
"Ganjen banget sama Yoga!" Celetuk Mas Agus memecahkan suasana malam itu selesai briefing.
"Ya namanya juga ada cowok cakep mas, biasa to.." Jawabku agak merendahkan nada bicara setelah berbuih saat briefing.
"Dek April, mau kopi nggak? Masih suka Good Day Coolin kan?" Tanya Yoga saat mengambil cangkir di meja.
"Oh jelas dong, yang panas ya?" Jawabku dengan semangat. Entah kenapa kadang aku tersipu malu sama Yoga, bukan aku menyukainya tapi entahlah ada kenyamaan saja saat aku diperhatikan seperti itu.. atau memang cowok yang sudah punya pacar itu bawaannya sedikit hangat dengan cewek lain.
"Nah kan modus..modus.." Celetuk Mas Agus sambil mematikan laptopnya.
"Kenapa sih mas, mau kopi juga?" Sebenarnya malah aku yang nggak nyaman dengan Mas Agus sekarang ini.
Yoga menyodorkan segelas kopi kepadaku, dengan lirikan yang menggoda tepat di depan Mas Agus.
"Eh Dek April, yang sebelah sana itu tanahnya agak sengketa dan kemarin ditanya belum pecah nama, sedangkan orang tuanya meninggal dan dua anak yang sekarang tidak di sini, yang satu di Jakarta dan yang di Banjarmasin, itu gimana soalnya aku tanya sebelah rumah orangtuanya nggak pada tahu kontaknya?" Curhat Yoga saat memberikan dokumen hasil survei.
"Ya nanti aku laporin dulu ke Pak Herman, jika kalau nggak ada konta ya mau gimana lagi, emang nggak ada saudara atau aparat desa gitu yang tahu keberadaannya?" Sekali lagi aku menyruput kopi.
"Itu bagian Dinda tuh... Dinda" Celutuh Mas Agus di saat melihat ku dengan tatapan tidak senang.
Selang berganti jam kami bertiga mulai ngobrol macam-macam, sepertinya Mas Agus juga sudah mulai sejalur dengan omongan Yoga.
__ADS_1
Next hari berikutnya
Pagi ini terasa capek sekali badanku, dan aku lihat rekan-rekan yang lain sudah sibuk dengan aktivitas sendiri-sendiri dan saat aku tanya tentang sarapan pagi ini, sontak membuatku kaget.
"Pak Dedi hari ini kita sarapan apa nih?" Tanyaku sekilas sambil bebenah dokumen.
"Kita disini nggak ada sarapan dan makan siang Mbak, karena tim sudah sepakat untuk sarapan cari sendiri-sendiri karena ngejar waktu, kalau makan malam sudah di sediakan sama pemilik basecamp." Jawab Pak Dedi yang setengah membuat kopi.
"Kalau aku masakin mau nggak, aku juga dah lapar nih?" Pintaku sama Pak Dedi.
"Yakin Mbak?" Pak Dedi serius banget nanya untuk meyakinkanku.
"Ya iya lah, ada apa aja yang bisa di masak?" Jawabku meyakinkan.
"Boleh ini semua aku masak?" Pintaku sama Pak Dedi, dan hanya anggukan yang aku terima.
Jangan salah di sini tidak da rice cooker, hanya ada panci dan alat pengukus untuk menanak nasi dengan kayu bakar. Karena aku sudah terbiasa aku minta Pak Dedi menyalakan api selagi aku mencuci beras dan sayuran. Karena sudah emergency aku hanya membuat nasi, orak-arik telur dan bakwan yang super tipis.
Hampir 1,5 jam aku di dapur di bantu Pak Dedi dan akhirnya Mas Agus juga turun tangan.
"Pril ternyata kamu bisa masak to?" Tanya Mas Agus saat mengangkat kukusan nasi.
__ADS_1
"Mas Agus baru liat aja mas?" Jawabku pendek karena masih menggoreng bakwan dengan wajan yang kecil.
"Kayaknya sudah biasa gitu Pril?" Mas Agus agak terpeson dengan ketrampilan ku yang memasak apa adanya.
"Itu ulet Pak Agus namanya, cocok jadi ibu rumah tangga?" Salut Pak Dedi yang menyiapkan piring untuk bertiga.
Tenang aku masak untuk semua tim, hanya saja yang di dapur cuma kita bertiga dan kita tinggal makan.
Next selesai di Tim 2
Hari ini harus ke bandara untuk pulang, seneng rasanya pingin memeluk guling di kost, rebahan dan lepas jilbab. Namun masih harus perjalanan panjang dengan mobil dan membawa hasil survei sementara membuatku juga tidak bisa menikmati indahnya perjalanan.
Selama perjalanan waktu terasa begitu lama, aku dan Mas Agus mulai membicarakan masa lalu ku dengan Fairuz. Karena sudah lelah aku suka cerita sendiri dengan detailnya, kadang setelah selesai cerita aku malah malu kenapa malah aku ceritain, kemungkinan juga Mas Agus sudah tahu dari Fairuz.
*Iya mas dari bayi ceprot ampe kuliah aku itu baru punya pacar dan pacaran ya sama Fairuz." Timpalku saat ngoceh terlalu lama.
"Jadi cinta pertama dong?" Timpal Mas Agus sebelum aku selesai berbicara.
"Ya enggak juga sih mas, saat SMP aku sudah suka sama cowok, ya karena masih anak bawang tentu saja ya.. cuma di pendam!" Curhatku membela diri.
"Kok bisa sih kalian dulu pacaran gimana ceritanya?" Mas Agus mulai melancarkan aksinya.
__ADS_1
Ya karena aku tidak paham waktu itu, aku bilang saat Ospek dia satu-satunya yang pertama kali bentak-bentak aku saat aku telat 1 jam. Sebenarnya bukan telat sih tapi nggak tahu pintu masuk fakultas (aneh kan aku).