
Laras termenung, kini ia berada di kamar milik Dirga. Setelah mendengar ucapan Deni, hati Laras sedikit bisa tenang.
Setidaknya, salah satu di keluarga ini mau menerimanya dengan tangan terbuka. Dan kini dia harus benar-benar menyiapkan mentalnya untuk menghadapi tiga orang yang membencinya di rumah ini.
Ya, dua orang, Mawar mama mertuanya dan Dirga suaminya sendiri. Laras menghembuskan nafas kasarnya! suami? apa dirinya pantas menjadi istri dari seorang Dirga?
Apalagi mengingat, Dirga sangat membencinya. Ya, dia yakin Dirga sangat membencinya karena menganggap dirinyalah penyebab Dirga kehilangan orang yang sangat dicintainya.
Laras tersenyum miris mengingat Dirga suaminya mencintai wanita lain bukan dirinya yang menyandang status sebagai istri.
"Ingat Laras, Dirga menikahimu karena terpaksa! jadi, kau harus sadar diri!" Laras berusaha untuk tidak terlalu berharap dengan pernikahan ini.
Ia ingin sekali segera mengistirahatkan tubuh lelahnya. Tetapi, ia tak berani sebelum Dirga masuk dan mengijinkan nya untuk berbaring di ranjang besar milik suaminya itu.
Ceklek....
Laras langsung menoleh ke pintu yang perlahan terbuka. Di sana, terlihat Dirga dengan wajah datarnya memasuki kamarnya.
Dirga segera menuju lemari mengambil pakaian yang akan di kenakan nya, setelah itu ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dirga mengabaikan Laras yang sejak tadi memperhatikan nya. Dia seolah tak menganggap Laras ada di sana.
Laras menghembuskan nafas kasar, Dirga saja tak ingin melihat atau menyapanya. Bagaimana dirinya harus memulai pembicaraan.
Padahal, sekarang dia hanya butuh untuk membersihkan dirinya dan mengistirahatkan tubuhnya.
Ya, setelah ayahnya memukulinya, Laras belum sempat membersihkan dirinya sehingga masih ada noda darah di baju dan sudut bibirnya yang sudah mengering.
Setelah beberapa saat, Dirga keluar dari kamar mandi. Ia sudah terlihat lebih segar, wangi sampo dan sabun menguar dari tubuh Dirga.
Dirga berjalan menuju meja rias sembari mengeringkan rambut basahnya dengan handuk di tangannya.
Ia melirik Laras yang tengah menatapnya. Laras ingin berbicara sesuatu tetapi tertahan karena ia takut, Dirga akan tersinggung.
"Pergilah, bersihkan dirimu! setelah itu, kita bicara!" perintah Dirga dengan nada dingin.
Laras mengangguk dan membuka koper miliknya mengambil baju miliknya. Ya, ayahnya sudah mengemasi barang-barangnya saat mengajaknya pergi kerumah Dirga.
Sepertinya ayahnya itu memang sudah berniat untuk mengusirnya. Sehingga, semua baju dan barang miliknya di masukkan kedalam koper.
__ADS_1
Dirga mengembuskan nafas kasar, saat Laras sudah masuk ke kamar mandi. Dirga meraih ponsel miliknya yang berada diatas nakas.
Ia berjalan keluar, menuju balkon dan mencoba menghubungi Kiara. Panggilan pertama tidak diangkat, hingga panggilan ke lima barulah panggilan itu tersambung.
"Mau apa lagi?" ketus Kirana.
"Kiana, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya!" Dirga memohon.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan Dirga! sekarang, aku yakin kau sudah menikah dengan nya!"
"Aku,"
"Sudahlah, semuanya sudah berakhir! jadi, mari kita hidup masing-masing! semoga kau bahagia hidup bersama nya!" setelah mengucapkan hal itu Kiara langsung menutup telpon nya.
Dirga menatap nanar ponsel miliknya yang sudah menghitam. Rasanya sungguh tak rela ia harus berpisah dengan Kiara.
Bukan waktu yang sebentar, dirinya menghabiskan waktu bersama wanita itu. Jadi, tak semudah itu dia bisa melupakan Kirana.
Apalagi, mereka berpisah hanya karena gadis yang tak dikenalnya, yang sialnya sudah menghabiskan malam bersamanya.
Seandainya malam itu, Laras tidak muncul dihadapannya, semua ini pasti tidak akan terjadi. Dirinya pasti masih bersama dengan Kiara dan mempersiapkan pesta pernikahan mereka.
"Semua ini gara-gara wanita sia lan itu!" gumam Dirga sembari menggenggam erat ponsel miliknya.
Laras terlihat lebih segar, Dirga menatap penampilan Laras yang hanya memakai hotpen dan kaos kebesaran miliknya.
Entah kenapa, Laras terlihat cantik dan menggoda di mata Dirga. Apalagi, rambut panjang Laras yang masih basah terurai dan wajah cantik alami nya, membuat Dirga terpana.
Tatapan mata Dirga turun ke bawah, di sana paha putih nan mulus milik Laras terekspos jelas didepan matanya.
Membuat Dirga susah payah menelan ludahnya. "Tuan, ada apa?" tanya Laras yang bingung dengan tatapan Dirga yang menurutnya aneh.
Mendengar pertanyaan dari Laras, membuatnya tersadar dari keterpukauannya. Setelah berhasil menguasai dirinya, Dirga berjalan mendekati Laras dan tersenyum miring.
"Ternyata benar, kau hanyalah wanita mu-ra-han yang hanya ingin menggoda lelaki kaya sepertiku! bagaimana? apa sekarang kau senang, karena sudah berhasil menjadi istriku dan memisahkan ku dengan wanita yang aku cintai?"
Laras menggeleng kuat, ia tak menyangka jika Dirga hanya memandang sebagai wanita mu-ra-han.
"Maaf Tuan, aku tidak bermaksud untuk memisahkan mu dengan nona Kirana, tetapi ayahku terus memaksa agar aku mau kesini meminta pertanggung jawaban Anda!" Laras berusaha menjelaskan, namun Dirga hanya tertawa sumbang.
__ADS_1
"Cih, jangan kira aku tidak tahu! bukankah selama ini kau diam-diam menyukaiku? dan bahkan, kau sudah berhasil menjerat ku dengan rencana menjijikan mu itu!"
Ya, Dirga sudah menyelidiki siapa Laras? tadi pagi, setelah Laras pergi meninggalkan dan menolak penawaran nya, ia mencari tahu tentang Laras.
Selain Laras adalah salah satu karyawan di perusahaan nya dan Laras juga adalah salah satu wanita yang menaruh hati kepadanya.
"Kau terlihat polos, tetapi aku tak menyangka, dibalik wajah polos mu itu, kau rela memberikan tubuhmu pada seorang lelaki dengan cuma-cuma dan sialnya, aku terjebak dalam permainan licik mu itu!"
Plak...
Satu tamparan Laras daratkan pada pipi Dirga. Cukup sudah lelaki itu menghinanya. Bukankah, disini dirinya korban? tapi kenapa Dirga malah menuduh dan mengatainya wanita mu-ra-han.
"Berani kau menamparku?" Dirga mencengkram leher Laras dengan sangat kuat.
Membuat Laras kesulitan bernafas, Laras berusaha melepas cengkraman tangan Dirga, namun cengkraman itu begitu kuat, sehingga Laras tak bisa berbuat apapun.
"Baiklah, sepertinya kau menyukai cara yang kasar! sebagai seorang suami, maka aku akan menuruti keinginanmu itu istriku!"
Laras menggeleng kuat, ia begitu takut saat melihat tatapan tajam yang mengerikan dari sorot mata Dirga.
Dirga yang sudah tersulut emosi, langsung ******* kasar bibir Laras. Kali ini dia akan memberi pelajaran yang sangat berharga bagi istrinya ini.
Sehingga sampai kapanpun, Laras tidak akan pernah bisa melupakan malam ini. Malam yang begitu mengerikan bagi Laras.
Ukhuk... ukhuk...
Laras terbatuk saat Dirga melepas ciuman nya dan cengkraman tangan nya. Laras kira, ini sudah berakhir, tetapi ia salah.
Dirga menarik Laras dengan sangat kasar dan melemparkan Laras diatas ranjang dengan kuat membuat Laras terpekik kesakitan.
Dirga menarik kaki Laras kuat dan merobek kaos kebesaran milik Laras, hingga menampilkan kedua da-da milik Laras yang tanpa pengaman.
"Heh, ternyata kau memang sengaja ingin menggodaku!" ucap Dirga meremehkan.
Tanpa banyak bicara, Dirga meremas kuat salah satu benda kenyal itu. Membuat Laras terpekik kesakitan.
Bukan maksud Laras untuk menggoda Dirga, ia memang tak memakai bra karena punggungnya sakit bekas cambukan, sehingga ia terpaksa tak memakainya.
Laras tak mengira, Dirga akan semarah ini dan melakukan hal yang tak pernah ia pikirkan. Malam ini adalah malam bencana kedua setelah malam itu.
__ADS_1
Tetapi kali ini Dirga melakukan nya dengan sangat kasar. Bukan hanya fisik, namun batin Laras juga terluka akibat perlakuan Dirga.
Laras hanya berharap, malam ini akan segera berakhir dan semua ini hanyalah mimpi buruk baginya.