
Diantara tempelan berita duka dan tempelan bunga yang sudah mulai mengering untuk sobin , ada sebuah kertas yang membuat Felix tertarik untuk membacanya. Kertas ini terlihat seperti baru ditempel, tampak masih basah . Felix membaca kepala kertas itu, di situ tertera sebuah tulisan yang makin membuat Felix terkejut.
Aku ingin menjadi angin pantai pada sore hari
Agar aku bisa menyejukkan hati semua orang.
Aku ingin jadi sinar matahari pada musim dingin,
Agar aku bisa menjadi yang paling dinantikan.
Aku ingin menjadi Bel istirahat sekolah,
Agar aku bisa membuat semua orang bernafas lega.
Dan ,
__ADS_1
Aku juga ingin menjadi sebuah tulisan di mading sekolah, agar aku selalu terlihat olehmu.
*Puisi terakhir yang ditulis Chae Soo Bin* .
(*kami menempelnya atas izin dari keluarga yang bersangkutan titik tertanda, redaksi mading*).
Felix membacanya dengan seksama menghayati setiap kalimatnya. puisi ini seperti punya mata panah yang langsung menembus jantungnya. Merasa soobin menulis puisi ini untuknya . Akhirnya menegaskan hal itu karena selama ini soobin tahu bahwa Felix suka sekali membaca segala yang di mading sekolah, saat siswa lain kebanyakan hanya melewatkannya, Felix selalu Berhenti sejenak hanya untuk melihat apa yang terpasang di mading sekolah.
Dan kini, bisa merasakan ketika Ia memutuskan untuk melangkah semuanya jadi lebih ringan dari sebelumnya. Felix mulai bisa lebih peka terhadap sekitarnya jalanan pulang di kereta jika kemarin-kemarin Felix menghabiskan waktu untuk melamun atau membayangkan soobi. duduk di depannya, Felix menghabiskan waktunya dengan membaca buku.
__ADS_1
Ketika Felix turun dari kereta dan berjalan menuju rumahnya, ia ke sekelilingnya Felix melihat anak-anak kecil yang sedang berlari kesana kemari, Felix melihat seorang petugas keamanan melihat pegawai kantoran, Felix juga melihat sekumpulan remaja seusianya yang sedang melakukan *street dance* dengan begitu semangat.
Saat itu juga, Felix sadar bahwa ia tidak bisa terus hidup dalam Kehilangan. Tujuan dia punya mimpi dan dia tidak boleh kalah karena terlalu larut dalam kesedihan, menyadari bahwa diantara begitu banyak manusia tidak sedikit yang punya mimpi dan tujuan yang sama dengan dirinya.
Felix sudah tahu langkah lebih beruntung karena berhasil masuk ke dalam sebuah agensi, meski itu hanyalah agensi sederhana. Tapi, Felix tidak boleh meremehkan hal itu . Semangatnya harus tetap sama . Toh, lagi pula jika mimpinya ini tercapai, sobin juga pasti akan senang kan ? Felix tidak hanya mewujudkan mimpi ini untuk dirinya, tapi juga untuk sobin .
" Soobin-aa, tenanglah di sana Titik jangan khawatirkan aku lagi", ucap Felix saat ia sampai di pagar rumahnya. Mata Felix menatap ke rumah yang ada di sebelahnya. Ia mendongakkan kepalanya sedikit ke atas, ke sebuah pohon dengan daun yang jarang. Untuk kali pertama, Felix mau menatap pohon itu dengan hati yang lebih lapang titik untuk kali pertama juga, Felix namun memperhatikan Sepasang Sepatu milik soobin yang tergantung di sana. "Pergilah ke tempat yang lebih tinggi , suatu hari, aku juga akan ke sana".
__ADS_1