
"Pril nanti bantu Pak Herman bikin draf untuk survei, Beliau mau resign!" Kata Pak Burhan mendadak dangdut ngasih kerjaan secara lisan.
Bukannya nggak mau sih survei yang lalu saja belum kelar bikin laporannya, haduh kacau balau nih...
"Cie... dapat royalti lagi nih dari Pak Boss!" seru Dinda dengan mengoyahkan bahuku.
"Eleh.. nanti juga kamu duluan nyosor mau ikut ye..." Celetuhku agak mengoda Dinda. Dinda itu suka ikut survei padahal nggak pernah ikut tim.
Sebenarnya Dinda itu baik sih, cantik dengan rambut panjang yang selalu diuraikan. Tapi agak centil dan terlalu berani ngobrolin vulgar ke orang-orang, agak risih sih sebagai perempuan. Sejujurnya aku juga mengakui kecantikan Dinda sih... Kita satu divisi hanya saja dia anak hukum lebih memilih untuk kerja di kantor daripada di lapangan.
Akhirnya dengan ngontai aku seret tubuhku menemui Pak Herman, masih satu ruangan sih tapi meja Pak Herman ada diujung deket pintu ruangan Pak Burhan ketimbang aku yang berada di tengah.
"Permisi Pak he..he... Saya mau bantu Bapak bikin draf? mana ya Pak bahannya?" Aku agak kagok nih, soalnya Pak Herman sering masuk rumah sakit karena faktor usia dan wajahnya terlihat lemes sekali.
Sambil melirik ku dan mengambil setumpuk berkas dengan banyak map hijau, merah dan biru. "Ini bahannya tolong di bantu ya, kalau ada Aprilia pasti beres nih!" Pak Herman memang orangnya ramah dan berwibawa gitu nggak jarang banyak yang sungkan dengan Pak Herman, diusia 66 tahun ini Beliau masih eksis loh survei di lapangan, sebelum sering masuk ke rumah sakit.
__ADS_1
"Tadi kata Pak Burhan, Bapak mau resign ya?" Tanyaku daripada penasaran
"Iya Pril sepertinya badan setua ini sudah tidak mampu lagi kalau ke lapangan". Jawab beliau "Oh ya Pril besok akan ada dua yang masuk sebagai pengganti ku!" Lanjut Pak Herman.
"Maksud bapak, karyawan baru gitu!"
Setelah aku memeriksa berkas draf yang acak-adul dan aku mulai paham dari mana aku jalan dan harus ke mana. Aku kembali ke mejaku dan melihat lagi setumpuk draf, yang bikin aku pusing. Tak terasa waktu istirahat telah tiba, itu adalah waktu yang ku nantikan.
Belum aku mau berdiri sudah ada Mbak Puji menjemput mau ngajak makan bareng, Mbak Puji ini bagian keuangan ya... karena sering minta uang ke Mbak Puji untuk masalah kantor, aku jadi akrab banget. Memang sih selisih umur kami terpaut jauh 10 tahun, tapi Mbak Puji itu masih single dan baik ya sebenarnya sering marah-marah sih wkwkwkw.
"Ayo Pril, nanti keburu habis!" Agak nada tinggi Mbak Puji bilang gitu ke aku.
Sesampai di warung makan, ini warung andalan kantor, warungnya sederhana dengan desain kayak pecel lele tapi menunya banyak banget menu masakan Jawa. Ya aku sebagai orang Jawa merantau beda pulau pasti kangen masakan Jawa.
Karena ramai banget Mbak Puji cerita soal keuangan ini itu aku hanya mengangguk dan makan soalnya ngomongnya itu loh cepet banget nggak ada titik koma. Selesai pun selalu terburu-buru bilang tendanya kepanasan lah, duduknya berdempetlah, sepatunya ke senggol lah... Apa aja dikomentari bahkan karyawan kantor sendiri juga dikomentari bajunya lah, make up nya lah, dll.
__ADS_1
Next Pagi Hari
Semalem aku nglembur bikin laporan survei sebelumnya dibantu Mbak Puji, ya kalau masalah laporan keuangan kadang aku binggung gitu... untung ada Mbak Puji mau nginep di kostku hampir 80% selesai.
Hari ini aku agak telat 20 menit karena nguantuk banget. Iya banget aku sering telat ke kantor dan tiba-tiba dalam satu ruangan ada dua orang cowok yang aku kenalin. Yang satu Agus dan yang satu MANTANKU.
Sedih, pingin nangis kok bisa dia di sini bukannya kerja di Ibu Kota kenapa malah ke Pulau ini? Batinku bergejolak pingin nampar, pingin nendang, pingin nonjok.
Aku duduk baca istighfar berkali-kali, kenapa harus dia batinku. Aku mencoba menyibukkan diriku dengan menghidupkan komputer dan mulai cetak laporan.
Pak Burhan lalu datang dengan segelas kopi ditangan "Nanti rapat ya jam 9, Pak Herman, Bu Eni, Aprilia, dan kedua mas ini!"
Batinku apa.. apa kedua orang ini, aku shock jangan-jangan dialah yang mau menggantikan posisi Pak Herman.
Jam 9 pagi pun tiba kami terus menuju ruang rapat kecil di sebelah ruangan Pak Burhan, di sana sudah ada Pak Burhan dan Bu Eni, mukaku memelas banget nggak enak banget.
__ADS_1
Intinya benar bahwa kedua orang ini yang menggantikan Pak Herman, aku serahin semua berkas yang diberikan Pak Herman kemarin, semua sudah dijelasin Bu Eni protokol dari pembuatan proposal, rekrutmen tenaga survei, desain lapangan, hingga laporannya.
Mas Agus tersenyum agak menggoda "Cie dua sejoli ketemu lagi." Langsung aku timpalin "Maaf ya mas, aku minta tolong jangan disebarin ya mas!" Dengan Nada serius dan memelas, seperti Mas Agus paham maksudku dan mengiyakan.