
Ji won Menghela nafas, ia tidak tahu pasti apa yang saat ini ia rasakan. semua hanya terasa begitu aneh. Apakah pertengkaran hebat dan keputusan mereka Minggu lalu benar-benar dianggap hanya emosi sesaat bagi seorang park hyesin. Sedangkan Ji Won hampir gila karena berangkat semua itu benar-benar berakhir karena setelah kata 'berakhir' itu diucapkan dalam hubungan mereka, yesin benar-benar tidak menghubungi Ji Won lagi. Yesin malah terlihat baik-baik saja di sekolah, yesin bahkan langsung fokus pada audisinya.
Sementara ji-won kehabisan akal, kehilangan inspirasi selama berhari-hari dalam membuat lagu. ji-won tersiksa dengan semua itu, Ji Won menahan diri untuk tidak terlihat menyedihkan setiap kali ia melihat yesin tertawa bersama teman-temannya yang lain. dan, setelah melewati hari-hari yang penuh renungan atas berakhirnya hubungan mereka Ji Won perlahan-lahan Mulai bisa menerima dirinya yang sudah tidak bersama yesin lagi.
Namun, saat Ji Won Mulai bisa menerima semua itu, tiba-tiba yesin muncul kembali, bersikap seolah seperti tidak terjadi apa-apa.
"kita sudah sepakat untuk mengakhirinya ", ucap ji-won Setelah sekian lama terdiam dalam pikirannya.
Yesin menghela nafas, tak bisa dipungkiri Sesak Dalam hatinya saat kalimat itu keluar dari mulut ji-won. yesin berusaha menelan ludahnya, lalu mengambil nafas perlahan. "kau yang mengakhirinya, kau yang pertama kali mengucapkannya ", Yesin dengan nada yang menyedihkan bercampur kesal. "kau juga yang menyetujuinya dengan cepat titik aku anggap itu kesepakatan bersama ". Ji Won Membasahi bibir bawahnya, lalu mencoba menggerakkan lehernya yang pegal. santai seperti biasanya, pria itu seolah tak menunjukkan rasa Peduli titik padahal, jauh di dalam hatinya ji-won sedang khawatir khawatir jika ucapannya menyakiti hati Yesin.
"kita tidak bisa mengakhirinya dengan cara seperti ini", ucap yesin yang akhirnya berani mengangkat kepala, sedikit lebih tinggi tapi tetap tidak menoleh pada Ji Won.
"Eoh?"
__ADS_1
"8 bulan lalu kita memulai hubungan ini dengan baik. Apakah kau ingat Bagaimana cara kita jadian?".
Ji Won mengerutkan kening, lalu mengangguk samar. " hmm , Aku menghampirimu di depan lokermu dan langsung mengatakan bahwa aku tertarik padamu", ucap jiyun santai, datar, seperti Kenangan itu tak berarti apa-apa. Yesin terkekeh, Iya tidak tersinggung dengan cara penyampaian ji-hoon, yesin sudah tahu betul bahwa ji-hyun memang pria yang tidak romantis, tidak ekspresif. siapapun yang berkencan dengan Ji Won jika tidak sabar, Pasti akan mengira ji-won hanya main-main karena memang ji-won tidak seperti pria lain pada umumnya ji-won punya caranya sendiri, terkadang Ji Won terlihat super cuek, Tapi diam-diam Ji Won juga sangat peduli.
"iya, hari itu kau membuatku terkejut hingga aku menjatuhkan seluruh buku yang ada dalam genggamanku", kenang Yesin lagi. kali ini yesin berani menoleh ke samping untuk menatap ji-won. "dan kau sama sekali tidak membantuku memungutnya kau malah pergi meninggalkanku ",
ucap Yasin sambil memutar bola matanya. Ji Hyun tersenyum tipis mengingatnya. "itu karena teman-temanmu mulai datang, mereka pasti akan membantumu". Yasin hanya mengelola nafas, masih sedikit tersenyum mengingat hal itu. "lalu, waktu pulang sekolah, kau mendatangiku lagi titik kau bilang bahwa aku harus menjawabnya hari itu juga, padahal kita tidak pernah dekat, kita hanya satu ekskul di seni tari dasar menyebalkan". Yesin ingat, hari itu ji-won begitu mendesaknya untuk segera memberi jawaban.
"jika aku menyebalkan, Kenapa kau Mau menerima aku hari itu?". Yesin terdiam, mencoba mengingat kembali alasannya. "Entahlah, aku hanya ingin menerima mu saja waktu itu ". Ji-won hanya tersenyum hambar. "Apa karena kita punya banyak ketertarikan yang sama?" . "mungkin" titik mereka sama-sama diam selama beberapa detik, sampai akhirnya ji-wun bersuara lagi. "apakah bahagia bersamaku, hyesin-ah?" hiasin Membasahi bibir bawahnya, ia menatap wajah Ji Won yang juga menatapnya, Wajah pria itu selalu datar.
"tapi, kita tidak bisa menempuhnya bersama-sama", ucap jiwon tiba-tiba. Kalimat itu bagai sebuah pedang tajam yang menembus tepat di jantung Yesin, membuat Yesin seketika memudarkan raut wajah antusiasnya. " ah, Ji Won- ah. Kau benar-benar menyakiti hatiku ", ucapan yesin sambil memegang dadanya, Yesin selalu menertawakan dirinya sendiri. Jujur, yesin biasanya jarang terluka oleh ucapan, sepedas apapun itu bahkan saat mereka bertengkar, yesin sama sekali tidak pernah merasa sesak titik tapi, kalimat yang diucapkan Ji Won berhasil membuat hatinya terasa begitu nyeri.
"Maaf", ucap jiyun sambil menundukkan kepala . yesin juga ikut menundukkan kepala, Sepasang Mata indahnya kini menatap lurus pada kertas yang sudah tadi masih ia genggam titik kertas berisi lagu semula ingin Ia koreksi "lagu ini, kita membuatnya bersama" hyesin sedikit meremas Sisi kertas itu, Seraya mengalirkan rasa sakit dalam dadanya. "" Aku ingin kita menyanyikannya bersama ".
__ADS_1
Dan dapat: kita bisa menyanyikannya bersama di acara perpisahan sekolah minggu depan jika kau mau ". lagi mengucapkannya dengan santai titik Namun nyatanya, yesin justru menggeleng. " tidak, kita tidak akan menyanyikan ini untuk perpisahan ". "Lalu? "
"kita akan menyanyikan Ini untuk sebuah pertemuan " . Hyesin menoleh menatap Ji Won, mata indah milik Yesin mulai berkaca-kaca nafasnya sesak tak terkira, sekuat tenaga ia menatap mata hitam milik ji-won . "kita akan bertemu Suatu Hari Nanti, Ji Won-ah. Di arena yang berbeda, sebuah arena pembuktian bawah kita bisa mencapai mimpi kita, di sebuah arena Di mana kau bisa membuktikan bahwa kau juga bisa menyemaiku, atau bahkan bisa lebih baik dariku ".
Ji-hoon terdiam mendengarnya, pria itu berusaha mencerna kalimat yesin dengan seksama terutama pada kalimat akhirnya, yang yesin ucapkan dengan sepenuh penekanan. Masih mencoba menerka. "hyesin-ah..." tak diduga, yesin sudah meloloskan air matanya tepat 1 detik setelah jihun menyebutkan namanya. "kenapa? tanda tanya? apa aku salah? Bukannya kau memang selalu berpikir seperti itu?, kau selalu berpikir bahwa aku lebih baik darimu, kau selalu merasa kecil, karena aku bisa mendapatkan apa yang aku mau, kau selalu merasa dirimu tidak ada apaapanya dibandingkan denganku, titik itu, Mengapa kau sangat jarang menggandeng tanganku di sekolah Jarang mau keluar bersamaku, kita lebih sering menghabiskan waktu untuk membuat musik, tidak peduli secara apapun itu.
Kita bisa berkencan atau hanya sekedar membeli es krim di seberang jalan, tapi kau selalu menolak titik kau seakan takut orang-orang tahu bahwa kau adalah pacarku, kau bahkan tidak berusaha menarikku saat aku sedang tertawa bersama anggota klub basket, Kau hanya mendiamikanku, hingga Aku mengakui kesalahanku sendiri titik itu semua kau lakukan karena kau tidak pernah merasa pantas bersanding bersamaku, benar kan?! Kan semua ini benar! " nafas yesin naik turun tak beraturan, air mata nya sudah tumpah ruah tak terkendali. sudah sejak lama yesin menahan ini semua. sudah sejak lama Yasin ingin mengatakan ini pada Ji Won.
"kau benar, itulah mengapa aku tidak pantas untukmu titik Kau hanya merasa lengkap saat bersamaku, tapi kau tidak merasa bahagia". Bihun meminjamkan matanya sejenak, ia tak sanggup melihat yesin menangis, ia sama sekali tak pernah melihat yesin menangis. Adalah kali pertama Ia membuat Yesin menangis dan jiwon berharap, ini juga merupakan kali terakhirnya menangis. "jadi maksudmu Kita sebenarnya tidak menginginkan hubungan ini".yeSin masih menetap Ji Won dengan tatapan tajam.
"kita menginginkan ini, hyesin-ah. Aku menginginkanmu, kau juga menginginkanku titik tapi, kurasa kita menginginkannya bukan karena cinta. tapi, karena saling membutuhkan ".
"Apa maksudmu? "
__ADS_1
"Aku menginginkanmu karena kau Memiliki segalanya yang ingin kucapai, Aku sangat kagum padamu. Aku sangat ingin kau menjadi milikku, tapi setelah dunia kita menjadi satu, aku benar-benar merasa begitu kecil. kita semakin dekat tapi kedekatan itu membuatku justru semakin membenci diriku sendiri ". Ji-hoon mengalah nafas pelan menjadi kalimat yang cukup panjang dalam hidupnya .
Ji-hoon menarik nafas panjang. "selama ini, kau tidak menyadarinya, tapi kau juga menginginkanku bukan karena kau mencintaiku tapi karena kau membutuhkanku kau membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan semua pencapaianmu, kau Butuh seseorang yang bisa kau pamerkan Apa yang kau dapat titik kau Butuh seseorang yang bisa mendengar semua itu tanpa takut orang itu akan mengataimu sombong dan berlebihan ".