Lelah Move On

Lelah Move On
Diam...


__ADS_3

Ternyata laporanku masih salah dan harus diperbaiki lagi haduh..haduh... Keluar ruangan Pak Burhan memelas eh liat mantan semakin nelangsa hidupku...


"Pril sabar ya, Pak Burhan lagi nggak mood!" celetuk Bu Eni mencoba memahamiku.


"Pril draf kemarin sudah kamu kerjain yang bagian apa?" Tanya Pak Herman membuyarku lamunan saat aku menuju mejaku.


"Haduh pak maaf kemaren belum sempet diapa-apain!" Aku pasang muka memelas lagi. Biar ada iba dan aku kode kalau semua draf aku serahin ke dua rekan itu.


Entah apa yang ingin aku lakukan pun aku tidak tahu, yang ku tahu dia tidak melirikku sama sekali hanya Mas Agus aja yang sering senyum-senyum kepadaku, entah itu kode bullyan atau memang dia seramah itu aku juga tidak tahu.


"Eh Pril aku mau tanya ini gimana?" Mas Agus bertanya soal pembuatan draf.


Mau nggak mau aku jelasin perlahan-lahan dan urut, namun terlihat jelas bahwa Fairuz selalu melirikku saat aku menjelaskan berdua dengan Mas Agus. Aku tak nyaman jadi ku percepat ngomongnya.


"Terus data ini darimana Pril?" Tanya Mas Agus lagi.


"Ada di komputerku mas, nanti aku kirim via WhatsApp, oh ya nomermu berapa Mas?" Pintaku dengan nada datar.


"Cie.. mau minta nomerku nih?" Malah menggoda nih Mas Agus dalam hatiku.


"Maaf Mas aku lagi nggak mood nih, jangan gitu ya?" Pintaku lagi.


Daripada nggak nyaman aku kembali ke mejaku dan mulai mengirim data untuk draf.


Selama berhari-hari aku hanya komunikasi sama Mas Agus tapi tidak dengan Fairuz. Dia diam tanpa menolehku ya kadang melirik juga sih... apalagi mejanya bersebelahan dengan tempat isi ulang air galon, mau nggak mau kalau ambil air panas ya sedikit melirik sih.


Entah kenapa hari ini aku disibukkan dengan revisi laporan dan koordinasi survei sama Pak Herman dan Mas Agus, dan tiba waktu pulang aku harus selesai dulu laporannya biar plong. Eh semua pada pulang tinggal Aku, Dinda Mas Agus dan Fairuz. Dan lagi-lagi Mas Agus mendekatiku dan bertanya soal draf serta berbisik.


"Kok kamu bisa putus sama Fairuz sih Pril?" Tanya Mas Agus, jujur aku nggak tau dia nanya gitu maksudnya apa, apa benar nggak tau atau hanya membully.


Aku hanya melirik dan bilang "Ya tanya temenmu sendiri to mas?" Jawabku agak jengkel.


Dan disaat itu terdengar suara Dinda cekikian bersama Fairuz. Aku juga nggak tahu sejak kapan mereka sedekat itu. Dan Mas Agus memberikan kode ke aku serasa (tuh liat mereka serasi) Aku hanya nyengir saja.


Tak terasa 1 bulan telah lalu dan proposal sudah jadi. Proses berikutnya adalah mencari hotel ha..ha... Iya maksudnya untuk memberikan materi atau menyamakan persepsi mengenai survei semua tenaga kontrak survei dan pelatihan diadakan di hotel (biasanya rapat juga di hotel).


"Pril rekomendasimu hotel yang baru buka itu gimana?" Tanya Pak Herman serta menyerahkan daftar 37 orang tenaga kontrak.

__ADS_1


"Ya cukup bagus sih pak, dengan harga promo dan sewa ballroom cukup rekomendet, tapi nggak bisa buat latihan alat Pak, karena hotelnya nggak ada lahan." Jawabku menimpali.


"Ya sudah bantu pilih lagi yang penting ballroom ya itu bisa kita atur tata letak meja kursinya, bukan yang paten kayak kemaren!" Timpal Pak Herman.


"Iya Pak..." Sahutku.


Memang sih survei kemaren karena terburu-buru dapat hotel yang ballromnya itu susah untuk menggeser meja dan kursi jadi latihan kelompok pun serasa kaku gitu.


Seminggu sebelum pelatihan di hotel juga membuatku stres berat, ku lihat Bu Eni selalu ngomel-ngomel nggak karuan.


"Pril, besok bantuin aku di sana jaga absensi kehadiran ya?" Celetuk Bu Eni saat aku mau merapikan susunan jadwal acara di hotel. Bu Eni ini sebenarnya seperti sesosok ibu yang selalu membawa makanan ke kantor entah itu makanan yang diolah sendiri atau membeli, yang ku suka dari Bu Eni adalah ibu yang suka bawa makanan ke kantor untuk semua di ruangan.


"Ya Bu." Jawabku cepat


Mas Agus mulai mendatangiku dan bertanya tentang konsep ini itu. Dan ternyata itu adalah tugasnya Fairuz, dia nggak mau koordinasi sama aku bahkan bicara pun hingga detik ini juga enggak.


"Tanya Pak Herman saja Mas, aku juga binggung nih." Aku hanya beralasan saja nih.


Next satu minggu kemudian


"Okey sebelum tim kita ke hotel, kita rapat dulu." Seru Pak Burhan.


Saat aku lihat daftar kamar ternyata aku sekamar sama Dinda.


"Loh bu, Dinda ikut tim kita kah?" Tanyaku kepada Bu Eni karena semua daftar yang bikin Bu Eni.


"Iya itu Dinda merengek ikut." Jawab Bu Eni dengan logat centil menirukan gaya Dinda. Padahal di dalam rapat Dinda nggak ada.


Jam 12.00 semua tim tiba di hotel dan menaruh barang ke ruangan dekat ballroom. Memang sih tinggal cek in aja terus rebahan di kamar tapi apa daya ada Bu Eni, Pak Burhan dan Pak Herman yang memantau terus mana bisa rebahan. Tenaga kontrak yang berjumlah 37 orang ini harus cek in sebelum jam sore karena jam 4 sore acara sudah dimulai biasanya sambutan dan ramah tamah dari pihak hotel.


Belum masuk kamar dan tas ku masih ku taruh di ruangan kecil deket printer kantor yang ku bawa. "Pril kamu packing seminar kit dan materinya ya?" Pinta Bu Eni kepadaku padahal aku lagi menyiapkan materi buat Pak Herman.


"Iya Bu." Sahutku.


Benar saja jam 3 sore selepas sholat ashar aku sudah ready di depan ballroom buat jaga absensi dan membagikan seminar kit. Jam setengah lima sore baru di mulai acara karena banyak yang molor teknisinya.


Selepas makan malam di hotel aku menuju kamar karena belum cek in aku belum diberi kunci harus turun dulu ke resepsionis. Aku ambil kunci naik lagi dan ke kamar untuk mandi dan istirahat sejenak. Baru selesai sholat magrib ada yang mengetuk pintu, buru-buru aku bukaain eh ternyata Dinda.

__ADS_1


"Baru dateng, kemana aja sih?" Tanyaku


"Ada deh...!" Balik Dinda sambil mengeluarkan isi tasnya...


"BTW kamu dapat kerjaan apa Din, di sini?" Tanyaku karena aku bener-bener nggak tahu tugas Dinda apa karena dalam Tim tidak ada.


"Aku bantu Bu Eni kok." Jawab dia enak banget sambil merias wajah lagi.


"Lah bantuin dari tadi kek, kan mulainya tadi sore." Aku sedikit dengan amarah.


"Ye tugas kantor juga belum kelar kali." Timpal Dinda.


Karena masih ada satu materi pengantar atau bagian awal yang harus di sampaikan Pak Burhan jadi jam 7.30 malam kembali ke ballroom, semua lancar Dinda pun ikut partisipasi dalam absensi bahkan mau menata air mineral di ballroom untuk peserta.


Malam ini jam 10 malam sudah kelar, tinggal besok materi yang padat merayap. Mas Agus yang dari tadi di depanku mulai menoleh ke arahku.


"Pril temenin aku ke minimarket yuk, aku mau beli camilan dan kopi?" Pinta Mas Agus.


"Okey.." Ya aku jawab gitu karena aku juga perlu beli camilan dan mie instan.


Tak terasa cuma jalan 300 meter dari hotel terasa lama.


"Pril, maaf ya kemaren aku nggak tahu apa yang membuat kalian putus, Fairuz nggak cerita apa-apa!" Selintas dia bisa ngomong kayak gini.


Kepalaku hampir mendidih mendengarnya, aku hanya bisa istighfar saja dalam hati. Aku tenangin dulu pikiranku biar nggak meledak atau marah sama Mas Agus. Sesampai di minimarket sambil ambil minuman dingin aku baru menjawab.


"Dia selingkuh mas." Jawabku pendek.


"Serius?" Timpal Mas Agus.


"Iya mas, masa aku bohong.. terus endinngnya udahan kayak gini!* Aku hanya menegaskan.


Selesai membayar kami berdua pergi ke hotel, ku lihat rekan-rekan lain juga ke minimarket.


'Eh Pril ke kamarku saja ya, nanti barangku aku ambil dulu." Pinta Mas Agus karena mbak kasir tadi diplastik jadi satu. Lagian kamar Mas Agus lebih deket lift ketimbang kamarku.


Sesampai di depan kamar Mas Agus aku mulai masuk mengikuti dia dari belakang. Tiba-tiba dia memundurkan tubuhku ke arah luar dan sekilas aku juga melihat kalau Fairuz dan Dinda masih satu selimut dan bergegas bangun terus mulai duduk.

__ADS_1


Dengan cepat Mas Agus mengeluarkan aku dan menarik tanganku mengajak ku pergi dari situ.


__ADS_2