"
Suara berat seorang pria menginterupsi kegiatan yang sedang dilakukan Elria, membuat Elria menghentikan kegiatannya dan menoleh kesumber suara.
"Huh?"
Elria menatap pria seumuran dirinya yang baru saja menegur dengan tatapan datar dan dingin. Aku benar benar malas meladeni pria ini, pikir Elria
"Kau melukai makhluk hidup didalam danau ini" ulang pria itu lagi.
__ADS_1
"Oh? Kenapa kau bisa tahu?" tanya Elria dengan nada datar.
"Mereka yang memberitahuku" balasnya sambil menunjuk ikan ikan yang muncul di permukaan danau.
Elria mengangkat salah satu alisnya, "Kau jangan bercanda, hanya ras Elf, Syren, Fairy, dan Werewolf yang bisa berbicara dengan alam. Sedangkan kau?"
Elria menatap pria dihadapannya dengan seksama, dia akan mengetahui aroma dari ras lain hanya dengan menatap selama 10 detik. Tapi anehnya, setelah dia menatap pria dihadapannya sampai lima menit dia masih tidak bisa menentukan pria itu dari ras mana.
Wajar saja jika Elria tidak dapat menentukan dari ras mana pria dihadapannya, karena pria dihadapannya adalah ras campuran. Ras yang terkadang memiliki kekuatan lebih kuat dari ras murni, namun di Daratan Mimpi hanya ada sedikit makhluk dengan darah campuran.
"Sudah puas menatapnya?" interupsi pria dihadapannya dengan nada datar.
"Lain kali jika kau emosi, tolong jangan lampiaskan pada makhluk hidup disekitarmu. Mereka tidak bersalah." ucap pria itu dengan nada dingin.
"Y- yah kau benar, aku yang salah karena tidak memikirkan konsekuensinya pada makhluk lain." balas Elria dengan nada menyesal.
"Baguslah jika kau sadar akan kesalahanmu." ucapnya dengan nada dingin dan segera pergi meninggalkan Elria sendirian.
Elria hanya menggembungkan pipinya kesal, "sungguh tidak sopan" gerutu Elria saat melihat pria itu semakin menjauh.
__ADS_1
Disisi lain, pria yang sebelumnya menegur Elria kini dia sangat kesal pada wolfnya yang tiba tiba mengambil alih tubuhnya saat dia tertidur diatas pohon.
' kumohon maafkan aku ' mindlink wolfnya.
Pria itu hanya memutar bola matanya malas, wolfnya sungguh berhati lembut. Tidak ada kegagahan sama sekali.
' Hei, setidaknya katakanlah sesuatu ' mindlink wolfnya sambil melolong, membuat pria itu mengerutkan keningnya.
"Diamlah" seru pria itu kesal dan kembali melanjutkan perjalanan keluar hutan tempat Elria melampiaskan emosinya.
***
**note : kira kira siapa ya? hehe...
Tinggalkan jejak bila suka, jangan jadi silent rider loh... Ntar aku ngambek hehehe...
Jangan lupa like, komentar dan share ke temen temen kalian.
See you next chapter guys**^•^
__ADS_1