
"Darimana kamu?"
Tendengar suara berat yang begitu Laras kenal tengah menegurnya, saat dirinya baru saja tiba di rumahnya.
Ia mengira, ayahnya tidak ada di rumah karena sudah berangkat ke toko miliknya. Ya, ayah Laras memiliki sebuah toko sembako yang cukup terkenal bahkan sudah memiliki beberapa cabang di kotanya.
Laras meremaa ujung kemeja yang ia kenakan. Ia tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan sang ayah.
Tidak mungkin ia mengatakan, kalau semalam sudah bermalam dengan seorang pria. Lebih tepatnya dipaksa.
Pasti ayahnya pasti akan marah, meski dirinya hanya korban di sini. Karena Laras sangat tahu, jika ayahnya sangat membencinya dan pasti akan membunuhnya jika tahu dirinya sudah bermalam dengan seorang pria.
"Darimana kamu, kenapa diam saja?" tanya Tomi sekali lagi dan membalikkan tubuh Laras agar menghadapnya.
Laras menunduk takut, ia tak berani menatap wajah ayahnya yang ia yakini pasti sedang menahan amarah.
"Apa ini Laras?" tunjuk ayah pada bercak merah yang ada di leher Laras.
"Katakan pada Ayah, darimana kamun semalam dan apa yang kamu lakukan sampai ada tanda ini Laras!" sentak Tomi.
Laras hanya menunduk tak berani menatap sang ayah. kedua tangan nya saling bertaut guna menyalurkan rasa takut dan gugup.
"Jawab Laras!" sentak Tomi lagi.
Rasanya sudah tak sabar mendengar jawaban dari Laras. Tomi berharap, apa yang ada di pikiran nya itu salah.
"Tentu saja menjual diri! lihatlah ini ayah!" sahut Tania yang entah sejak kapan berasa di antara mereka.
Tania menyodorkan ponsel miliknya dan memperlihatkan foto Laras dengan seorang pria yang tengah memasuki mobil mewah.
"Aku tak menyangka, dibalik wajah polosmu itu, kau menyimpan prilaku busukmu itu!" Tania menunjuk wajah Laras yang sudah meneteskan air matanya.
"Tidak, aku tidak menjual diri! aku bukan wanita seperti itu!" Laras menyangkal dengan celengan kepala.
"Wah, Mama benar-benar tak menyangka! jadi, selama ini kau menjual tubuh mu Laras? " tanya Desi setelah melihat foto yang ada di ponsel Tania.
"Tidak, aku tidak pernah melakukan hal sehingga itu!" teriak Laras frustasi.
Tomi meremaa ponsel yang ada di tangan nya dan menatap tajam pada Laras.
"Masih bisa kau menyangkal? lihat ini baik-baik Laras!" sentak Tomi dan menunjukkan foto itu pada Laras.
Laras menggeleng dan tangisan nya pecah.
"Semalam aku di perkosa! aku tidak menjual diri!"
__ADS_1
Plak....
Satu tamparan keras tepat mengenai pipi kanan Laras. Ia memegangi pipinya yang terasa sangat panas dan perih.
"Ayah, di sini aku korban. Tidak bisakah ayah mempercayaiku kali ini?" tanya Laras dan masih memegangi pipinya yang terasa perih.
"Itu salahmu sendiri! kenapa semalam kau keluar rumah? jika saja kau tak keluar, maka ini semua takkan terjadi! dasar anak pembawa sial!" umpat Tomi.
"Maaf," hanya itu yang keluar dari mulut Laras.
"Katakan, siapa yang sudah menodaimu?" tanya Tomi dengan nada datar.
Laras hanya menggeleng sebagai jawaban! ia tidak mungkin, mengatakan jika atasan nya lah yang sudah merenggut kesucian nya.
"Kau saja tidak mau memberitahu siapa yang sudah memperkosa mu! jangan bilang, kau hanya menutupi identitas pelanggan mu dengan dalih di perkosa!" Tania mencoba mengompori Tomi.
"Benar itu! mungkin kau hanya menyembunyikan identitas pelanggan mu atau bahkan kau tidak tahu siapa yang sudah membelimu itu!" timpal Desi.
"Jika kau benar di perkosa, katakan siapa dia!" sentak Tomi yang sudah tersulut emosi.
Ditambah mendengar ucapan anak dan istrinya, membuatnya semakin yakin jika Laras hanya mengarang cerita dan berusaha menyembunyikan identitas lelaki itu.
"Sudah aku katakan, aku tidak menjual diri!" teriak Laras jangan lupakan air matanya masih setia menemaninya.
Plak
Plak
Brak
Tomi melayangkan tamparan, bahkan menendang Laras sampai Laras tersungkur dan menabrak meja dengan sangat kuat.
Laras meringis menahan sakit di wajah dan sekujur tubuhnya. Bahkan, sudut bibirnya sampai mengeluarkan da-rah.
"Sakit ayah," lirih Laras.
Akkhhhh...
Teriak Laras, saat ayahnya mencekik lehernya cukup kuat sehingga membuatnya sesak nafas.
"Katakan siapa lelaki itu, atau kau kubu-nuh!" ancam Tomi.
Laras masih bungkam, ia tak berniat untuk menjawab sang ayah. Jika dirinya harus mati di tangan ayahnya, maka dia akan senang.
Karena penderitaan nya akan segera berakhir dan dirinya bisa bertemu dengan ibunya. Melihat Laras yang hampir kehabisan nafas , Tomi langsung melepas cengkraman tangan nya dari leher Laras.
__ADS_1
Laras terbatuk dan menghirup oksigen dengan rakus. Ia menatap ayahnya dengan sendu.
"Kenapa ayah melepaskanku? bukankah, akan lebih baik jika aku ma-ti?" tanya Laras setelah merasa cukup membaik.
"Aku tak ingin mengotori tanganku! lebih baik, cepat katakan siapa lelaki itu?"
"Maaf Ayah, aku tidak bisa memberitahu ayah! jika ayah ingin membunuhku, maka bunuh saja! itu jauh lebih baik!" ucap Laras dengan nada sendu.
Bukankah, ma-ti adalah jalan yang terbaik untuknya? tidak ada yang mengharap kan nya di dunia ini! jadi, untuk apa dia masih tetap hidup?
Apalagi, masa depan nya sudah sangat hancur. Maka, ma-ti adalah pilihan yang terbaik baginya.
"Meski kau tak memberitahu, aku akan mencari tahu sendiri!" ucap Tomi dan segera pergi meninggalkan Laras yang masih setia terduduk di lantai.
Desi segera menyusul sang suami. Kali ini, dia harus berhasil membujuk sang suami untuk mengusir Laras.
Sudah lama ia menunggu momen ini. Jadi, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengusir anak si-alan itu.
"Ck, ck, aku gak nyangka kau melakukan itu! tapi, bagi uangnya! aku yakin, kau pasti mendapat uang banyak dari lelaki itu, mengingat mobilnya yang mewah!" ucap Tania sembari mengadahkan tangan nya.
Laras menahan sakit dan berusaha untuk berdiri. Setelah berhasil, ia menatap tajam pada kakak tirinya itu.
"Aku bukan kamu yang rela ditiduri demi uang!" ucap Laras sembari menunjuk wajah Tania.
"Ish, dasar munafik! jika tak mau membagi, ya sudah! tapi ingat, Siap-siap untuk angkat kaki dari rumah ini! karena ayah pasti akan mengusirmu!" ucap Tania dan segera meninggalkan Laras sendirian.
Dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Laras, karena itu memang benar adanya. Dia rela menjadi simpanan lelaki beristri hanya demi bisa memenuhi kebutuhan nya.
Meski ia mendapat jatah bulanan dari sang ayah, tetapi menurutnya itu sangat kecil dan kurang untuk memenuhi kebutuhannya.
Jadi, dia lebih memilih jalan pintas hanya untuk bisa memenuhi gaya hidupnya. Setelah kepergian Tania, Laras lebih memilih untuk pergi ke kamarnya.
Sekarang dia sudah pasrah, jika ayahnya mengusirnya maka dia akan pergi. Dan jika ayahnya akan membu-nuh nya, maka dia akan menerima dengan senang hati.
Setelah berhasil masuk kedalam kamarnya, Laras langsung merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang miliknya.
Hari ini dia tidak bekerja dan sudah meminta ijin pada atasan nya saat perjalanan pulang tadi. Laras menatap langit-langit kamarnya.
Merenungi apa yang sudah terjadi padanya. Seharusnya di saat seperti ini, dia mendapat dukungan dari orang yang disayanginya.
Tetapi bukan mendapat dukungan, dirinya malah mendapat cacian dan pukulan dari seorang ayah yang seharusnya mendukung dan membelanya.
Laras memringkan tubuhnya dan memeluk dirinya sendiri. Dia tidak memiliki siapapun didunia ini.
Dia hanya memiliki dirinya sendiri. Laras menangis dalam diam. Rasanya sudah terlalu lelah dengan keadaan hidupnya yang selalu menderita.
__ADS_1
"Ibu," gumamnya sembari menangis dalam diam.