
Laras terbangun dari tidurnya saat mendengar suara gedoran pintu yang begitu nyaring. Ia berusaha membuka matanya yang masih terasa sangat berat.
"Wah, enak sekali kau dijam seperti ini masih tidur!" ketus Mawar yang memaksa masuk ke kamar putranya dan melihat Laras yang masih berada diatas ranjang.
Laras segera mendudukan tubuhnya yang terasa remuk dan mengedarkan pandanganya. Ah, ternyata semalam bukanlah mimpi.
Dirinya menikah dan mengalami kekerasan dari Dirga bukanlah mimpi. Bahkan, lelaki itu sudah tidak ada di kamarnya dan meninggkannya sendirian.
Dan sekarang, dirinya harus menghadapi mama mertuanya yang terlihat marah, karena dirinya bangun kesiangan.
"Maafkan aku Ma," lirih Laras.
"Jangan panggil aku Mama! aku bukan Mamamu!" tegas Mawar.
"Cepat bersihkan dirimu! Meski kau sudah menikah dengan anakku, bukan berarti kau boleh seenaknya di rumahku! dan ingat, panggil aku nyonya!"
Brak....
Setelah mengatakan hal itu, Mawar segera meninggalkan Laras sendirian dan membanting pintu kamar dengan sangat keras.
Laras memejamkan matanya, ia menarik nafas dalam dan mengeluarkan nya secara perlahan. Dirinya harus menyiapkan tenaga ekstra untuk menghadapi mama mertuanya itu.
Perlahan Laras bangkit dari pembaringan dan menuju kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Akkkkh, sakit," keluh Laras saat tetes demi tetes air yang mengalir dari shower mengenai tubuhnya yang penuh luka.
Luka dari sang ayah belum kering dan semalam ditambah luka dari Dirga. Membuatnya meringis menahan perih saat air menyentuh kulitnya.
"Aku tidak tahu sampai kapan, bisa bertahan? ibu, aku sangat merindukanmu?" gumamnya sendu.
"Kau lama sekali!" ketus Mawar dan jangan lupakan tatapan matanya yang penuh kebencian.
Ya, Mawar sangat membenci Laras! dia menganggap, Laras lah penyebab keretakan hubungan Dirga dan Kirana.
Bahkan, Mawar juga beranggapan kalau Laras sengaja menjebak Dirga agar mau menikah dengan nya.
Mungkin, Laras akan hidup dengan bergelimang harta jika bisa menikah dengan Dirga. Tetapi, Mawar akan mematahkan impian nya itu, dia akan membuat neraka untuk Laras, selama wanita itu tinggal di sini.
Mawar ingin melihat, sampai mana Laras akan bertahan. Ia harus, membuat Laras merasa tersiksa dan akan lebih memilih mundur dengan sendirinya.
__ADS_1
"M-maaf Nyonya," jawab Laras.
"Sudah, jangan banyak bicara! kamu cepat bereskan ini semua dan bersihkan rumah ini sekarang juga!" perintahnya sembari menunjuk piring kotor bekas mereka sarapan.
Laras mengangguk dan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Mawar. Laras berusaha secepat mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan nya, karena dirinya harus segera datang ke kantor untuk bekerja.
Setelah menyelesaikan semuanya, Laras bergegas untuk membersihkan dirinya lagi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Ia mencari dimana keberadaan Mawar, untuk berpamitan. Tetapi wanita itu tidak ada. Laras memilih segera berangkat, karena dirinya sudah sangat terlambat.
Mawar berjalan tergesa menuju hulte terdekat, dirinya harus segera sampai. Laras tak ingin kehilangan pekerjaan ini.
Tin...
Mawar menghentikan langkahnya, kala ada sebuah motor yang berhenti di depan nya. Ia mengerutkan kedua alisnya bertanya-tanya siapa orang yang sudah berhenti dan menghampirinya.
"Laras, sedang apa kau di sini?" tanya lelaki itu setelah melepas helem nya.
"Doni? boleh aku menumpanga? aku sudah sangat terlambat!" keluh Laras.
"Baiklah, tapi kau harus jelaskan, kenapa kau bisa ada di sini?" Laras mengangguk dan menerima helem yang di sodorkan oleh Doni.
Laras sangat bersyukur bisa bertemu dengan Doni di sini, jadi, dia bisa sedikit menghemat waktu dengan pergi bersama dengan Doni.
"Terima kasih ya Don, nanti saja kita mengobrolnya!" Laras menyerahkan helem yang ia pakai dan segera berlari menuju kantor.
Doni hanya menggeleng melihat tingkah Laras, ia mengerti kalau Laras tengah terburu. Segera ia mengambil ponsel miliknya dan mengetik sebuah pesan untuk Laras.
"Aku tunggu nanti siang, banyak hal yang harus kau ceritakan!"
Setelah mengetik pesan, Doni segera menyalakan mesin motornya dan menuju mini market dimana dirinya bekerja.
"Ani," panggil Laras saat melihat Ani yang berjalan menuju pintu lift yang terbuka. Bahkan, dengan sengaja Anin segera menutup pintu lift dan mengabaikan Laras yang terus memanggilnya.
"Ani, tunggu!" Laras menghembuskan nafas kasar, saat pintu lift tertutup dengan rapat.
"Apa Ani tidak mendengar dan melihatku ya?" gumam Laras yang merasa heran. Ia yakin, jika Ani tadi melihatnya, tetapi kenapa Ani seolah tak melihat dan mengabaikan panggilan nya?
Bahkan, Ani juga membiarkan pintu lift tertutup dan tidak membiarkan nya untuk ikut masuk.
__ADS_1
"Mungkin saja, dia tidak dengar!" gumam Laras mencoba berpikiran positif.
*****
"Kau terlambat lagi Laras!" sentak Rita saat melihat Laras yang baru saja mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya.
"Maaf Bu, jalanan sangat macet!" ucap Laras.
"Jangan kira, kau sudah menikah dengan pak Dirga, kau bisa berbuat seenaknya saja! ingat, kau menikah dengan nya karena hasil merebut! jadi, jangan sok kamu!" ketus Rita.
Ya, kabar pernikahan Laras dan Dirga sudah menyebar di seluruh kantor dan diluar kantor. Padahal, pernikahan mereka terkesan tertutup, tetapi entah bagaimana kabar pernikahan mereka bisa menyebar secepat itu.
"Bukan begitu Bu,"
"Sudahlah, jangan banyak alasan! saya tetap akan memberimu SP! saya tidak peduli kau istri dari Tuan Dirga, karena peraturan tetaplah peraturan!" tegas Rita.
Laras terduduk lesu mendengar ucapan Laras, jika saja Ani tidak meninggalkan nya maka dia tidak akan terlambat.
Laras menoleh dan menatap Ani yang juga tengah menatapnya. Namun, ia segera membuang muka saat tatapan mereka saling beradu.
Laras menghembuskan nafas kasar, entah apa yang terjadi pada teman nya itu. Kenapa, Ani seolah sengaja menghindarinya!
"Sudahlah, aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku!"
Laras lebih memilih fokus dengan pekerjaan nya, dia akan menanyakan langsung pada Ani nanti. Dia harus tahu, kenapa dia menjauhinya dan sengaja membuatnya terlambat.
Waktu terus berlalu, hingga jam istirahat. Laras segera menghampiri Ani yang akan keluar menuju kantin.
"Ani, bisa kita bicara?"
"Mau bicara apa?" tanya Ani dengan malas.
"Ani, kenapa kau seolah menghindariku, apa aku melakukan kesalahan?" tanya Karas langsung pada intinya.
"Tidak ada, aku hanya tidak ingin berteman dengan wanita perebut tunangan orang lain!" ketus Ani.
Sudah Laras duga, pasti karena dirinya menikah dengan Dirga dan semua orang menganggap dirinya sebagai wanita perebut tunangan orang lain.
"Ani, aku tidak merebut! tapi... "
__ADS_1
"Tidak merebut? menikahi calon suami orang lain, apa itu namanya?" sentak Ani.
"Sudahlah, mana ada maling yang mau ngaku! lebih baik, sekarang kau jangan pernah dekati aku lagi! aku tak sudi berteman dengan pelakor!" ketus Ani dan segera meninggalkan Laras sendirian.