
"Akhirnya Tuan Rey pulang juga." Ucap saya lega.
Kemudian saya masuk ke dalam rumah.
Saya membantu Ibu yang sedang memasak.
"Ibu tahu kalau kamu tidak setuju dengan perjodohan ini. Kekasihmu itu hanya seorang mahasiswa, tidak memiliki masa depan." Ucap Ibu sambil mengulek sambal.
"Saya setuju dengan perjodohan ini. Biarkan saya yang menyelesaikan urusan dengan Firza. Ibu tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja." Ucap saya menenangkan Ibu.
"Baiklah, Ibu percaya padamu. Kamu istirahat saja, biar Ibu yang memasak makan siang untukmu." Ucap Ibu.
"Saya akan tetap membantu Ibu." Ucap saya sedikit memaksa.
"Kalau begitu kamu bantu Ibu cuci piring saja." Perintah Ibu pada ku.
Saya mengangguk dan melaksanakan perintah Ibu.
Lima belas menit kemudian...
Setelah selesai membantu Ibu, saya mengatakan kepada Ibu kalau ingin istirahat di kamar.
"Baik Nak, jangan lupa nanti makan siang ya? Ayah mu akan pulang hari ini." Ucap Ibu.
Ayah akan pulang?
Saya sangat bahagia, setelah tiga bulan tidak bertemu akhirnya Ayah kembali.
Beliau sedang sibuk bekerja di Jepang.
Paman Abdi dan Ayah saya bekerja sama mendirikan restoran.
Hingga saat ini memiliki 20 cabang di Jepang dan 25 cabang di Indonesia.
Dengan restoran induk berpusat di Kyoto, Jepang.
Ayah sangat memanjakan saya.
Mungkin karena saya adalah anak tunggal.
Semua yang saya inginkan , Ayah akan berusaha mewujudkannya.
Ayah adalah orang tua terbaik.
Ibu juga sama.
* * *
Di kamar saya ...
"Ini adalah kartu nama Tuan Rey. Dia mengatakan saya harus menyimpan nomor ponselnya."
Setelah menyimpan nomor Tuan Rey di ponsel saya, Secara tidak sengaja saya memencet tombol Call.
Dan langsung tersambung pada Tuan Rey di ujung telefon.
📞"Hallo, siapa ini?" Tanya Tuan Rey.
📞"Maaf Tuan, saya Leona." Jawab saya.
📞"Ada apa kamu telfon saya." Tanya Tuan Rey kembali.
📞"Maaf Tuan, saya tidak sengaja melakukan panggilan ke nomor ponsel anda ." Jawab saya menjelaskan.
📞"Oh, begitu ya." Jawab Tuan Rey singkat.
📞"Maaf kalau saya mengganggu Tuan."Ucap saya yang ingin sekali menutup panggilan.
📞"Kamu lucu sekali, terlalu sering minta maaf itu tidak baik." Ucap Tuan Rey.
📞"Baik, Tuan." Jawab saya.
__ADS_1
📞"Panggil saja Rey. Saya adalah calon suami kamu." Ucap Tuan Rey.
📞"Baik Tu.., Eh Rey." Jawab saya dengan suara terbata-bata.
📞"Saya masih harus mengerjakannya banyak hal. Saya tidak bisa berlama-lama berbicara di telefon. Kalau ada yang kamu butuhkan, bilang kepada saya." Ucap Tuan Rey.
📞"Baik." Jawab saya.
Saat saya akan berpamitan untuk menutup panggilan, ternyata dia sudah menutup panggilan lebih dulu.
"Tuan Rey adalah orang yang sibuk tapi masih menjawab panggilan telefon saya. Padahal saya tidak sengaja melakukannya. Sangat berbeda dengan Firza, sudah seminggu ini tidak memberikan kabar apapun kepada saya. Berulang kali saya mencoba menghubungi nya lewat panggilan ponsel, tapi tidak tersambung. Saya sudah bertanya kepada semua teman-teman mahasiswa nya yang saya kenal. Tapi tidak ada kepastian dimana Firza berada. Mungkin perjodohan ini adalah jalan untuk saya mendapatkan seorang pria yang lebih baik dan bertanggung jawab. Saya yakin akan menikah dengan Tuan Rey." Ucap saya sangat bersemangat.
Waktu makan siang telah tiba.
Setelah istirahat beberapa menit, saya keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan.
Ibu sudah stanby di meja makan dengan menyiapkan banyak sekali hidangan.
"Mari sayang, makan lah. Ini ada sob buntut kesukaanmu. Sambal tomat, sama kerupuk juga ada." Ucap Ibu.
Ibu sudah menyiapkan hidangan di piring untuk saya.
Beliau memang selalu begitu, semua hal selalu di perhatikan.
Sampai aku sudah hampir menikah pun, Ibu tidak mengizinkan saya melakukan apapun.
Mungkin karena riwayat saya yang memiliki penyakit vertigo.
Kata dokter pribadi keluarga kami, saya tidak boleh kelelahan.
Kalau sampai itu terjadi harus langsung di bawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan selanjutnya.
Saya sudah beberapa kali keluar masuk Rumah Sakit.
Pekerjaan yang menuntut saya harus menyediakan energi ekstra, membuat saya sering tumbang.
Tapi saya tidak pernah kapok. Ayah saya kemudian menunjuk Rendy, seorang dokter muda untuk selalu memantau kesehatan saya.
Kami sangat dekat waktu kecil.
Karena dia harus kuliah kedokteran di luar negeri, kami sangat jarang bisa bertemu.
Dan pada kesempatan kali ini, setelah Rendy lulus sebagai dokter spesialis saraf, Ayah saya memanggil Rendy langsung dari luar negeri untuk merawat saya.
Akhirnya, Rendy membuka praktek di Indonesia.
Jadi saya lebih mudah untuk bertemu dengannya.
Sebulan sekali saya datang ke tempat prakteknya untuk mengecek kondisi saya.
Ibu sudah mengatakan agar saya keluar dari pekerjaan yang sudah saya rintis dari nol ini.
Alasan Ibu sangat masuk akal.
Tapi saya belum rela.
Saya menunjuk Windy untuk jadi tangan kanan saya dalam melakukan pekerjaan.
Syukurlah...
Penyakit vertigo saya berangsur membaik.
* * *
"Mengapa Ayah belum pulang Bu?" Tanya saya.
"Ayah mu tidak jadi pulang hari ini, ada pekerjaan mendadak. Tiket pesawat yang sudah di pesan juga terpaksa di cancel." Kata Ibu menjelaskan.
"Oke, tidak apa-apa Ibu. Biarkan Ayah menyelesaikan pekerjaan nya." Ucap saya.
"Kamu mau kemana sudah begitu rapi?" Tanya Ibu heran.
__ADS_1
"Saya ingin keluar sebentar. Ada urusan yang harus di selesaikan." Jawab saya.
"Baiklah, hati-hati di jalan." Pesan Ibu pada saya.
Saya menggangguk kemudian mencium tangan Ibu saya.
Setelah itu saya pergi dengan mengendarai motor
* * *
"Dimana saya harus mencari Firza?" Gumamku dalam hati.
Saya mengendarai motor menuju Kampus Firza.
Setelah tiga puluh menit saya mengendarai motor, akhirnya sampai juga.
"Biasanya kalau jam segini , Firza sudah ada di kantin. Coba saya telfon Aldo."
Panggilan telefon saya tersambung...
📞"Aldo, dimana Firza." Tanya saya.
📞"Nana, loe harus sabar ya." Jawab Aldo.
📞"Sabar? untuk apa?". Tanya saya heran.
📞"Besok pagi, Firza akan menikah dengan Silvia." Jawab Aldo
Seperti mendengar petir di siang bolong.
Aku rasanya tidak punya tenaga lagi untuk berbicara.
Silvia adalah sahabat terbaikku, dia adalah orang yang menyatukan saya dan Firza.
Mengapa semua ini terjadi pada saya, Tuhan?
Salah saya apa?
📞"Halo, Halo, Nana? kamu masih di situ Na?" Jawab Aldo khawatir.
📞"Oh, terima kasih atas infonya."
Kemudian saya menutup panggilan telefon dari Aldo dan bergegas pergi dengan mengendarai motor.
Saya mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, Hingga tanpa sengaja saya menyerempet mobil seseorang.
Saya terjatuh dari motor, kaki dan tangan saya lecet.
Orang di dalam mobil itu keluar dan menghampiri saya.
"Apakah nona baik-baik saja." Tanya orang itu.
"Maaf Tuan, saya yang salah." Ucap saya sambil menunduk.
"Nona senang sekali meminta maaf rupanya." Ucap seseorang tadi.
Dari suaranya, seperti saya pernah mendengarnya.
Apakah dia?
Tuan Rey?
Saya mendongak, dan benar.
Mobil yang saya serempet tadi adalah mobil Tuan Rey.
"Maaf Tuan , saya tidak sengaja." Ucap saya meminta maaf.
"Jelaskan saja nanti di mobil, kamu ikut pergi dengan saya." Ucap Tuan Rey.
* * *
__ADS_1