
Setelah seharian bersandiwara di depan keluarga besar Malva, Diana dan Malva sekarang berada di dalam kamar dengan ranjang yang sudah di penuhi oleh kelopak bunga, membentuk hati yang sangat indah.
Saat ini, Diana sudah menjadi istri kontrak dari duda muda beranak satu itu. Apa Diana bisa menjalani kontrak dengan duda muda itu selama satu tahun? Akankah dirinya mampu tak membawa cinta di tengah-tengah hubungan panas mereka nantinya? Dan, apa dia mampu menjadi sosok ibu di depan anak semata wayang Malva?
Seharian tadi mereka harus mengobrol santai dan Diana yang berkenalan dengan keluarga besar Malva, akhirnya Diana bisa membaringkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size itu. Namun, kasur itu agak berbeda karena ada kelopak bunga berwarna merah yang membentuk hati di tengah-tengahnya.
Dan, sosok Malva tentu membuat Diana merasa berbeda malam ini. Hari yang sangat melelahkan itu di lewati dengan sandiwara yang akan terus mereka lakukan hingga acara selesai. Bahkan, Malva sekarang mungkin sudah ingin mengungkung tubuh Diana dan ********** habis-habisan. Diana hanya bisa menelan ludahnya kasar.
"Ini adalah malam pertama kita, Sayang. Mari kita lakukan ini bersama secara perlahan," ucap Malva yang mendekat ke arah Diana secara pelan-pelan. Malva juga sudah bertelanjang dada sejak Diana memasuki kamar mereka.
Dengan langkah pelan dan pasti Malva mendekati Diana yang sudah mendudukkan dirinya di tepian kasur mereka. Wajah Diana yang cantik itu terlihat sedikit pucat karena takut pada sosok Malva yang sekarang menyeriangi ke arahnya.
"Aku akan menuntunmu agar kau tidak kesakitan. Kita akan melakukannya bersama dan dengan perlahan aku akan memasukkan benihku rahimmu," ucap Malva sambil menenangkan Diana. Namun, ucapan Malva yang lembut itu malah terdengar seperti malapetaka yang akan datang padanya.
"A-ada yang i-ingin aku beritau padamu," sahut Diana dengan suara bergetar menahan takut. Malva mengangkat sebelah alisnya, dengan ekspresi wajah penuh tanya.
"S-sudah ... sudah ada benih di r-rahim ... ku," ucap Diana lagi membuat Malva membulatkan matanya sempurna.
"Mungkin," lanjut Diana membuat Malva mengeraskan rahangnya. Niat Malva yang ingin segera mengungkung Diana menjadi urung. Dia menjauh dari Diana, mengambil kaos yang dia geletakkan di atas kasur dan berjalan keluar tanpa mengatakan apapun.
Diana yang masih diam di tempat hanya bisa menghela napasnya. Dia tahu Malva sedang marah padanya. Dan, jika dirinya ke klub malam, Malva akan bertambah murka padanya. Jadi, Diana memutuskan untuk turun ke bawah.
"Papa mana?" tanya Anndika yang keluar dari dapur. Diana menoleh ke arah pemuda itu.
"Dia tadi keluar," balas Diana lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Andika. Pemuda itu menarik tangan Diana menuju ke ruang tengah. Diana yang bingung pun menurut saja.
Andika melepaskan tangan Diana saat mereka berada di samping sofa ruang tengah. Andika langsung mendaratkan pantatnya di sofa yang empuk itu. Sedangkan Diana masih berdiri dengan raut wajah yang ketakutan dan ragu-ragu.
Andika menepuk-nepuk sofa di sampingnya yang kosong, berharap Diana mau duduk di sampingnnya. Dengan ragu, Diana duduk di samping Andika dengan perasaan canggung. Pemuda di sampingnya ini sama sekali belum dia kenal sebelumnya dan dirinya juga tak pernah bertemu.
"Maaf sebelumnya kalau saya menanyakan hal tidak sopan. Aapa boleh tau berapa umur Anda?" tanya Andika membuat Diana yang sedari tadi menatap lurus ke depan jadi menoleh ke arahnya. Apa dia harus mengatakan yang sebenarnya? Bagaimana jika Malva tak berkenan?
"Saya tidak akan mengatakannya pada Anda," balas Diana dengan sangat lirih. Andika menatap Diana dengan tatapan heran.
"Kenapa?"
"Karena semua perempuan tidak akan suka jika seorang laki-laki bertanya umur pada perempuan itu." Andika sedikit terkejut mendengar jawaban yang di lontarkan Diana. Karena dia pikir, Diana akan mengatakan umurnya jika di tanya, melihat Diana yang terlihat sangat asing dengan rumahnya.
"Baiklah, saya tidak akan memaksa." Andika melipat tangannya di depan dada dengan pandangan lurus ke depan. Diana menundukkan kepalanya dengan perasaan campur aduk.
Dua manusia yang sedang duduk bersisian di ruang tengah rumah mewah itu terlihat seperti kakak adik yang sangat asing. Namun, nyatanya Diana adalah istri kontrak dari seorang duda muda yang sudah lima belas tahun di tinggal mati oleh istri tercintanya. Meninggalkan pemuda yang hanya bisa menebak-nebak seperti apa sosok ibu kandungnya itu.
"Sejak kecil, saya di tuntut untuk mandiri dengan Papa. Tidak peduli bahwa umur saya saat itu masih satu tahun." Andika menatap ke depan dan menerawang jauh. Diana yang sedari tadi menunduk mulai mengangkat kepalanya, menatap pemuda di sampingnya tak percaya.
__ADS_1
"Saya tidak pernah tau bagaimana rupa ibu kandung saya. Papa sepertinya sudah membuang foto Mama ketika saya masih bayi. Entah kenapa Papa melakukan itu. Aku terlalu takut untuk menanyakannya pada Papa."
Diana masih terdiam menatap Andika yang tetap memasang wajah datar dan mendengarkan cerita dari pemuda itu.
"Apa Anda tau? Papa saya melarang saya untuk mengunjungi makam Mama. Dia melarang keras saat waktu itu saya ingin mengunjungi makam Mama." Pemuda itu tersenyum kecut ketika mengingat memori menyedihkan itu. Di mana Papanya bersikeras tetap melarangnya walaupun dirinya sudah berusaha untuk tetap mengunjungi makan Mamanya.
"Waktu itu, umur saya masih menginjak sembilan tahun. Dan lagi-lagi, aku takut menanyakan alasan kenapa Papa melarangku ke makam Mama waktu itu. Saya hanya bisa berlari ke kamar dan menangis sejadi-jadinya saat itu. Dan, Papa tetap tidak peduli.
"Namun, setelah kejadian itu, Papa lebih memperhatikan saya lagi. Dia memberikan seluruh waktunya untuk menghabiskan waktu dengan saya. Seperti tidak peduli pada pekerjaannya sedikit pun." Diana tetap setia mendengarkan cerita Andika dengan heran sekaligus bingung. Kenapa pemuda di sampingnya itu bercerita tentang masa kecilnya? Apa ada hal yang ingin pemuda itu sampaikan?
"Yah, hidup memang terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tapi, saya yakin satu hal." Andika menatap Diana dengan percaya diri. "Tuhan selalu merencanakan yang terbaik untuk kita."
☘☘☘
Pagi kembali menyambut Diana yang masih tertidur di atas kasurnya. Gadis muda itu menggelitkan tubuhnya dan membuka mata perlahan. Cahaya mentari yang menerobos melalui celah-celah gorden membuat Diana tergerak untuk bangun dan membuka gorden kamarnya.
Diana sedikit memicingkan matanya karena cahaya mentari yang silau. Dia menoleh ke arah belakangnya di mana sosok pria yang sedang memunggunginya masih tetap meringkuk di atas kasur. Diana tak ada niatan untuk membangunkan pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu, walaupun bukan suami sungguhan.
Gadis muda itu turun dari kasurnya dengan perlahan agar tak membangunkan Malva yang sedang tertidur pulas. Diana melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan segera menyiapkan sarapan untuk keluarga barunya.
Selesai dengan ritual mandinya, Diana keluar kamar dan menuruni anak tangga satu per satu menuju ke dapur. Dia ingin memulai harinya sebagai istri kontrak dari seorang duda muda itu.
"Pagi, Bunda." Sapaan Andika membuat Diana menoleh ke arah pemuda itu dengan canggung. Diana hanya melempar senyum dan mengangguk samar.
Langkah Diana berhenti di depan kulkas yang sama sekali tak ada bahan makanan yang bisa dia masak. Bagaimana cara dia memasak jika begini? Dia membuka lemari dapur yang berada di atas kepalanya, sedikit berjinjit. Hanya ada mie instan dan beberapa telur ayam di sana.
"Anda tidak perlu memasak," ucap Andika menghampiri Diana yang tetap diam di tempat.
"Jika Anda ingin memasak, Anda harus berbelanja terlebih dahulu," lanjut Andika yang mendaratkan pantatnya di salah satu kursi meja makan.
Diana menoleh ke arah Andika yang juga sedang menatapnya. Gadis itu menganggukkan kepalanya dan mengambil dua mie instan dalam lemari dapur, lalau menutupnya kembali. Tapi, masa pagi-pagi mereka akan memakan mie instan?
Diana kembali diam membisu dengan tetap memegang dua mie instan dalam tangannya. Dia sedikit menoleh ke arah Andika yang ternyata masih memperhatikannya. Pemuda itu menyadari bahwa Diana menatap ke arahnya hanya mengangkat sebelah alisnya, bertanya.
"Apa tidak apa-apa jika pagi-pagi sudah makan mie instan seperti ini?" tanya Diana ragu menanyakan itu. Andika tetap bergeming di tempatnya, membuat Diana semakin ragu dengan pertanyaannya barusan.
"Ada roti tawar, coklat dan susu di kulkas. Anda bisa menyiapkan itu jika mau," ucap Andika tanpa membalas pertanyaan Diana. Pemuda itu juga sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Diana yang mendengar itu tak segera bergerak. Dia malah memperhatikan purta duda muda itu sembari tersenyum manis. Andai pemuda itu yang dirinya temui, mungkin dia akan mengukir kenangan indah bersama.
Karena terlalu lama memperhatikan Andika, pemuda itu menyadari bahwa ibu sambungnya memperhatikan dirinya sejak tadi. Tanpa berucap apapun, Andika menghampiri ibu sambungnya itu dan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Diana.
"Ah, maaf. Saya akan menyiapkan roti dan susu untuk Anda," ucap Diana yang sedikit salah tingkah saat Andika berada di dekatnya. Andika hanya bergeming mendengar ucapan ibu sambungnya itu.
__ADS_1
Diana kembali membuka kulkas dan mengambil roti, coklat dan susu. Dengan cekatan, Diana mengolesi roti tawar dengan coklat dan menuangkan susu di gelas kaca. Kemudian, gadis muda itu menyajikannya di meja makan.
Andika kembali duduk di salah satu kursi dan memakan roti yang di sajikan Diana di meja. Dengan lahap, Andika memakan roti berlapis coklat itu. Entah kenapa, roti berlapis coklat yang di sajikan oleh Diana jauh lebih enak daripada roti berlapis coklat yang selama ini dia makan.
Selesai memakan habis roti berlapis coklat itu, Andika meraih susu yang ada di sampingnya. Dia meneguknya dengan rakus, seperti orang yang belum pernah merasakan kelezatan susu. Anndika menyudahi sarapan paginya dan beranjak dari duduknya.
"Terima kasih. Anda sudah menyiapkan sarapan yang lezat untuk saya," ucap Andika dengan senyuman manisnya. Tanpa menunggu jawaban dari Diana, Andika melangkahkan kakinya meninggalkan dapur dan menuju ke kamarnya untuk berganti baju.
Diana yang masih berada di dapur tersenyum senang. Akhirnya, dirinya bisa mendekati putra semata wayang duda muda itu. Andika juga sebenarnya anak yang baik. Mungkin, karena belum sepenuhnya menerima pernikahannya dengan Malva, Andika bersikap dingin padanya.
Saat ini, apakah dirinya bisa berharap akan bisa lebih dekat dengan Andika dan Malva? Diana ingin memiliki keluarga yang utuh sejak kematian orang tuanya tahun lalu. Dan, Diana berharap dirinya bisa beradaptasi di rumah mewah Malva dan menjadi ibu sambung yang baik bagi Andika.
☘☘☘
Di kamar, seorang duda muda terlihat masih nyenyak dalam tidurnya. Dia sama sekali tak terusik apapun. Duda muda itu terlihat menikmati alam mimpinya hingga tersenyum-senyum sendiri.
Namun, itu tak berselang lama ketika pintu kamar yang sedikit terbuka di buka dengan kencang oleh putra semata wayaangnya. Andika terlihat mendekati Malva yang masih tertidur nyenyak. Pemuda itu menghela napas panjang dan mulai menggoyang-goyangkan bahu Malva, agar pria itu segera bangun dari tidurnya.
Bukannya bangun, Malva malah menepis tangan Andika dengan kasar. Hal itu membuat Andika menahan kesal pada sang papa.
"Pa, bangun! Aku mau sekolah, Pa!" Andika kembali menggoyang-goyang bahu sang papa agar bangun, namun itu tak membuahkan hasil apapun. Andika berdecak kesal, dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dan membawa gayung yang berisikan air.
"Papa! Ayo, bangun!" Pemuda itu menciprat-cipratkan air yang ada di gayung itu, membuat Malva terganggu karena ulah Andika.
Mata Malva berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Pria itu melihat Andika yang terus saja mencipratkan air ke wajahnya. Karena tak tahan, Malva mendudukkan dirinya dan mengusaap wajah yang penuh dengan air.
Andika menghentikan cipratan air ketika melihat Malva vmbangun dengan wajah hang sudah di penuhi air. Pemuda itu terkikik melihat sang papa menahan kesal kepadanya.
"Kebiasaan!" Andika menjadi tertawa mendengar ucapan ketus dari Malva. Dirinya semakin yakin kalau sang papa sedang marah padanya.
"Lagian Papa di bangunin susah banget. Yaudah, aku cipratin pake air aja. Untung Papa gak aku siram air sejebor," jelas Andika yang tertawa di akhir kalimatnya, membuat Malva tambah semakin masam.
Setelah mandi dan memakai jas kantornya, Malva bersama Andika menuruni anak tangga satu per satu. Dia tersenyum melihat Andika ceria seperti biasanya dan mengacak-acak rambutnya gemas. Andika memasang wajah tak suka, membuat Malva terkekeh ringan.
Andika menyuruh sang papa sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat. Pemuda itu akan menunggunya di teras rumah. Tanpa menolak, Malva mengangguki ucapan Andika dan menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapannya.
Diana yang menyadari kehadiran Malva pun menghampiri pria itu. Dengan wajah yang tertunduk, dia melangkahkan kakinya menuju ke arah Malva dan menyodorkan roti berlapis coklat dan segelas susu. Tanpa menolak, Malva menerima sodoran Diana dan tak mengatakan apapun, pria itu duduk di salah satu kursi meja makan. Malva memakan roti berlapis coklat itu dengan lahap dan menghabiskan segelas susu itu sekali tegukan.
Selesai menghabiskan sarapannya, Malva beranjak pergi dari meja makan tanpa ada niatan untuk berbicara sepatah kata pun pada Diana. Diana pun hanya berdiri di tempat, tak ada niatan untuk mendekat ke arah Malva lagi.
"Ayo berangkat!" ajak Malva pada Andika yang masih duduk di kursi teras rumah. Andika tersenyum mengangguk dan mengikuti langkah Malva.
☘☘☘
__ADS_1