Kutukan Rambut Iblis

Kutukan Rambut Iblis
Undangan Makan Malam


__ADS_3

"Sekar ... Sekar! Kamu dimana sih?" panggil Mama Ratih dengan suara lantang menggema di seluruh rumah.


Mama Ratih terus berteriak sambil mencari Sekar di setiap sudut rumah yang tak seberapa besar. Dimas, adik Sekar, hanya diam memperhatikan mamanya yang berjalan mondar mandir sambil tangannya sibuk bermain game di ponselnya.


"Dimas, kemana sih Mbak Sekar?" tanya Mama Ratih yang kesal karena tak juga menemukan anak perempuannya.


Dimas hanya mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan mamanya.


"Dimas! Bantu mama dong ... Ih anak ini!" bentak Mama Ratih menaikkan nada suaranya karena Dimas tak peduli.


"Mama, mbak Sekar itu palingan lagi ke rumah sebelah tuh ketempat mbak Mitha. Paling males dia mau diajak pergi mama," jawab Dimas yang matanya masih terpaku di layar ponselnya sambil jari-jarinya sibuk bermain game.


"Ya udah Mama ke rumah mbak Mitha bentar. Kamu cepetan gih mandi. Mama nggak mau terlambat sampai di rumah Oma Dinar," ucap mama Ratih sambil berlalu keluar rumah.


Tak lama kemudian, Dimas melihat Sekar dan mama Ratih yang membuka pintu depan rumah dan masuk ke dalam rumah. Dimas bisa melihat kekesalan di wajah kakak perempuannya.

__ADS_1


"Mama ... pokoknya aku nggak mau ikut!" ucap kesal Sekar.


"Sekar, tolonglah mama sekali ini saja. Ikutlah makan malam di rumah Oma. Oma Dinar kan juga nenekmu. Semenjak papamu meninggal, kamu dan Dimas tidak pernah mau datang ke rumah Oma Dinar. Mama nggak enak hati, Sekar," pinta mama Ratih berusaha sabar membujuk anak perempuannya yang kini sudah beranjak dewasa.


Sekar Kinanthi, gadis berusia 19 tahun yang kini kuliah di Universitas Negeri jurusan Ekonomi Bisnis, memang tidak pernah mau bertemu dengan nenek dari pihak ayahnya, yaitu Oma Dinar.


Sekar memiliki seorang adik laki-laki bernama Dimas Erlangga, berusia 15 tahun yang masih duduk di bangku SMP.


Sekar dan Dimas hanya hidup bersama mama Ratih karena setahun yang lalu, papa mereka meninggal karena kecelakaan. Papa Raditya, seorang pengusaha di bidang otomotif, meninggal di usia yang terbilang masih muda.


Mama Ratih, Sekar dan Dimas berusaha iklhas menerima kepergian papa Raditya. Setahun ini mereka berusaha untuk tetap menjalani kehidupan dengan bersama-sama saling menguatkan.


"Sekar, Dimas ... Mama mohon ya sekali ini ikut makan malam di rumah Oma Dinar menemani Mama. Oke?!" pinta mama Ratih sekali lagi sambil melihat ke mata kedua anaknya.


Akhirnya Dimas yang tidak tega melihat mamanya menganggukkan kepalanya dengan berat.

__ADS_1


"Makasih Dimas," ucap mama Ratih.


Lalu pandangannya beralih menatap Sekar.


"Sekar, please," mohon mama Ratih sekali lagi.


"Baiklah Ma, tapi sekali ini saja lho," ucap Sekar akhirnya.


Sekar menghela nafas dalam. Bukannya ia anak yang tidak berbakti pada orang tua dengan tidak mau menuruti perintah mamanya. Tapi ia sungguh malas bertemu dengan Oma Dinar, apalagi sampai menginjakkan kakinya di rumah Oma Dinar.


Memang rumah Oma Dinar sangat mewah yang berada di kawasan elit kota Jakarta, tapi setiap kali Sekar berada di rumah Omanya, entah mengapa bulu kuduknya selalu merinding, seperti ia ditatap oleh banyak orang dan diawasi oleh mata-mata itu.


"Kalau gitu cepatlah bersiap Sekar, Dimas. Mama tunggu disini," perintah mama Ratih membuyarkan lamunan Sekar.


Sekar dan Dimas pun berjalan gontai menuju ke kamarnya untuk mandi dan bersiap pergi ke rumah Oma Dinar.

__ADS_1


-


-


__ADS_2