
Aku memantapkan diri untuk masuk ke dalam rumah Oma Dinar. Mataku menyapu seluruh ruangan, tapi sejauh ini tak ada yang aneh. Dimas masih tetap menggandeng tanganku yang mungkin terasa dingin, karena tadi aku sempat terkejut melihat wujud yang lumayan aneh di lantai 2.
"Mbak Sekar, terasa nggak kalau suhu disini dingin?" tanya Dimas sambil berbisik di telingaku.
"Ya iyalah adikku yang paling ganteng . Tuh lihat disono ada banyak ac menempel cantik di dinding. Gimana nggak dingin coba, itung aja ada berapa tuh," bisikku balas di telinganya.
Dimas langsung menatapku dengan cengiran yang mirip kuda bukan tapi sapi juga bukan haha ...
"Kenapa kalian bisik-bisik? Nggak sopan tahu dilihat Oma," ucap Mama yang juga tidak sadar berbisik juga kepada kami.
"Mama kenapa berbisik?" ucapku sambil memutar bola mata malas.
"Hehe ... nggak sadar," senyum malu-malu mama dengan wajah tanpa dosa.
Tak terasa kami sudah sampai di ruang makan. Aku melihat ruang makan ini sangat mewah, luas dengan perabot kayu berkualitas. Meja makan yang besar dengan 10 kursi ada disana. Empat kursi saling berhadapan dan dua kursi berada di ujung masing-masing. Jangan lupakan lampu gantung kristal mewah dan besar yang tergantung di tengah ruangan.
"Ayo silahkan duduk, jangan sungkan-sungkan dong kan di rumah Oma sendiri," ucap Oma Dinar mempersilahkan kami.
__ADS_1
Aku pun duduk di sebelah kiri Dimas, sedangkan mama di sebelah kanan Dimas. Sedangkan Oma Dinar duduk di ujung meja sebagai tuan rumah.
Aku dapat mencium harum masakan yang sudah terhidang di depan kami.
Mataku beredar untuk melihat semua hidangan mewah yang terhampar didepanku.
Ada ikan gurame asam manis, udang saus mentega, cumi saus padang, ayam goreng, ayam bakar, sayur capcay, tumis brokoli, sayur sup, perkedel kentang dan masih banyak jenis hidangan lain yang sangat menggugah selera.
Aku melirik Dimas yang sepertinya air liurnya sudah hampir menetes. Lalu aku melihat ke arah Oma Dinar yang tersenyum penuh arti.
"Silahkan dimakan, pilih yang kalian suka, jangan sungkan. Pokoknya habiskan semuanya," ucap Oma Dinar tersenyum.
Saat aku mau menyuapkan sesendok penuh nasi dan udang, tiba-tiba mama mengagetkan aku dengan ucapannya," Sekar, jangan lupa berdoa dulu."
Dengan perlahan dan wajah yang menahan malu, aku menurunkan lagi sendok yang sudah hampir masuk ke dalam mulutku. Kulirik Dimas yang ternyata belum berdoa juga.
Kemudian aku pun berdoa dengan khusyuk agar makanan yang masuk ke dalam tubuhku dijauhkan dari segala hal yang buruk dan bisa membuat tubuhku makin sehat dan kuat.
__ADS_1
Setelah berdoa, aku pun makan dengan lahap. Tapi baru satu suapan aku langsung merasakan hal yang aneh. Mengapa rasa masakannya jadi hambar ya? Apa yang terjadi?
Oh mungkin udangnya kurang bumbu. Aku pun memotong ayam bakar dan memasukkannya ke mulutku eh ... hambar juga. Lalu aku masukkan ayam goreng. Rasanya pun hambar. Aneh ....
Aku pun minum air putih agar mulutku netral, begitu pikirku. Lalu aku ambil gurame asam manis dan ternyata hambar juga. Bahkan bisa dibilang ikannya seperti setengah matang, agak amis.
Saat itu aku merasakan hatiku mulai berkata bahwa ada yang tidak beres dengan semua makanan ini.
Aku memejamkan mataku dan sekali lagi aku berdoa. Kali ini aku menambah kekhusyukan doaku.
Kemudian aku pun perlahan membuka mataku dan aku sangat terkejut melihat makanan yang ada dipiringku.
"Astaga, ya Tuhan ...!!!"
-
-
__ADS_1
-