
Hari ini merupakan hari Sabtu, Julian sudah berjanji kepada Dara untuk mengecek kandungannya. Dari awal mengetahui kehadiran adik dari Alea itu, Dara belum memeriksakan kondisinya. Berbeda dengan kondisi saat dia hamil Alea, kali ini hari-harinya terasa sangat bahagia. Dia ingin anak keduanya ini tumbuh dengan sehat karena itu dia meminta Julian untuk mengantarkannya ke dokter.
"Mas, jangan lupa nanti kita ke dokter kandungan ya? Aku ingin melihat perkembangan Dede." Dara tersenyum pada Julian yang menikmati sarapannya.
Tante Kayla datang dari kamarnya, di Jakarta mereka tinggal bersama karena Dara dan Julian tidak ingin Tante Kayla hanya sendiri. Tadinya dia ingin menyewa apartemen saja, namun dicegah oleh keponakannya. Jadilah, dia tinggal bersama Dara dan Julian serta Alea. Tante Kayla turut senang mendengar kehamilan Dara yang sudah lama ditunggu oleh keluarga. Berbanding terbalik dengan dirinya, yang sudah berusia 45 tahun namun masih betah untuk menyendiri. Tidak tahu trauma apa yang pernah dialami oleh Tante Kayla hingga hatinya ikut membeku. Walaupun sudah berusia 45 tahun tetapi dirinya tetap cantik karena terus merawat diri dengan baik, itulah yang membuatnya dikejar beberapa pria yang ingin mempersunting dirinya.
"Nanti, Alea ikut ke rumah sakit atau di rumah saja? Sebaiknya di rumah saja denganku, tidak baik membawa anak kecil ke rumah sakit walau hanya untuk memeriksa kandungan." Tante Kayla yang mendengar Julian dan Dara akan ke rumah sakit mengusulkan agar Alea di rumah saja dengannya.
"Bagaimana Mas, Alea ikut dengan kita atau tidak?" Dara meminta pendapat Julian, suaminya itu tampak berpikir sejenak. Sepertinya benar kata Tante Kayla, Alea tidak perlu ikut terlebih dahulu karena rumah sakit tidak baik untuk anak kecil.
"Sebaiknya Alea di rumah saja dengan Tante Kayla. Nanti kalau kandunganmu sudah memasuki usia yang cukup, baru kita membawa Alea untuk melihat adiknya." Julian memberikan usul pada Dara yang dianguki oleh isterinya. Alea yang saat ini sedang menikmati sarapannya tidak begitu mendengarkan perkataan Mama dan Papa, dia masih asik dengan makanan di mulutnya.
"Lea, nanti kamu di rumah sama Oma Kayla ya. Mama dan Papa ingin ke rumah sakit dulu," ucap Dara yang memberi pengertian kepada Alea karena mereka akan pergi dan meninggalkannya di rumah bersama Tante Kayla.
"Iya, ma. Nanti kita nonton film saja ya Oma." Alea menanggapi perkataan Dara dengan baik.
__ADS_1
"Iya, nanti kita nonton film," jawab Tante Kayla. Dara tersenyum melihat kedekatan Tante Kayla dengan anaknya. Dia bersyukur keluarga Julian dapat menerima kehadiran Alea yang bukan merupakan darah daging Julian. Sambil mengelus perutnya dia berdoa semoga kehidupannya terus bahagia seperti saat ini.
...🍃🍃🍃...
Di sisi lain Bastian menepati janjinya untuk memeriksakan dirinya ke Dokter. Tentu saja Safira ikut untuk menemani suaminya. Dia mendukung Bastian yang ingin mencari tahu tentang keadaan dirinya yang impoten.
"Nanti kita jadi kan Mas ke dokter?" tanya Safira saat mereka sedang sarapan bersama. Kondisinya sudah sedikit tenang karena Bastian berjanji untuk memeriksakan diri ke dokter. Selama ini, dia meminta Bastian untuk ke dokter namun suaminya hanya bergeming dan tidak ingin menerima usul darinya.
"Iya sayang, aku juga telah membuat janji dengan dokter untuk memeriksakan keadaanku," jawab Bastian yang hendak menyuapkan makanannya, dia memperhatikan keadaan isterinya sepertinya yang sudah cukup tenang.
Dara! Mengingat nama perempuan itu membuat Bastian terkenang dengan masa indah yang mereka lalui, tetapi dengan tega Bastian tidak mengakui anak yang dikandung oleh Dara. Entah saat ini berada di mana Dara, dia ingin mengetahui anaknya apakah masih hidup atau sudah digugurkan oleh Dara. Bastian yakin Dara tidak mungkin menggugurkan anak mereka. Dia yakin Dara membesarkan anaknya dengan baik dengan melihat sifat yang dimiliki oleh Dara.
"Mas, ayo kita berangkat!" Suara Safira membawa kembali Bastian yang sedang memikirkan mantan kekasihnya.
"Baiklah, ayo!" Dengan semangat Bastian mengikuti Safira yang sudah terlebih dahulu menuju mobil mereka. Dia tersenyum melihat isterinya telah sedikit cerita, nanti sepertinya dia memang harus mengatakan pada Mama Rissa agar tidak menekan isterinya tentang kehadiran seorang anak. Dia tidak ingin hubungannya dengan Safira jadi renggang dan akhirnya berakhir kandas seperti hubungannya dengan Dara yang kandas karena ikut campur Mamanya.
__ADS_1
...🍃🍃🍃...
Dara menuju tempat pendaftaran di rumah sakit, dia ingin menuju ke poli obgyn. Kondisi rumah sakit itu masih sangat lenggang karena Dara sebelumnya memang telah mengecek jadwal periksa kandungan dan tinggal melakukan registrasi.
"Permisi Bu, saya ingin mendaftar ke dokter kandungan," ucap Dara sambil memperhatikan petugas rumah sakit di depannya.
"Baik Bu. Dengan dokter Arini ya?" tanya petugas rumah sakit yang mengecek jadwal poli obgyn.
"Iya Bu," jawab Dara sambil tersenyum, Julian berada di sampingnya menemani Dara.
"Baik, sudah saya registrasikan, di poli 7 ya Bu." Setelah membayar sejumlah uang, Dara diberikan kertas dan buku kehamilan sehat yang dapat digunakan kembali saat dirinya akan memeriksakan kendungan.
"Terima kasih." Dara mengucapkan terima kasih lalu segera mengajak Julian untuk menuju ke poli kandungan. Saat mereka akan berjalan menuju ke poli kandungan dia disapa oleh seorang pria yang sangat tidak ingin dia temui.
"Dara! Kamu benar Dara kan?" Dara menoleh ke sumber suara, wajahnya tiba-tiba memucat badannya bergetar. Dara sampai harus memegangi Julian untuk tetap berdiri dengan baik. Julian yang melihat reaksi isterinya dengan sigap memeluk pinggang Dara dari samping, ternyata takdir dengan sangat cepat mempertemukan mereka. Julian menatap tajam pria yang memanggil isterinya.
__ADS_1