Lelah Move On

Lelah Move On
Lapangan


__ADS_3

Kejadian di hotel itu semakin mendekatkan aku dengan Mas Agus, begitu juga dengan Dinda dan Fairuz lengket kayak lem. Dua hari kemudian semua tim diberangkatkan ke lokasi survei, ada tiga lokasi sebenarnya dalam 1 provinsi yang sama hanya perlu naik pesawat.


Hari ini ada rapat untuk keberangkatan yang diampu oleh Pak Herman, dan menyertakan jadwal penerbangan. Selain kami karyawan ada 3 orang juga yang ditunjuk sebagai ketua tim yaitu Andreas, Dedi, dan Sigit mereka semua seusia Mas Agus dan Fairuz dan sudah berkeluarga.


"Okey karena ada 3 tim, dan kehadiran Pak Fairuz dan Pak Agus kita akan bersama melakukan pengecekan dari tim 1 dilanjut ke tim 2 baru ke tim 3". Ucap Pak Herman mengakhiri rapat kali ini.


Biasanya sih satu tim ada satu karyawan kantor, ya mungkin karena Mas Agus dan Fairuz terbilang karyawan baru jadi satu deh...


Karena terjadi kendala semua tim berangkat terlebih dahulu dan kami karyawan menunggu besok hari.


Next hari selanjutnya


Hari ini sebenarnya aku enggan untuk ikut terjun lapangan, apalagi kalau bukan Fairuz. Penerbangan dapat jam 10 pagi jadi dari kost aku langsung ke bandara sendiri. Ternyata sudah ada Pak Burhan dan Pak Herman, selang nggak berapa lama sudah muncul nih Dinda, Fairuz, dan Mas Agus.


Aku kaget ternyata aku duduk bersebelahan sama Fairuz, mana aku duduk ditengah lagi dan di samping kiriku Pak Burhan. Haduh ini siapa sih yang pesen tinggal pesen, mau pindah nggak enak ada Pak Burhan.


Penerbangan hanya 1 jam tapi lama banget buatku, aku hanya ngobrol terus sama Pak Burhan. Dan lebih parah lagi Fairuz mencoba memegangi tanganku ya sontak aku lepasin dengan mata melotot.


Sesampai tujuan langsung dijemput dengan mobil Avanza, memang mobilnya kecil sih buat berenam tapi apalah daya. Dan jelas Dinda dan Fairuz lebih memilih duduk di belakang. Aku cemburu...panas... dan perjalanan memakan waktu 4 jam sampai di lokasi tim 1 timnya Andreas.


Perjalanan perlu makan siang, sholat dan isi bahan bakar jadi banyak berhentinya. Yang paling seneng ya mereka berdua. Nggak tahu setelah sholat ashar rasanya ngantuk banget, biasanya aku nggak bisa tidur di mobil karena di samping kiriku Mas Agus rada tenang sedikit sih. Aku bisa tidur setengah jam, dengan kepala bersender di pundak Mas Agus, aku nggak tahu karena aku juga pakai bantal leher.


Setiba di lokasi sudah menjelang malam bahkan kita belum sholat magrib tapi sudah Isyak. Kita disambut sama tim Andreas, dan makan malam ala pecel nila wkwkw semacam pecel lele gitu.


Selesai makan dan ngobrol ngalur-ngidul akhirnya briefing pun tiba dan selesai pada jam 1 malam... wuah aku nguantuk banget. Kita tidur dengan sleeping bed kayak teri berjejer di dalam rumah kepala desa.

__ADS_1


Next Hari Berikutnya


Karena rumah dan lokasi lahan tidak jauh maka semua pada jalan kaki. Penjelasan ini itu sudah diterima dan dipahami oleh Mas Agus dan Fairuz, tapi menjelang malam Pak Herman kumat jatuh sakit mungkin kelelahan karena perjalanan jadi malam itu langsung cari rumah sakit yang berjarak 12 km.


Karena emergency maka Pak Burhan dan Pak Herman pulang, sebenarnya aku pingin ikut. Setelah kepulangannya Dinda lebih agresif ke Fairuz bahkan nggak segan-segan menampakkan kemesraan dalam satu tim.


"Mas Agus, temenin aku cari air mineral yuk!" Pintaku serasa aku muak melihat mereka.


Dalam perjalanan ke warung beli air mineral Mas Agus tanya ini itu dan bercerita soal keluarga, teman, bahkan cewek-cewek yang naksir saat kuliah. Aku sendiri nggak tahu dia punya pacar kah sekarang atau punya mantan, aku juga tahu kalau Mas Agus banyak diminati cewek-cewek juga dari cerita Fairuz saat aku masih Andi pacarnya.


"Mas Agus punya pacar?" Tanyaku nyelutuk.


"Enggak Pril, kenapa nanya kayak gitu, mau daftar list ku po?" Jawab Mas Agus


"Kalau kamu udah punya belum Pril?" Ucap Mas Agus sambil menegak air mineral.


"Nggak ada mas." Jawabku jujur dan berharap ada timbal balik dari Mas Agus buat ngenalin temennya.


"Aku aja Pril yang jadi pacarmu gimana?" Sambil melirikku dan mengedipkan mata.


"Enggak ah, nanti ribet." Jawabku jujur, entah kenapa aku selalu jujur dengan perasaanku bahkan tindakanku.


"Ribet gimana to Pril?" Ucap Mas Agus binggung.


"Udah lah mas jangan bahas soal itu lagi, nanti ujung-ujungnya juga sebut nama Fairuz." Aku sedikit mengeluh dan mulai membuka camilan kacang bawang.

__ADS_1


Dan kita mulai mengobrol soal keluarga masing-masing di depan warung itu ada tempat duduk, biasanya kalau pagi dipakai jualan nasi.


"Besok kita harus move ke tim 2 Mas, kalau aku punya ide gini bisa nggak, dulu sih satu karyawan mengecek satu tim kita kan ada dua tim yang belum di cek gimana kalau kita ke tim 2 dan mereka ke tim 3?" Aku mulai serius untuk ngobrol.


"Biasanya gitu ya Pril?" Jawab Mas Agus


"Iya mas". Langsung ku jawab singkat dan cepat serta anggukan dengan senyuman.


"Okey nanti kita bicarakan sama Fairuz". Timpal Mas Agus lagi.


Sesampai di rumah kepala desa yang kita anggap basecamp dan setelah briefing Mas Agus mulai menjelaskan maksudku agar tujuan lebih efisien. Dinda langsung setuju, dan Fairuz menatapku tajam. Akhirnya Mas Agus menghubungi tim 2 dan Fairuz tim 3.


Next hari berikutnya..


Aku lega bisa pisah dengan Fairuz, tapi tatapan tajam selalu tersorot ke arahku bahkan saat aku dan Mas Agus menaiki mobil.


"ku lega Mas Agus..." semangat ku berkorbar, sambil menepuk punggungnya dan Mas Agus hanya membalas senyum.


Karena mobil carteran kita bisa berhenti kehendak hati ke minimarket, makan, sholat bahkan jajan boba pun nggak masalah... perjalanan singkat cuma 3 jam karena hujan deras. Cerita pun di mulai lagi Mas Agus menceritakan banyak hal saat masih kecil hingga kuliah.


Sampai di tim 2 ada Dedi kita di sambut selayaknya pahlawan, ternyata ini tim gokil yang pernah ku temui, termasuk cewek-cewek yang baru lulus dari kuliah. Dan ada yang namanya Yoga, entah kenapa aku selalu nervous kalau sama dia.


"Eh ada Dek Aprillia kangen aku ya?" Celetuk Yoga agak menggoda, memang sih dia tipe penggoda tapi masih setia dengan pacarnya. Aku sedikit tahu karena Yoga dan Dedi beberapa kali ikut survei dan kadang saat bekerja sering curhat satu sama lain.


"Dak Dek Dak Dek, emang kamu adiknya Pril?" Jelas nada bicaranya Mas Agus nampak tidak senang entah cemburu.

__ADS_1


__ADS_2