Kutukan Sang Mantan Kekasih

Kutukan Sang Mantan Kekasih
Siapa Wanita itu?


__ADS_3

Julian yang melihat isterinya yang terlihat sangat tegang mengetahui jika pria yang menyapa Dara adalah orang yang sangat ingin dihindari. Dia masih memeluk pinggang isterinya dan menatap tajam pria yang menyapa Dara. Julian akan sekuat tenaga melindungi Dara dari pria di depannya ini. Julian menatap Bastian dengan pandangan yang menilai, tentu saja dia tidak ingin tersaingi oleh mantan kekasih Dara, di samping Bastian berdiri Safira yang juga menatap Dara dan Julian dengan pandangan penuh keingintahuan.


"Siapa wanita itu? Mengapa Mas Bastian sangat tertarik dengannya?" batin Safira.


"Dara, kamu Dara kan?" Sekali lagi Bastian menyapa Dara yang sekarang bersembunyi dipelukan seorang pria. Jantungnya berdegup kencang melihat mantan kekasihnya yang telah dicampakkan. Sepertinya kehidupan Dara terlihat sangat baik, mata Bastian memincing melihat buku yang dipegang oleh Dara kebetulan dia membaca judul buku tersebut "Buku Kesehatan Ibu dan Anak" dengan gambar ibu yang menggendong anaknya di sampul buku.


"Maaf, sebaiknya Anda menyingkir dari jalan ini. Kami ingin lewat." Julian berusaha untuk tetap tenang sambil mengalihkan perhatian Bastian yang sedari tadi menatap Dara dengan intens.


Bastian masih tidak bergeming dari tempatnya berdiri, saat ini posisinya memang menghalangi dua orang yang hendak beranjak dari tempat mereka berdiri. Dia masih terus mengamati wanita yang berada dipelukan pria di depannya. Tidak salah lagi itu adalah mantan kekasihnya.


"Ya! Itu adalah Dara. Daranya yang telah dia campakkan saat mengandung benihnya. Daranya yang telah pergi meninggalkannya dengan tangisan. Daranya yang telah dia sesap manisnya kemudian dia buang begitu saja. Daranya yang dihina dan dicaci oleh Mamanya." batin Bastian menatap wanita di depannya.


Dengan paksa Julian menerobos Bastian yang berdiri menghalanginya, Julian memegang tangan Dara sambil menghempaskan Bastian. Bastian masih terpaku dengan kenangan tentang Dara yang membuat dadanya sesak. Dia dengan lancang memegang pergelangan Dara untuk menghentikan langkah kaki Dara.

__ADS_1


"Lepaskan!" Dara berusaha melepaskan pegangan yang ada di pergelagnan tangan Dara. Dia merasa kesal secepat ini bertemu dengan pria baj*ngan yang memporak porandakan hidupnya.


Julian mendorong Bastian, dia membebaskan pegangan tangan Dara dari pegangan Bastian. Bukan hanya itu, dengan sekuat tenaga Julian menghajar muka Bastian. Pria tampan itu sangat kesal melihat kelakuan pria yang menjadi masa lalu isterinya. Pria yang telah membuat Dara depresi dan pernah melakukan percobaan bunuh diri yang hampir menghilangkan nyawa bayi yang saat itu ada dikandungannya.


"Jangan pernah kamu menyentuh isteriku!" Julian mengancam Bastian dengan masih mencengkram kerahnya. Sekali lagi dia menghajar wajah Bastian. Hal itu, membuat Safira dan Dara menjerit, suasana di rumah sakit menjadi sangat gaduh. Security datang dan memisahkan Julian yang tampaknya masih ingin menghajar Bastian, sedangkan Bastian tidak membalas sama sekali perbuatan Julian kepadanya. Entah mengapa dia merasa pantas mendapatkannya.


"Tolong pak, jangan ribut di sini! Ini rumah sakit, bapak telah mengganggu kenyamanan rumah sakit ini." Mereka saat ini berada di sebuah ruangan, Security mencoba mendamaikan kedua orang yang tadi bersitegang.


Bastian hanya terdiam mendengar perkataan pria di depannya yang sepertinya merupakan suami dari Dara. Pria yang wajahnya telah dipenuhi dengan memar karena Julian menghajarnya dengan sekuat tenaga malah penasaran dengan anak yang dahulu dikandung oleh Dara.


"Apakah Dara menggugurkan bayi yang dikandungnya seperti saran dari Mama Rissa dahulu? atau Dara melahirkan anak yang merupakan darah dagingnya?" batin Bastian dalam hatinya.


"Mas!" Panggikan dari Safira membuat Bastian tersadar, isterinya menatapnya dengan penasaran. Di saat seperti ini suaminya malah melamun. Safira bingung dengan hal yang dilamunkan oleh Bastian hingga dia tidak fokus dengan pembicaraan yang ada di depannya.

__ADS_1


"Maafkan saya, telah sembarangan memegang pergelangan tangan isteri Anda. Namun, kami sebelumnya saling mengenal, saya hanya ingin memastikan hal tersebut." Empat pasang mata menatap Bastian yang meminta maaf pada Julian.


"Sebaiknya cukup pembicaraan kita sampai di sini saja. Saya tidak ingin melihat Anda mendekati isteri saya lagi apalagi menyentuhnya seperti tadi." Dengan tegas Julian melarang Bastian untuk mendekati isterinya, dari tadi Dara yang berada di sampingnya sangat gelisah namun kegelisahan itu ditenangkan oleh genggaman dan elusan Julian di punggung isterinya. Julian hanya takut trauma Dara kembali lagi, untuk melewati masa-masa kelam itu Julian harus berusaha sekuat tenaga meyakinkan Dara. Apalagi sekarang saat baru pindah ke Jakarta mereka malah langsung bertemu dengan Bastian. Sepertinya keputusan Julian untuk pindah ke Jakarta bukanlah hal yang baik bagi keluarga kecilnya.


"Baiklah pak, saya harap kejadian ini tidak terulang kembali." ucap Pak Security sambil mempersilakan ke empat orang yang ada di ruangannya untuk dapat melanjutkan aktivitas mereka di rumah sakit.


Saat hendak pergi meninggalkan ruangan, Bastian memandangi Dara dan suaminya yang tampak serasi. Dara menggamit lengan suaminya yang Bastian akui sangat tampan dan berwibawa. Kini, Bastian berada di belakang sepasang suami isteri yang ingin pergi ke sisi berlainan dari Bastian.


"Dara, bagaimana dengan keadaan anak kita?" tanpa sadar Bastian mengucapkan hal yang membuat tiga orang yang berdiri di dekatnya terpaku. Terutama Safira yang sudah sangat shock dengan kejadian Bastian yang dihajar oleh suami wanita cantik di depannya. Safira sangat terkejut mendengar perkataan Bastian?


"Anak kita? Anak siapa yang kamu maksud mas?" tanya Safira dengan wajah yang dipenuhi rasa terkejut bercampur dengan amarah.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2