Kutukan Rambut Iblis

Kutukan Rambut Iblis
Hidung Sensi


__ADS_3

"Ya Tuhan!" jerit Sekar tertahan di tenggorokannya. Wajahnya seketika pias melihat isi piringnya


Ya .. isi piring Sekar adalah makanan setengah matang yang masih ada darahnya. Jangan lupakan jika daging itu agak busuk dengan bau yang menyengat. Tapi anehnya Sekar, Dimas dan mamanya kok tidak mencium bau yang tidak enak, malah baunya sangat lezat menggugah selera. Padahal kan hidung Sekar termasuk sensi jika mencium bau aneh. Bau sedikit aja Sekar bisa menciumnya.


"Ada apa Sekar? Kok makanannya cuma diliatin nggak dimakan? Ini semua Oma yang masak lho jadi dicicipi dong," ucap Oma Dinar tiba-tiba yang mengagetkan Sekar.


"I iya Oma," ucap Sekar terbata.


Bagaimana mungkin ia makan makanan busuk begini?


Oma Dinar tega sekali! Apa yang diinginkan Oma Dinar sebenarnya? Apa mau menjadikan Sekar, Dimas dan mamanya tumbal?


"Kenapa nak?" tanya Mama Ratih heran.


Sekar sangat nggak tega untuk mengatakannya pada mama Ratih. Tapi ia bisa berbuat apa untuk menyelamatkan Dimas dan mamanya?


"Dimas, jangan dimakan!" teriak Sekar tiba-tiba saat melihat Dimas yang hampir saja memasukkan paha ayam berdarah ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Sekar! Kamu kenapa?!" Mama Ratih berteriak tertahan.


"Mam, Dimas, ayo kita pulang. Sekarang!"


Sekar berdiri dan menarik tangan Dimas agar mengikutinya.


Oma Dinar menatap Sekar tidak suka. Tapi tampaknya ia sadar ada yang tidak beres sedang terjadi. Mungkinkah Sekar bisa melihat semua hidangan di meja makan yang sebenarnya?


"Sekar, berhenti! Nggak sopan, nak. Kita baru mau makan," ucap mama Ratih yang berusaha tenang menghadapi sikap Sekar yang tiba-tiba aneh.


"Ma, kali ini tolong percaya sama Sekar. Nanti akan Sekar ceritakan. Please, ma," bisik Sekar di telinga mama Sekar dengan memohon. Tidak mungkin ia menceritakannya saat ini karena ada Oma Dinar yang masih menatapnya dengan pandangan yang berbeda.


"Oma Dinar, kami pulang dulu. Maaf karena tiba-tiba Sekar ada keperluan mendadak," pamit Sekar tergesa keluar dari rumah megah Oma Dinar.


"Kami pulang dulu, Oma," kata Dimas setengah berteriak.


Sekar melangkahkan kakinya cepat agar segera sampai di mobil, sementara mama Ratih mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Tolong mama dulu yang menyetir ya," pinta Sekar karena saat ini ia tidak sanggup berkonsentrasi. Ia masih berusaha menenangkannya jantungnya yang masih berdegup kencang.


Mama Ratih pun duduk di kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Oma Dinar. Sekilas Sekar sempat menatap Oma Dinar yang terlihat tersenyum menyeringai padanya.


Sekar langsung mengalikan pandangannya, ia tiba-tiba takut pada Oma Dinar.


"Ya Tuhan .. siapa sebenarnya omaku ini?" ucap Sekar dalam hati.


Ia pun kemudian memejamkan matanya berusaha tenang.


"Mbak Sekar kenapa sih? Padahal Dimas belum sempat makan lho, baru minum air putih dua teguk eh udah diseret diajak pulang," ucap sewot Dimas.


"Iya kenapa sih, Sekar? Mama nggak enak banget lho sama Oma. Dan kali ini kamu harus memberikan alasan kuat yang masuk akal kenapa tiba-tiba kita harus pulang. Kalau enggak, mama akan benar-benar marah sama kamu," ucap mama Ratih tak habis pikir dengan kelakuan Sekar.


"Maaf Ma, Dimas, Sekar terpaksa melakukan ini karena Sekar melihat semua makanan tadi ...." Sekar tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba perutnya mual membayangkan makanan tadi.


"Apa?" tanya Mama Ratih dan Dimas berbarengan.

__ADS_1


-


-


__ADS_2