Larangan Menatap Mata Alice

Larangan Menatap Mata Alice
Prolog


__ADS_3

*Ketika air hujan jatuh pertama kali mengenai tanah, bau petrikor menyeruak masuk ke dalam Indra penciumannya.


Gadis kecil itu memiliki rambut hitam yang panjang, tatapannya menusuk masuk membuat siapapun yang ditatap merasakan kengerian. Bibir tipisnya pucat tak pernah tertarik ke atas atau sekedar terbuka sedikit.


Gadis kecil berusia sembilan setengah tahun itu terdiam lama, menatap anak-anak seusianya bermain di lapangan dengan air hujan. Mereka semua menyambut rintikan hujan yang jatuh mengenai tubuh mereka seolah-olah inilah sumber kebahagiaan yang selama ini mereka nantikan.


Saling mengejar, tertawa, mengadah begitu senyum dan tawa itu terlihat bersama, si gadis kecil dengan seragam putih dan rok merah itu semakin terdiam. Jatuhan air hujan yang semakin deras sama sekali tak mengganggu.


Kali ini ia mempercayakan hati kecilnya yang memegang kendali atas tubuhnya. Kaki mungilnya melangkah di atas tanah becek mendekati makhluk-makhluk kecil itu bermain.


Langkahnya pelan seiring hujan menjatuhkan air ke bumi, pelan dan tersemat sebuah harapan hingga akhirnya ia berhenti melangkah.


Satu persatu dari mereka mulai menyadari kehadiran seseorang, sejenak menghentikan permainan dan menatap gadis itu yang berdiri di dekat mereka.

__ADS_1


"Mau main hujan bareng sama kita juga?"


Satu pertanyaan meluncur dari mulut seorang gadis berbandana merah muda.


"Aku takut, aku nggak mau main sama si mata biru."


Namun, salah seorang dari mereka tak setuju membuat gadis itu kembali merasa sedih.


Gadis itu ikut bermain di bawah air hujan yang semakin dingin. Tapi tiba-tiba gadis pucat itu mendorong salah satu anak perempuan itu jatuh ke atas lumpur, lututnya berdarah mengenai batu kecil yang tersembul dari dalam tanah. Gadis yang jatuh itu menangis, semuanya terdiam lalu menatap gadis pucat itu dengan kecewa.


Gadis pucat itu mundur hingga akhirnya ia ambruk menutup ke-dua telinganya dengan tangan, matanya terpejam rapat, mulutnya berteriak penuh ketakutan.


"Pergi!. . . Pergii!!,"

__ADS_1


Sambil menyerukan sebuah kata 'pergi' gadis pucat itu kian histeris. Semakin menutup mata dan telinganya dengan rapat.


"Pergii!!!"


Kakinya menendang-nendang membuat sebagian tubuh gadis itu terkena lumpur.


"Pergi !"


Akhirnya dengan rasa penuh ketakutan mereka semua langsung berlari pergi menjauh dari gadis aneh itu.


Ya... Dia adalah gadis aneh yang akan tetap menjadi gadis aneh sampai kapanpun, sampai kapanpun tak akan ada yang mau berani mengenalnya, tak ada yang mau berteman dengannya. Dia memang tercipta untuk tidak memiliki teman.


____________

__ADS_1


__ADS_2