
Felix benar-benar kembali ke sekolah untuk mengikuti ujian matematika di jam terakhir. meski terlambat 1 Menit Cukup beruntung karena masih dibiarkan masuk. Ah, ralat. Sebenarnya memang kebanyakan sudah tahu bahwa Felix baru saja mengalami sesuatu yang berat. jadi, beberapa hari mereka tidak ingin membuat Felix merasa semakin sulit.
Bel waktu Ujian terakhir telah dibunyikan, pas ujian telah diambil kembali oleh seorang guru wanita saat itu. Murid-murid juga langsung membereskan peralatan tulis mereka dan berbondong-bondong keluar kelas .Sementara, Felix masih diam dan melamun di kursinya, tak melakukan apapun selain memutar-mutar pensil.
Felix sedang berusaha mengabaikan tatapan seseorang dari sebuah kursi di dua barisan lebih depan dari sebelah kanannya. Iya tahu, sobin sedang memerhatikannya di sana . " aku senang Kau masih ada disini" . Soo-bin tersenyum, sambil memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tas. Felix pada akhirnya kalah, gadis pemilik senyum paling ceria yang pernah ia kenal. " kudengar minggu depan kau sudah mulai menjadi crainee. Wah, Aku tidak menyangka kau akan menjadi Idol. Dekat dengan mimpimu ". Sobin menopang dagu dengan satu tangannya .
Felix tidak menjawab, pria itu masih memutar-muter pensil di tangannya teknik mengalah nafas, lalu mengarahkan pandangannya ke jendela. dari jendela ia bisa melihat ke bawah. Tempat ke lapangan utama Sekolah, di mana para murid sudah berbondong-bondong menuju ke gerbang depan.
"felix-se".
Felix menoleh lagi ke arah sobin yang masih duduk di bangkunya langsung tersenyum setiap kali Felix menatapnya. "Aku percaya kau bisa melewati semua ini titik kau sudah berjanji untuk menjadi pria yang lebih kuat, kan?"
"Jangan pernah terlalu lama larut dalam kesedihan, Jangan membuat kesedihanmu itu menghambat segala mimpi indah yang sudah kau rancang". Sabin masih tidak menyerah .
Felix masih diam, ia merasakan ruangan ini seakan hanya ada dirinya dengan sopir, suara-suara siswa lain yang masih tinggal dalam kelas akan tak terdengar sama sekali. "Kau hanya perlu menerima kenyataan, lalu merelakan secara perlahan relakan semua ini tidak hanya untuk dirimu, relakan semua ini agar dia bisa tenang ". Felix selalu menghentikan aktivitasnya. dari yang semula memutar pensil, kini menatap lurus pada sobin yang tidak lagi tersenyum. senyum. mata Gadis itu perlahan luntur. dari yang tersenyum lebar menjadi begitu tipis. dan hanya dalam hitungan detik, bulir air mata mulai menetes melewati kedua pipinya.
__ADS_1
" Kumohon ...," rintih sobin dengan tatapan memohonnya. Felix benci tatapan itu, Tatapan yang begitu mengiris hatinya. Felix memejamkan kedua mata suara isapkan shobin masih menggema di telinganya titik Padahal di sekitar sini banyak suara, Tetapi hanya isakan yang paling menggema di telinganya. Felix berusaha mengatur nafas, dalam, 5 detik, ia memikirkan segalanya, memikirkan ucapan Sabin tentang merelakan, dan entah apa yang mendorong Felix, sampai akhirnya pada itu, berbisik lirih sendiri dalam pejamanya. " Aku akan mencoba". Felix merasa dadanya sesak, Ia membuka mata perlahan lalu membuang nafas dengan sangat berhati-hati kemudian berucap lagi. "Aku akan mencoba Merelakanmu, chae soo-bin".
Felix tidak tahu perasaan sejenis apa yang menghantamnya satu detik setelah ia mengucapkan kalimat itu akan tak sempat menganalisis apapun karena seseorang menyentuh bahunya, membuat Felix tersentak kembali pada kenyataan. "kau baik-baik saja?" tanya seorang cowok tinggi bernama ji-hoon tampak khawatir. Sebagai ketua kelas, ji-hoon memang sepatutnya peduli dengan apa yang terjadi pada teman-teman kelasnya. "Aku baik-baik saja ", ucap Felix yang langsung bergegas membereskan barang-barangnya .
Ji-hoon tak kaget dengan reaksi Felix . Alih-alih membiarkan Felix keluar dengan tasnya, saat Felix berdiri ji-hoon malah menahan Felix dengan berdiri untuk menghalangi jalannya ji-hoon memegang satu bahu Felix, meremasnya pelan seperti seorang teman yang memberi kekuatan . "aku tahu bahwa soobin masih sering membayangimu, aku juga merasakannya . Itu karena kita semua sangat merasa kehilangan " . Ji-hoon selalu menoleh ke sebuah Bangku Kosong , bangku yang dulunya selalu diduduki oleh soo-bin.
Felix juga ikut menatap bangku itu.
Kosong.
Padahal,beberapa waktu lalu, ia melihat jelas soobin berada di sana. Soobin berbicara padanya. memohon untuk direlakan. " aku sudah memutuskan untuk mencoba merelakannya ". Itu adalah kalimat terakhir Felix, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan kelas.
Felix melangkah menyusuri koridor demi koridor di sekolahnya, dengan tas yang hanya satu tali menyangkut di bahunya, berusaha bersikap seperti biasanya . Felix sudah memutuskan untuk mencoba merelakan kepergian soobin, karena ia sadar bahwa bukan hanya dirinya tersiksa , mainkan sobin juga.
Felix terlalu Terpukul atas kepergian soobin yang secara tiba-tiba. Kecelakaan bus sebulan lalu merenggut beberapa nyawa, salah satunya adalah soobin, seorang gadis yang sangat Felix cintai. Soobin adalah cinta pertama Felix, mereka tidak pernah mengikat ya dalam sebuah status 'pacaran',
__ADS_1
tapi keduanya sudah dekat Sejak pertama kali soobin pindah ke sebelah rumah Felix.
Felix masih belum bisa menerima kepergian soobin, padahal banyak janji yang belum sobin tepatnya dengannya. sobin harusnya mengantarnya masuk ke *dorm*. Soobin Juga seharusnya menjadi orang pertama yang mendengar lagu ciptaan Felix nantinya. dan, soobin juga seharusnya menjadi orang pertama yang Felix Beri tanda tangan.
Kepergian sobin berdampak aneh bagi kehidupan Felix. Felix yang sudah terlanjur terbiasa berangkat sekolah bersama Soobin, makan di kantin bersama, mendengar omelan so bin jika Felix malas belajar.
Soobin mengambil terlalu banyak peran dalam hidup Felix, membuat menjadi ketergantungan dan sulit lepas dari bayang-bayang soobin ketika Gadis itu sudah tidak ada. Felix selalu merasa soobin masih ada bersamanya, di dekatnya dan memarahinya seperti biasa. Tahu bahwa ada yang salah pada dirinya, ia sangat tahu bahwa semua itu hanya halusinasinya. Felix membenci semua itu; Felix membenci kenyataan bahwa ia hanya bisa membayangkan sobin dan berbicara dengannya tapi ia tak pernah bisa menyentuh sobin.
Takkan pernah lagi bisa.
" felix-ah".
Felix berhenti, ia menoleh dan tak melihat siapapun. Lalu, ia sadar bahwa itu adalah suara sobin . Felix baru melangkah sekitar 2 langkah tetapi kemudian berhenti karena sudut matanya menangkap sesuatu yang aneh Felix menoleh ke kanan menyadari ada sebuah majalah dinding sekolah di sana . Felix menyipitkan matanya ketika ia melihat sesuatu yang aneh. mading itu kebanyakan dipenuhi dengan bungabunga, lipatan, kertas, dan foto-foto. shobin. itu wajar, karena so bin adalah ketua ekskul, jurnalis, sekaligus majalah sekolah. Selain itu, sosok sobin yang ceria, dan pandai bergaul, membuat kepergiannya mendapat perhatian yang lebih dari temanteman di sekolah.
__ADS_1