Kutukan Sang Mantan Kekasih

Kutukan Sang Mantan Kekasih
Bentakan Bastian


__ADS_3

Bastian yang mendengar pertanyaan dari Safira meneguk ludahnya sendiri. Dia kelepasan mengatakan tentang anak di depan isterinya sendiri. Safira tidak boleh mengetahui tentang masa lalunya dengan Dara. Namun, isterinya tidak berhenti di situ saja. Walaupun Dara dan Julian telah pergi jauh tanpa menghiraukan pertanyaan yang diajukan oleh Bastian. Safira masih memberondonginya dengan berbagai pertanyaan.


"Anak? Anak siapa yang kamu bicarakan, Mas? Apa hubungannya kamu dengan wanita itu?" tanya Safira yang tidak memperdulikan Bastian yang meringis akibat perbuatan Julian.


"Tidak sayang, kamu hanya salah dengar. Aku tidak mengatakan tentang anak." Bastian masih mencoba untuk mengelak pertanyaan dari Safira. Dia meruntuki kebodohan dirinya yang kelepasan berbicara tentang anak yang tidak pernah dia akui.


"Aku tidak salah dengar. Aku mendengar dengan jelas kamu membicarakan tentang anak!" Safira dan Bastian kini berada di lorong rumah sakit. Kondisi rumah sakit yang cukup lenggang, tentunya membuat Safira tidak sungkan untuk berbicara tentang wanita yang membuatnya penasaran.


Sejak awal Bastian melihat kemudian memanggil Dara dengan sangat antusias membuat Safira berpikiran negatif. Pasti, wanita yang dipanggil bahkan dicegah kepergiannya oleh suaminya memiliki hubungan di masa lalu dengan Bastian. Hal itu dipertegas oleh perkataan Bastian yang mengakui bahwa dia seperti mengenali wanita cantik yang sepertinya sedang hamil karena Safira melihatnya membawa buku kesehatan ibu dan anak. Buku yang sudah didambakan akan dia miliki.


Pertemuan dengan Dara membuat tujuan utama Bastian dan Safira ke rumah sakit menjadi buyar. Keduanya malah menuju parkiran rumah sakit dan ingin segera pulang. Safira juga sangat kesal karena Bastian hanya terdiam saat terus dia tanyai tentang Dara.


"Siapa wanita itu mas? Katakan kepadaku! Anak siapa yang kamu bicarakan? Bukankah kamu tidak bisa melakukannya?" Safira masih terus mencecar Bastian selama perjalanan ke rumah mereka. Hal itu membuat Bastian sangat marah.


"Hentikan mencecarku dengan pertanyaaanmu itu! Dia bukan siapa-siapa bagiku. Dan aku tidak pernah mengatakan tentang anak." Bastian membentak Safira yang membuat isterinya itu terdiam.


"Apa salahku? Aku hanya ingin tahu tentang wanita yang tadi kamu kejar. Aku yakin pasti kalian memiliki hubungan." batin Safira dalam hati, dia hanya terus terdiam setelah dibentak oleh Bastian.

__ADS_1


Safira sudah sangat sedih dengan perkataan Mama Rissa yang akan menghadirkan orang lain dalam pernikahan mereka. Dia sudah senang Bastian ingin memeriksakan kondisi kesehatannya karena masalah memang berawal dari kondisi suaminya yang impoten. Namun, dia kembali dihempaskan dengan kenyataan Bastian memiliki mantan kekasih yang belum dia lupakan. Terlihat dari wajah Bastian yang banyak pikiran, Safira yakin pria yang sudah enam bulan menjadi suaminya masih memikirkan wanita hamil yang mereka temui tadi. Kalau benar ada anak di antara mereka sebelumnya seperti perkataan Bastian kepada wanita itu dia hanya mempertanyakan suatu hal. Bagaimana bisa ada anak di antara mereka? karena saat melakukan hubungan suami isteri dengannya, pusaka milik Bastian tidak pernah bisa berdiri. Bisa berdiri pun hanya karena jamu yang Bastian minum saat hendak melakukannya pusaka milik suaminya kembali loyo.


Bastian melirik isterinya yang hanya terdiam setelah dia membentak wanita itu. Dia merasa bersalah telah membentak isterinya yang tidak tahu apa-apa. Penyesalan memang selalu berada di akhir, saat ini dia masih menyesali tindakannya yang menolak pertanggung jawaban saat Dara meminta untuk menikahinya. Sekarang, Bastian menyesali membawa Safira yang tidak bersalah ke dalam kehidupannya. Dia bahkan tidak mampu menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami kepada Safira ,tetapi dia terus menerus menyakiti hati Safira.


"Maaf, maafkan aku Safira. Kamu isteri yang baik, akulah yang baj*ngan menyeretmu ke dalam kehidupanku yang dipenuhi masa lalu yang kelam." Bastian tidak mengatakannya secara langsung kepada Safira, dia hanya dapat berkata dalam hati. Entah cara apa yang dilakukan Bastian untuk mendapat kepercayaan lagi dari Safira.


🍃🍃🍃


Sementara itu, di sebuah taman yang berada di belakang rumah sakit. Julian mencoba terus menenangkan isterinya, dia masih terus memeluk isterinya yang terlihat bergetar. Mereka tidak menyangka secepat itu akan bertemu dengan mantan kekasih Dara yang ingin sekali dihindari.


"Bastian, kamu bilang akan bertanggung jawab kepadaku. Mana janjimu? Aku hanya ingin kamu menikahiku." Tidak mendapatkan dukungan dari Mama Rissa, Dara mengalihkan pandangannya ke arah Bastian.


"Tidak Dara, seperti yang mamaku bilang. Itu pasti bukan anakku. Kamu pasti tidak hanya berhubungan denganku." Bastian mengelak dari tanggung jawabnya. Dengan tega pria tersebut mengatakan bahwa yang berada dalam kandungan Dara bukanlah anaknya.


Dara masih mengatur napasnya, dia berusaha untuk tidak mengingat kembali penolakan yang dilakukan Bastian terhadapnya dulu. Dara mencoba untuk bertahan, di sampingnya banyak orang yang menyayangi dan membutuhkannya. Apalagi ada bayi yang akan hadir melengkapi kebahagiaan mereka. Perlahan Dada melepaskan pelukan Julian, dia menatap suaminya yang terlihat sangat khawatir padanya.


"Sebaiknya kita pulang saja ya, nanti saja kita memeriksakan kandungan atau kita periksa kandungan di rumah sakit lain," ucap Julian kepada isterinya yang tampak sudah tenang. Getaran ditubuh Dara sudah menghilang dan napasnya juga telah teratur. Julian tidak ingin Dara mengalami lagi hal yang membuat isterinya terserang kepanikan melihat Bastian.

__ADS_1


"Kita periksa di rumah sakit lain saja ya, Mas," ucap Dara yang sudah merasa jauh lebih baik. Dia tidak ingin suaminya terus mengkhawatirkan keadaannya. Tidak ingin terus dilanda ketakutan kepada masa lalunya dia harus dapat bangkit dari keterpurukan akibat kejadian masa lalu.


"Apa tidak besok saja kita periksa kandungannya, sayang? Aku tidak ingin kamu seperti tadi. Maaf, mungkin keputusan kita untuk pindah ke Jakarta merupakan keputusan yang salah. Sebaiknya aku akan berbicara kepada Tante Kayla untuk kembali ke Bandung. Aku tidak ingin kamu bertemu dengan pria brengs*k itu lagi." Dara tersenyum mendengar ucapan Julian. Dia selalu dapat mengandalkan suami yang telah menemaninya di masa lalunya yang sangat pahit.


Dara menggenggam tangan Julian, dia tahu betapa penting perusahaan yang sedang dikelola oleh suami dan Tante Kayla. Julian memiliki balas budi yang tidak terkira kepada keluarga Herlambang yang telah membesarkannya. Tentu Dara tidak ingin menjadi batu sandungan yang mencegah Julian membalas budi tersebut. Dia tidak akan pernah menghindar lagi kali ini dia yakin dapat menghadapi masa lalunya baik itu Bastian maupun keluarganya yang mungkin akan dia temui di masa yang akan datang.


"Tidak, Mas. Kita akan tetap di Jakarta. Lagi pula kita tidak dapat terus menghindar. Sudah waktunya aku bangkit dari masa lalu yang terus menghantui hidupku. Ada dirimu yang terus mendampingiku, aku tidak akan takut pada mereka. Terima kasih." Dara mengucapkannya sambil tersenyum kepada Julian.


"Baiklah, ini barulah isteriku. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan terus mendampingimu. Apa pun yang terjadi di kemudian hari." Julian tersenyum pada isterinya.


...🍃🍃🍃...


Di sebuah restoran mewah, wanita paruh baya sedang mengadakan pertemuan dengan teman sosialitanya yang membawa putrinya turut serta. Dia semalam baru saja menghubungi Vivi sahabat karibnya yang membuat status tentang anaknya yang telah pulang dari kuliah di Amerika, Mama Rissa tertarik untuk bertemu dengan mereka.


"Jeng, kenalkan ini adalah Imelda. Putri bungsuku yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Amerika," ucap Vivi kepada temannya.


"Aduh, cantik sekali. Salam kenal ya Imelda sayang." Mama Rissa tersenyum kepada perempuan muda yang terlihat sangat modis. Dia telah mengatur berbagai rencana yang dapat mengubah hidup putra semata wayangnya, Bastian.

__ADS_1


__ADS_2