L.D.R (Leona Dan Reynald)

L.D.R (Leona Dan Reynald)
Perjodohan


__ADS_3

Saya adalah Leona Wijaya.


Seorang wanita berusia dua puluh lima tahun yang di tuntut untuk segera menikah oleh kedua orang tua saya.


Sudah lima tahun terakhir ini, saya menjalankan bisnis W.O ( Wedding Organizer).


Pekerjaan saya yang berada di lingkup "pernikahan" , bukan berarti membuat usaha saya mencari "jodoh" menjadi mudah.


Justru karena saya terlalu sering mengurusi pernikahan orang lain, membuat saya lupa akan kehidupan saya sendiri.


Saya sebenarnya sudah memiliki kekasih, dia adalah Firza Maulana. Teman SMA saya dulu.


Karena Firza tidak kunjung melamar, membuat orang tua saya ingin menjodohkan saya dengan seorang laki-laki yang tidak saya kenal.


Laki-laki itu berada di negeri sakura.


Dia adalah anak dari sahabat ayah saya, Paman Abdi.


Mereka adalah seorang pengusaha restoran di sana.


Besok pagi, keluarga Paman Abdi akan berkunjung ke rumah kami.


Ibu saya sudah memberikan ultimatum agar tidak menerima job besok pagi.


Padahal ada lima job dengan bayaran fantastis.


Saya harus membatalkan semua job itu.


Sudahlah, orang tua memang tidak bisa di lawan.


Sebagai seorang anak, hendak nya berbakti dan mendengarkan mereka.


"Nana? kamu sudah selesai belum?" Tanya Ibu di ujung telepon.


"Belum Bu, lima belas menit lagi Nana pulang." Jawab saya lembut.


"Baiklah, Ibu tunggu kamu di rumah." Ucap Ibu sambil menutup sambungan telepon.


Saya beranjak dari kursi kerja saya.


Berkas pekerjaan yang harus di periksa masih setumpuk di meja.


Tapi kali ini yang menyuruh saya pulang adalah nyonya rumah Tuan Wijaya, Ibu saya sendiri yang akan kesal jika gadis kecilnya menolak permintaannya.


Mana mungkin saya bisa menolaknya.


Saya selalu menjadi gadis kecil baginya.


Meskipun usia saya sudah seperempat abad.


* * *


"Windy, saya minta maaf harus pulang ke rumah lebih awal." Ucap saya pada seorang karyawan.


"Tidak masalah Bu Nana, semua akan saya handle." Kata Windy sambil tersenyum.


"Thank you so much my dear. Kamu selalu bisa saya andalkan." Kata saya memujinya.


Windy kembali tersenyum dengan manisnya.


Windy adalah seorang gadis muda berumur sembilan belas tahun. Dia baru saja lulus SMA. Tapi kemampuannya sangat luar biasa.


Dia bisa melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu.


Windy, umurnya boleh masih muda. Tapi pemikiran nya sangat dewasa.


* * *

__ADS_1


Saya berjalan menuju parkiran kantor.


Saya mengendarai motor untuk pulang ke rumah.


Jarak kantor dan rumah cukup jauh.


Perlu waktu satu jam perjalanan.


* * *


Sesampainya di rumah


"Gadis kecil Ibu sudah pulang, ayo masuk Nak. Paman Abdi dan putranya sudah menunggumu." Ucap Ibu dengan senyum bahagia.


Oh My God !


Mereka datang hari ini?


Uang ratusan juta saya menghilangkan begitu saja.


"Baik Ibu." Dengan langkah yang tidak bersemangat saya berjalan masuk ke dalam rumah.


"Tegakkan badan mu, segera mandi dan bicaralah dengan calon suamimu." Ucap Ibu yang mengetahui kalau saya sangat malas untuk bertemu mereka.


* * *


Ruang tamu


Setelah saya mandi, saya berganti pakaian.


Saya segera menemui calon suami saya di ruang tamu.


"Nana, ini adalah Paman Abdi dan Putranya Reynald." Kata Ibu sambil memperkenalkan calon besan dan calon suamiku.


Aku menatap wajah calon suami saya.


Kesan pertama saya pada nya adalah dia seorang yang pendiam dan dingin.


Tapi berbeda dengan calon Ayah saya, dia sangat ramah.


"Owalaah, ini yang namanya Leona. Saya sudah lama sekali tidak berjumpa dengan kamu, Nak." Kata Paman Reynald kepada saya.


Saya bersalaman dengan calon ayah mertua saya.


Saya mencium tangannya.


"Duduk sini dekat Paman. Kelak saya akan jadi ayah kamu juga." Ucap Paman Abdi kepada saya.


Reynald hanya melihat ponsel yang sedang dia pegang.


Sepertinya itu tentang pekerjaan yang sangat penting.


"Rey, Ini di rumah calon besan. Pekerjaan masih bisa di lanjutkan nanti lagi. Bicaralah dengan calon istrimu." Kata Paman Abdi menegur Rey, panggilan akrab Reynald.


Rey terlihat memasukkan ponsel yang sedari tadi ia tatap ke dalam saku celananya.


"Leona, kamu silahkan bicara dengan Reynald. Ibu akan memasak dulu di dapur." Kata Ibu sambil bergegas pergi meninggalkan kami berdua di ruang tamu.


"Rey, bersikap baiklah. Ayah pergi ke luar dulu, ada klien yang harus di temui." Kata Paman Abdi sembari beranjak dari tempat duduknya dan kemudian pergi.


Sekarang hanya ada kami berdua di sini.


Rasanya canggung sekali.


"Apakah kamu sedang sibuk?" Kata saya memulai pembicaraan.


"Iya, saya sedang meeting." Jawab Rey sambil tetap menatap layar ponselnya.

__ADS_1


Menyebalkan sekali orang ini.


Drttt... Drtt..


Ponsel Rey tiba-tiba bergetar.


"Maaf, saya masih ada urusan sebentar. Anda tunggu di sana lima belas menit saja. Saya akan segera menemui anda." Kata Rey kepada seseorang yang menelfonnya.


Rey memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya kembali.


Dia mulai bicara.


"Maaf, saya tadi tidak fokus. Saya masih banyak pekerjaan. Tolong katakan secara singkat riwayat hidup anda." Kata Rey , seolah-olah sedang sesi wawancara.


Saya gugup sekali.


Dia terlalu tampan untuk di pandang.


"Kenapa kamu diam? bicaralah. Saya hanya punya waktu lima belas menit. Tadi saat anda diam, dua menit saya sudah hilang." Ucap Rey sambil memandang jam tangannya.


Dia memang orang yang profesional.


Dalam acara perjodohan pun di samakan dengan waktu bekerja.


Sudah lah..


Saya hanya bisa menuruti permintaan ibu.


Setidaknya, perjodohan ini membuat kedua orang tua saya tidak merasa malu karena gadis kecil yang berumur seperempat abad ini akan menikah.


"Anda sudah menghabiskan lima menit waktu saya. Saya mohon anda bicaralah." Kata Rey dengan raut wajah datar.


Saya menghembuskan nafas panjang dan mengeluarkannya.


"Nama saya adalah Leona Wijaya, seorang pengusaha W.O bernama "L.W cantique". Saya sudah menekuni pekerjaan saya selama kurang lebih lima tahun terakhir. Hobi saya adalah membaca komik manga Jepang. Saya suka makan makanan asli Indonesia, terutama rawon." Kata saya panjang lebar.


"Oke, masih kurang satu menit lagi. Lanjutkan." Kata Rey yang sedari tadi memperhatikan saya.


Kalau saya boleh mengatakan, sebenarnya Rey adalah orang yang baik.


Dia tetap menghormati saya bicara.


Tapi karena waktu yang dia berikan terlalu singkat, jadi saya habiskan waktu dengan diam.


Tidak mengerti harus berbicara apa lagi.


"Waktu kamu sudah habis, simpan kartu nama saya. Nanti kamu telfon saya." Kata Rey sambil memberi kan sebuah kartu nama.


Dia kemudian pergi dengan pamit terlebih dahulu kepada Ibu saya.


"Ibu, saya pulang dulu. Besok malam saya datang lagi." Pamit Rey kepada Ibu saya.


"Sebentar sekali, Ibu masih ingin bicara dengan kamu lebih lama." Jawab Ibu saya sambil mengaduk kuah sob buntut yang sedang di masak nya.


"Terima kasih Ibu, tapi saya harus pergi ke kantor. Ada urusan penting."


"Baiklah, hati-hati di jalan. Nak." Kata Ibu.


Aku mengantar Rey menuju depan rumah.


Dia masuk ke dalam mobil nya.


Saya melambaikan tangan kepada calon suami.


Tapi dia seperti nya acuh.


Perjodohan yang tidak saya inginkan, semoga saya bisa menjalani rumah tangga bersama Reynald kelak.

__ADS_1


__ADS_2