Laras Yang Terbuang

Laras Yang Terbuang
#2


__ADS_3

Siapa yang tidak mengenal lelaki berparas tampan dan juga memiliki kekayaan yang melimpah.


Dirgantara Prayoga lelaki yang memiliki segalanya. Meski banyak wanita yang menginginkan nya, bahkan tak sedikit dari mereka menyerahkan diri mereka dengan suka rela, namun, tak satupun dari mereka bisa merebut perhatian ataupun hatinya.


Sikapnya yang terlalu dingin, bahkan terkesan tak peduli membuatnya susah untuk didekati. Meski begitu, tidak menyurutkan bagi kaum wanita untuk menyerah dan mengaguminya.


Tetapi ada satu wanita yang mampu mencuri hati lelaki itu, bahan wanita itu sekarang sudah menjadi tunangan nya dan sebentar lagi mereka akan menikah.


Kirana Abraham, wanita cantik dengan postur tubuh bak model, bahkan karirnya begitu cemerlang di dunia kedokteran.


"Apa kau tidak bosan dengan lembaran-lembaran itu?" tanya Kirana dengan nada manja.


"Tentu saja aku bosan Sayang, apalagi saat kau tidak ada bersamaku," ucapnya mengecup pipi sang kekasih.


"Gombal! lebih baik kita makan siang sekarang, aku sudah sangat lapar!" ajak Kirana sembari merangkul lengan Dirga dengan manja.


"Apapun itu Sayang," ucapnya.


Kirana tersenyum mendengar jawaban kekasihnya ini. Rasanya sangat beruntung bisa memiliki Dirga.


Meski Dirga terkesan dingin, tetapi itu tidak berlaku baginya. Karena sikap Dirga terhadapnya selalu hangat, berbeda jika dengan orang lain.


Kirana jadi teringat saat dulu Dirga mengungkap cinta kepadanya, pria itu terkesan kaku. Tetapi, ia bisa melihat ketulusan dari setiap ucapan yang keluar dari mulut Dirga, itulah sebabnya ia menerima cinta Dirga. Selain itu, dia juga sudah jatuh cinta kepada Dirga saat pertama kali bertemu.


Hingga Dirga mengungkapkan perasaan nya, tentu saja Kirana takkan menolak setelah tahu cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Ingin makan dimana?" tanya Dirga saat mereka sudah berada didalam lif.


"Aku ingin makan makanan Jepang hari ini, bagaimana?" tanya Kirana meminta pendapat.


"Boleh juga, kita akan pergi ke restauran langganan kita."


Kirana mengangguk dan tersenyum sangat manis, hingga pintu lift terbuka. Keduanya keluar dari lift dengan tawa seiring langkah mereka.


Mereka terlihat begitu bahagia dan sangat serasi. Banyak pasang mata yang menatap kearah mereka.


Salah satunya adalah Laras, ia merawa sedikit kecewa karena ternyata lelaki yang ia kagumi selama ini sudah memiliki kekasih.


"Ah, sepertinya aku benar-benar harus melupakan nya! lagi pula siapa kamu laras?" gumamnya sembari berusaha menyadarkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Laras lebih memilih untuk segera beranjak dari tempatnya berdiri. Ia tidak boleh larut dalam kekecewaan nya.


Bukankah dirinya memang bukan siapa-siapa bagi Dirga? jadi, tidak sepantasnya dirinya terlalu kecewa.


Laras lebih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan nya, hingga tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore.


Itu berarti jam kerjanya sudah selesai dan dirinya harus pulang sekarang. Dengan malas, ia merapikan semua kertas-kertas yang menemaninya seharian ini.


Rasanya sangat malas untuk pulang kerumah, tetapi mau bagaiman lagi? dirinya harus pulang sekarang, jika tidak maka dirinya akan terkena omelan ayahnya.


Laras pernah meminta ijin untuk ngekos dan memberi alasan ingin hidup mandiri. Bukan nya ijin yang ia dapat, tetapi makian yang keluar dari mulut ayahnya.


Entah apa yang ada di pikiran ayahnya, bukan kah ayahnya tidak menganggapnya ada? tetapi kenapa ia meminta keluar dari rumah, ayahnya malah marah? sungguh tak habis pikir.


"Laras, ayo pulang!" ajak Ani, karena Laras terlihat melamun.


"Ah, iya! ini mau pulang," ucap Laras dan segera mengambil tas selempang miliknya.


Laras dan Ani berjalan beringan keluar kantor, dan berpisah di depan kantor. Karena Ani membawa motor sendiri.


Ani ingin menawarkan untuk pulang bersama, tetapi arah rumah mereka berbeda. Jadi, mereka harus berpisah di Spanyol kantor.


"Apa kamu tak melihat pukul berapa ini?" tanya Desi saat melihat laras yang baru saja pulang dari bekerja.


"Alah, alasan! cepat masak, mama sudah lapar!" perintah Desi.


"Mama gak mau tahu, pokoknya besok kamu harus pulang lebih awal!" tegas Desi.


"Jika mama ingin aku pulang lebih awal, biarkan aku mengendarai motorku," jawab Laras, entah dari mana ia mendapat keberanian itu.


Ya, Laras memiliki sebuah sepeda motor yang dia beli dari hasil jerih payahnya dulu saat dirinya bekerja di sebuah mini market.


Tetapi, dengan teganya Tania meminta sepeda itu. Awalnya laras menolak, tetapi dengan paksaan dari sang ayah, mau tidak mau Laras harus memberikan nya.


"Kamu mau sepeda motormu itu? ini ambil!" sahut Tania yang entah sejak kapan ada dibelakang nya.


Tania ini seorang pengangguran, dia hanya bisa menghamburkan uang ayahnya dan bahkan terkadang meminta uang Laras dengan paksa.


"Motor busuk aja dibanggain!" gerutunya dan segera pergi meninggalkan kedua wanita yang tengah berdebat tadi.

__ADS_1


Laras melongo melihat sikap Tania, kenapa dia tiba-tiba memberikan kembali motornya. Padahal, kemarin-kemarin ia memintanya, tetapi Tania bersikeras tidak mau mengembalikan nya.


Perasaan Laras menjadi tidak enak, hingga akhirnya Laras berlari keluar dan melihat motor miliknya.


"Astaga," teriak Laras saat melihat motornya yang sudah tidak berbentuk.


"Ada apa?" tanya seorang lelaki yang disebut ayah olehnya itu.


"Ayah, lihatlah! apa yang sudah dilakukan Tania pada motorku?" adunya, berharap ayahnya kali ini akan membelanya.


"Halah, kenapa harus dibesar-besarkan, bawa saja kebengkel!" jawabnya santai.


"Tapi Yah, pasti biayanya sangat mahal! Ayah mau meminjamkan aku uang untuk memperbaiknya?" tanya Laras dengan wajah memelas.


"Cih, kau itu bekerja! kenapa kau malah meminta uang kepadaku? urus saja sendiri!" jawab Tomi acuh dan segera meninggalkan Laras sendirian.


Laras menatap sendu punggung ayahnya yang sudah menghilang dari pandangannya.


"Kapan ayah akan melihatku? selama ini aku selalu menyelesaikan masalahku sendiri Yah, sekali saja bantu aku!" gumamnya dengan nada sendu.


"Laras!" teriak Desi dari dalam dengan suara yang begitu nyaring.


Laras segera menghapus air matanya dan segera masuk kedalam meninggalkan motornya yang sudah remuk bagian depan nya.


Entah apa yang dilakukan Tania dengan motornya hingga sampai seperti itu. Dengan setengah berlari Laras menghampiri Desi.


"Cepat masak! kami semua sudah lapar!" perintahnya.


"Kenapa harus aku Ma, ada Kak Tania! biarkan dia bergerak!" ucap Laras.


Karena Laras ingin mengistirahatkan tubuh nya yang terasa sangat lelah. Selain tadi pekerjaan nya banyak, dirinya menjadi lemas saat melihat bagaimana motornya begitu rusak parah membuat lelahnya semakin bertambah.


"Apa kamu bilang? Tania butuh istirahat yang cukup! kamu tidak lihat, dia baru saja pulang?" bentaknya.


"Memangnya apa yang dia lakukan Ma, sehingga membuatnya begitu lelah? bahkan dia tidak bekerja, harusnya aku yang banyak istirahat, aku juga lelah Ma, karena bekerja!" bantah Laras.


Rasanya sungguh lelah, selama ini ia hanya diam dan menurut. Tetapi kali ini, ia ingin berontak. Dia juga punya hak atas dirinya, dia juga lelah jika harus disuruh-suruh.


Plak....

__ADS_1


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Laras, sangking kerasnya kepalanya sampai tertoleh dan ujung bibirnya mengeluarkan darah.


"Ayah," gumam Laras dengan air mata yang menetes deras di pipinya.


__ADS_2