
Matahari bersinar terik siang itu membuat Nabil kepanasan karenanya. Restoran yang mereka jaga juga sedang sepi pembeli. Jadi, Diana dan Nabil sedang duduk-duduk di kursi pelanggan.
Diana terus memperhatikan tangan Nabil yang terus mengipasi dirinya di harapkan dapat mengusir panas yang mendera tubuhnya. Karena tak tega melihat Nabil yang terus kepanasan, Diana menyodorkan kipas lipat miliknya pada Nabil. Tanpa mengucapkan terima kasih, Nabil langsung menyambar kipas lipat di tangan Diana dan mengipaskannya di wajahnya yang sedang kepanasan.
"Kenapa sih hari ini panas banget?" kesal Nabil membuat Diana yang kembali sibuk dengan ponselnya kembali menatap Nabil. Dia hanya mengangkat bahu membuat Nabil berdecak.
Udara ruangan itu masih saja terasa panas walaupun Nabil sudah mengipasi dirinya. Dirinya semakin kuat mengipasi dirinya sendiri untuk beberapa lama, dan berhenti ketika tangannya mulai pegal.
"Lo kok gak kepanasan sih, Na. Padahal gue dari tadi kepanasan," ucap Nabil heran dengan Diana yang dengan santai tetap memainkan ponselnya saat udara ruang semakin panas. Bahkan dahi, pelipis dan lehernya sudah basah oleh keringat.
"Gue biasa aja, tuh." Nabil menggelengkan kepala heran. Orang normal akan kepanasan jika suhu ruangan meningkat. Sedangkan Diana? Dia seperti tak merasakan panas sedikit pun.
Diana beranjak dari duduknya untuk mengambil air di dalam kulkas yang berada di dalam restoran bagian belakang. Dia ingin meneguk satu botol air dingin untuk mengusir rasa haus yang mendera.
Diana melangkahkan kakinya dengan sedikit tergesa menuju bagian belakang restoran. Dia ingin segera mengusir rasa haus ini secepatnya.
"Mau kemana, Na?" tanya Nabil sedikit berteriak ke arah Diana. Namun, entah sengaja atau tidak Diana tak menjawab pertanyaan Nabil.
Sebotol minuman di temukannya di dalam kulkas saat dirinya membuka pintu kulkas. Udara dingin dari kulkas membuatnya tak sadar telah mendudukkan dirinya di dekat kulkas dan menikmati udara dingin itu, lupa dengan niat awalnya yang ingin menghilangkan dahaga.
"Hah, cuaca hari ini begitu panas. Apalagi nanti malam aku ada janji dengan pemuda itu," monolog Diana sambil menutup kembali pintu kulkas setelah mengambil sebotol air.
Diana kembali ke tempatnya semula, yaitu duduk di dekat Nabil dan segera meneguk sebotol air dingin itu. Nabil menatap Diana yang dengan buas meneguk sebotol air dingin itu hingga tersisa separuhnya.
Mereka saling berdiam diri satu sama lain. Keheningan di rasakan oleh mereka, namun tak ada yang mau membuka suara, lebih memilih untuk menyibukkan diri.
Tak terasa, hari beranjak sore. Diana yang tahu itu beranjak dari tempat duduknya dan segera mengganti bajunya. Pelanggan yang mengunjungi restoran hanya beberapa, tak sebanyak yang di pikirkan.
"Lo langsung pulang?" tanya Nabil yang juga akan mengganti bajunya. Diana hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Bareng, yuk! Nanti gue traktir, deh," ajak Nabil membua Diana menoleh ke arahnya.
"Oke." Diana langsung menyetujui ajakan Nabil tanpa pikir panjang. Lagipula, dirinya juga akan mengeluarkan tenaga besar nanti malam bersama pemuda itu.
☘☘☘
Tak terasa, malam mulai menghampiri. Lampu-lampu jalanan mulai menerangi sekitarnya agar tampak terang. Sudah dari lima jam lalu mereka duduk di kursi salah satu restoran yang tak jauh dari tempat mereka bekerja. Mereka juga belum beranjak ketika mengetahui jam menunjukkan pukul 8 malam.
Diana yang sedang menscroll media sosial miliknya, tiba-tiba ponsel yangg dia pegang berdering tanda panggilan masuk. Dia melihat siapa penelpon. Setelah tahu si penelpon, Diana mengangkatnya dengan wajah ceria.
Percakapan di telepon:
"Iya?"
"Aku akan menjemputmu jam 9 malam. Pakailah baju yang terbuka dan bisa membuatku tak akan melepaskanmu. Kau mengerti?"
"Baiklah. Apapun untukmu, sayang. Selamat malam."
Telepon langsung di tutup sepihak oleh pemuda itu. Diana tersenyum tipis akan melakukan hal yang menyenangkan bersamanya. Dia akan bersenang-senang malam ini dengan pemuda itu dan menerima bayaran yang tak sedikit jumlahnya.
__ADS_1
"Gue harus pulang, nih. Ada urusan," ucap Diana pada Nabil yang masih sibuk menguyah makanan di depannya.
"Oke. Habis ini kita pulang. Gue belum nyoba menu baru di sini," balas Nabil membuat Diana berdecak dan menggelengkan kepalanya pelan.
Diana menunggu Nabil selesai menghabiskan makannya. Dia kembali memmainkan ponselnya sambil memakan camilan yang di sodorkan Nabil padanya.
☘☘☘
Nabil mengantar Diana sampai di depan rumahnya yang terlihat sederhana itu menggunakan motor mythic-nya. Diana turun dari motor Nabil dan mengucapkan terima kasih.
"Duluan ya, Na."
"Hati-hati di jalan, Bil." Tak lupa, Diana melambaikan tangannya, melepas kepergian pemuda yang sudah menjadi teman kerjanya itu.
Setelah memastikan bahwa Nabil menjauh dari rumahnya, Diana memasuki rumah sederhana miliknya dan mempercantik dirinya dengan menggukana make up tipis dan memakai dress merah maroon selutut. Dia juga menambahkan hiasan di rambut hitam panjangnya, membuatnya semakin terlihat cantik. Sepatu pantofel putih dia kenakan sebagai alas kaki agar terlihat seperti orang kalangan atas.
"Aku harus sempurna malam ini untuk Reza. Semoga dia suka dan puas dengan pelayananku malam ini," monolog Diana yang sedang menatap dirinya di depan cermin. Diana terus saja tersenyum saat melihat pantulan dirinya di cermin. Dia tak bisa menyembunyikan raut bahagia di wajahnya.
Setelah puas menatap pantulan dirinya di depan cermin, Diana segera keluar rumah dan menutup pintu rumah sederhananya itu. Diana menunggu kedatangan pemuda yang akan menjemputnya malam ini.
Sebuah mobil mewah tampak berhenti di depan rumah sederhana milik Diana. Kaca mobil itu perlahan turun dan tampak seorang pemuda yang di tunggu kedatangannya oleh Diana.
"Maaf aku terlambat menjemputmu, sayang. Mari bersenang-senang malam ini bersamaku," ucap Reza, pemuda yang mengendarai mobil mewahnya itu. Diana tampak tersenyum dan segera memasuki mobil Reza. Dia duduk di samping Reza dengan hati berbunga-bunga.
Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan sedang setelah Diana baru saja mendudukkan pantatnya di kursi mobil. Reza tersenyum miring melihat tampilan Diana yang melebihi ekspetasinya. Gadis seperti Diana bisa juga berpenampilan seperti orang kalangan atas.
Mobil mewah itu berhenti di halaman rumah besar nan mewah milik Reza. Reza mematikan mesin mobil mewahnya dan segera turun dari mobilnya, di susul Diana di belakangnya.
Selesai melakukan makan malam bersama dengan Diana, Reza menuntun gadis itu untuk ke kamarnya untuk memulai kesenangan mereka hingga pagi mendatang.
"Kau siap, sayang?" tanya Reza yang sudah melepas kancing kemejanya satu per satu.
"Kau begitu sempurna malam ini. Kita liat pelayanan selanjutnya darimu," lanjut Reza yang sudah melepaskan semua baju dan celana yang membungkus tubuhnya.
Tanpa aba-aba, Reza melepas dress yang membungkus tubuh indah milik Diana. Diana juga tak menolak ketika pemuda itu menariknya ke dalam pangkuannya dan meraba-raba seluruh tubuhnya.
"Malam ini akan menjadi pengalaman yang berbekas untukmu, sayang." Diana sedikit mendesah karena sentuhan lembut pemuda itu yang membuatnya sangat geli.
"Mari kita mulai, sayang." Setelah mengatakan itu, Reza menidurkan Diana dan mengukungnnya. Dia dengan perlahan memulai permainannya yang membuat Diana mengikuti aksinya.
Reza semakin lama semakin buas menikmati tubuh Diana yang terkungkung di bawah tubuhnya. Dan, dirinya juga tak segan memasukkan miliknya kepada Diana yang sudah menahan sakit di bagian intinya. Namun, itu tak memberhentikan aksi Reza. Napas mereka menderu dan perasaan yang bergejolak membuat Rezza dan Diana terus saja menikmati waktu malam mereka yang berharga.
☘☘☘
Cahaya mentari perlahan masuk ke kamar mewah nan luas itu ketika Diana membuka gorden. Setelah perang panas mereka di atas ranjang, Diana mulai terbangun tanpa sehelai baju di tubuhnya. Reza masih dengan pulas tertidur memeluk guling di sampingnya, mungkin Reza kira guling yang dirinya peluk adalah Diana.
Diana mulai membersihkan dirinya setelah membuka gorden kamar. Dia menuju ke kamar mandi dengan tetap telanjang. Karena tak ingin mengganggu Reza yang sedang tertidur, dirinya sepelan mungkin menutup pintu kamar mandi yang sedikit bersuara.
"Diana?" Reza terbangun dan mendapati Diana tak berada di sampingnya. Dia perlahan bangun dan seegera menyadari bahwa dia hanya memeluk guling saat tidur.
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka menammpakkan sosok gadis yang di cari oleh Reza. Tanpa mengatakan apapun, dirinya menghampiri Diana yang masih memakaikan handuk pada tubuhnya. Reza memeluk Diana dari beelakang dan berlaku manja di depan gadis itu.
"Apa kau akan pergi?" tanya Reza yang bermanja di atas bahu milik Diana. Diana hanya tersenyum melihat kelakuan Reza.
"Aku harus bekerja, sayang. Lagipula, kita hanya melakukan itu untuk memuaskan nafsumu dan menghasilkan uang buatku."
"Tapi, aku mencintaimu, sayang. Apa kau tak bisa di sini lebih lama?" ucap Reza memahon. Diana menghembuskan napas panjang. Dia tak mengira akan mendapatkan cinta dari pelanggannya. Namun, apa boleh buat, dia harus menuruti kemauan pemuda itu kali ini.
"Baiklah. Aku akan di sini untukmu, sayang," balas Diiana membuat senyum Reza terbit. Diana melepaskan pelukan Reeza perlahan agar dirinya bisa berganti baju. Jujur saja, dirinya mulai kedinginan.
"Terima kasih, sayang. Kau memang yang terbaik. Aku juga akan membersihkan tubuhku." Reza melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya. Diana hanya mengiyakan saja, karena dirinya juga butuh mengenakan baju.
Selesai mengganti baju mereka, Diana pamit pada Reza untuk meninggalkannya. Mau tak mau, Reza pun melepas kepergian Diana dengan suana hati yang tak baik.
☘☘☘
Diana memutuskan untuk memesan ojek online di depan rumah mewah Reza. Tak berapa lama, ojek onlinenya datang, menyerahkan helm dan Diana menaiki belakang ojek tersebut.
Dirinya tak langsung pergi ke tempat kerjanya, melainkan menuju ke mall untuk membeli baju. Karena dirinya mendapatkan uang dari perang malamnya tadi.
Diana dengan semangat melilah-milah baju yang akan dia beli untuk mencari pelanggan kembali di club malam. Dirinya juga membeli baju yang agak terbuka agar menarik perhatian lelaki di tempat itu.
Jarak mall dan rumahnya tak bisa di bilang dekat, tapi dirinya berjalan kaki pulang ke rumah. Dia juga mengirim pesan pada Nabil bahwa hari ini dirinya sedang kurang sehat. Padahal, Diana ingin beristirahat setelah menghabiskan satu malam dengan Reza.
"Akhirnya, urusanku dengan pemuda itu sudah selesai dan mendapat bayaran yang setimpal," monolog Diana tersenyum senang. Dia meletakkan tas belanjanya pada meja ruang tamu yang sebenarnya sudah usang.
"Mari bersenang-senang, Diana!"
☘☘☘
Malam yang di tunggu pun akhirnya tiba. Diana mempersiapkan dirinya dengan semangat. Sebelum ke tempat yang akan di tujunya, Diana berusaha mempercantik dirinya dan memakai pakaian yang terbuka.
Pantulan dirinya di depan cermin usang itu membuat gadis yang sudah tak perawan itu tersenyum. Senyuman manisnya membuat Diana makin cantik dan bisa mengggoda pemuda mabuk yang ada di club malam sana, mungkin juga bisa menggoda om-om hidung belang.
Puas dengan penampilannya kali ini, Diana menelpon Nabil untuk mengantarnya ke club malam. Pemuda yang sudah menjadi teman kerjanya itu hanya menuruti kemauannya tanpa menaruh kecurigaan apapun.
"Hai, cantik. Sendirian aja, nih." Diana menoleh ke arah sumber suara. Dan, bisa ia pastikan bahwa pemuda itu sedang mabuk.
Diana sudah sampai di club malam sejak 15 menit yang lalu. Dia sedari tadi hanya duduk di sofa dan memperhatikan banyak pemuda yang telah menggoda gadis di dekatnya. Diana meminum wine merahnya sambil larut dalam pikirannya sendiri. Sampai, seorang pemuda dengan keadaan mabuk berat menghampirinya dan mengajaknya untuk menghabiskan malam. Tentu, hal itu tak bisa Diana tolak.
Setelah menghabiskan waktu bersama dengan pemuda itu, Diana menerima uang yang sepadan dengan pelayanannya terhadap pemuda itu. Dia hanya tersenyum bahwa pekerjaannya sangat bagus untuk menutupi ekonominya yang saat ini sedang tak baik.
"Permisi," ucap seorang pria berjas biru navy kepada Diana. Gadis itu menoleh dan menatap pria itu bingung.
"Apa saya boleh meminta waktunya sebentar?" lanjut pria itu membuat Diana makin kebingungan.
"Iya." Pria itu mengajak Diana ke samping tempat club malam berada. Gang itu begitu sepi membuat Diana merinding.
"Apa Anda bisa menjadi istri kontrak saya?" Diana yang sedang menebak apa yang akan pria itu bicarakan sampai mengajaknya ke gang sepi seperti itu, membelalakkan matanya. What?! Apa dia tak salah dengar?!
__ADS_1
☘☘☘