
Pagi ini saya sangat sibuk.
Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.
Sejak Ibu mengetahui kalau saya dan Rey mulai dekat, beliau memberikan izin kepada saya untuk bekerja lagi.
Syukur lah..
Akhirnya saya bisa bekerja dengan tenang tanpa harus mendengar Ibu mengomel setiap hari.
Drtt..
Ponsel saya bergetar.
Ternyata panggilan telefon dari Rey.
"Ada apa Tuan menelfon saya?" Tanya saya pada Rey.
"Tinggalkan pekerjaan mu, ada hal yang lebih penting. Kamu turun ke bawah, sekarang !?!" Jawab Rey tegas.
Tanpa pikir panjang, saya keluar dari ruangan saya.
"Windy, hari ini saya ada urusan. Handle semua pekerjaan saya." Pinta saya pada Windy.
"Siap Bu Nana." Jawab Windy dengan semangat.
________________
Di depan kantor...
"Masuklah, kita pergi ke pernikahan Firza." Ucap Rey.
Saya terkejut, ternyata serius ingin memberi pelajaran kepada Firza.
"Kamu masih mau berdiri saja atau masuk ke dalam mobil?" Ucap Rey yang membuyarkan lamunanku.
"Baa.. ik. Saya masuk ke dalam." Jawab ku terbata-bata.
_______________
Di dalam mobil..
"Nanti kamu ikut kerumah saya. Di sana ada orang yang saya suruh untuk merias kamu. Baju yang kemarin kita beli juga sudah saya persiapkan." Ucap Rey.
Dia tidak menatap saya sama sekali.
Padahal saya ingin menatap matanya dan mengucapkan terima kasih padanya.
"Kamu sakit?" Tanya Rey yang merasa kalau saya hanya diam dan tidak merespon perkataannya.
"Tidak, saya hanya bahagia." Jawabku.
Kemudian Rey memasukkan ponselnya di saku celananya dan menatap wajah saya.
"Apa kamu bahagia jika Firza menikah dengan Silvia?" Tanya Rey yang kini benar-benar menatap mata saya.
"Bukan soal mereka, tapi karena anda Tuan Rey." Jawabku.
Sekali lagi, dia salah tingkah dengan perkataan saya.
"Mengapa anda berkeringat?" Tanya saya heran, padahal AC mobil juga berfungsi dengan baik.
"Apa yang kamu inginkan? katakan saja." Jawab Rey masih tetap menatap mata saya.
"Saya ingin menikah dengan anda. Saya menerima dengan sepenuh hati saya." Ucap saya.
Kali ini, dia tidak salah tingkah.
Dia mengelap keringatnya dengan selembar tissue yang ada di mobil.
__ADS_1
Dia kemudian tersenyum.
"Kamu tenang saja, nanti mantan kamu itu akan saya buat menyesal."
Beberapa menit kemudian, sampailah saya di rumah Rey.
Rumahnya sangat luas dan mewah seperti istana.
"Rumah kamu indah sekali." Ucapku.
"Ini juga akan jadi rumahmu kelak." Jawab Rey.
"Terima kasih Rey, anda adalah orang yang sangat baik." Ucap saya.
Saya kemudian masuk kedalam rumahnya.
Tidak kalah indah dari rumah bagian luarnya, bagian dalamnya pun luar biasa megah dan mewah.
"Anda tinggal di sini sendiri?" Tanya ku sambil mengikuti langkah Rey.
"Iya, saya sengaja merenovasi rumah ini karena Ayah saya bilang, saya sudah cukup umur untuk menikah dan selayaknya memiliki hunian yang nyaman untuk anak dan istri kelak." Ucap Rey tersenyum.
"Bukan hanya cukup umur, tapi lebih umur." Jawabku.
Jawabanku membuat Rey tertawa, " Hahaha... kamu ternyata lucu juga."
Untung saja Rey menganggap ku bercanda.
"Revina, bawa calon istri saya masuk ke kamar. Rias dia secantik mungkin." Perintah Rey yang langsung di laksanakan oleh Revina.
"Nona, ikut saya ke kamar atas." Ucap Revina.
Beberapa menit kemudian..
Kamar Rey..
"Sejak kapan anda bekerja di sini, Revina?" Tanya Saya.
Saya terkejut, kejam sekali Rey ternyata.
Mempekerjakan seorang anak di bawah umur.
"Nona tidak usah berfikir yang berlebihan tentang Tuan Rey. Saya adalah anak yatim piatu yang terlantar di jalanan. Beliau menyelamatkan saya dari sebuah kecelakaan. Tuan Rey membiayai seluruh pengobatan Rumah Sakit. Tuan Rey menyuruh saya untuk tinggal bersamanya." Jelas Revina.
"Tapi bukan berarti kalau kamu harus bekerja." Ucap saya kesal.
"Saya yang meminta pekerjaan kepada Tuan Rey. Awalnya Tuan Rey menolak karena saya masih kecil, saya sendiri yang berinisiatif bekerja. Setiap pagi saya membantu Tuan Rey untuk mencuci mobilnya, setelah itu saya membersihkan rumah ini. Meski lelah harus membersihkan rumah sebesar ini, tapi dengan bantuan para pelayan saya bisa menjalani hari-hari dengan bahagia. Mereka juga sangat menyayangi saya. Saya merasa mendapatkan keluarga baru. Tuan Rey juga membiayai sekolah saya sampai lulus kuliah. Setelah saya lulus kuliah, saya di perbolehkan bekerja. Sekarang saya bekerja sebagai Make Up Artist." Jawab Revina.
"Jadi.., jadi dia?" Ucap saya terbata-bata.
Saya merasa Rey menjadi orang yang paling istimewa di hati saya.
Dia ternyata sangat baik.
"Tuan Rey memilih anda, anda sangat beruntung Nona." Ucap Revina.
"Panggil saja saya Nana." Jawab ku.
"Tidak, saya harus memanggil anda Nyonya Rey kelak." Ucap Revina.
"Kamu sudah seperti adik saya. Panggil saja Kak Nana." Jawab ku sambil tersenyum.
"Apakah Nona tidak keberatan jika saya memanggil dengan panggilan itu?" Tanya Revina.
Aku menggelengkan kepalaku.
Di dalam pantulan cermin, saya melihat rona bahagia di wajah Revina.
Beberapa menit kemudian...
__ADS_1
"Sudah selesai Nona. Luar biasa, anda sangat cantik." Ucap Revina.
"Benarkah? kamu masih saja canggung, panggil saya dengan sebutan Kak Nana." Jawab saya.
"Baik, Kak Nana." Ucap Revina.
__________________
Lantai bawah...
Rey sudah menunggu di bawah, saya melihatnya dari atas.
Dia terlihat sangat gusar.
Berulang kali melihat jam tangan yang di kenakan nya.
"Tuan Rey, calon istri anda sudah selesai saya rias." Ucap Revina.
Rey berbalik dan melihat saya.
Dia menatap saya tanpa berkedip.
Tubuhnya mematung.
Perlahan saya berjalan menghampiri Rey.
Setelah jarak saya dan Rey dekat, saya mendekatinya.
"Rey? apa kamu baik-baik saja?" Tanya saya padanya.
"Oh, saya baik-baik saja." Jawab Rey yang terkejut dan bergaya sok cool.
"Mengapa anda diam saja? mata anda juga dari tadi tidak berkedip." Tanya saya pada Rey.
"Oh itu, saya hanya.." Jawab Rey.
"Itu karena Tuan Rey terpesona dengan Kak Nana." Ucap Revina yang membuat Rey malu.
"Revina, kamu ternyata sudah dekat dengan Nana." Tanya Rey sambil tersenyum.
"Iya Tuan, saya bahagia anda menikah dengan Kak Nana. Dia sangat baik." Jawab Revina.
"Dia memang baik dan cantik." Gumam Rey dalam hati.
"Saya pergi dulu. Kamu jaga rumah, nanti akan ada Ayah, kamu harus membantunya berkemas."
Perintah Rey.
"Baik Tuan." Jawab Revina.
Akhirnya kami berdua keluar dari rumah megah nan mewah milik Rey.
Kami berangkat menuju pesta pernikahan Firza dan Silvia.
________________
Di dalam mobil..
"Ayahmu akan pergi ke Jepang lagi?" Tanya ku pada Rey.
"Iya, ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Kemarin Ayah menginap di rumahku sebentar karena ada klien yang mengajaknya bertemu di rumah. Dia adalah sahabat Ayah. Rumah yang saya tempati itu adalah Rumah Ayah dulu. Sahabat nya sering sekali berkunjung." Jawab Rey.
"Oh begitu." Ucap saya.
Saya meremas kedua tangan saya.
Saya sangat gugup, semoga saya bisa menghadapi kedua pengkhianat itu.
"Kamu jangan gugup, genggam tangan saya. Kelak saya yang akan melindungi kamu." Ucap Rey.
__ADS_1
Entah mengapa, tangan Rey benar-benar hangat dan membuat saya tenang.
Terima kasih, Reynald.