
"******setiap mahluk yang bernafas, akan mengalami kehilangan pohon yang berdiri kukuh pun kehilangan daun-daunya, seekor kucing betina juga terkadang kehilangan anak-anaknya. Terlebih, manusia yang juga akan kehilangan seseorang dalam hidup mereka******".
felix baru saja kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Ini adalah detik ketika dadanya terasa begitu sesak, deru nafasnya tak beraturan, matanya begitu nyeri dan hatinya terasa begitu ngilu oleh hantaman denyut kehampaan.
felix menutup kedua matanya perlahan. Untuk kesekian kalinya, ia berjuang keras untuk menahan diri agar matanya tidak meneteskan apapun.
Angin pantai menerpa wajahnya, suara debur ombak menjadi pengiring yang sempurna untuk sebuah kehancuran dari dalam hatinya. Alih-alih menutup matanya untu menetralisir sesak, kegelapan dalam pejamannya justru membawa sebuah bayang-bayang kenangan yang berputar rapi bagai potongan film. Felix melihat semuanya dengan jelas, lengkap dengan semua gema suaranya.
TIDAK.
Tidak untuk hari ini.
Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis, dia harus kuat dengan semua ini. Dia harus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dia adalah pria dewasa yang tidak cengeng.
__ADS_1
Felix masih berjuang keras untuk mereda sesaknya. Ia tidak peduli bahwa sapuan angin pantai semakin dingin dan seragam sekolah nya tidak cukup tebal untuk melindungi tubuh kurusnya.
"ya! Felix. Apa yang kau lakukan disini?"
Felix seketika membuka matanya, ia tak perlu menoleh pada si pemilik suara, karena orang itu kini sudah berdiri di samping felix.
"kenapa kau kesini, soo bin-ah?
Tanpa menoleh ke kanan, felix sudah bisa tahu bahwa itu adalah chae soo bin, gadis cantik dengan tubuh mungil dan juga berambut pendek sebahu.
"sudah tugasku sebagai wakil ketua kelas. Aku kesini untuk menjeputmu". Soo bin menoleh ada felix yang masih menatap lurus ke arah pantai. Entah apa yang sedang felix pikirkan saat ini. "ayo kembali, kita ada ujian matematika di jam terakhir",
Waktu istirahat makan siang tersisa 15 menit lagi, dan butuh waktu sekitar 5 menit untuk berjalan kembali ke sekolah. Jika tidak segera kembali sekarang, maka kemungkinan keterlambatan akan semakin dekat.
Felix menarik sebuah senyum hambar. Soo-bin ini memang unik, soo-bin sangat dekat dengan ibu felix, selain karena mereka tetangga, soo-bin juga sering mengantar pesanan kecil, itulah makanya, tidak heran, kenapa soo-bin cukup dekat juga dengan keluarga felix.
__ADS_1
"kembali ke kelas tidak akan membuat ku merasa jauh lebih baik," jawab felix sambil menatap awan luas. Soo-bin menarik nafas, perlahan ia juga duduk diatas pasir pantai, mengikuti posisi duduk felix yang sedikit menekuk kedua lututnya. "kau bisa melewatinya , kau hanya perlu percaya bahwa orang-orang yang pergi, tidak akan benar-benar pergi. Mereka hanya mendahului kita menuju ke suatu tempat, kita juga nanti akan ada disana". Senyum soo-bin terukir, bersamaan dengan hembusan suara deburan ombak yang menyejukkan hati.
"kau mudah saja mengatakannya, karena kau tidak merasakan posisi ditinggalkan". felix masih enggan menoleh, ada sesuatu yang menahannya agar tetap fokus ke depan saja.
Soo-bin menundukkan kepalanya, gadis itu melihat ujung sepatunya yang sedikit tertanam di pasir putih pantai. "aku minta maaf ", ucap soo-bin dengan nada melemah. Felix benar, soo-bin hanya memperkeruh suasana.
"pergilah, aku sedang mencoba untuk merelakan."
Felix memejamkan mata kembali, merasakan sebuah tikaman yang dahsyat menyerang jatungnya. Melihat hal itu, soo-bin juga jadi ikut sesak. Ia mengamati felix yang tengah menahan pedih. Jika saja, soo-bin bisa melakukan sesuatu untuk mengusir kesakitan felix. *jika saja bisa*
"soo-binaah, kumohon". Felix semakin memejamkan matanya, bibir pria itu gemetar menahan tangis kian mendesak ingin keluar.
" tidak. Kau belum cukup mampu merelakan.biarkan aku menemanimu dulu". soo-bin terlihat yakin dengan ucapanya."Ayo kembali ke kelas, Aku tidak ingin melihatmu seperti ini ".
Felix mengatur nafas, bersamaan dosen angin pantai yang menerbangkan rangkaian rambutnya. perlahan Felix membuka mata untuk pertama kalinya ia menoleh. " kembalilah lebih dulu Aku akan menyusul" soo-bin bisa melihat jelas tatapan serius dari seorang Felix, Tatapan yang tidak bisa dilawan. 2 bola mata hitam pria itu terlihat begitu terluka, sedikit memohon agar kalimatnya segera diindahkan.
__ADS_1
Kalau sudah begini, hanya mengangguk. setidaknya, Felix sudah mengatakan bahwa ia akan kembali itu melegakan karena soo-bin tahu bahwa Felix akan selalu menepati perkataannya.
Pelan-pelan soo-bin berdiri selalu dengan kaki yang berat ia melangkah meninggalkan Felix Mungkin memang Felix masih butuh waktu untuk sendiri pada langkah ke-10 sobin berjuang keras untuk tidak menoleh ke belakang kalau mendengar suara jeritan tertahan yang terasa begitu menyakitkan, setiap bunyi bagai pisau yang menyayat hati. Memejamkan mata ia tahu bahwa di belakangnya Felix sedang menjerit,marah atau mungkin Menangis. Lagi Dan Lagi Felix masih belum bisa menerima kenyataan itu berbohong dia belum bisa merelakan itu dia mengapa selalu khawatir dengan Felix dan selalu ingin berada di sisi Felix. Di langkahnya yang ke-15, soo-bin akhirnya berbalik. Ia melihat jelas, felix menyangga lututnya di atas pantai, tubuh tinggi pria itu terkulai lemas sedikit membungkuk dan gemetar. Soo-bin ingin sekali kembali ke sana, tapi saat dia tahu bahwa itu tidak akan mengubah apapun, maka Gadis itu mengurungkan niatnya dan memilih untuk melanjutkan langkahnya. Membiarkan Felix hancur bersama perasaannya, untuk yang entah Sudah beberapa kalinya.