Kutukan Sang Mantan Kekasih

Kutukan Sang Mantan Kekasih
Desakan Mertua


__ADS_3

Kehidupan rumah tangga Safira dan Bastian kian hari kian hambar. Apalagi desakan yang terus datang dari mertua Safira yang sangat menginginkan seorang anak. Safira selalu mengelak dan menghindar bila mertuanya mulai membahas tentang anak. Desakan dari Mama Rissa membuat Safira enggan untuk bertemu bahkan menginap di rumah mertuanya. Belum lagi jamu yang harus dia minum setiap hari.


"Bagaimana hubungan kalian? Baik-baik saja bukan?" Mama Gita yang merupakan Mama dari Safira menanyakannya karena kerap kali mendapati anaknya hanya datang ke rumah mereka sendirian tanpa didampingi oleh Bastian.


"Baik-baik saja ko, Ma. Mas Bastian sedang sibuk dengan pekerjaannya jadi tidak bisa datang bersamaku ke rumah Mama," jawab Safira dengan wajah yang datar. Dia malas sekali bila membicarakan suaminya. Suami yang sama sekali belum bisa memberikan nafkah batin kepadanya.


"Jangan bohong pada Mama. Apa yang terjadi kepada dirimu. Mengapa wajah kamu begitu suram akhir-akhir ini?" Safira menghela napasnya, memang dari dulu dia tidak dapat membohongi Mamanya. Wajahnya seperti buku yang terbuka, mudah sekali dibaca bila ada sesuatu yang salah.


Safira terdiam tidak menjawab pertanyaan dari Mama Gita. Dia tidak mungkin mengatakan dengan jujur kepada Mamanya tentang Bastian yang tidak bisa memberikan nafkah batin kepada dirinya. Biar bagaimana pun itu merupakan aib dari rumah tangganya. Sebisa mungkin Safira menutup rapat aib suaminya yang membuatnya masih perawan sampai detik ini.


"Aku hanya sedih karena terus didesak untuk segera memiliki momongan. Itu bukan merupakan kuasaku. Selama ini kami sudah berusaha," ucap Safira yang akhirnya memberitahukan kegundahannya perihal momongan yang belum dia dapatkan.


"Bagaimana aku bisa memiliki anak kalau kami saja belum pernah melakukan hubungan suami isteri? Sampai saat ini bahkan aku masih perawan? Bila Mama aku takut dia akan jantungan." Batin Safira dalam hatinya, ingin rasanya dia menceritakan kepada Mama Gita tentang Bastian yang sepertinya mengalami impoten, namun dia tidak bisa mengumbar aib suaminya.


"Nanti, Mama akan bicara dengan Jeng Rissa. Kalian baru 6 bulan menikah tidak seharusnya dia mendesakmu untuk memiliki momongan. Banyak pasangan yang beberapa tahun menikah baru dikaruniai anak. Harusnya dia bisa bersabar dan mendukung kalian." Mama Gita mencoba untuk menenangkan puterinya agar dia tidak stress dengan desakan dari Mama Rissa.


"Ah, jangan Ma. Mama Rissa pasti akan semakin memojokkanku bila Mama berbicara dengannya. Aku tidak mau semakin dipojokkan karena belum hamil," ucap Safira yang terdengar takut bila Mama Gita membicarakan perihal anaknya yang didesak memiliki momongan. Dia tidak ingin terjadi percekcokan antara keluarga, dia hanya ingin masalahnya segera dapat selesai. Namun, dia tidak tahu harus memulai dari mana.

__ADS_1


Saran dari Safira untuk memeriksakan diri ke dokter tidak digubris oleh Bastian. Dia hanya mengatakan akan memikirkan saran yang diberikan oleh Safira. Safira sudah sangat gerah karena didesak terus oleh Mama Mertuanya. Entah reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh Mama Rissa bila dia mengetahui kalau Safira masih perawan.


"Ya sudah berarti kamu harus lebih bersabar dalam menghadapi Mama Rissa. Dia merupakan orang yang ambisius karena berasal dari keluarga yang terpandang. Apa yang dilakukan bahkan oleh anaknya harus sesuai dengan yang dia inginkan!" Sebelum menjodohkan Safira dengan Bastian sebenarnya Mama Gita telah mencari tahu tentang Mama Rissa.


Mama Gita awalnya keberatan dengan perjodohan tersebut karena takut rumah tangga anaknya akan diatur oleh mertuanya. Namun, Papa Hendi yang merupakan suaminya telah terlanjur menyepakati tentang perjodohan yang bisa dibilang menguntungkan kedua belah pihak. Selain itu, Safira dan Bastian ternyata saling menyukai, jadilah Mama Gita setuju dengan pernikahan keduanya.


"Mama harap kamu akan terus bahagia Safira." Mama Gita hanya bisa berharap sambil terus memandangi puteri semata wayang yang sangat dia sayangi.


...🍃🍃🍃...


"Assalamualaikum Mam." Safira mencium tangan Mama Rissa yang disambut dengan wajah yang kurang mengenakkan. Mama Rissa menunggu Safira di teras karena dia segan untuk masuk ke rumah anak dan menantunya walaupun ada asisten rumah tangga yang menunggu di rumah Bastian.


"Dari mana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang? Sebentar lagi Bastian akan pulang seharusnya kamu sudah bersiap untuk menyambut kepulangan suamimu." Tanpa membalas ucapan salam yang diberikan oleh Safira, Mama Rissa terus memberondongi Safira dengan berbagai pertanyaan yang belum bisa Safira jawab.


"Aku dari rumah Mama Gita, Ma. Aku kangen sudah lama tidak ke rumah Mamaku. Mas Bastian tadi juga sudah memberitahukanku kalau dia ada lembur." Dengan lembut Safira menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Mama Rissa. Dia masih harus tetap menghormati mertuanya itu walaupun sedikit kesal dengan sikapnya.


"Kamu juga sudah lama tidak ke rumah Mama. Harusnya kamu juga ke rumah Mama dong. Jangan hanya ke rumah mamamu saja." Mama Rissa memprotes menantu pilihannya ini yang kerap kali membuatnya kesal. Wanita paruh baya itu sangat kesal karena menerima kenyataan kalau Rissa belum juga mengalami tanda-tanda kehamilan.

__ADS_1


"Iya Ma, nanti aku dan Mas Bastian akan berkunjung ke rumah Mama." Dengan pasrah Safira mengalah dengan mengatakan akan berkunjung ke rumah mertuanya. Pikirnya dari pada ribut lebih baik dia menuruti permintaan Mama Rissa.


Safira mempersilakan Mama Rissa untuk masuk ke dalam rumahnya karena dari tadi mereka berbicara di teras. Setelah memasuki ruang tamu, Safira segera memanggilkan Mbok Jum untuk membuatkan minuman.


"Bagaimana Safira? Apakah sudah ada tanda-tanda kehamilanmu?" Mama Rissa bertanya hal yang memang ingin dia tanyakan kepada menantunya. Tidak jauh-jauh, dia bertanya tentang kehamilan Safira.


"Maaf Ma, belum. Mungkin belum rezeki Ma. Lagipula, pernikahan kami baru menginjak 6 bulan, masih seumur jagung. Kami harus bersabar agar segera mendapatkan momongan," ucap Safira dengan tenang. Dia harus dapat mengendalikan dirinya agar tidak menceritakan tentang suaminya yang kemungkinan menderita impoten. Safira tetap ingin menjaga kehormatan dari suaminya dengan menutup aibnya walaupun dengan mama kandungnya sendiri.


"Belum rezeki, belum rezeki. Kalian harusnya terus berusaha dong karena mama sangat menginginkan cucu. Mengapa kalian terlihat begitu tenang padahal anak adalah salah satu kunci keharmonisan dalam rumah tangga?" Mama Rissa sedikit menaikkan nada suaranya. Dia sudah tidak ingin mendengar kata sabar yang terucap dari bibir menantunya.


"Kami telah berusaha, tetapi tentu saja Tuhan yang menentukan. Mama doakan saja semoga kami segera dikaruniai anak," kata Safira menenangkan Mama Mertuanya yang seperti biasa sangat emosi bila membicarakan kehamilan Safira.


"Jangan salahkan Mama. Bila Bastian mama minta untuk menikah lagi dengan wanita lain karena kamu belum mampu memberikan keluarga kami cucu." Mama Rissa mengatakan hal yang membuat jantung Safira berdebar kencang. Setelah mengatakan hal itu, tanpa berpamitan Mama Rissa keluar dari rumah Bastian.


"Ma, Mama tunggu. Apa maksud Mama?" Safira berusaha mengejar Mama Rissa yang sudah menaiki mobilnya tetapi gerakan cepat Mama Rissa membuatnya tidak bisa mengejar mertuanya. Safira hanya menangis mengingat perkataan Mama Rissa bahwa Bastian akan menikah lagi dengan wanita lain bila dia belum bisa memberikan cucu.


"Belum memiliki anak bukan kesalahanku. Bahkan, sampai saat ini aku masih perawan." Safira terus menangisi nasibnya yang mempunyai suami impoten dan Mama Mertua yang sangat egois.

__ADS_1


__ADS_2