
"Itu adalah gedung pernikahannya. Mereka masih terlihat bahagia. Tapi saat Reynald datang, kebahagiaan itu akan musnah."
Mendengar ucapan Rey, saya merinding.
Dia terlihat sangat membenci Firza.
Padahal kebencian saya saja tidak sebesar dia.
Entah apa yang membuat Rey dendam kesumat kepada Firza.
"Tetaplah di samping saya sampai akhir, akan ada pertunjukan menarik di sana."
Saya memandang wajah Rey yang merah padam.
Apa yang akan dia lakukan?
Saya tidak mengetahuinya, bahkan menerkapun saya tak mampu.
* * *
Di dalam gedung...
Saya berada di samping Rey setiap saat.
Dia terlihat mengenal banyak tamu yang datang.
"Luar biasa, Tuan Rey juga datang kemari." Ucap seorang tamu undangan.
"Iya Tuan, saya hanya menemani calon istri saya." Jawab Rey santai dengan menggandeng tanganku.
"Apa hubungan calon istri anda dengan kedua mempelai?" Tanya sang tamu undangan.
Saya ingin menjawab, tapi Rey mengisyaratkan pada saya untuk tetap diam.
"Oh itu, bukan siapa-siapa. Saya kemari karena ingin bertemu dengan pemilik Dongseng Resto." Ucap Rey.
"Bukannya mereka telah di blacklist oleh anda? beritanya juga sudah tersebar." Jawab sang tamu undangan yang heran.
"Itu dulu, sekarang beda lagi. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan pada mereka."
Para tamu undangan berbisik-bisik, mereka khawatir akan ada kegaduhan di pesta pernikahan ini.
Jika Tuan Rey sudah bertindak, semua akan hancur seketika.
* * *
"Dimana dua sahabat palsu mu, Na?" Tanya Rey.
Dia nampak sedang mengamati keadaan di sekitar.
"Mereka ada di panggung itu, sedang bersalaman dengan para tamu." Jawab ku sambil menunjuk ke arah panggung pelaminan yang sangat megah.
"Ini saatnya." Gumam Rey dalam hati.
Rey mengandeng tangan saya menuju panggung pelaminan, tidak ada sedikitpun rasa ragu dan bimbang yang saya rasakan selama ini.
Semua sirna begitu saja.
Rey telah memberikan saya kekuatan.
Saya mantap melangkah bersama Rey menemui dua pengkhianat yang sudah membuat sakit hati saya.
"Tu.. u.. an Rey." Ucap Ayah Firza.
Dia terlihat sangat ketakutan saat melihat Reynald yang kini berdiri di depannya.
__ADS_1
Seakan ada banyak kesalahan yang sudah dia perbuat kepada Rey.
Sedangkan Firza dan Silvia acuh pada kami berdua.
Sial?!!
Saya menyesal menganggap mereka berdua sahabat selama ini.
"Apa kabar Tuan Romy? apa saya bisa bicara sebentar dengan anda?" Tanya Rey dengan sorot mata yang tajam.
"Bi... sa, Tu... an .. R.. e y." Jawab Tuan Romy terbata-bata.
Rey membawa saya bersamanya.
Kami bertiga berjalan keluar gedung.
Rey menyuruh saya untuk masuk ke dalam mobil.
Saya menuruti perkataannya.
* * *
"Apa anda masih ingat tentang kejadian 4 tahun yang lalu?" Tanya Tuan Rey dengan tatapan mengintimidasi.
"Ma..si..h.." Jawab Tuan Romy ketakutan sampai keluar keringat dingin.
"Jika anda masih ingat, kenapa anda menikahkan Firza dengan anak dari orang yang kamu musuhi?" Tanya Tuan Rey mulai memprovokasi.
"Ma.. k su..d.. Tuan?" Tanya Tuan Romy tidak mengetahui apa yang Rey sampaikan.
"Silvia itu anak kandung musuhmu, Lervi dan Frans. Orang tuanya sekarang hanyalah orang tua angkat. Pernikahan ini adalah rencana mereka untuk menghancurkan anda."
Tuan Romy terlihat sangat marah.
"Kesepakatan apa itu Tuan?" Tanya Tuan Romy.
"Batalkan pernikahan anak anda, saya akan membayar semua biaya yang anda keluarkan untuk pesta megah ini. Di tambah bonus, Dongseng Resto milik anda akan menjadi mitra utama perusahaan saya. Bagaimana? apa kamu setuju?"
Tuan Romy terlihat ragu, dia masih memikirkan harga diri keluarganya jika pernikahan ini di batalkan.
Di sisi lain, keuntungan berbisnis dengan Rey juga sangat mengiurkan.
Apa lagi Rey langsung yang datang menemuinya.
Orang paling sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk mengatakan omong kosong.
"Apa yang kamu pikirkan? tidak kah begitu bagus tawaran yang saya berikan pada anda?"
Rey masih memprovokasi Tuan Romy.
Tuan Romy masih bimbang.
" Kalau sampai pernikahan ini tidak di batalkan, kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya. Dan jika itu semua sudah terjadi, jangan harap saya mau menolong anda. Pikirkan sekali lagi. Telfon saya jika anda sudah melakukan kesepakatan yang telah kita buat ini."
Ucap Rey sambil berlalu dari hadapan Tuan Romy.
* * *
Di dalam mobil.
"Apa kamu bosan?" Ucap Rey yang tiba-tiba sudah ada di dalam mobil dan duduk di sampingku.
"Tidak, saya tidak bosan. Tidak bosan sama sekali." Jawab saya gugup.
"Kamu terlihat tidak nyaman di samping saya. Apa perlu saya panggilkan mobil lain? agar kamu di antar sopir pribadi saya?" Ucap Rey.
__ADS_1
"Tidak Rey, saya hanya khawatir dengan keadaan kamu. Firza sangat licik. Saya takut kamu terluka."
Setelah mendengar jawaban saya, Rey langsung tancap gas, tanpa menghiraukan apa yang saya katakan.
Saya jadi heran, dia itu cuek atau marah ya?
Tidak ada bedanya sama sekali.
Sudahlah, yang penting hari ini sudah berakhir.
Hari paling menyebalkan yang pernah saya lalui.
"Rey, kita mau kemana?" Tanya saya heran.
"Membeli makanan." Jawab Rey.
"Tapi ini, ini bakso pinggir jalan." Ucap saya masih tidak percaya, orang sekaya Rey masih mau makan di tempat rakyat jelata seperti saya.
"Ini tempat favorit kamu kan?" Tanya Rey.
Sejak kapan dia tahu bakso di sini tempat makan favorit saya?
Aneh...?!!?
"Iya, tapi saya takut anda tidak cocok dengan rasanya." Ucap saya khawatir.
"Saya suka makan bakso pinggir jalan waktu kuliah dulu. Tidak ada pembeda si kaya dan si miskin. Bakso itu kan enak, tidak perlu kita perdebatkan lagi. Mari kita duduk, saya yang pesan tapi kamu yang bayar ya?" Jawab Rey dengan senyuman yang langka terlihat.
"Baiklah...baiklah." Ucap saya.
Setelah memesan 2 porsi bakso jumbo dan dua es teh, akhirnya kami makan juga.
Drttt.. drtt..
"Sebentar Na, saya angkat telefon dulu." Ucap Rey.
Saya menggangguk sambil terus menyantap bakso kesukaan saya.
"Tuan Rey, apa yang anda suruh sudah saya laksanakan. Ternyata anda benar, Silvia anak Lervi dan Frans. Sebelum mereka membuat kekacauan, saya sudah tahu lebih dulu dan dengan mudah saya bisa mengatasinya. Terima kasih Tuan Rey, berkat anda saya tidak mendapat malu dan merugi." Ucap Tuan Romy di sambungan telefon.
"Bagus, segera datang ke kantor saya. Kita bicarakan kontrak kerjasama dan biaya ganti rugi sekalian. Saya sampai di kantor sepuluh menit lagi." Jawab Rey dengan senyum puas.
"Baik Tuan, sekali lagi terima kasih." Ucap Tuaj Romy.
Rey menutup panggilan telefonnya dan segera kembali ke tempat duduknya.
"Siapa yang telefon?" Tanya ku penasaran.
"Bukan siapa-siapa. Cepat habiskan, saya ada urusan penting di kantor." Perintah Rey.
"Saya masih lapar Rey." Ucap saya menggerutu.
"Ya sudah, kamu nanti pulang dengan sopir saja, saya akan panggil sopir pribadi saya ke sini. Pak bungkus bakso yang ada di mangkuk saya, ini uangnya."
Bapak tukang bakso terkejut saat Rey memberikan uang sebesar satu juta rupiah dengan pecahan seratus ribuan.
Bapak tukang bakso menolak, tapi Rey memaksa.
Jika tidak mau menerima uang darinya, Rey akan menghancurkan gerobak bakso milik bapak itu dan memberikan uang itu sebagai ganti rugi.
Bapak tukang bakso kemudian lebih memilih menerima uang tersebut karena ketakutan.
Saya masih tidak percaya dengan apa yang saya lihat.
Dia kelewat baik, sungguh pria yang keren.
__ADS_1