
Perjalanan menuju ke rumah Oma Dinar lumayan lama karena ini weekend jadi jalanan sangat padat. Apalagi daerah rumah Oma Dini termasuk di tengah kota.
Kebetulan aku yang menyetir mobil, sedangkan mama memang aku suruh untuk duduk manis saja. Kasian kalau nyetir malam begini penglihatannya sudah kurang awas.
"Mbak Sekar, kapan sih sampainya? Dari tadi ketemu macet melulu," keluh Dimas tak sabar.
Aku hanya bisa menghela nafas saja mendengar keluhan Dimas.
"Kamu kan enak cuma main hape terus, nah Mbak harus nyetir mobil," jawabku ketus
"Sudah sudah nggak usah bertengkar. Sabar ya Dimas, tuh habis perempatan depan kita udah masuk ke perumahan Oma," ucap mama menengahi.
Dan benar saja, setelah kami melewati perempatan jalan yang ada lampu traffic light, kami pun memasuki kawasan perumahan elit Oma Dinar.
Aku tetap menjalankan mobilku hingga sampai di pos penjagaan. Satpam pun menanyai kami yang hendak ke rumah siapa. Mama pun langsung menjelaskan bahwa kami akan ke rumah Oma Dinar.
Tanpa kendala yang berarti, kami pun diperbolehkan lewat oleh satpam komplek.
__ADS_1
Aku ingat betul rumah Oma Dinar. Pagar hitam yang menjulang tinggi kokoh. Kami pun sampai dan sekali lagi harus melewati satpam penjaga rumah. Karena satpam sudah mengenali kami maka kami pun langsung dibukakan pintu gerbang.
"Silahkan Non," ucap satpam mempersilahkan kami masuk.
Aku pun menjalankan mobilku ke pelataran rumah. Sekilas aku melirik rumah Oma Dini yang masih tidak berubah semenjak terakhir kali aku kesini.
Rumah 2 lantai dengan dominasi warna cat putih. Bangunan dengan gaya arsitektur Eropa modern. Benar-benar artistik & mewah. Namun entah mengapa rasanya aku merinding setiap kali melihat ke lantai 2. Padahal rumah ini sangat terang karena lampu-lampu yang banyak dan hampir semua tempat terang. Tidak ada bagian rumah yang gelap.
"Yuk turun, tuh lihat Oma Dinar sudah menyambut kita di pintu," ajak mama sambil melepas seatbeltnya.
Aku & Dimas hanya mengangguk sebagai jawaban dan bersiap keluar mobil.
"Halo Ratih, Sekar, Dimas, lama sekali Oma tak melihat kalian. Oma kangen lho," sambut Oma Dinar sambil memeluk kami.
"Maaf Ma, kami baru sempat kesini," ucap Mama sungkan. Karena memang terakhir kami menginjakkan kaki di rumah ini setahun yang lalu.
"Nggak pa-pa, yang penting kan sekarang kalian sudah datang kesini. Oma seneng banget. Yuk masuk," ajak Oma Dinar sambil membukakan pintu rumah lebih lebar.
__ADS_1
"Iya Oma," jawabku berusaha tersenyum.
Entah kenapa aku merasakan hawa dingin ketika menginjakkan kakiku di teras rumah, padahal malam ini sangat cerah dan udara lumayan hangat bahkan cenderung panas.
Sambil berucap aku sempat melirik ke lantai 2 bagian kanan. Tak tahu apa yang membuatku melakukannya. Namun seketika tubuhku serasa membeku dan pandangan mataku tak bisa teralih saat kulihat ada seorang gadis berdiri di jendela. Gadis itu mungkin sekitar berumur awal 20an dengan rambut panjang dan wajah pucat. Dia terus melihatku tapi dengan tatapan lurus yang sulit kumengerti.
Aku hanya terpaku di tempatku berdiri dan mataku tak bisa beralih menatapnya.
"Mbak Sekar, ayo masuk!" seru Dimas mengejutkanku.
Seketika aku tersadar dan beralih menatap Dimas.
"I iya," jawabku gugup sambil berusaha melangkahkan kakiku.
Sempat aku melirik ke arah jendela kanan di lantai 2 dan bayangan gadis itu pun sudah tak ada. Aku hanya bisa menghela nafas sambil terus melangkah memasuki rumah Oma Dinar.
-
__ADS_1
-
-