
"Kamu tidak takut denganku? Mungkin belum. Karena kamu belum tahu apa yang akan terjadi setelah menatapku."
"Memangnya apa yang akan terjadi? Gue bakal nginjak *** ayam gitu? Pantas aja anak-anak sering ngomongin dia, anaknya aneh sih," ucap Aksa pada dirinya sendiri ketika sudah membersihkan tas dan menemukan ponselnya dari tempat sampah.
Aksa menatap ke tempat Alice pergi, benaknya seperti mengatakan sesuatu yang tak wajar dan merasakan ada sesuatu yang membuat Aksa harus kesana, jadi ia memutuskan untuk mengikuti Alice sambil mencangklong tasnya di bahu kiri.
Sekarang ia berada di belakang rumah besar Alice. Hanya ada rumput bergoyang yang tertiup angin.
Ia menggaruk tengkuknya sembari berbalik pergi tapi memutar badan kembali. Masuk, tidak, masuk, tidak. Dengan mulut terus bergumam Aksa bolak-balik memutar tubuhnya.
Ini semua gara-gara jendela kamar Alice yang terbuka, membuat jiwa-jiwa kepo Aksa bangkit lagi.
Sial
Tahu-tahu Aksa sudah berada di depan jendela berbentuk panjang itu, sambil mengumpat kesal ia mengangkat kakinya dan masuk ke dalam sana.
Kesan pertama saat melihat tempat ini adalah, ceria.
Oh . . .apa maksudnya? Gadis suram itu menyukai warna terang.
Tembok berwarna biru langit, seprei dan bantal dengan warna yang serupa dan catatan-catatan kecil yang terpasang di dinding dekat nakas.
Dari sini Aksa bisa menyimpulkan bahwa Alice itu tak seperti yang terlihat. Gadis dengan aura suram, gelap dan semacamnya ternyata penyuka warna terang, jadi mulai sekarang jangan langsung menyimpulkan sifat seseorang hanya dari pandangan pertama.
Aksa melangkah pelan mendekati catatan yang tertempel di dinding, mencopot salah satunya untuk ia baca.
✔️ Tak ada kabut di belakang lelaki ber-jas navy
✔️ Menyelamatkan seseorang yang akan bunuh diri
✔️ Bu Dayu tak jadi pergi liburan. Dia mendengarkan ucapanku.
Saat membaca notes ini Aksa harus pandai memutar otak, ia kembali mengambil catatan yang berada di bawah catatan yang baru ia ambil tadi.
❌ Melihat kecelakaan mobil di depan mata kepala sendiri
❌ Kabut itu muncul. Di belakang gadis SMA yang murung.
? Apa mimpiku malam ini
Aksa mengembalikannya lagi ketika otaknya masih belum bisa paham. Yang jelas tanda ❌ berarti buruk sedangkan tanda ✔️ mungkin baik. Itu hanya tebakan Aksa.
Ia kembali melihat jajaran catatan itu yang terpasang tinggi hampir memenuhi dinding sekitar nakas, kedua mata Aksa berhenti tepat ke arah satu note dengan kertas warna jingga yang terpasang pada dinding paling bawah dan hampir bersentuhan dengan nakas.
Aku ingin tahu gimana rasanya makan bareng seseorang. Aku belum pernah merasakannya.
Aksa diam sejenak lalu mengambil catatan berikutnya.
Besok atau lusa aku pasti bisa merasakannya.
....?
Hari ini, belum dulu ya.
"Jangan biarkan siapapun masuk, aku akan tidur."
__ADS_1
Aksa hampir terlonjak mendengar suara dari balik pintu. Sepertinya itu suara Alice dengan asisten rumah tangganya.
Aksa melemparkan catatan yang masih dipegangnya kesegala arah lalu dengan gerakan super cepat ia berlutut masuk ke dalam kolong tempat tidur.
Klek . . .
Alice membuka handle pintu dan menutupnya kembali, hal pertama yang langsung Alice lakukan adalah membanting tubuh yang sekarang sudah berpakaian santai ke ranjang hingga membuat tubuhnya sedikit memantul.
Bodoh
Sementara itu Aksa sedang memaki-maki dirinya sendiri. Seharusnya tadi ia langsung loncat lewat jendela bukannya malah masuk ke dalam kolong tempat tidur. Masuk ke bawah kolong adalah gerakan refleks tersialnya.
Meringis pelan, Aksa memukul-mukulkan kepalanya ke lantai.
Beralih ke atas sedangkan Alice menutup tubuhnya dengan selimut walaupun hari terbilang masih siang ternyata tak membuatnya merasa gerah.
"Kabut itu muncul di belakang gadis kecil tadi, kira-kira apa yang akan terjadi dengannya?" gumam Alice dengan mata tertutup. "Yeah, kalau aku ingin tahu yang jelas aku harus tidur," ucapan Alice itu terdengar semakin pelan, pelan dan hilang.
Saat Alice hampir meraih alam tak sadarnya tiba-tiba ia langsung teringat dengan lelaki tadi yang tak lain adalah Aksa. Sehari ini mereka sudah melakukan kontak mata berkali-kali ia juga ingat bagaimana tatapan Aksa yang sangat berbeda dengan orang lan, tak ada ketakutan dan kecemasan yang biasa orang lain tunjukkan ketika menatapnya_ Hei, lelaki itu belum tahu saja siapa Alice kalau ia tahu Aksa tak akan berani menatapnya seperti tadi.
Dan tentu saja, Alice pasti akan memimpikan lelaki itu dan melihat gambaran kejadian yang akan menimpa Aksa di waktu dekat ini.
.
.
Mungkin sekitar sepuluh menitan Aksa setia di kolong tempat tidur itu sampai menunggu Alice tidur.
Dan sepertinya sekarang lah waktu yang tepat untuk keluar, Ia yakin Alice sudah tidur dengan pulas karena napas gadis itu terdengar teratur.
Brakk...
Tiba-tiba terdengar suara bantingan pintu yang keras, membuat Aksa yang baru ingin bangun diam sejenak. Kacau.
Aksa melihat dari kolong ada dua kaki bersepatu hitam menghampiri ranjang, pada akhirnya Aksa kembali masuk ke dalam kolong karena posisinya tadi benar-benar tak aman bisa jadi si pemilik kaki ini sempat melihatnya.
"Ayah?" Suara Alice terdengar. Gadis itu terbangun ketika mendengar suara keras.
Pria yang dipanggil Ayah tersebut berdiri tegak di depan Alice dengan sorot dingin.
"Saya hanya sebentar di sini, besok saya sudah kembali ke Rusia," ucap pripadi itu menatap Alice yang bahkan tak mau menatapnya.
"Tapi kamu jangan senang dulu. Walaupun saya tidak lama malam ini saya akan mengawasi kamu dengan ketat."
Alice membawa tubuhnya yang tadi tiduran untuk duduk, menatap jendela kamar tanpa menghiraukan seseorang di sebelah kanannya.
"Kenapa kamu diam saja?" Suara itu makin kencang.
"Saya membesarkan kamu bukan untuk jadi anak durhaka."
Apa? Anak durhaka?
Bagaimana definisi durhaka? Apa yang sedang dilakukan Alice ini adalah kedurhakaan?
Di saat orang di luaran sana mempunyai orang tua yang lengkap, Alice tidak. Untuk yang ini di luaran sana juga banyak yang memiliki nasib sama seperti Alice.
__ADS_1
Di saat orang lain di luar sana bisa merasakan masakan mamanya dan mendapat perhatian dari sang Ayah, Alice tidak.
Karena apa? Karena Alice terlahir berbeda. Dean, ayah Alice selalu menyebutnya Monster. Ia bilang karena Alice kesialan di masa lalu kembali berlanjut, karena Alice yang terlahir sedikit berbeda membuat orang-orang mengecamnya dan Dean selalu disangkut pautkan.
Alice, anak dari pemilik perusahaan sukses terlahir sangat aneh.
Kalau boleh memilih, Alice juga tidak mau dilahirkan seperti ini, ia juga ingin kehidupan normal seperti orang lain tanpa takut melihat mimpi buruk dan tanpa harus mendengar kata aneh lagi dan lagi. Kenyataannya ia tak bisa memilih, ini bukan salahnya karena terlahir berbeda.
Dean mendekat dan mencengkeram kasar dagu Alice agar menoleh ke arahnya, dengan gerakan risih Alice berusaha menepis tangan ayahnya, tapi tidak bisa.
"Lihat Ayah!"
Alice menghembuskan napas kasar mau tak mau Alice menatap mata biru itu, mata yang sangat persis dengan yang ia miliki. Alice benci mengakuinya.
"Aku benci Ayah."
Dean terkekeh, "Setidaknya kamu masih mau menyebutku sebagai Ayah."
Alice mendesis, bagaimana bisa hidupnya selucu ini.
"Kamu sangat mirip dengan ibu kamu, sangat."
Alice mempunyai mata Dean, tapi Alice mempunyai segi wajah dan sifat yang sangat mirip dengan mendiang ibunya.
Oh, tentu saja hanya Dean yang bilang begitu. Karena menurut Alice wajahnya sangat berbeda dengan wajah di foto ibunya tapi Dean selalu menyamakannya dengan Ibu yang jelas-jelas berbeda, sangat berbeda.
"Pria terakhir sialan," ucap Dean membuat dahi Alice mengernyit bingung. Dean melepaskan tangannya dari dagu Alice, Alice menatap Dean yang terlihat menahan emosi.
"Sudah sampai pria ke berapa?" Dean kembali bertanya, sangat terlihat pria itu sedang menahan amarah
"Aku tidak tahu," jawab Alice seadanya, ia memang tidak tau maksud pertanyaan Dean.
"Tujuh pria yang kamu lihat dalam mimpi, tujuh pria yang akan mati. Sudah sampai pria ke berapa yang kamu lihat?"
Apa? Apaan-apaan ini. Jadi ayahnya tahu tentang mimpi ini? Demi apapun Alice tak pernah menceritakan soal tujuh pria bersetelan putih kepada siapapun.
"Ya, Ayah tahu. Jadi jawab sekarang juga sudah sampai pria ke berapa?"
Alice masih diam, menatap Dean dengan pandangan tak percaya.
"Apa maksud dari semua ini, Ayah?"
"Jawab sudah sampai pria yang ke berapa!" Dean berteriak keras.
"Dua. Dua pria yang mati," jawaban itu meluncur begitu saja dari mulut Alice, ia rasa Ayahnya memang perlu tahu hal ini.
"Bagus. Jika kamu sudah melihat wajah pria ke enam dan ke tujuh segera beritahu Ayah," Dean menatap sebentar Alice lalu berbalik pergi.
"Kenapa?" Tanya Alice membuat langkah Dean terhenti.
"Kenapa aku harus memberitahumu?" ulang Alice lagi. Dean membelakangi Alice dan berdiri di depan pintu kamar.
"Karena itulah satu-satunya cara untuk membuatmu normal. Kesialan ini akan terhenti jika tujuh pria itu mati."
_BERSAMBUNG
__ADS_1