Laras Yang Terbuang

Laras Yang Terbuang
#10


__ADS_3

Laras menatap sendu pada Ani yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Ia sudah menduga, ini akan terjadi. Ia menghembuskan nafas kasar dan lebih memilih untuk pergi kekantin sendirian.


Dia sudah terbiasa dengan kesendirian, karena di dunia ini memang tidak ada yang menginginkan nya. Semua orang di kantor, tidak ada yang dekat dengannya, hanya Ani yang mau berteman dengan nya.


Tetapi, sekarang Ani malah menjahuinya dan tak ingin berteman dengannya. Jadi, sekarang dirinya benar-benar sendirian.


Laras melangkahkan kakinya dengan gontai, ia ingin segera mengisi perutnya yang sudah minta diisi.


Mengingat semalam dia melewatkan makan malam dan tadi pagi ia tidak sempat untuk sarapan. Meski tidak bernafsu, dirinya harus tetap mengisi perutnya.


Karena banyak hal yang harus ia lalui hari ini, esok hari. Jadi, dia harus mengisi perutnya agar tenaganya terkumpul kembali.


Dert


Dert


Laras menghentikan langkahnya, saat merasakan ponsel miliknya bergetar. Ia segera mengambil ponselnya dari saku celana yang ia kenakan dan melihat siapa yang sudah menghubunginya.


"Ya, Don?" sapa Laras saat mengangkat panggilan telpon nya.


"Laras, kau dimana? aku sudah menunggumu sedari tadi di depan kantormu! jangan bilang kau tak membaca pesanku!" cecar Doni dari sebrang telfon.


"Memang nya kau mengirimi pesan apa?" tanya Laras yang memang tidak tahu kalau ada pesan dari Doni.


Doni menghembuskan nafas pelan, selalu saja seperti ini. Laras memang jarang memegang ponselnya, jadi wajar jika tidak membaca pesan nya.


"Cepatlah turun, ayo kita makan siang bersama! bukankah kau berhutang penjelasan padaku?"


"Penjelasan apa?" Laras masih bingung kemana arah pembicaraan Doni.


"Turunlah, nanti kita bicarakan!"


"Tapi...."


Tut


Tut


Tut


Sambungan telpon di putus secara sepihak, sebelum Laras menyelesaikan ucapan nya.


"Huft, selalu saja!" gerutu Laras dan segera melangkahkan kakinya untuk bertemu dengan Doni.

__ADS_1


"Doni," panggil Laras yang melihat Doni berdiri diatas motor miliknya.


"Don, maaf tapi aku tidak bisa...."


"Ayolah, setidaknya masih ada waktu seperempat jam lagi!" Doni memotong pembicaraan Laras dan segera memaksa Laras naik ke atas motor miliknya.


Laras hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Doni. Doni mengendarai sepeda motornya dengan cepat.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di sebuah tempat makan terdekat. Mengingat waktu mereka sangat mepet, jadi lebih baik mencari makan di tempat yang paling dekat saja.


"Don, makanan ini milik siapa?" tanya Laras yang merasa heran melihat makanan yang sudah siap tersaji diatas meja.


"Tentu saja milik kita!" jawab Doni dengan gemas. Bagaimana tidak gemas, lihatlah wajah Laras yang bingung.


"Tapi,"


"Sudahlah, jangan terlalu banyak tanya, cepat makan dan segera habiskan!" potong Doni dengan cepat.


"Cepatlah Ras, ingat sebentar lagi waktu istirahatmu akan segera habis!"


Laras segera memakan makanan yang sudah siap, dia sadar kalau dia tidak bisa berlama-lama mengingat sebentar lagi waktu istirahatnya akan segera habis.


Sementara Doni tersenyum melihat Laras yang tengah makan dengan layaknya. Ya, tadi setelah menelpon Laras, ia segera meminta pada pemilik restauran untuk menyiapkan makan siangnya untuk dirinya dan Laras. Jadi, saat mereka sampai, makan siang mereka sudah jadi dan siap untuk disantap.


"Pelan-pelan makan nya Ras," tegur Doni dan mengelap tisu pada bibir Laras yang terkena noda makanan.


Laras segera menjauhkan wajahnya dari Doni. Dia menjauhkan tangan Doni yang menangkup wajahnya.


"Aku baik-baik saja Don," jawab Laras dengan menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap wajah Doni.


"Jangan berbohong Ras, aku mengenalmu bukan hanya hari ini!" Doni mengangkat wajah Laras yang menunduk hingga kini mereka saling menatap.


"Don, lebih baik kita segera kembali ke kantor! lihatlah, aku sudah terlambat!" Laras mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Makananmu belum habis Ras,"


"Tapi Don, aku tidak ingin dipecat karena terlambat lagi!"


"Jika di pecat, maka aku akan merekomendasikan mu untuk bekerja di supermarket!" jawab Doni santai.


"Doni please...." Laras memohon agar Doni mau menuruti ucapanya.


Bukan hanya sekali, Doni menawarkan untuk bekerja di supermarket tempatnya bekerja, tetapi Laras menolaknya.


Dengan alasan, dirinya sudah nyaman di tempat ia bekerja. Doni yang tak tega melihat Laras yang memelaa, akhirnya mau menuruti permintaan Laras.

__ADS_1


"Tapi, setelah pulangg kau harus meu menjelaskan semuanya! termasuk dengan luka yang ada di wajah dan lenganmu itu!" Doni menunjuk wajah dan tangan Laras yang terlihat membiru.


"Laras?" tanya Doni, karena Laras hanya diam saja dan berusaha menutupi luka ditangan nya.


Laras mengangguk lemah dan menyetujui syarat dari Doni. Dari dulu sampai sekarang, Laras memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari Doni.


Karena pria itu sangat perhatian terhadapnya. Bahkan, hanya pada pria itu Laras bisa bercerita mengenai keluh kesahnya tentang kehidupan yang dialaminya.


Ah, Laras melupakan Doni yang begitu peduli terhadapnya. Padahal, selama ini hanya Doni yang selalu menghiburnya saat dirinya sedang sedih dengan perilaku ayahnya.


Laras segera masuk ke dalam kantor, dia sedikit berlari karena takut terlambat. Laras, melihat jam yang melingkat di tangan nya sembari berlari kecil.


Saat proses itu, Laras tak menyadari kalau ada seseorang yang tengah berdiri berjalan di depan nya.


Karena fokus pada jam tanganya, Laras tak sengaja menabrak orang tersebut, membuatnya terjatuh.


"Aduh," pekiknya sembari mengelus pant*atnya yang terasa sakit.


Kejadian ini seperti dejavu baginya, tetapi ia berharap kali ini dia tidak menabrak orang yang sama saat dirinya mengingat kejadian sama persis seperti ini.


"Apa kau tidak punya mata!" sentaknya.


Laras mendongak dan menatap pemilik suara itu. Laras bisa melihat amarah di kedua manik pria itu.


"Nona, Anda baik-baik saja?" Dikta membantu Laras untuk berdiri. Laras mengangguk sebagai jawaban.


"Dikta, jangan bersikap baik padanya! jangan sampai dia menyalahkan kebaikanmu dan menjebakmu seperti apa yang sudah ia lakukan padaku!" sindir Dirga.


Dikta segera menjauh dari Laras, ia tak ingin masalah semakin panjang. Apalagi, mengingat tuan nya itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik.


Ia tak ingin, Laras terkena imbasnya. Apalagi, mengingat bagaimana Dirga jika sudah marah.


Laras hanya menunduk menahan air matanya, serendah itukan dia dimata lelaki yang menyandang sebagai suaminya itu?


Padahal Laras lah yang menjadi korban, tetapi kenapa Dirga malah menyalahkan dirinya dan menghinanya habis-habisan?


"Tuan, lebih baik kita segera pergi! klien kita sudah menunggu!" Dikta mencoba mengalihkan perhatian Dirga.


Dirga hanya mengangguk dan pergi begitu saja dari hadapan Laras. Bahkan, dengan sengaja ia menyenggol keras bahu Laras, membuat wanita itu terhuyung kebelakang.


"Nona, kami pergi dulu!" pamit Dikta.


Walau bagaimana pun, Laras tetaplah istri dari tuan nya. Jadi, dia harus bersikap sopan pada Laras.


Dikta merasa kasihan terhadap Laras. Dikta tahu kejadian yang sebenarnya. Bahkan, Dikta sangat menyayangkan sikap Dirga yang melimpah kan semua kesalahan kepada Laras.

__ADS_1


Padahal, wanita itu hanya korban. Tetapi Dirga tetap menyalahkan nya dan menganggap Laras sebagai penyebab berakhirnya hubungan Dirga dan Kirana.


__ADS_2