Kutukan Sang Mantan Kekasih

Kutukan Sang Mantan Kekasih
Kegelisahan


__ADS_3

Safira masih menangis bahkan setelah beberapa lama kepergian Mama Rissa, dia sangat sedih mengingat Mama Mertuanya ingin menikahkan Bastian dengan perempuan lain. Bastian yang hari itu memutuskan untuk tidak lembur sudah akan pulang ke rumahnya sore hari. Bastian kerap kali lembur untuk menghindari Safira, dia sangat merasa bersalah kepada isterinya karena kelemahan yang dia miliki. Sesampainya di rumah, dia terkejut melihat Safira yang sedang menangis terisak ditenangkan oleh Mbok Jum yang mengelus punggung Safira. Dahi Bastian berkerut melihat Safira menangis hingga terisak, sesekali Safira merancau tidak jelas.


"Tidak. Ini tidak akan terjadi. Bukan salahku kalau belum memiliki anak." Perkaraan Safira membuat matanya terbelalak, apa yang sudah dialami Safira, sehingga dia merancau seperti itu?


"Safira, mengapa kamu menangis? Apa yang terjadi padamu." Mendengar suara bariton Bastian bukannya berhenti menangis, Safira malah semakin terisak. Dia tidak dapat menghentikan tangisannya semenjak kepergian Mama Rissa dari rumahnya.


Bastian yang mendengar tangisan pilu isterinya mendekatinya dan memeluk wanita yang sudah 6 bulan menemaninya. Dia sangat mencintai wanita dipelukannya ini, bila wanita lain mengetahui kekurangannya mungkin akan segera memberitahukannya kepada orang lain minimal kepada orang tuanya sendiri. Namun, Safira tidak menceritakan kekurangan yang dimiliki oleh Bastian kepada orang lain terutama kepada orang tuanya karena Bastian tidak pernah mendengar perkataan miring tentang dirinya. Dia yakin sekali bahwa Safira dapat menyimpan rahasia yang dimiliki olehnya.


"Mbok, tolong buatkan Safira teh manis hangat. Sepertinya Safira membutuhkannya untuk menenangkan dirinya." Bastian meminta Mbok Jum untuk membuatkan Safira minuman, dia yakin ada hal yang ingin disampaikan oleh isterinya namun tidak dapat dikatakan karena kehadiran Mbok Jum.


"Baik Tuan." Mbok Jum dengan tangkas segera menuju dapur untuk membuatkan minum Safira. Mbok Jum memang tidak mengetahui penyebab Safira menangis tetapi dia tahu bahwa setelah kepergian Mama Rissa tidak berhenti menangis. Mbok Jum langsung saja menenangkan Safira hingga kedatangan Bastian sampai lupa untuk memberikan minuman kepada majikannya.


"Sayang, ada apa? Katakan padaku yang membuatmu menangis pilu seperti ini." Bastian membujuk Safira dengan suara yang lembut. Bastian ingib Safira mengatakan hal yang telah terjadi pada dirinya. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan isterinya yang terlihat sangat memprihatinkan.


Bastian dan Safira memang dijodohkan oleh kedua orang tua mereka agar dapat memajukan perusahaan kedua belah pihak. Namun, seiring dengan berjalannya waktu kedekatan mereka bukan karena perjodohan saja. Mereka memang saling mencintai satu sama lain. Bastian yang melihat keadaan Safira saat ini sangat bersedih, dia mendengar rancauan saat dia pulang tadi pasti ini berhubungan dengan memiliki momongan. Siapakah orang yang dapat membuat isterinya menangis dan meratapi nasib seperti ini?

__ADS_1


"Ada apa sayang? Coba kau katakan terlebih dahulu padaku untuk mengurangi kegelisahan yang kamu miliki." Bastian berusaha kembali untuk membujuk Safira agar dapat memberitahukan hal yang terjadi.


"Tadi Mama Rissa datang dan seperti biasa dia menginginkan aku agar segera hamil. Di akhir perkataannya sebelum pamit dia mengatakan kalau... Kalau kamu akan dinikahkan dengan perempuan lain bila aku belum juga hamil." Safira mengatakan hal tersebut sambil masih terisak dan mengeluarkan air matanya. Bastian mengusap air mata dan mengecup kelopak mata Safira.


"Sudah berhentilah menangis, nanti aku akan memberitahukan kepada Mamaku agar tidak menekanmu kembali." Bastian masih mencoba untuk menenangkan Safira. Dia sangat tidak ingin Safira bersedih akan keadaannya padahal memang Bastian yang belum bisa memberikan nafkah batin kepadanya.


Safira beberapa kali ingin membicarakan tentang kondisi Bastian kepada orang tuanya. Namun, dia bisa menebak bila dia mengatakan kepada kedua orang tuanya pasti kedua orang tua dari dua belah pihak akan berselisih paham. Makanya, Safira tidak ingin hal itu terjadi dan tetap menyembunyikan kelemahan Bastian. Berbagai cara telah dilakukan namun belum mengalami peningkatan. Namun, Bastian belum pernah melakukan check up kesehatan dan memeriksakan keadaannya dengan dokter spesialis.


"Lalu, apa yang harus kulakukan bila Mama Rissa benar-benar datang membawa perempuan untuk menjadi isteri keduamu? Aku sangat tidak menginginkan itu." Safira menceritakan kegundahan yang berada dalam hatinya. Bastian sangat bimbang mengatakan kelemahan yang dia alami kepada Mama Rissa. Dia tidak dapat membayangkan reaksi Mama Rissa bila Bastian menceritakan keadaannya.


"Kita harus menyembuhkan penyakitmu, mas. Agar kita dapat segera memiliki momongan, aku tidak lagi dapat menjawab pertanyaan dari Mama Rissa dengan baik." Safira menceritakan kegundahan hatinya bila ditanya oleh Mama Rissa, dia sudah tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan tenang.


"Baiklah aku setuju dengan saranmu, besok aku akan ke dokter untuk memeriksakan keadaan yang aku alami." Safira tersenyum dan mengangguk, Bastian akhirnya bisa dia bujuk untuk memeriksakan keadaan ya. Bila telah mengetahui hal yang terjadi dengannya, mungkin mereka dapat mencari solusi untuk keadaan yang dialami oleh Bastian.


"Terima kasih, Mas," ucap Safira singkat kepada Bastian yang masih menepuk bahunya untuk menenangkan isterinya, sesekali pria itu mencium kepala Safira dengan lembut.

__ADS_1


...🍃🍃🍃...


Di sisi lain, Julian dan Dara telah pindah ke Jakarta. Tante Kayla juga ikut pindah ke Jakarta, namun sementara dia tinggal di apartemen miliknya. Sementara itu, Julian telah membeli rumah di sebuah perumahan sehingga mereka pindah ke rumah yang telah disiapkan oleh Julian.


"Mas, sebaiknya kita kontrol ke dokter ya. Aku ingin meminta obat mual, rasanya sangat tidak terkira," ucap Dara yang meminta untuk diantarkan ke rumah sakit oleh Julian.


"Baiklah, besok kita akan ke rumah sakit untuk melihat baby," kata Julian yang saat itu sedang membereskan beberapa barang untuk ditata sesuai dengan tempatnya.


"Terima kasih, Sayang." Dara selalu seperti ini, dia selalu berterima kasih atas hal yang diterima dari Julian. Dia tidak akan pernah melupakan kebaikan yang diberikan oleh pria yang saat ini sudah menjadi suaminya.


"Tidak perlu terus berterima kasih, Sayang. Memang sudah kewajibanku untuk melakukan hal tersebut," jawab Julian sambil mengecup pipi Dara yang membuat wanita hamil itu merona malu.


Melihat rona malu dipipi wanitanya, Julian jadi teringat pertemuan mereka malam itu. Julian sampai saat ini tidak dapat melupakan kejadian saat mereka pertama kali bertemu setelah sekian tahun berpisah, dia sangat terkejut Dara ingin bunuh diri. Bahkan, sampai menyebabkan Dara trauma dan depresi, tetapi lambat laun berkat kelembutan dan kegigihan Julian dalam mengatasi trauma yang dimiliki oleh Dara.


Namun, Julian dan Dara tidak mengetahui hal yang menunggunya saat berniat untuk datang ke rumah sakit. Hal yang mungkin dapat membuat hidupnya kembali diliputi kegelisahan dan kegundahan.

__ADS_1


__ADS_2