
*Aku bener-benr minta maaf Pril, aku nggak tau ada Fairuz dan Dinda.* Mas Agus agak terengah-engah menjelaskan.
*Ya sudah kita ke kamarku saja.* Aku mencoba tenang dan rileks.
Sesampai di kamarku aku rebahan dulu di kasur dan barang belanjaanku aku taruh di meja. Mas Agus mulai mencari barang miliknya dan menyerahkan nota kepadaku.
*Nih notanya kamu bayar pas aja ya, totalmu hanya 50 ribu aja deh.* Mas Agus mulai bicara untuk memecahkan keheningan.
Aku dengan sigap mengeluarkan dompetku, aku kira belanjaanku dibayarin ternyata tidak wkwkwk...
*Aku nggak nyangka bener Pril ternyata Fairuz kayak gitu.* Timpal Mas Agus lagi
*Iya mas.* Jawabku pendek, karena aku takut kedoknya terbongkar
*Bentar-bentar kamu bilang Fairuz selingkuh trus kalian putus gitu?* Kayaknya Mas Agus mau nanya berkecibun deh..
*Iya mas.* Jawabku pendek sambil membuka keripik tempe yang tadi ku beli.
*Sampai segitunya?* Timpal Mas Agus lagi
Aku nggak menjawab tapi entah kenapa air mataku meleleh dan aku usap dengan tisue yang kamar hotel.
Mas Agus mulai duduk di samping tempat tidur, ini jenis twin jadi kita ngobrol nggak seranjang. Dia nanya ini itu aku hanya bisa menyeka air mata dan mengangguk. Dan ku cari alat tulis aku bilang kalau pas aku nangis aku nggak bisa bersuara apapun termasuk huruf A. Aku kasih secarik kertas dan tunjukkan kepada Mas Agus dan dia mengangguk mulai paham.
Tiba-tiba kamar pintu terbuka di situ Dinda masuk dan diikuti Fairuz, kebencianku dengan kedua orang ini agak memuncak jadi aku menyalakan televisi sekaligus nyamuk keripik tempe.
*Eh tadi ke kamar nggak bilang-bilang?* dnegan nada centilnya Dinda ngomong kayak gitu.
Aku diam dan hanya Mas Agus yang menjawab akujuga nggak sudi melirik Fairuz.
*Kayaknya kita juga salah masuk deh Bang?* Centil Dinda kepada Fairuz *Aku pindah kamar aja ya!* Timpal Dinda
Ya jelas aku nggak bisa ngomong karena habis meleleh air mataku.
__ADS_1
*Enak aja masa aku sama April!* Ungkap Mas Agus
*Heleh tapi mau kan?* Jawab Dinda dengan cepat.
*Pril boleh aku tidur disini!* Tanya Mas Agus.
Aku mau jawba gimana nggak jawab juga gimana, hanya mengangguk saja. Akhirnya mereka bertiga ke kamar Mas Agus, sebelumnya Fairuz hanya melirikku saja.
Setelah Mas Agus bawa barangnya dia pun rebahan dan ngomong ini itu, aku pun nggak jawab hanya mengangguk dan menggelengkan kepala.
Aku ambil baju tidurku dan masuk ke kamar mandi terus ganti baju cuci muka dan kembali ke tempat tidur.
*Mas Agus, boleh aku minta tolong?* Pintaku dengan suara lirih.
*Apa?* Jawaban cepat dari Mas Agus.
*Jangan sentuh aku saat tidur ya, kalau mau bangunin di telpon WhatsApp saja!* Pintaku seperti itu.
Dan benar jam 2 dini hari aku baru mulai tidur, setelah ngobrol kesana kemari dengan Mas Agus, kayaknya Mas Agus juga salah satu buaya pikirku.
Alarm adzan subuh di HP membangunkanku.. Aku cek di bawa selimut pakaianku dan jilbabku masih utuh, lalu aku mengendap-endap pergi ke kamar mandi untuk ambil wudhu. Selesai sholat subuh aku membangunkan Mas Agus dan entah kenapa dia tersenyum manis kepadaku dijawab Iya terus menggeliat dengan tubuh endutnya dan duduk.
*Takut aku apa-apain ya Pril?* Tanya Mas Agus pas duduk di ranjang.
*Eh iya mas, aku juga kepikiran kayak gitu semalem.* Jawabku jujur.
*Pril tenang aja, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu kok, masih semalem lagi kita tidur sekamar!* Ucap Mas Agus.
Hatiku mak deg beku... Oh iya masih semalem lagi kita di hotel haduh pikiranku malah kemana-mana. Semalem bisa tidur tapi entah malam berikutnya aku harus gimana, sembari aku melipat mukena menyalakan laptop dan bikin teh. Ku tanya Mas Agus..
*Mas mau minum apa?* Ucapku sembari menuangkan air ke teko listrik. Mas Agus lama jawabnya padahal hanya jawab aja teh apa kopi kan tersedia... agak lama sekali baru deh di jawab.
*Makasih Pril, kopi aja pakai brown sugar!* Jawab Mas Agus
__ADS_1
Lalu aku memberikan segelas ke Mas Agus, dia menerima dan masih menatapku.
*Kenapa mas, ada yang salah?* Tanyaku keheranan.
*Lagi bayangin kalau kamu jadi istriku tiap pagi aku ditawarin minum kayak gini, runtuh hatiku!* Jawab Mas Agus dengan nada lirih.
*Heleh, biasa aja kali mas, cuma kopi gitu kok jadi baper.* Lalu aku memalingkan muka, agak malu juga dengan rayuan mautnya.
Jam 07.00 pagi kita berdua siap turun ke resto, dan kita berdua makan bareng disamping kami ada rekan-rekan yang pasti Mas Agus kenal lebih dahulu karena dialah salah satu tim interview. Ngobrol ngalur-ngidul entah kemana-mana, dan aku lihat Dinda sama Fairuz jalan masuk berdua padahal sudah pukul 08.00 dan 08.30 acara akan dimulai. Buset deh keduanya batinku.
Next Malam Hari
Jam 01.00 baru selesai briefing dengan Pak Burhan, Bu Eni dan Pak Herman, ada juga Dinda sama Fairuz serta 3 orang yang sudah kami kenal saat survei mereka bertiga adalah andalan Pak Herman. Briefingnya dipinggir kolam renang karena agak santai. Satu persatu meninggal kan meja tinggal kita berempat.
Setelah aku beberes. Dinda mencium Fairuz dihadapan aku sama Mas Agus. Aku hanya memalingkan muka dan buru-buru pergi.
*Hoi di kamar aja kenapa?* Bentak Mas Agus
*Cie pingin ya?* Timpal Dinda
Yang aku lihat Fairuz tak bergeming sama sekali. Akhirnya aku menuju kamar sama Mas Agus tanpa bicara apapun hingga sampai di ranjang.
*Pril, tadi kamu panas ya?* Tanya Mas Agus
*Iya mas.* Dah gitu aja jawabku
*Pril aku mau ngomong sebentar bisa?* Pinta Mas Agus.
*Bisa mas, soal apa, ngomong aja?* Jawabku
*Soal hubunganmu sama Fairuz?* Timpal Mas Agus.
*Haduh mas maaf kalau soal itu aku mau tutup buku saja mas, tanya saja sama temenmu itu pasti dia akan cerita banyak?* Pintaku agak sesek
__ADS_1
*Maaf ya Pril, aku mencoba memahami perasaanmu saja!* Ucap Mas Agus yang membuatku terharu.