Larangan Menatap Mata Alice

Larangan Menatap Mata Alice
2. Siapa sebenarnya Alice


__ADS_3

Aksa mengetuk-ngetukkan bolpoin warna hitamnya ke atas meja. Kedua alisnya menyatu menjadi satu, kerutan itu semakin dalam ketika pikiran demi pikirannya jika disambungkan justru tidak sinkron.


"Masih aja lo kepikiran anak kelas sepuluh tadi, nggak usah dipikirin toh para polisi nggak bakal tinggal diam aja mereka bakal berusaha sekuat mungkin buat nangkap siapa pelakunya," ucap Novan yang duduk di samping Aksa. Cowok itu sedang membaca buku Harry Potter karya JK Rowling. Buku super tebal itu harus ia selesaikan secepatnya karena si Mutia, sepupu perempuannya itu akan mengambil dalam enam hari lagi.


"Ya kalau itu emang pembunuhan, kalau enggak?"


"Kalaupun enggak ya tetap bukan urusan kita, urusan kita ya cuma belajar. Lo nggak percaya sama cara kerja polisi?" Novan bertanya, ia menutup novelnya guna memperhatikan Aksa yang kalau dilihat-lihat dari ekspresi wajahnya seperti mengatakan, 'aku harus mencari tahu semua ini, harus.'


"Yang ada kalau lo melibatkan diri dalam hal ini masalahnya akan semakin runyam."


Novan menepuk pundak Aksa. "Belajar yang giat dulu entar kalau lo udah jadi polisi gue bakal diam dan nggak  bakalan ceramah kayak gini lagi, lo boleh tuh ngukir-ngukir masalah bahkan sampai akar-akarnya sekalipun."


Aksa mengangkat sebelah alisnya. "Jadi polisi ya? Emang gue cocok jadi polisi?"


"Apa salahnya?"


"Aneh aja. Selama delapan belas tahun gue hidup gue nggak pernah kepikiran buat jadi polisi, dan lo orang pertama yang nyuruh gue jadi polisi," ucap Aksa membuat Novan mengedikkan bahu acuh sebelum akhirnya ia bergerak pelan memutar tubuhnya dan kembali membuka novel.


"Menurut gue pekerjaan itu tepat juga buat orang kayak lo, yang kekepoannya level tinggi."


"Ih, jangan jadi polisi Axsei."


Suara yang mendayu-dayu itu berasal dari depan Aksa dan Novan. Zen menempelkan bolpoin pink-nya ke ujung bibir.


"Kenapa emang?" tanya Aksa ganti menoleh kepada Zen.


"Zein nggak sukak sama polisi, ih. Serem banget, ew," jawab Zen bergidik ngeri membuat dua orang yang mendengar itu hanya bisa meringis pelan.

__ADS_1


Yeah, walupun tulang Zen lebih lemas dari tulang lelaki lainnya ia adalah sosok teman yang mengagumkan. Zen orangnya baik kepada siapa saja, jadi semua orang akan nyaman,apapun pembahasannya mereka pasti nyambung jika diajak bicara oleh Zen.


"Lagi pada ngomongin apa?" tanya Virgo yang duduk di sebelah Zen, dari tadi dia sibuk dengan ponselnya jadi suara teman-temannya terpental keluar sebelum masuk ke telinganya.


"Oh, gue tahu pasti soal kejadian di toilet tadi kan?"


"Iya, lo tahu sesuatu? Biasanya kan lo pasti punya banyak informasi," ucap Aksa sembari mengambil novel yang sedang dibaca Novan.


"Novel sepupu gue, yaelah tangan lo usil banget." Novan memprotes sementara Aksa pura-pura tak mendengarnya karena titik fokusnya sekarang hanya kepada Virgo.


Virgo ini selalu punya informasi dari kejadian-kejadian yang sempat viral. Walupun informasinya itu terkadang tak nyambung setidaknya Aksa mengharapkan sebuah clue dari informasi Virgo.


Virgo memutar tubuhnya seratus sembilan puluh derajat dan duduk menghadap Aksa dan Novan yang duduk di belakang bangkunya.


"Dengar-dengar cerita ini dimulai saat anak kelas sebelah nggak semgaja lihat Alice keluar dari dalam toilet tak lama setelah anak kelas sebelah akan masuk ke toilet."


Zen mengangguk sambil memasang wajah bosan.


"Bisa aja kan si Alice-Alice itu kebetulan ada di sana, dia nggak tahu kalau si Nani mau bunuh diri eh pas Alice keluar Nani nancepin pisau ke perut dan beberapa menit lagi saksi mata pergi ke toilet dan melihat Nani sudah hampir mati." Novan berucap yang tak lepas dari pengawasan Aksa.


"Gimana-gimana? Maksud lo Alice pergi ke toilet murni karena urusan toilet dan dia sama sekali nggak ada sangkut pautnya sama Nani, dan soal waktu kejadian itu sama waktu Alice keluar cuma kebetulan aja, gitu?" tanya Virgo membedah ucapan Novan.


Novan menjentikkan jarinya. "Tepat. Jadi, gue ini nggak yakin kalau Alice pembunuhnya. Bukan berarti disini gue mbelain Alice ya, gue cuma mikirin perasaan gadis itu bayangin aja kalian ada di posisi Alice yang nggak tahu apa-apa soal pembunuhan lalu lo yang nggak tahu apa-apa itu dituduh sebagai pembunuhnya. Nah gimana tuh perasaan Lo?"


Novan menatap teman-temannya, Aksa nampak diam sambil memeluk novel. Diamnya Aksa ini karena sedang menyimak informasi yang nantinya akan saling ia kaitkan dengan beberapa fakta-fakta yang ia dengar.


Sebenarnya Aksa ingin mengatakan pada teman-temannya bahwa gadis yang hampir mati itu kamarin mengantar paket ke rumahnya. Aksa pasti akan menceritakannya tapi tidak sekarang.

__ADS_1


Sementara si Zen wajahnya menegang, terkejut, meringis, bergidik, dan respon tubuh lainnya saat Novan dan Virgo mengatakan hal yang menurut Zen mengerikan.


"Gue pribadi juga nggak percaya sebenarnya, tapi yang buat kepercayaan gue agak goyah itu karena rumor gadis itu yang nggak masuk di akal,"


Zen manggut-manggut mendengar ucapan Virgo. "Bener banget, waktu itu aku pernah tuh nggak sengaja natap matanya alicee. Dia punya mata biru dan cantik sih bikin para perawan iri menjerit-jerit. Tapi, tapi tapi tatapannya bikin merinding aku sampai nggak bisa tidur pas malamnya," ucap Zen teringat sepenggal kejadian tatap-tatapan dengan Alice di kantin kemarin.


"Gue juga pernah tuh. Gue nggak sengaja lihat matanya tapi waktu gue mau mengalihkan pandangan susah banget, cewek itu kayak ada magnetnya."


"Gue sumpat khawatir kalau rumor itu benar, larangan buat natap mata Alice kalau kita nggak mau kena sial sementara gue justru natap matanya tanpa mau beralih, kalau aja tuh cewek nggak mengalihkan pandangan duluan gue pasti akan tetap menatapnya,"  jelas Virgo lagi.


Aksa memijat keningnya saat mendengar spekulasi teman-temannya yang membuatnya pusing.


"Kepala lo pusing? Masuk angin?" tanya Virgo kepada Aksa, cowok itu bahkan menjulurkan telapak tangannya untuk mengecek suhu badan Aksa di dahinya.


Aksa lantas menggeleng sembari menepis tangan sialan Virgo. " Singkirin tangan lo dari hadapan gue baunya bau minyak pijat," ucapnya membuat Virgo langsung mengendus tangannya.


"Enggak kok. Bau maskulin gini kok dibilang minyak pijat."


"Terserah. Tapi ada satu hal yang dari tadi mengganjal di kepala gue. Gue mau nanya sama kalian.


"Tanya aja, kali ini lo kepo sama bagian yang mana?"


"Siapa tuh Alice? Orangnya yang mana?"


Hening_ dan siapa yang tahu jika pertanyaannya itu akan menjadi awal dari kisah ini akan dimulai, sejak saat itu dan selanjutnya hidup Aksa tidak seperti kehidupan biasanya.


_BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2