
Seperti hari-hari sebelumnya, Aksa selalu berangkat ke sekolah bersama Novan, si lelaki dengan rambut agak gondrong yang sudah menjadi teman Aksa selama lima tahun ini. Tapi mereka mulai berangkat bersama ketika sudah kelas dua belas.
Sementara Aksa turun dari motor Vespa biru yang dikendarai Novan si Novan sibuk memarkirkan, memutar ke kanan atau ke kiri dan menyingkirkan kendaraan lainnya, supaya nanti dia bisa pulang dengan mudah tanpa harus memutar sepeda motornya dulu dan tanpa harus menyingkirkan para sepeda motor yang menghalangi jalannya pulang.
"Masih lama, Van?" Aksa menatap Novan yang masih sibuk.
"Bentar lagi."
Aksa merasa bosan, dia sebagai teman yang baik harus menunggu urusan temannya itu sampai selesai.
"Sebagai teman yang baik, bantuin gue lah."
Seperti mendengar suara hati Aksa Novan berucap. Aksa menunjuk salah satu kendaraan.
"Itu lo yang warna pinky singkirin dulu, setelah itu udah selesai. Gampang kan?"
"Selesai matanya, sepeda pink itu nggak ngganggu orang letaknya aja jauh banget."
"Siapa bilang nggak ngganggu? Lihat noh lihat! Mata gue sakit kalau lihat warna secerah itu di pagi hari," ucap Aksa yang langsung mendapat gelak tawa dari Novan. Novan menggelengkan kepalanya menatap Aksa di sela-sela tawanya.
"Kalau sampai yang punya denger baru tau rasa lo, nggak ditraktir lagi."
"Nggak mungkin denger, si Zen paling jam segini udah nggibah bareng sama ciwi-ciwi di kelas."
Si Zen, si manusia kekar terunik. Uniknya ada pada tulang-belulangnya yang gemulai dan_ dan sedikit kecewe-cewean gitu.
"Lo lupa ya kalau Zen punya kuping kelelawar? Dia bakal denger kalau kita berdua lagi ngomongin dia, lagi menghina motor pinky kesayangan dalam jarak seratus meter."
Mana ada, mana ada manusia dengan keistimewaan seperti itu.
"Nggak bakal ada, omongan Novan nggak ada yang bener jadi nggak usah lo dengerin ya Aksa," ucap Aksa mengatakannya kepada dirinya sendiri.
"Ada, nggak ada yang nggak mungkin kalau pemilik semesta ini udah berkehendak."
Setelah melepas helmnya dan sepeda motor sudah terparkir dengan benar seperti yang ia harapkan, Novan baru berjalan menghampiri Aksa.
"Bawain kunci motor gue, gue suka lupa naruh." Novan melemparkan kontak motornya yang langsung Aksa tangkap dengan sigap. Aksa memang memiliki kemampuan bisa menangkap sesuatu yang dilempar dengan sangat pas.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya berjalan menuju kelasnya, dua belas IPS tiga yang berada di lantai atas. Mereka harus naik tangga dulu untuk sampai ke kelas karena tak ada lift yang selalu mereka harapkan. Tapi, kalau dipikir-pikir tak ada lift tak ada masalah karena mereka sudah kelas dua belas dan sebentar lagi lulus, yang mana artinya mereka tidak akan menikmati keenakan lift.
Awas saja kalau sekolah ini menjadi bagus setelah mereka sudah menjadi alumni.
"Ada apaan tuh rame-rame?" Novan berhenti di tengah tangga, tatapannya jauh ke arah kerumunan yang menuju toilet belakang sekolah.
Aksa yang sudah berada satu langkah di atas tangga lantas mundur lagi untuk melihat apa yang sedang Novan lihat.
Mereka semua berkumpul di bawah sana. Kernyitan di dahi Aksa semakin menjadi ketika kebanyakan murid perempuan menutupi mulut mereka masing-masing.
"Tunggu apa lagi, ayo kita lihat!" cetus Aksa tanpa ba-bi-bu lagi. Tapi tangan Novan menahan bahunya.
"Nggak perlu, lebih baik ke kelas aja."
"Gue kepo di sana ban-"
"Nggak usah kepo, bukannya itu cuma buang-buang waktu aja ya? Kita punya urusan sendiri-sendiri yang masih harus diurus."
"Bodoamat, gue kepo." Aksa melepas tangan Novan yang menahan pundaknya, berlari dengan kekuatan kilat menuju kerumunan itu berada.
Aksa memang seperti itu, terlalu penasaran dengan apapun sekalipun urusan bumbu dapur ibunya. Kalau biasanya di dapur selalu sedia micin dan kebutulan hari ini Aksa tak melihat satu pun bungkus micin maka dia akan langsung bertanya kepada Ibunya.
Sebuah hal yang sangat sepele saja Aksa kepo apalagi kerumunan orang-orang di bawah sana. Tentu saja rasa kepo Aksa menjadi berkali kali lipat.
Mau tak mau akhirnya Novan mengikuti Aksa yang sudah lebih dulu membelah kerumunan.
"Ada apaan?" tanya Aksa kepada salah satu gadis yang dikenalnya, gadis itu sedang menutup mulutnya.
"Aku takut banget, Aksa. Aku nggak kuat nonton kayak begituan," jawabnya masih dengan membekap mulutnya dengan kedua tangan, Alis Aksa terangkat menatap gadis itu.
"Kayak begituan?"
"Ada orang mati, di toilet. Aku takut banget."
"Siapa yang mati?" Novan yang baru datang langsung menimpali membuat Aksa menoleh sebentar kepada Novan lalu menatap gadis itu lagi, model tatapan yang menunggu jawaban.
"Anak kelas sepuluh, cewek. Aku nggak ngerti siapa namanya."
__ADS_1
"Siapa, Do?" Aksa lalu beralih kepada seorang anak cowok yang baru keluar dari kerumunan depan.
"Nani, perutnya ketusuk_ ah, gue nggak tahu itu murni bunuh diri atau dibunuh." jawabnya, Aksa masih menunggu jawaban yang lebih jelas lagi dan Edo tahu itu jadi dia melanjutkan ucapannya.
"Kata anak-anak sih ada saksi mata yang lihat Alice baru keluar dari toilet, saksi matanya lebih dari satu orang dan ketika salah satu dari mereka pergi ke toilet dia langsung ngelihat tubuh seseorang terkapar di lantai." Lanjut Edo sambil mengusap lengannya ngeri.
"Wah, gila," cetus Novan.
"Serius lo."
"Dua rius."
"Alice_ Alice yang?"
"Alice. Itu lo Alice si muka pucat itu yang matanya biru," jelas Edo kepada Novan yang kesusahan mengingat nama Alice, masalahnya nama Alice di sekolahan ini nggak cuma satu.
Membiarkan Novan dan Edo di belakang Aksa justru menerobos kerumunan di depannya, menyingkirkan beberapa tubuh yang menghalangi jalannya.
"WOE, AKSA! JANGAN KESANA!"
Aksa tetap menerobos hingga sampailah dia di barisan paling depan sendiri, jarak toilet dan tempatnya sekarang sangat dekat beberapa langkah lagi dia akan sampai di depan toilet yang hanya ada lima murid, sepertinya mereka OSIS.
Belum ada garis polisi di sekitar, itu artinya kejadiannya masih sangat baru, jangankan polisi para guru saja masih belum kelihatan batang hidungnya.
Rasa penasaran Aksa semakin memuncak seiring langkah kakinya semakin mendekati tempat kejadian, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya karena pikiran parno lantas berseliweran di atas kepalanya.
Selama ia sekolah baru kali ini ada kejadian seperti ini.
"Pak Bondan mana? Bara juga mana lama banget manggil guru-guru. Tia, lo susul Bara sana!" Saka, sang ketua OSIS nampak kalang kabut yang lainnya juga ikut kewalahan, karena bantuan belum juga datang.
"Oke, gue susul Bara dulu," ucap Tia dan segera berlari untuk menyusul Bara, ia sempat melihat Aksa dan terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu tapi diurungkan dan melanjutkan larinya.
"Kita angkat dulu aja kali, ya? Dia belum mati takutnya kita telat nolong."
"Mau kita gotong kemana, ambulan aja belum nongol. Gila gue lama-lama, mana sih pada lemot banget."
"Kita juga khawatir, tenang Sak lo nggak boleh ngomong gitu."
__ADS_1
Mengabaikan suara-suara yang penuh kefrustasian itu Aksa satu langkah ke depan melihat seorang perempuan terbujur kaku dengan tangan dan perut penuh darah.
Aksa langsung terdiam, merasa tak percaya jika wajah itu adalah wajah milik gadis yang baru ia lihat kemarin sore, gadis yang mengantar paket ke rumahnya.