Kutukar Rahimku Dengan Uang

Kutukar Rahimku Dengan Uang
Bagian 2: Penawaran


__ADS_3

"Apa Anda bisa menjadi istri kontrak saya?" Diana yang sedang menebak apa yang akan pria itu bicarakan sampai mengajaknya ke gang sepi seperti itu, membelalakkan matanya. What?! Apa dia tak salah dengar?!


Pria berjas hitam itu menatap Diana datar, menunggu jawaban gadis yang sudah tak perawan itu. Namun, keterkejutan Diana tak bisa di tutupi lagi saat pria itu menunjukkan selembar kertas kontrak padanya.


"Bagaimana? Saya jamin Anda tidak akan rugi menikah kontrak dengan saya, Nona." Diana masih belum membuka mulutnya untuk menjawab tawaran yang di berikan pria berjas itu. Ini semua terlalu mendadak untuknya.


"Tuan, apa Anda tidak salah menawarkan ini pada saya?" tanya Diana untuk memastikan tawaran pria itu.


"Saya tidak mungkin salah orang. Apa Anda mau menjadi istri kontrak saya?" tanya pria itu sekali lagi dengan wajah meyakinkan. Pria itu kembali menyimpan kertas kontraknya. Diana menelan ludahnya kasar. Apa dia akan menerima tawaran pria asing itu? Bagaimana dengan pekerjaannya di restoran?


"Apa boleh saya mempertimbangkan tawaran Anda, Tuan?"


"Tentu saja. Silahkan hubungi sekretaris saya jika Anda ingin menerima tawaran yang saya ajukan," ucap pria itu mengulurkan sebuah kartu nama pada Diana. Diana menerima kartu itu dan mengangguk samar.


Setelah selesai menyampaikan maksudnya, pria asing itu pergi meninggalkan Diana seorang diri. Diana masih belum beranjak dari gang sepi itu. Dirinya masih berpikir keras, apa dia akan menerima tawaran pria itu, atau menolaknya?


Diana masih bimbang dengan pilihannya sendiri. Dia tak tahu apa keinginan pria asing itu padanya. Dan, apa dia masih bisa mengunjungi clum malam? Ah, sial! Diana harus berbicara empat mata dengan pria asing itu sesegera mungkin sebelum semua terlambat.


Diana sedikit berlari mengejar langkah pria asing itu. Dia ingin bertanya lebih lanjut tentang tawarannya yang menginginkan Diana menjadi istri kontrak pria asing itu.


"Permisi," ucap Diana saat dirinya berhasil menyusul pria asing itu dengan napas sedikit ngos-ngosan.


"Apa saya bisa bertanya tawaran Anda terhadap saya?" lanjut Diana membuat pria asing membalikkan tubuhnya menghadap Diana.


"Apa yang akan Anda tanyakan?" Pria itu menatap Diana datar.


"Liana, siapkan tempat yang nyaman agar saya bisa berbincang dengan gadis manis ini!" perintah pria asing itu pada wanita yang ada di belakangnya. Wanita bernama Liana itu segera melaksanakan perintah majikannya.


Pria itu mengajaknya untuk ke dalam klub malam dan memasuki ruangan khusus yang di pesan oleh pria asing itu. Diana hanya membisu dan mengikuti ke mana langkah pria itu membawanya pergi.


"Apa yang ingin Anda tanyakan, Nona?"


"Apa saya bisa tetap mengunjungi klub malam dan melakukan pekerjaan samping saya? Apa Anda bisa yakin bahwa saya adalah pilihan terbaik Anda? Apa yang Anda inginkan dari saya?" Menerima rentetan pertanyaan dari gadis muda di depannya membuat pria berumur 30 tahun itu tersenyum tipis. Dia tak menyangka jika gadis di depannya berani bertanya seperti itu padanya.


"Anda tetap bisa mengunjungi klub malam kapan pun Anda mau. Bila perlu, saya bisa sediakan tempat khusus untuk Anda. Anda bisa menikati tempat khusus itu dengan pemuda-pemuda pilihan Anda. Dan, saya tidak mau istri kontrak saya bekerja. Jadi, resign dari pekerjaan yang Anda tempati saat ini lebih baik." Diana hanya bisa menelan ludahnya kasar, resign dari tempat kerja? Apa yang akan dia katakan pada Nabil dan bos restorannya itu jika dia resign?


"Apa yang Anda inginkan dari saya?" tanya Diana sekali lagi dengan ekspresi was-was. Pria itu menammpak smirknya membuat Diana semakin was-was.

__ADS_1


"Saya hanya mengingkan keturunan untuk memberikan mereka harta saya. Dan, istri saya sudah berpulang pada-Nya sejak tiga bulan yang lalu." Diana membulatkan matanya dengan sempurna. Apa kali ini dia akan menjual rahimnya kembali? Setelah benih Reza tertanam di rahimnya?


"Apa saya bisa memikirkannya terlebih dahulu sebelum menerimanya?"


"Tentu. Anda bisa menghubungi sekretaris saya kapan pun Anda mau, Nona."


Diana tak bisa berpikir jernih hingga saat ini. Kenapa hatinya begitu gelisah? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Mengapa hari ini dirinya seperti khawatir akan suatu hal?


"Baik, Tuan. Saya akan mengabari sekretaris Anda jika saya menerima tawaran Anda. Permisi," ucap Diana beranjak dari tempatnya dan sedikit menunduk ke arah pria asing itu sebagai rasa hormat, setelah itu melenggang pergi meninggalkan pria asing itu dengan perasaan tak tenang.


☘☘☘


Diana sampai di rumahnya ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi. Dirinya langsung merebahkan diri di karpet yang ada di ruang tengah rumahnya. Sungguh, pikirannya lelah saat mengingat tawaran pria asing itu. Dia tak habis pikir akan ada orang yang menawarkan istri kontak padanya. Karena selama ini, dia hanya melayani peemuda-pemuda yang siap membayarnya saja dan memuaskan nafsu mereka.


Diana bangun dari posisi rebahnya dan memilih untuk menghubungi Nabil agar membantunya. Dia tak segan untuk menelpon Nabil saat masih jam 3 dini hari. Bisa di pastikan, Nabil akan mengoomel panjang kepadanya.


Setelah sambungan terhubung, terdengar suara serak  Nabil khas bangun tidur. Bisa Diana dengan omelan panjang pemuda itu membuaatnya memutar bola mata malas. Jika tak membutuhkan Nabil, dirinya tak akan menelponnya sepagi ini.


Percakapan di telepon:


"Ngapain sih pagi-pagi telpon?! Ganggu orang lagi tidur aja, sih!" kesal Nabil untuk yang kesekian kalinya membuat Diana mulai jengah.


"Iya, iya. Ada apa?"


"Gue di ajak nikah kontrak sama orang." Nabil yang awalnya malas meladeni Diana, seketika membelalakkan matanya terkejut. Nikah kontrak?!


"WHAT?!" teriak Nabil tak percaya apa yang di dengarnya dari mulut Diana. Diana otomatis menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Yang bener aja lo! Lo di ajak nikah kontrak sama siapa?" Nabil masih tak percaya apa yang di ucapka Diana kepadanya. Sungguh, dia ingin mendengar penjelasan dari teman kerjanya itu.


"Yah, gitu deh. Ada pria asing yang dateng ke gue, terus nawarin. 'Mau jadi istri kontrak gak?' Gitu," balas Diana sambil mengangkat bahunya acuh. Memang, dirinya tak terlalu peduli dengan itu semua. Tapi, dirinya sungguh kaget saat pria asing itu menghampirinya dan menawarkan nikah kontrak padanya.


Diana menceritakan pertemuannya dengan pria asing itu di klub malam. Awalnya, Diana kira pria itu adalah salah satu orang yang akan menjadi pelanggannya. Rupanya, pria itu menawarkan nikah kontrak pada Diana. Nabil hanya diam mendengarkan cerita lengkap Diana. Nabil pun tak habis pikir dengan itu.


"Terus lo terima tawarannya?" tanya Nabil saat cerita lengkap Diana selesai.


"Yah, gue gantungin lah. Gue aja kaget pas di tawarin begituan. Gue pikir-pikir dulu. Besok-besok lah gue kabarin lo lagi. Dan, sementara ini gue minta cuti, ya."

__ADS_1


"Hm, yaudah deh. Nanti gue izinin ke bos. Udah, gue mau lanjut tidur lagi." Nabil mematikan telepon secara sepihak. Membuat Diana mau tak mau berbaring kembali di atas karpet miliknya.


Apa dia akan menerima taawaran pria asing itu? Apa ini pilihan terbaiknya? Diana masih bimbang dengan hal itu. Dia tak tahu harus berbuat apa agar bisa menolaknya. Namun, ini kesempatan bagus untuk mendapatkan uang tanpa bersusah payah, bukan? Tapi, apa dia bisa menjamin itu semua?


"Apa gue tolak aja, ya? Tapi, nanti kalo di tolak nyesel lagi. Ah, bingung!" monolognya sambil berguling-guling di atas karpet.


☘☘☘


Pagi kembali datang menerangi kota tempat tinggal Diana. Cahaya mentari menerobos jendela kamar Diana yang tak sempurna tertutup gorden. Gadis itu menggeliatkan tubuhnya, menyambut pagi dengan sebuah senyuman. Segera, dia turun dari kasurnya dan menyiapkan dirinya untuk memasak makanan yang akan di makannya.


Setelah selesai membersihkan dirinya, dia menuju dapur untuk melihat persediaan bahan makanan yang dia miliki dan memasaknya untuk dirinya sendiri.


Tak lama setelah berkutat di dapur, Diana tersenyum ketika masakannya telah tersajikan dengan rapi. Dia meletakkan hidangan yang dia buat di atas karpet dengan ponsel yang ada di sammpingnya. Diana mendaratkan pantatnya ke atas karpet dan tak lupa menghubungi Nabil untuk sarapan bersama.


Ini memang menjadi kebiasaannya saat dirinya mengenal sosok Nabil. Pemuda dengan sifat yang sedikit ceria dan mempunyai mulut ceriwis itu sudah mengisi kekosongan hidupnya dengan menjadi orang yang penting untuknya. Bahkan, Nabil juga mengetahui cerita pribadinya yang selama ini Diana simpan rapat-rapat selama ini. Hanya pada Nabil Diana terbuka, hanya dengan Nabil dirinya bercerita, dan hanya dengan Nabil dirinya nyaman dan terlindungi.


Diana melakukan panggilan video dengan Nabil yang sepertinya masih menahan kantuk karena Diana yang membangunkannya dini hari tadi. Namun, Diana hanya terkikik saat Nabil berdecak kesal saat tahu Diana seperti sedang mengerjainya.


"Suka banget sih liat orang sengsara," ucap Nabil dengan perasaan kesal. Diana tak menanggapi ucapan Nabil dan mulai memakan masakannya sendiri membuat Nabil terlihat menahan diri untuk tak mengeluarkan kata-kata kasar pada Diana.


"Makan, Bil. Enak loh," tawar Diana pada Nabil yang sepertinya tergoda kelezatan makanan buatan Diana. Nabil tak menggubris tawaran Diana. Pemuda itu lebih memilih kembali tiduran di atas kasurnya yang empuk dan memperhatikan Diana memakan makanannya.


Setelah lebih dari sejam mereka melakukan panggilan video, Diana memutuskan untuk menutup sambungan telepon dan mengganti bajunya untuk melakukan pertemuan dengan pria asing itu lagi tak jauh dari rumahnya.


Saat menuju ke lokasi pertemuan, Diana sudah mendapati pria asing itu dengan sekretaris di sampingnya. Diana melangkahkan kakinya dengan matap menuju ke arah mereka.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Diana sambil sedikit menunduk, memberi hormat.


"Selamat pagi, Nona." Pria asing itu tersenyum tipis ke arah Diana dan mempersilahkan duduk di depannya.


"Bagaimana jawaban Nona atas tawaran yang saya tawarkan kemarin?" tanya pria asing itu to the point. Diana menghela napasnya sepelan mungkin sebelum menjawab.


"Saya akan menerima tawaran, Tuan. Namun, saya ingin Tuan masih mengizinkan saya untuk bekerja." Pria berusia 27 tahun itu sedikit terkejut dengan permintaan gadis yang ada di depannya. Di saat wanita berjejer ingin mendapatkan hati dan hartanya, gadis ini memmilih bekerja daripada menikmati hartanya yang tumpah ruah itu? Apa gadis ini sudah tak waras?


"Baiklah. Saya menyanggupi permintaan sederhanamu. Dan, kamu juga masih bisa mendekati pemuda-pemuda yang ada di klub malam, atau teman kerjamu. Saya hanya menginginkan keturunan darimu. Ingat itu, Nona." Setelah mengatakan itu, pria asing itu pamit undur diri dari hadapan Diana beserta sekretarisnya.


Apa Diana bisa mempercayai pria asing itu? Apa kehidupannya akan lebih baik daripada sebelumnya? Walaupun mendapatkan uang yang tak sedikit jumlahnya, Diana juga ingin memiliki lelaki yang tulus mencintainya dan menerima apa adanya. Apa keinginannya itu bisa terwujud?

__ADS_1


☘☘☘


__ADS_2