
Apa Diana bisa mempercayai pria asing itu? Apa kehidupannya akan lebih baik daripada sebelumnya? Walaupun mendapatkan uang yang tak sedikit jumlahnya, Diana juga ingin memiliki lelaki yang tulus mencintainya dan menerima apa adanya. Apa keinginannya itu bisa terwujud?
Sepertinya Diana bisa mempercayai perkataan pria asing itu kali ini saja. Jika pria asing itu berani berbuat macam-macam dengannya, Diana tak akan bisa tinggal diam begitu saja.
Keturunan, ya? Apa dia bisa memberikan keturunan pada pria asing itu saat benih Reza masih tertanam di dalam rahimnya? Apa itu mungkin?
Diana beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju ke rumahnya. Dia harus berbicara empat mata dengan Nabil soal ini, walaupun nantinya Nabil akan tahu rahasia yang dia simpan selama ini.
Diana menghempaskan tubuhnya begitu saja pada sofa ruang tamu miliknya yang sudah berlubang sana-sini. Diana akan berpindah tempat tinggal saat sudah menikah kontrak dengan pria asing itu. Tunggu, bagaimana dengan surat kontraknya? Apa pria itu yang akan menuliskannya, dan membuat peraturan sendiri untuknya?
Diana memilih mendudukkan diri di kasur dan merenungkan keputusannya. Apa dia bisa membongkar aib nya sendiri di depan Nabil? Bagaimana reaksi pemuda itu jika tahu pekerjaannya adalah melayani pemuda-pemuda yang berada di klub malam? Ah, itu mungkin keputusan terburuk yang dia ambil. Dia tak bisa menjamin bahwa Nabil masih akan membantunya.
Gadis itu beranjak dari duduknya menuju keluar kamar. Diana melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk memasak makanan kembali. Karena tadi pagi, dirinya hanya memasak nasi goreng dan telur ceplok.
Kegiatan memasak yang di lakukan mengalihkan pikirannya seketika. Hanya karena bau bumbu-bumbu sedap yang dia masak, membuat kepalanya sedikit lega. Keputusannya untuk memasak adalah hal yang bagus.
Setelah acara memasaknya selesai, Diana membawa makanan yang di masaknya menuju ke karpet yang berada di depan televisi. Dia memang mempunyai televisi, namun hanya televisi kecil dan tayangannya tak sejernih televisi yang selama ini dia inginkan.
Diana mulai acara makannya dengan menyalakan televisinya yang sudah lama itu. Walaupun tak jernih, tapi televisinya masih bisa di tonton. Diana menonton televisi sambil memakan masakannya sendiri dengan lahap seperti orang yang tak di beri makan beberapa hari saja. Baru menghabiskan separuh makanannya di piring, ponsel yang masih berada di dalam kamarnya berbunyi tanda panggilan masuk.
"Siapa lagi sih yang nelpon? Orang lagi makan juga," kesal Diana saat merasa tergangggu. Dia dengan malas beranjak untuk mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa penelpon.
Percakapan di telepon:
"Halo."
"Selamat siang, Nona. Apakah Anda bisa ke tempat tadi sekarang? Tuang sedang menunggu Anda untuk menyepakati surat kontrak yang akan Tuan dan Nona jalani selama satu tahun," jelas seorang wanita dengan tenang membuat Diana menyatukan alisnya. Kenapa baru sekarang baru akan di bicarakan?
"Baiklah. Saya akan segera ke sana. Terima kasih." Diana menutup telepon secara sepihak dan berdecak kesal. Dasar pria sialan! batin Diana kesal. Entah kenapa menurutnya pria itu hanya mementingkan dirinya sendiri. Dan, pria itu tak peduli apapun yang berkaitan dengannya sekali pun.
Tanpa berlama-lama lagi, Diana segera menghabiskan makanannya yang tersisa, mematikan televisi, membawa piringnya ke dapur serta meneguk air yang ada di dekat tempat pencuci piring. Dengan wajah yang di tekuk, Diana kembali mengenakan dress yang sebelumnya dia pakai untuk bertemu dengan pria asing itu.
Lokasi yang sama di pilih oleh pria asing itu, karena tak mengharuskannya keluar jauh-jauh dan meninggalkan putri semata wayangnya. Dia juga sudah memesan makanan serta minuman untuknya dan gadis yang akan menjadi istri kontraknya.
Diana datang dengan raut wajah yang tetap di tekuk dan tanpa menyapa pria asing itu, Diana langsung duduk di hadapan pria asing itu.
"Maaf, saya telah menganggu waktu Nona. Pertama-tama, saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Malva Gentara, Nona bisa memanggil saya Mas Malva atau Malva," ucap pria asing yang bernama Malva itu. Diana tetap bergeming di tempatnya.
"Baik. Nama saya Giselia Diana Az-Zahra. Tuan bisa memanggil saya Diana." Malva menatap Diana dengan senyuman manis miliknya, membuat Diana terpana dengan pemandangan di depannya. Namun, langsung tersadar bahwa pria itu sedang berusaha menggodanya.
"Salam kenal, Diana. Saya harap, kita bisa menjalani ini tanpa ada yang cinta di antara kita." Malva menatap Diana dengan tatapan yang serius. Diana menelan salivanya susah payah. Jujur, dirinya sedikit waspada jika Malva sudah menatapnya seperti itu.
"Baiklah. Saya akan menunjukkan surat kontrak yang akan kita sepakati. Dan, saya sudah mengisinya sebagian saja. Jika Nona ingin menambahkan isi dari kontrak tersebut, silahkan Nona bicarakan itu pada sekretaris saya, Liana." Diana hanya mengangguk samar mendengar penjelasan Malva. Gadis itu memperhatikan gerak-gerik Malva yang mengeluarkan surat kontrak dalam tas kerja yang di bawa sekretarisnya itu.
Malva menyodorkan surat kontrak padanya yang langsung di terima olehnya. Diana bisa melihat di sana sudah tertulis sebagian kesepakatan yang akan mereka jalankan selama terhubung surat kontrak itu. Sesekali, gadis itu menautkan alisnya saat melihat beberapa kesepatan dalam surat tersebut tak sesuai angannya.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah surat kontraknya sesuai dengan keinginan, Nona?" tanya Malva dengan ekspresi wajah datar. Diana menatap mata Malva dan menunjukkan surat itu untuk di perbaiki lagi.
"Saya tidak setuju dengan kesepakatan nomor 3," balas Diana sambil menunjuk kesepakatan yang di maksud. Malva langsung mengeceknya dan tersenyum tipis.
"Ada apa? Kenapa Nona tidak setuju dengan kesepakatan nomor 3?" Diana menatap tajam pria di depannya yang malah tersenyum miring. Apa pria itu sengaja?
"Pokoknya, saya tidak setuju dengan kesepakatan nomor 3. Apa Anda lupa permiintaan saya kemarin?" Malva tersenyum sinis mendengar jawaban yang di lontarkan oleh Diana padanya.
"Saya tidak pernah mengiyakan, bukan?"
Diana mengepalkan tangannya kuat. Apa pria itu sengaja membuat kesepakatan yang tak di inginkan olehnya? Gadis itu hanya perlu menuliskan kesepakatan yang belum terisi, bukan? Diana akan mengisinya yang hanya akan memberi keuntungan untuk dirinya sendiri.
"Baiklah. Saya mennerima kesepakatan nomor 3. Dan, saya akan memikirkan kesepakatan yang belum terisi." Diana menatap Malva dengan tajam. Kesengajaan pria itu sangat jelas ketika dengan entengnya dia mengangkat bahu dan menyeringai senang.
"Oke. Liana, tolong bantu dia!" perintah Malva pada sekretarisnya yang setia berdiri di sampingnya. Liana menganggukkan kepalanya dan mendekati Diana tanpa ada perlawanan sedikit pun.
Butuh waktu dua jam bagi Diana untuk memikirkan keinginannya sendiri dan di tulis di dalam surat kontrak. Dan anehnya, Diana merasa tak memiliki keinginan berarti.
"Apa Nona sudah mengisi daftar yang kosong?" tanya Malva memastikan. Diana hanya menghela napas panjang dan menyerahkan surat kontrak itu pada Malva.
"Ho ... apa Nona menuliskan keinginan Nona di sini?" Malva melihat daftar surat kontrak satu per satu yang di tulis oleh Diana. Dia tahu gadis di depannya itu telah menuliskan hal yang menguntungkan bagi Diana.
"Bagaimana dengan kesepakatan nomor 4? Kita harus menghabiskan setiap malam berdua, tanpa ada hari yang terlewati, Nona," lanjut Malva membuat Diana tersenyum geram.
"Baiklah. Berarti kita sepakat, ya, Nona," ucap Malva sambil beranjak dari duduknya, menyudahi pertemuan mereka. Diana mengangguk dan juga ikut beranjak.
"Oh, ya. Pernikahan kita akan di laksanakan tiga hari lagi. Persiapkan diri Nona untuk malam pertama kita." Diana membelalakkan matanya. What?! Tiga hari lagi? Are you crazy, Malva?!
☘☘☘
Malva Gentara, seorang pria berumur 27 tahun itu kehilangan istri yang sangat dia cintai saat melahirkan anak pertama mereka. Pria itu sangat terpukul dengan kematian istrinya, membuat anak semata wayangnya terabaikan hingga berumur 6 tahun. Karena tak ingin berlarut-larut pada kesedihannya, Malva mulai bangkit dan memberikan anaknya kasih sayang seorang papa, walaupun anak semata wayangnya tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
Sudah 15 tahun berlalu, anaknya kini tumbuh menjadi remaja yang tangguh dan selalu patuh padanya. Walaupun anaknya tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, remaja berumur 15 tahun itu berusaha tegar dan berusaha menjadi anak yang berbakti. Malva sendiri bangga memiliki anak semata wayang sepertinya.
Namanya Andika Gentara, lelaki yang selalu bisa menjaga jarak dengan kaum hawa dan sangat anti dengan mereka. Selalu menjauh saat ada gadis yang mendekatinya, walaupun gadis itu adalah gadis baik-baik. Kepribadiannya dengan sang papa sama, hanya saja Andika lebih lembut dan posesif terhadap apa yang menjadi miliknya. Terkadang juga sang papa hanya bisa menghela napas panjang ketika sadar bahwa kepribadiannya menurun ke anak semata wayangnya.
Andika tak pernah tahu bahwa sang papa mencari gadis yang akan menjadi ibu sambungnya. Andika tak pernah berpikiran buruk terhadap sang papa, karena Malva selalu melakukan yang terbaik untuknya selama ini. Sang papa juga berusaha menjadi seorang ayah dan ibu sekaligus bagi Andika yang saat itu masih kecil.
Sudah dari satu jam yang lalu Malva menemui Diana, namun Malva terus memikirkan nasib Diana ke depannya. Malva mengerti bahwa gadis seperti Diana masih panjang untuk mencapai cita-cita yang menjadi tujuannya. Tapi, dirinya malah menawarkan hal yang tak seharusnya dirinya tawarkan.
"Liana, panggil Andika kemari!" perintah Malva yang langsung di angguki oleh sekretaris yang selalu ada di sampingnya itu. Malva menghela napas lelah. Bagaimana dirinya memberitahu Andika soal ini?
"Ada apa, Pa?" tanya Andika sambil mendudukkan diri di samping sang papa. Malva menoleh ke arah sang anak dan tersenyum manis.
"Kamu sudah makan?" Andika menggeleng samar membuat Malva menghela napas panjang. Dia elus puncak kepala Andika dengan kasih sayang.
__ADS_1
"Ayo makan sama Papa. Papa tadi juga belum sempat makan, hanya makan sedikit saja." Liana yang berdiri di samping dua majikannya hanya bisa terdiam membisu. Tentu, dirinya tahu tuannya itu sedang membujuk ananknya untuk makan. Padahal, Malva sangat memakan banyak makanan sebelum Diana datang ke tempat yang sama.
Tanpa curiga dan ragu, Andika mengangguki ajakan sang papa dan dii balas senyuman senang Malva. Mereka berjalan beriringan menuju meja makan dan menyuruh salah satu pekerja rumahnya untuk membuatkan makanan untuk putranya.
"Andika, Papa mau tanya sama kamu." Ucapan Malva tentu membuat Andika yang sedang memainkan ponselnya mendongakkan kepala ke arahnya.
"Mau tanya apa, Pa?"
"Jika Papa menikah lagi dengan seorang gadis atau wanita, apa kamu mau menganggapnya sebagai ibu?"
☘☘☘
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Diana sudah berada di dalam kamar mewah yang nantinya akan menjadi kamarnya dan Malva. Untuk kesekian kalinya, Diana memandangi dirinya di pantulan cermin. Dirinya begitu sempurna dengan make-up tebal dan gaun putih panjang yang dia kenakan. Tak lupa, bunga cantik bertengger di kedua tangannga.
Sebenarnya, dirinya sudah selesai di rias. Namun, Diana tak percaya diri untuk menemui banyak orang dan duduk di samping Malva saat ini. Apalagi, mengingat Malva mempunyai seorang putra yang umurnya tak terpaut jauh dengannya.
"Nona, Tuan Malva sedang menunggu di bawah," ucap Liana yang menghampiri Diana. Wanita itu mengulurkan tangannya pada Diana yang di sambut Diana dengan ragu.
Kedua wanita berbeda umur itu menuruni anak tangga satu per satu dengan pelan. Diana tampak sempurna dengan gaun panjang yang di kenakannya, serta jangan lupakan bunga yang tak lepas dari tangannya.
Liana menuntun Diana sampai di depan Malva yang menatap Diana dengan datar. Tak jauh dari mereka, putra semata wayang Malva memperhatikan mereka dengan sorot mata yang sulit di artikan.
"Apa kedua mempelai sudah siap?" tanya penghulu yang berada di depan Malva dan Diana, terpisahkan dengan meja.
Malva menganggukkan kepalanya mantap dan menghembuskan napasnya sebelum menerima uluran tangan penghulu tersebut.
"Baik. Saya akan menjadi wali dari saudari Diana untuk pernikahan ini." Diana hanya mengangguk samar dengan kepala tetap menunduk.
"Saya nikahkan engkau, Malva Gentara bin Herwanto Gentara dengan Giselia Diana Az-Zahra binti Ferdianto dengan maskawin emas 100 gram dan uang senilai 50 juta di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Giselia Diana Az-Zahra binti Ferdianto dengan maskawin tersebut di bayar tunai!"
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu pada orang-orang yang hadir di pernikahan Malva dan Diana.
"Sah!"
Penghulu dan para hadirin yang hadir mengangkat tangannya untuk mendoakan kebahagiaan dan kerukunan sang pengantin baru. Malva dan Diana turut mengangkat tangan mereka. Entah kenapa Diana merasa telah bersalah menerima tawaran Malva saat itu. Andai saja dirinya menolak, mungkin perasaan bersalah di hatinya tak akan pernah ada.
Selesai acara pernikahan mereka, Malva dan Diana melakukan sandiwara pertama mereka. Mereka tersenyum penuh kebahagiaan seolah saling mencintai satu sama lain. Padahal, perasaan Diana sudah tak menentu sejak Malva berhasil mengucapkan kata keramat itu. Pernikahan yang harusnya penuh kebahagiaan, malah penuh dengan kecanggungan serta rasa bersalah yang mendera di hati gadis yang sudah menyandang gelar istri Malva itu.
Setelah seharian bersandiwara di depan keluarga besar Malva, Diana dan Malva sekarang berada di dalam kamar dengan ranjang yang sudah di penuhi oleh kelopak bunga, membentuk hati yang sangat indah.
Saat ini, Diana sudah menjadi istri kontrak dari duda muda beranak satu itu. Apa Diana bisa menjalani kontrak dengan duda muda itu selama satu tahun? Akankah dirinya mampu tak membawa cinta di tengah-tengah hubungan panas mereka nantinya? Dan, apa dia mampu menjadi sosok ibu di depan anak semata wayang Malva?
☘☘☘
__ADS_1