
Aksa menatap jalanan kota Jakarta yang dipadati oleh berbagai kendaraan bermotor, sesaknya debu-debu di udara sangat mengganggu pernapasan sekaligus penglihatannya.
Ia beralih menatap ke depan, tepat kearah seorang gadis yang duduk tak jauh darinya. Katakan saja bahwa Aksa adalah penguntit, ya penguntit.
"Kalau lo penasaran, Alice biasanya pulang naik bus. Lo ngerti kan apa maksud gue ngomong kayak gini?" ucapan Virgo beberapa menit yang lalu tiba-tiba berseliweran di atas kepalanya.
Ia mendesah panjang, lagi-lagi ia kalah dengan rasa penasaran. Mau bagaimana lagi kalau namanya orang penasaran itu sudah tak akan peduli dengan dampak yang ditimbulkan selain memperoleh informasi yang membuat puas.
Ketika Alice berdiri Aksa juga ikut berdiri, lalu melangkah keluar bersamaan dengan beberapa orang yang kebetulan berhenti di tempat yang sama.
Punggung mungil itu tak lepas dari pengawasan Aksa, penguntitan kembali berlanjut, ia melangkah pelan dengan hati-hati agar gerak-geriknya tak mencurigakan.
"Siapa tahu Alice itu hidup sama penyihir di kastil," lagi-lagi ucapan Virgo beberapa menit yang lalu kembali mampir di kepalanya.
Menyebalkan.
Sepertinya Aksa sedang mencoba menghalau suara-suara Virgo yang asli ngawur, ini kan bukan negeri dongeng yang ada penyihirnya.
Eh . . .
Aksa berhenti sejenak dengan tangan mengepal erat karena tiba-tiba saja gadis itu berhenti melangkah. Gawat ini benar-benar gawat.
Aksa langsung bersembunyi di balik semak, tatapannya kesana kemari melihat keadaan sekitar dan hanya dedaunan sejauh mata memandang. Tangan Aksa bergerak ke atas untuk menyentuh dadanya yang berdegup kencang, sesekali menghembuskan napas pelan. Oh, jadi begini rasanya jadi penguntit itu?
Tak mau lama-lama akhirnya Aksa sedikit membungkuk untuk melihat keadaan sudah aman atau belum. Mata Aksa melebar ketika tak menemukan siapapun di sana.
Bagaimana bisa?
Aksa keluar dari semak-semak lalu menyapukan pandang ke sekitar. Yang membuatnya semakin merasa was-was adalah ketika dirasakannya semilir angin yang tiba-tiba menyapu kulitnya, membuat bulu kuduk meremanag seketika, ayolah ini bukan adegan horror.
Aksa berada di sebuah gang sempit. Sepertinya hanya kendaraan roda dua yang bisa masuk lalu satu rumah_ tidak tapi dua rumah. Mata Aksa menyipit menatap rumah ke-dua itu.
Rumah yang berada dekat dari posisi Aksa sekarang adalah rumah yang terbuat dari batako putih dengan lingkungan sekitar didominasi oleh beberapa tumbuhan yang rindang. Sedangkan rumah yang ke dua letaknya sedikit jauh mengharuskan Aksa menyipitkan matanya untuk melihat rumah itu. Rumah itu cukup besar dan ada pagar hitam di depannya.
Aksa melangkah pelan untuk melihat lebih jelas rumah berpagar hitam itu. Namun entah apa yang sedang terjadi tiba-tiba Aksa merasakan sebuah pukulan dan sakit luar biasa di bagian belakang tubuhnya sampai akhirnya semuanya hitam, gelap.
Semuanya tidak baik-baik saja, itulah yang ada dipikiran Aksa sebelum kesadarannya menghilang.
***
Aksa menyipitkan matanya ketika sorot cahaya menerobos masuk lewat jendela mengenai retinanya.
Kepalanya pusing, membuat lelaki itu menyentuh kepalanya pelan sambil mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi, tapi ia tak kunjung mengingatnya.
__ADS_1
Bukan hanya kepalanya yang sakit tapi seluruh badannya juga terasa remuk, sebenarnya apa yang baru saja terjadi, dan tempat apa ini?
Tempat ini terlihat seperti sebuah gudang dan yang jelas ini bukan gudang di rumahnya, untuk mengetahui keganjilan ini Aksa mencari-cari ponselnya yang entah ada di mana. Ia langsung bangun ketika menyadari tas ranselnya juga tidak ada.
Cit. . .
Pintu bercat coklat di depan terbuka menampilkan seorang gadis dengan tubuh mungil, sorot mata tanpa mengasihani. Alice memandang dingin Aksa yang mulai mengingat semuanya secara perlahan. Sepertinya tadi Aksa dipukul lalu ia dibawa sampai sini, ternyata badan semungil itu bisa membawa tubuhnya yang memiliki bobot dua kali lebih berat dari bobot Alice.
Alice melangkahkan kakinya mendekati tikar yang menjadi kasur Aksa. Aksa juga baru menyadarinya, pantas saja badannya terasa remuk.
Gadis itu masih memakai seragam sekolah sama seperti Aksa.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu mengikutiku, yang jelas aku tidak suka diikuti, " ucap Alice tanpa hadirnya sebuah senyuman.
Aksa menatap Alice yang sudah berdiri di depannya, ia berniat menjelaskan sebelum Alice sampai salah paham "Gue, bukan orang jahat_ "
"Siapa. kamu. sebenarnya?" Tapi Alice dengan sorot penuh kebencian itu tak mau mendengar bualan Aksa, ia hanya ingin jawaban yang sebenarnya.
Aksa memijat pelipisnya.
"Sumpah. Gue bukan orang jahat gue nggak ada niat buat jahatin lo, ini murni terjadi karena gue penasaran sama lo percayalah gue bicara yang sebenarnya," ucap Aksa sungguh-sungguh.
Alice diam sejenak, namun tatapannya lurus kepada Aksa tanpa adanya ekspresi apapun membuat Aksa menggaruk tengkuknya karena tidak tahu harus bagaimana.
"Baiklah," ucap Alice dengan nada yang anehnya terdengar menyeramkan di telinga Aksa.
Tanpa bisa Aksa hindari sebuah tangan mampir ke leher Aksa dan mencekik lelaki itu dengan erat.
"Lice..." Aksa menahan tangan Alice dengan kedua tangannya yang bergerak bebas, namun cengraman Alice ternyata tidak main-main ia semakin menekan seolah-olah Aksa harus mati sekarang juga.
"Pembohong memang harus mati," ucapnya semakin dalam, Aksa masih berusaha mendorong tangan Alice yang sialnya sangat kuat.
Dengan kekuatan penuh Aksa berhasil mendorong bahu Alice sampai akhirnya cengkraman itu terlepas memberikan Aksa sebuah kesempatan untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Masih dalam keadaan tersegal Aksa menatap gadis itu.
"Gue bukan pembohong, gue ngikutin lo kerena penasaran." Lehernya terasa begitu sakit.
"LO NGERTI ARTI PENASARAN NGGAK SIH?" Sungguh, Aksa merasa kesal luar biasa hingga dia lupa telah membentak Alice, bisa saja Alice marah karena ia sudah lancang dan akan menyiksa Aksa sekarang juga.
Siksaan yang Aksa kira akan segera ia terima itu tak kunjung datang, sampai akhirnya ia mendongak lagi untuk menatap sepasang mata biru itu.
"Kenapa kamu penasaran?"
__ADS_1
Tentu saja.
"Ya karena lo menarik," jawab Aksa. "Makanya gue penasaran."
Alice berkedip dua kali, kali ini ekspresinya berbeda dari biasanya. Entah Memang benar atau menurut pandangan Aksa saja gadis itu seperti terkejut akan sesuatu.
"Kamu nggak takut?" tanyanya lagi.
Aksa menggeleng, " Nggak, kecuali lo hampir bunuh gue."
Lagi, dan lagi Alice kembali diam. Entahlah, gadis ini sangat banyak berpikir kemudian ia berjalan menjauhi Aksa dan membukakan pintu.
"Kalau aku sampai tahu kamu bohong, aku nggak akan diam saja."
"Sana pergi!" Seru Alice menggerakkan dagunya ke luar pintu.
Aksa berdiri mendekati Alice, kemudian tangannya menggantung mengajak gadis itu untuk bersalaman.
"Nama gue Aksano Setiandi dari kelas 12 IPS 3."
Tak ada balasan tangan membuat Aksa dengan tingkat kepedean tinggi menarik tangannya. Tidak apa-apa Aksa.
"Sebelum gue pergi, kembaliin tas sama ponsel gue!"
"Ada di tempat sampah, ambil aja sendiri." Alice menunjuk ke arah tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya.
Sedangkan Aksa menganga tak percaya. "Lo buang tas gue?"
"Aku pikir kamu orang jahat, orang jahat tanpa barang-barang mereka tak akan banyak berkutik."
Sabar, Aksa sabar. Aksa menenangkan hati dan pikiran dulu sebelum menatap Alice.
"Dan, kenyataannya gue bukan orang jahat jadii, ambilin tas gue atau kalau lo nggak mau ngambilin seenggaknya permintaan maaf tak akan salah."
"Nggak mau,'' jawab Alice memangku tangannya di dada.
"Nggak mau?" Beonya
"Aku bukan babumu yang seenaknya kamu suruh-suruh."
Oh, astaga.
Alice berbalik, meninggalkan Aksa yang sudah merasa kepanasan setengah mati. Tapi baru beberapa langkah gadis itu kembali menoleh.
__ADS_1
"Kamu tidak takut denganku? Mungkin belum. Karena kamu belum tahu apa yang akan terjadi setelah menatapku."
_BERSAMBUNG