Kutukan Rambut Iblis

Kutukan Rambut Iblis
Bab 6


__ADS_3

"Maaf Ma, Dimas, Sekar terpaksa melakukan ini karena Sekar melihat semua makanan tadi ...." Sekar tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba perutnya mual membayangkan makanan tadi.


"Apa?" tanya Mama Ratih dan Dimas berbarengan.


"Aku melihat semua makanan tadi busuk dan berbau," ucap Sekar pelan.


"Ah mbak Sekar nih aneh-aneh aja. Padahal tadi baunya enak banget bikin perutku langsung meronta minta diisi lho," ujar Dimas tidak percaya.


"Iya nih Sekar nih ada-ada aja. Mama nggak percaya. Tadi mama lihat semua makanan disana masih ngepul asapnya, sayurnya terlihat segar dan fresh kok. Nyesel mama tadi nggak sempat makan," ucap Mama kesal.


"Beneran ma, kok pada nggak percaya sih. Awalnya aku pun melihat semua makanannya normal, kelihatan enak dan menggugah selera. Tapi pas aku selesai berdoa, saat aku membuka mata, tiba-tiba makanan yang disana busuk dan berbau semua. Apa mama dan Dimas nggak berdoa dulu tadi?" tanya Sekar berusaha meyakinkan mama dan Dimas.


"Enak aja, Dimas berdoalah," sewot Dimas.


"Mama juga berdoa," balas Mama yakin.


"Mungkin doa mama dan Dimas kurang khusyuk kali'. Makanya kalian nggak bisa melihat apa yang sebenarnya ada diatas meja tadi. Sebenarnya awalnya Sekar juga nggak percaya terus Sekar berdoa lebih khusyuk lagi dan beneran apa yang memang Sekar itu. Busuk dan bau semua," ucap Sekar tambah berapi-api.

__ADS_1


"Lalu kalau memang benar makanan disana sudah busuk dan berbau, apa maksud Oma Dinar ya?" tanya mama mulai menganalisa.


"Ma, bisa nggak bahasnya sambil kita cari makan. Dimas laper nih, tadi kan nggak jadi makan?!" Dimas berkata dengan lesu karena memang dia kelaparan.


"Hehe ... Bener juga. Mama juga laper nih. Yuk kita cari makan dulu," ucap mama merasa bersalah karena lupa jika mereka belum makan malam karena gagal tadi makan di rumah Oma Dinar.


Mama pun kembali menjalankan mobilnya untuk mencari rumah makan. Untungnya banyak rumah makan yang mulai sepi karena sudah lewat jam makan malam.


Mama membelokkan mobilnya ke sebuah resto yang lumayan terkenal dengan hidangan ayam bakarnya.


Sambil menunggu pesanan datang, Sekar pun mulai membicarakan masalah makan malam tadi di rumah Oma Dinar.


"Ma, sebenarnya tadi sebelum aku masuk ke rumah Oma Dinar, aku sempat melihat seorang cewek di lantai 2 yang terus melihat kita. Mukanya pucat banget," cerita Sekar apa adanya, agar mama dan Dimas tahu apa yang ia alami selama ada di rumah Oma Dinar.


"Masa' sih, kok mama nggak lihat ya?! Dimas, kamu lihat nggak?" tanya Mama kepada Dimas yang sekarang nampak melamun.


"Hah apa, Ma?" kaget Dimas karena ia memang melamun.

__ADS_1


"Tadi itu lho waktu di rumah Oma Dinar, kamu lihat cewek di lantai 2 nggak?" tanya Mama sekali lagi.


"Enggak sih, tapi aku lihat ada pria yang berjalan naik tangga. Wajahnya nggak keliatan banget sih tapi anehnya dia pakai beskap lengkap sama blangkon dan kerisnya," ucap Dimas yakin.


"Hah beskap?! Beskap itu baju adat Jawa lho Dim," kaget Sekar tak percaya.


"Iya beskap. Aku yakin. Orang aku liat dia juga pakai blangkon dan keris di pinggangnya kok," jelas Dimas lagi.


"Mama kok nggak lihat semua itu. Tapi kalau memang benar, siapa orang-orang itu?" tanya mama bingung.


"Siapa mereka ya, Ma?" tanya Sekar seperti pada dirinya sendiri.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2